Share

Bab 5

TERUS-TERANG, aku lagi sensi terhadap kata hamil. Aku tidak mau mendengar kata itu. Tetapi sekarang, di hadapan Fien dan Yulia, Radit menyebutnya dan terang-terangan menuduh aku mengaku hamil untuk memerasnya!

Mengaku hamil! Itu satu soal. Memerasnya, itu soal kedua.

Kalau mengaku hamil, setidaknya itu sudah mengindikasikan kalau aku sudah berhubungan intim, padahal aku belum menikah. Jadi… itu sama saja mengumumkan bahwa aku sudah melakukan hubungan intim dengan dia, Radit!

“Bengsek kamu,” kataku putus asa.

Aku menarik tangan Fien untuk segera berlalu dari tempat itu. Aku tidak ingin memperjelas ‘statusku’ dengan membantah atau berbicara terlalu banyak soal hamil itu di depan semua orang.

Tetapi Radit malah menarik tanganku, lalu menjejalkan setumpuk uang itu ke tanganku!

“Kamu nggak usah pura-pura, Indri! semua orang tahu kalau kamu mendekatiku untuk mendapatkan uang!” kata Radit dengan sangat jelas. Semua orang yang tidak tuli pasti bisa mendengarnya dengan jelas.

“Radit!” hanya itu kata yang mampu aku keluarkan dari mulutku. Aku menjadi lemas, dan jika tidak langsung dipegang oleh Fien, mungkin aku akan jatuh ke tanah.

Teganya Radit bicara seperti itu kepadaku, di depan banyak orang lagi. Aku mendekatinya? Oh Tuhan… kok bisa dia menuduhku seperti itu.

Untuk mendapatkan uang? Ya Tuhan… aku sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu. Aku tidak membutuhkan uang dari Radit. Aku belum pernah kekurangan uang karena masih tinggal dengan orang tuaku, dan kami cukup mampu, walaupun tidak sekaya keluarga Radit.

Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku, jangan-jangan Radit telah mendengar fitnah orang tentang aku! ‘Semua orang tahu kalau kamu mendekatiku untuk mendapatkan uang!’ Semua orang? Gila banget… semua orang tahu?

“Radit!” aku memberanikan diri dan berjuang menenangkan diriku. “Jangan memfitnah aku!”

“Fitnah?” sahut Radit. “Kan kamu yang telepon aku dan bilang kalau kamu hamil!”

Oh my God! Radit, please… kenapa kamu semakin memperjelasnya?

Aku menepis uang yang diberikan Radit sehingga berhamburan ke tanah. “Brengsek,” sungutku sambil bergegas melangkah pergi. Aku tidak ingin --atau tidak kuat-- untuk berlama-lama berhadapan dengan Radit. Adegan tadi pasti telah menjadi tontonan menarik bagi semua orang yang akhirnya ramai di tempat itu.

“Hahaha…” terdengar suara ketawa Radit menikam punggungku dengan sejuta anak panah. “Indri, kalau masih kurang, kamu tinggal bilang, yaa…” teriaknya lagi, dan kakiku benar-benar tersandung sesuatu sehingga aku terhuyung.

Brengsek! Setan!

Aku berjalan secepat aku mampu ke arah motorku, pengin cepat-cepat menghilang dari tempat itu. Tetapi Fien mencegahku naik motor.

“Sini, biar aku yang bawa motornya,” kata Fien sambil mengambil kunci motor dari tanganku.

Aku mengerenyit. “Motormu bagaimana?”

“Sudah, biar saja, biar ditinggal di sini dulu,” sahut Fien. “Aku tidak mungkin membiarkan kamu membawa motor dalam keadaan seperti itu,” katanya.

Aku sadar apa yang dikatakan Fien itu benar. Badanku gemetar, dan tenagaku sebenarnya sudah tidak ada. Dari semula badanku memang terasa lemas --atau lemah, mungkin karena aku hamil.

Aku bilang kepada Fien agar mengantarku pulang ke rumah. Aku mau pulang… Tetapi, di tengah jalan aku berubah pikiran. Tidak, sebaiknya Fien tidak mengantarku ke rumah. Nanti akan berhadapan dengan ibu, dan mungkin nanti akan berkembang menjadi sebuah kecurigaan dan interogasi. Jangan! Aku belum siap!

“Fien, kita ke warung Bejo saja,” kataku kepada Fien.

Fien menjadi heran, dan terasa dia ragu ketika mengemudikan motor. Fien lalu berhenti di pinggir jalan.

“Kenapa?” tanya Fien heran.

“Kita ke situ saja, aku mau cool down sebentar. Nanti kan kita masih ada kuliah, dan motormu masih di kampus,” jawabku berdalih.

Kami lalu menuju warung Bejo, tidak jauh dari kampus. Warung Bejo cukup populer di antara kami karena sering dipakai nongkrong bersahaja sambil menunggu waktu kuliah berikutnya. Warung Bejo sendiri sebenarnya julukan, bukan nama aslinya, karena di depan warung ada spanduk iklan sebuah produk herbal dengan tulisan “Bejo” yang besar. Kami lalu menyebutnya warung “Bejo”.

Di warung bejo aku memesan kopi, dan ini membuat Fien heran lagi. “Sejak kapan kamu minum kopi?” tanyanya.

Aku mencoba tersenyum, berusaha membiasakan diriku lagi karena syok yang kualami tadi. “Aku biasa kok, minum kopi,” jawabku memberi alasan. Jelas Fien tahu kalau alasan itu mengada-ada, tetapi dia diam saja.

“Indri…” panggil Fien setelah kami mencicipi minuman masing-masing. Aku tahu, kini saatnya Fien akan bertanya-tanya.

“Yang dibilang Radit tadi…” Fien tidak bisa melanjutkan pertanyaannya, tetapi aku sudah paham.

Berat aku harus menjawab pertanyaan Fien. Tetapi hal ini pasti tidak bisa disimpan lama-lama. Kalau aku menjawab tidak, toh nanti Fien akan tahu juga, dan tentunya aku akan dicap telah berbohong.

“Fien,” aku meraih tangan Fien. Aku butuh sebuah pegangan. Aku merasa, mataku pasti sudah berkaca-kaca. Ada genangan hangat di kelopak mataku. Dan, tanganku gemetar.

Fien lalu memegang tanganku juga, seakan meyakinkan bahwa dia tetap bersamaku.

Dengan seluruh kekuatan yang ada aku berkata, “benar… aku hamil.”

Aku merasakan pegangan tangan Fien seketika mengencang ketika mendengar pernyataanku. Aku tahu dia sudah bisa menduganya, namun ketika pernyataan itu keluar dari mulutku, dia tetap merasakan kaget juga.

Lama kami terdiam, berpegangan tangan di atas meja. Ketika Fien akhirnya melepaskan tangannya, dia tetap tidak bisa berkata apa-apa.

Aku menyadarkan diriku, mengumpulkan semua semangat dan tenaga yang aku miliki. Aku lalu tersenyum. “Tidak apa-apa, Fien. Aku akan mengatasinya,” kataku memperlihatkan kepercayaan diri. Paling tidak, aku tidak boleh terlihat begitu rapuh di mata Fien setelah apa yang aku alami.

“Radit?” tanya Fien lagi berusaha untuk yakin.

“Iya, siapa lagi,” jawabku sedikit tersinggung.

“Kok bisa?”

Entah kenapa, aku menjadi geli dan ingin tertawa mendengar pertanyaan Fien yang tidak percaya itu. Mungkin karena aku sudah merasa lega telah mengakui keadaanku kepada seseorang, atau mungkin juga karena sarafku sudah ada yang terputus.

“Radit meracuni minumanku, memberiku obat perangsang!” jelasku mencoba memberi dalih.

“Ya?”

“Di Songgoriti, waktu itu…”

Sekarang aku melihat wajah Fien puas dengan jawaban-jawabanku. Semua sudah jelas, sudah terbuka. Pertanyaan-pertanyaannya yang lama pun, ketika waktu itu ibuku meneleponnya menanyakanku yang belum pulang dan tidak bisa dihubungi, menjadi terjawab juga. Baginya, semua sudah clear.

“Lalu apa rencanamu?” tanya Fien lagi.

“Aku akan menggugurkan kandunganku!”

“Hahh?”

Jelas Fien terkejut dan bingung.

“Aku nggak bisa Fien, menghadapi ini…” kataku memohon pengertiannya.

“Tetapi… itu… berdosa besar!”

“Ya, mau bagaimana lagi? Aku sudah bilang ke Radit, tetapi kamu lihat sendiri sikapnya. Dia yang menyuruh aku menggugurkan kandunganku. Dan sekarang dia malah sama si Yulia. Aku tidak bisa bilang ini ke orang tuaku…”

“Tapi bagaimana caranya?” Fien malah bertanya.

“Fien, bantu aku. Carikan tempat di mana aku bisa menggugurkan kandunganku…”

“Aku tidak tahu…”

Kami memang sama-sama tidak tahu, tidak ada pengalaman, dan sebenarnya tidak pernah terlintas dalam pikiran kami --tepatnya aku-- akan perlu menggugurkan kandungan. Tetapi kami, atau aku, pernah mendengar bahwa di sebuah desa di luar kota ada praktek untuk menggugurkan kandungan secara tradisional.

“Tapi itu berbahaya!” sanggah Fien.

“Mungkin itu pantas bagiku,” kataku pasrah.

“Tidak,” tegas Fien. “Mungkin kita bisa minta bantuan dokter atau bidan. Mungkin mereka mau mengerti. Berapa sih usia kandunganmu?”

“Kayaknya dua bulan.”

“Oke, aku akan tanya-tanya mungkin ada dokter atau bidan yang bisa membantu. Tetapi, apakah tidak sebaiknya kalian menikah?”

“Dengan Radit? Hmm… Waktu aku kasih tahu kalau aku hamil saja dia tidak perduli. Apalagi setelah perlakuannya tadi. Tidak, Fien. Aku sekarang yang tidak mau!” jawabku tegas.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status