로그인Di dapur loh ini Pak Dokter. Jangan bikin takuttt
Tiba di rumah hampir pukul setengah sepuluh, Niken berjalan duluan masuk ke dalam rumah. Ia sudah tak sabar menidurkan Evan di dalam boxnya. Sejak keluar dari rumah sakit, entah kenapa ia jadi sangat mengantuk. Langkahnya lalu melambat saat hampir tiba di kamar. Rasanya seperti ada orang yang berjalan tepat di belakangnya. Berhenti sebentar, Niken kemudian memutar badannya. Matanya membulat melihat Dante berdiri persis di belakangnya. Hanya berjarak beberapa sentimeter. Apa yang sedang Dante lakukan hingga harus mengikutinya sampai ke depan kamar, pikir Niken dalam hati. “Evan gak demam kan?” Pertanyaan konyol bagi seorang dokter yang sebenarnya tahu kalau vaksin yang diterima anaknya adalah vaksin diatas standar. Vaksin yang tidak akan menimbulkan efek samping seperti demam. Untung saja Niken awam soal itu. Reflek Niken menempelkan punggung tangannya ke dahi Evan yang masih tidur dalam gendongannya. Niken menggeleng. “Suhu badannya normal, Pak.” Melihat Dante yang masih be
Selang beberapa menit, perawat datang membawa catatan di tangannya, disusul Niken dan Evan. Dokter Akbar membaca catatan yang diberikan perawat tadi. Bibirnya tersenyum dengan kepala yang mengangguk kecil. Dokter itu lantas meminta perawat tadi menyiapkan peralatan dan vaksin untuk Evan. “Apa?” Dante menatap Akbar penuh tanya. Akbar lalu menunjukkan isi kertas itu pada Dante. Alis Dante berkerut lalu mengambil kertas dari tangan Akbar. “Sepertinya Evan cocok dengan susunya.” Akbar melirik ke arah Niken dan Dante bergantian dengan senyum menggoda. Tak menggubris Akbar, Dante memperhatikan catatan itu. Membaca dengan teliti setiap tulisan yang ada di dalamnya. Bibir Dante melengkung– senang karena berat dan tinggi badan anaknya berangsur naik. Dibandingkan saat ia lahir, berat badannya sekarang naik cukup signifikan. Dari arah tempat tidur terdengar suara tangisan. Evan baru saja selesai divaksin. “Bayinya di kasih susu aja, Bu,” ujar perawat itu tersenyum. Usul perawat itu benar
“Tolong tutup kulkasnya sekarang.” Pinta Dante lagi yang terdengar seperti perintah. Niken meletakan kue keju itu di meja lalu menutup pintu kulkas. Dapur yang tadinya sedikit terang karena cahaya dari kulkas kini menjadi remang-remang. Situasi ini membuat Niken tiba-tiba menjadi bingung. Ia malah melangkah hendak berlalu dari tempat itu. Namun tangannya cepat diraih oleh Dante. Reflek Niken menatap tangan Dante yang sedang memegang tangannya. Kemudian wajahnya terangkat sedikit demi sedikit menatap wajah Dante. Perlahan tapi pasti matanya mulai beradaptasi dalam gelap. Matanya susah berkedip. Wajah pria itu terpahat sempurna dengan rahang tegas ditumbuhi rambut tipis hingga dagunya serta tulang hidung yang menonjol. “Saya mau ngecek Evan, Pak,” ucap Niken tersadar. Sudah terlalu lama berada di dapur. Terlalu lama menatap Dante. “Selesaikan saja dulu. Saya akan cek Evan.” Dante berbalik dan meninggalkan Niken yang masih berdiam diri. Apa itu? Kenapa setiap kali ada Dante, aku s
Sepeninggal Dante, Niken membawa Evan ke ruang makan. Ditemani Mbok Tini dan Mbok Narti yang bergantian menjaga bayi mungil itu, Niken bisa menikmati makan malamnya dengan tenang. Tak pernah terbayangkan ia bisa berada di tempat ini, dengan segala kemudahan yang ia terima. Meski harus selalu was was dengan Dante. Ada sesuatu dari pria itu yang membuatnya takut. Entah apa, ia juga belum tahu. “Mau nyusu kayaknya, Mbak,” kata Mbok Narti saat Evan mulai rewel. Cepat Niken menghabiskan makannya. “Sudah. Biar Mbok yang beresin. Kamu ajak Evan aja ke kamar atau gak ke ruang tengah,” cecar Mbok Narti melihat Niken hendak membereskan peralatan makannya. Sangat hati-hati ia menerima Evan dari Mbok Narti. Kakinya melangkah cukup cepat menuju ruang tengah sebelum tangis Evan makin kencang. Duduk di sofa yang besar dan sangat empuk ini, Niken membuka beberapa kancing bajunya dan mulai menyusui Evan. Bayi laki-laki itu terus menempel di dadanya seolah tidak ada kenyang. Salah satu tangannya m
Niken masih menatap Riana. Hatinya tak karuan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Bagaimana kalau nanti ia harus berurusan dengan ayahnya Evan atau harus menghadapi keadaan yang diluar dugaan. “Tiga hari itu cuma sebentar, Niken. Gak usah takut kayak gitu, tenang aja. Kan ada Mbok Narti sama Mbok Tini,” kata Riana mencoba menenangkan Niken. Sayur katuk yang sebenarnya enak itu, tiba-tiba hilang rasanya di lidah Niken. “Habisin ya.” Riana tersenyum sembari mengusap pelan pundak Niken lalu pamit. Tangannya berkali-kali mengaduk kuah sayur itu sebelum akhirnya ia minum dengan sendok. Dari tempatnya duduk, ia dapat mendengar suara Riana dan Dante yang tengah berbincang. “Aku jalan ya, Mas.” “Iya.” Suara berat Dante langsung membuat jantung Niken berdetak tak karuan. Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki menuju ruang makan, membuat Niken buru-buru mengangkat mangkuk sayur agar tidak bertemu dengan Dante. Tapi karena gugupnya, ia tak sengaja menumpahkan sed
Untuk kesekian kalinya Evan kembali menangis. Padahal baru tiga puluh menit bayi mungil itu tertidur. Niken yang hampir tertidur mau tak mau kembali membuka matanya dan mengecek keadaan Evan. Duduk sebentar di tepi ranjang, ia lalu beranjak menuju box yang berada tak jauh darinya.“Kenapa, Sayang?” Niken mengecek popok Evan yang ternyata penuh.Setelah mengambil popok dan perlengkapannya dari dalam laci, Niken memindahkan Evan dari box dan membaringkannya di atas tempat tidur.“Kita ganti dulu ya, Sayang.” Niken menatap Evan beberapa saat, kemudian mengganti popoknya dengan yang baru. Tak lupa ia mengoleskan minyak telon di perut Evan. Seolah suka dengan usapan tangan Niken, bibir kecil Evan mengulas senyum tipis. Niken lantas kembali membaringkan Evan di dalam box sementara ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.Baru saja menekan botol pump yang berisi sabun tangan, sayup-sayup terdengar suara tangisan Evan. Buru-buru Niken menyudahi aktivitasnya. Sambil mengeringkan tangan







