Share

45. Undangan Seminar

Penulis: Lystania
last update Tanggal publikasi: 2026-07-13 16:22:22
Dante memandangi surat undangan yang baru saja selesai dibacanya. Jelas dalam surat undangan itu, kalau namanya tertera menjadi salah satu pembicara dalam seminar dokter bedah se Indonesia yang akan dilaksanakan di kota Bali. Pria itu membaca sekali lagi isi surat undangan itu– tanggal pelaksanaannya tepat saat jadwal Evan imunisasi.

“Ini gimana sih undangannya? Kok mendadak?” gumam Dante melipat kembali kertas itu.

Tak berapa lama, pintu ruangannya diketuk. Seorang wanita memegang tab di tang
Lystania

siapa yang mau ikut ke Bali, ayo di list dulu namanya biar dibeliin tiket ヾ(^-^)ノ

| 6
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
hohoho latihan jadi istri ya pak dokter...nyiapin pakaian kalo mo dinas luar kota. alasan cari kemeja, padahal modus minta disiapin baju Ama Niken. ck ck ck...emang cerdas sih otak pak dokter satu ini utk menjebak calon istri. eaaakkk makasih updatenya kakak syng <3
goodnovel comment avatar
Admini Aryanto
di tunggu kelanjutannya thor
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    56. Dalam Dekapan

    Niken reflek terbangun karena rengekan Evan yang mencari susu. Membuka beberapa kancing bajunya, Evan cepat menyusu dan kembali tenang. Hampir tiga puluh menit menyusu, bayi itu kembali lelap dalam tidurnya. Ia lalu menyusun guling di sekeliling Evan agar bayi itu tetap aman, sementara Riana masih nyenyak tidur. Netranya melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul lima subuh. “Pasti masih tidur,” gumamnya perlahan turun dari atas tempat tidur. Ia melangkah keluar kamar dan menutup pintu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi. Sekeluarnya dari dalam kamar, Niken meregangkan badannya kemudian berjalan ke arah samping tempat kursi malas berada. Sejak tiba di villa kemarin ia tahu kalau tempat itu adalah spot yang paling oke dari tempat mereka menginap ini. Selain ada kolam renang, dari villa itu mereka bisa melihat ke pantai. Ruangan tampak sepi dengan cahaya lampu yang minim. Niken lalu berjalan ke arah pintu kaca yang tertutup gorden. “Gak ke kunci,” gumamnya s

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    55. Dilirik Bule

    Niken bersantai sejenak di kursi, menikmati semilir angin sambil tetap menatap lurus ke depan– memperhatikan Evan dan Riana. Sesekali ia menatap langit dan tersenyum bahagia. Dari tempatnya duduk, jelas terlihat kalau Riana dan Evan begitu seru bermain air– membuatnya ingin ikut bergabung. Baru saja ingin beranjak dari kursinya. Seorang pria tinggi putih bertelanjang dada, menghampirinya dan duduk di kursi pantai lain.“Halo,” sapa pria asing itu sembari tersenyum, “you look gorgeous, what your name?” tangan pria asing itu terulur menunggu Niken menerimanya.Niken yang tadinya santai, tiba-tiba saja kelihatan gugup karena kedatangan pria asing itu. Ia duduk dan memperbaiki kain bali– menutupi kakinya. Kebingungan tergambar jelas di wajah.“Sorry … this is my wife. Can i help you?”Secara tiba-tiba Dante datang dan duduk di samping Niken– sangat dekat. Satu tangannya merangkul pundak Niken, sementara satu tangannya membalas ukuran tangan bule itu.“Sorry,” katanya sambil tertawa, “your

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    54. Santai Di Pantai

    Pukul sepuluh mereka check out dan meninggalkan hotel. Baru beberapa menit berkendara, mobil yang Dante kendarai berbelok ke salah satu supermarket. Pria itu mengajak mereka turun dan belanja beberapa makanan ringan untuk cemilan mereka selama di villa. “Saya di sini aja, Mbak,” kata Niken sebelum Riana dan Dante keluar dari mobil, “mau nyusuin Evan,” lanjutnya lagi dengan suara pelan. “Oke,” sahut Riana keluar bersama dengan Dante. Membawa keranjang di tangannya, Riana memasukkan berbagai jenis makanan ringan dan minuman ke dalamnya. “Masukin ke sini aja, Mas,” kata Riana saat melihat Dante memegang sendiri belanjaannya. Pria lalu itu menjatuhkan belanjaannya ke dalam keranjang yang Niken bawa. Langkah Dante kemudian terhenti saat netranya melihat seseorang yang berada tak jauh darinya. “Aku tunggu di mobil … pinnya masih sama,” ucap Dante buru-buru mengeluarkan kartu berwarna hitam dan memberikannya pada Riana. Dengan tatapan bingung ia menerima kartu itu sembari menatap Dante

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    53. Packing

    Riana terbangun karena merasa suhu kamar terlalu dingin. Ia lalu menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Baru saja ingin kembali terpejam, ujung matanya menangkap bayangan seseorang yang sedang duduk di lantai. Riana menoleh ke arah kiri– tidak ada Niken di sana. “Astaga … kamu ngapain jam segini? Baru jam setengah enam pagi loh,” cecar Riana menggenggam ujung selimut. “Packing, Mbak. Kata Pak Dante kemarin … packing– mau check out.” Niken selesai dengan koper miliknya dan Evan. Ia hanya menyisakan baju ganti untuk nanti pagi. Riana yang tadinya ngantuk, reflek bangun lantas duduk menatap Niken. “Kok check out sih? Bukannya masih mau di sini?” Riana bingung bercampur kesal. Kenapa omongannya pada Niken berbeda dari kemarin. Padahal ia sudah menyusun rencana untuk mengunjungi beberapa tempat wisata hits yang ada di Bali. Tanpa pikir panjang, ia meraih ponsel dan menghubungi Dante. Namun berkali-kali dihubungi, tak ada respon. “Mas Dante ih,” umpat Riana melempar pelan po

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    52. Berkirim Pesan

    Niken semakin heran. Keningnya berkerut menatap Dante. Ia terdiam sejenak– berpikir. Tanggal berapa sekarang saja ia sudah tidak ingat. “Memangnya ini hari ulang tahun saya, Pak?” tanya Niken dengan wajah polos. Dante juga ikutan mengerutkan kening. Tangan kanannya meraih benda pipih berwarna hitam yang diletakkannya di samping gelas. Pria itu lalu menyebutkan tanggal hari ini. “Kok Pak Dante bisa tahu tanggal lahir saya?” tanya Niken menyadari hari ini memang tanggal lahirnya. “Tiup dulu,” kata Dante menunjuk api di pada lilin yang ada di kue itu. Dengan wajah malu-malu Niken mendekatkan wajahnya lalu meniup pelan api lilin itu. Dante lalu mendorong pelan, sendok kecil dari sisi piringnya. “Bapak mau?” tanya Niken cepat meraih sendok itu, lalu menyodorkannya ke arah Dante. Pria itu tertawa kecil. Wajahnya terlihat hangat. Selama mengasuh Evan, baru kali ini ia melihat wajah lain dari Dante. Dari kejauhan Riana melihat mereka berdua dia dalam. Tantenya Evan itu hanya bisa gelen

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    51. Sepotong Kue

    Restoran sudah mulai sepi saat Evan baru selesai makan. Entah kenapa pagi ini bayi mungil itu begitu lahap makan. Setelah membersihkan mulutnya dengan tisu basah, dengan sigap Dante mengangkat Evan dari kursi tinggi. “Sudah jam segini, Bapak gak telat?” tanya Niken khawatir ayahnya Evan itu terlambat ke acaranya. “Sudah saya bilang, saya antar kalian dulu. Telat itu urusan saya,” ucap Dante melangkah lebih dulu. Niken buru-buru mengejar mereka sebelum jauh. Masuk ke dalam lift, mereka lalu menuju lantai tempat kamar mereka berada. “Acara saya selesai jam empat sore. Nanti saya mau ajak Evan jalan jam lima, jadi tolong kamu siapkan Evan,” kata Dante memberikan Evan pada Niken. Tangan bayi mungil itu terus menggapai Niken yang berdiri di samping Dante. “Iya, Pak.” Begitu keluar dari lift, dari arah berlawanan tampak Riana dan Dea berjalan bersama-sama. Pria itu menatap tajam ke arah Riana lalu berhenti saat jarak mereka sudah hampir dekat. “Baru aja kita mau nyusul,” kata Riana me

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    6. Ponsel Baru

    Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?”

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    5. CCTV Baru

    Keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Riana turun ke bawah dan mendapati ruangan tampak sepi. “Mbok, Mas Dante sudah pergi?” tanya Riana pada Mbok Narti yang muncul dari balik pintu depan. “Belum, Mbak. Mobilnya masih parkir,” kata Mbok Narti. “Tumben. Mungkin gak ada janji sama pasien,” guma

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    4. Melihat Isi Baju

    “Kenapa gak ketuk pintu sih, Mas?” protes Riana saat mereka berada di luar kamar.“Ke kamar aku sendiri harus ketuk pintu?” Dante bertanya balik sambil melotot.“Aku capek. Mau istirahat,” kata Dante lagi dengan raut wajah tak karuan. “Sekarang kan sudah beda keadaannya, Mas. Ada Niken yang bakal

  • PESONA DOKTER DANTE (ASI SATU MILYAR)    3. Harus Bersih

    Niken menjerit dan reflek menutup pintu kamar mandi.“Auw!” jerit Dante keras karena tangannya terjepit di pintu. Mendengar suara itu, Niken buru-buru sedikit membuka pintu agar tangan Dante bisa lepas.“Astaga,” kata Niken bersandar di balik pintu. Cepat ia membersihkan badannya dan berganti pakai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status