LOGINSepi di ruangan ini rasanya kayak di gantung.
_Tik_ _tik_ _tik_ Dari lampu neon di atas menusuk ke ubun-ubun sampai kepala ku pening. Cahaya putihnya nyorot ke mata, bikin penglihatan ku kabur di pinggir. Keringat dingin turun dari pelipis, masuk ke leher, lengket. Bau badan ku sendiri kecampur bau karat dari borgol. Mual. Aku tahan. Gak boleh goyah. Begitu goyah, aku mati. Pintu kebuka pelan. _Ngek_ Masuk laki-laki. Jas abu-abu, klimis, tanpa satu lipatan pun. Dasi biru dongker. Sepatu ngelap sampai bisa buat ngaca. Rambutnya disisir ke belakang, licin pake minyak. Wangi parfumnya nyekrek, mahal, menusuk ke hidung bikin mual. Tipe orang yang kalau jalan, lantai ikut ngalah. Dia duduk tanpa permisi. Kursi berdecit. Naruh tas kulit coklat di meja. Kulit asli. Ada logo emas kecil di pojok. Dorong pelan sampai berhenti pas di depan borgol ku. Jaraknya cuma sejengkal. Dia memandangku dengan tersenyum. Senyum yang gak nyampe ke mata. Mata nya dingin. Menilai. Seolah-olah aku ini benda yang lucu dan mudah diatur. Seolah-olah aku ini kecoa yang tinggal di injak. "Malam, Macho," katanya. Suaranya halus, tapi ada silet di dalamnya. Setiap suku kata dia potong pelan. Aku diem. Mulut kering. Lidah menempel ke langit-langit. Rahang ngunci sampai gigi ngilu. Kalau aku buka mulut sekarang, yang keluar cuma makian. "Andrian. Dari Pak Arman." Nama itu jatuh ke dada ku kayak batu. Duk. Nafasku langsung pendek. Sesak. Di kepala ku langsung rusuh. Aku benci nama itu. Lebih dari namaku sendiri. Nama itu yang bikin berita. Nama itu yang bikin Citra nangis. Nama itu yang bikin aku di borgol. Uang. Sepuluh miliar. Di tas itu. Aku butuh. Tuhan tau aku butuh. Buat makan. Buat bayar pengacara. Buat kabur dari Jakarta. Buat nebus nama ku yang sudah di injak-injak media sampai jadi comberan. Tapi kalau aku ambil, aku jadi anjing dia selamanya. Di rantai. Di suruh gonggong kapan dia mau. Kalau aku gak ambil, aku busuk di penjara dan tetap miskin. Dan aku nggak mau itu terjadi padaku. Aku udah miskin 20 tahun. Cukup. Andrian buka tasnya. Pelan. Pamer. Di dalamnya tumpukan uang. Baru. Rapi. Ada pita kertas bank nya masih utuh. Wanginya menyengat. Wangi kertas. Wangi kuasa. Terus dia keluarin amplop coklat tebal. Di atasnya ada tulisan spidol hitam yang gemetar: 10.000.000.000. Sepuluh miliar. Angka itu muter di kepala ku. Muter terus. Ngeledek. "Ambil. Bebas." "Ambil. Busuk." Tenggorokan ku kering, aku telan ludah, pahit. Rasanya kayak nelen pecahan kaca. Aku nggak tahu mana yang bakal ku pilih. Aku hanya menatap lurus ke hadapan wajah Andrian. "Ini apresiasi," bisik Andrian sambil condong ke depan. Bau parfumnya nyekek sampai ke paru-paru. Napasnya kena ke muka ku. "Gampang. Di sidang nanti kamu bilang kamu yang mulai. Bilang Pak Arman korban. Bilang kamu gak kenal siapa-siapa. Bilang kamu butuh uang." Dia senyum lagi. Kali ini lebar. Gigi nya putih. Rapi. Senyum kemenangan. Senyum orang yang sudah menang sebelum perang. Bahunya rileks. Tangannya mainin pena emas di jari. Seolah-olah ini cuma transaksi biasa. Beli sayur di pasar. Tanganku gemetar di atas meja. Bukan karena takut. Karena nahan. Karena marah. Karena lapar sudah dua hari. Perut ku keroncongan. Karena capek jadi sampah. Capek di ludahi. Capek di foto. Capek jadi bahan berita jam 7 malam. Lain lagi ulasan sosmed yang sudah barang tentu angel berita terekspos wajah ku seperti terdakwa tanpa vonis pengadilan. Aku merem tiga detik. Dalam gelap itu aku liat diri ku sendiri. Umur dua puluh. Yatim piatu. Tidur di emperan. Udah jual badan. Masa iya mau jual sumpah juga? Harga ku berapa? Sepuluh miliar? Murah. Terus kebayang muka Citra. Nangis liat berita. "Macho penipu. Macho terima suap." Air matanya. Tatapannya kecewa. Aku buka mata. Terus aku ambil amplop itu. Jari ku menyentuh kertasnya. Kasar. Berat. Dingin. Kayak megang nisan. Dorongan serakah menggoda. Akalku buta. "Saya terima," kata ku. Suara ku sember, pecah di tengah. Tenggorokan serak. "Saya capek, Pak." Andrian langsung menghela napas lega. Panjang. Bahunya turun. "Nah gitu. Pinter." Dia berdiri, merapikan jasnya, menepuk-nepuk lengan. Wajahnya sumringah. Matanya berbinar. Licik. Seolah-olah berkata, “aku bisa melaksanakan misi ini dengan mudah. Anak miskin emang gampang di beli.” Dia sudah menang di kepala nya. Mendadak otakku encer. Entah dari mana aku mendapatkan ide brilian walaupun aku nggak ngerti hukum. Hanya naluri. Hanya refleks. Hanya amarah 20 tahun jadi orang miskin yang diinjak-injak. Nah. Sekarang waktunya!. Aku batuk. Keras. Dari perut. Sengaja sampai dada sakit, sampai air mata hampir keluar. Badan ku oleng, kursi mundur _ngek_. "Pak... pusing," gumamku. Suara ku aku bikin lemah. Andrian nengok. Alisnya naik. Bingung. _Brak_ Amplop itu aku jatuhkan. Sengaja. Dengan dua tangan. Uang berhamburan ke lantai. Memenuhi ruangan. Lembaran 100 ribu beterbangan. Ada yang mendarat di kaki meja. Ada yang ke bawah kursi. Andrian langsung panik. Topeng tenangnya retak. "Hei!" Dia langsung jongkok, buru-buru memungut lembaran uang yang berserakan itu. Tangannya gemetar. Takut kurang. Takut ada yang lihat. "Aduh maaf!" Aku buru-buru nunduk juga, tangan gemetar pungut satu-satu. Lemot. Sengaja lemot. Biar kelihatan lemas. Biar keliatan pecundang. Biar dia gak curiga. Tapi mata ku gak buta. HP Andrian jatuh juga dari saku jasnya. Mendarat pas di sebelah tumpukan uang. Layarnya nyala. Jantungku mau copot. Bisa dengar degupan di telinga. Dua detik. Cuma butuh dua detik. Aku raih. Jari ku dingin. Klik. Cepat. Satu foto amplopnya. Satu foto uangnya yang masih berserakan. Satu foto muka Andrian yang panik, keringat di pelipisnya. Terus aku taruh lagi pelan, kayak gak terjadi apa-apa. CCTV di atas merekam aku yang "jatuh" dan "pungut", tapi gak merekam tangan ku yang menekan tombol. Badan ku nutupin. "Udah, Pak," kataku sambil nyerahin amplop yang sudah lengkap lagi ke dia. Tangan ku masih gemetar. Akting. Andrian hitung. Cepat. Dahi nya berkerut. Keringat beneran keluar sekarang. "Tadi jatuh ya?" Matanya menatap tajam tentang apa yang kuperbuat, seolah-olah mau menguliti jiwaku. Aku angguk, bikin mata ku merah, bikin bibir ku bergetar. "Iya. Lapar. Dua hari gak makan." Sesaat kemudian. Mendengar jawabanku, kecurigaannya sirna. Dia ketawa kering. Nafasnya masih kacau. "Yaudah. Makan yang banyak. Biar kuat di pengadilan besok." Senyumnya udah gak selebar tadi. Masih ada tersisa setitik curiga di matanya. Terus dia jalan keluar. Punggungnya kaku. Wajah senyum kemenangan sudah hilang. Pintu ketutup. _Srettt_ Tinggal aku. Dada ku naik turun kenceng kayak habis lari maraton. Napas ku berat. Tapi anehnya tenang. Tenang yang dingin. Karena foto itu ada. Di HP dia. Dan HP itu masih di lantai. Masih nyala. Tik tik tik. Pintu kebuka lagi. Pak Hendra masuk. Bau keringat dan rokok. Matanya langsung menyapu ruangan. Lihat aku. Lihat lantai yang masih ada beberapa lembar uang nyelip. Lihat amplop di tangan Andrian yang baru keluar dari ujung lorong. "Ada apa?" tanyanya singkat. Suaranya berat. Aku angkat tangan sebisa nya. Borgol ku berisik. "Pak... tadi orang itu ngasih saya sesuatu. Dia jatuhin HP nya. Di situ." Pak Hendra duduk cepat. Kursi berdecit. Ngambil HP dari lantai. Nyalain. Diem. Jempolnya jalan. Terus dia buka galeri. Tiga foto. Baru satu menit lalu. Amplop coklat di atas tumpukan uang. Uang berserakan di lantai. Muka Andrian yang panik, keringat di pelipis, mata melotot. Wajah Pak Hendra berubah. Dari datar jadi tajam. Rahangnya mengeras. Matanya melotot menatapku. Seakan-akan tidak percaya apa yang aku perbuat barusan. Nafasnya berhenti sebentar. "Kamu yang foto?" Aku tunduk. Rambut ku nutupin muka. "Saya cuma mau selamat, Pak. Saya miskin. Dari kecil diinjak. Diludahi. Tapi saya gak mau jadi anjing." Pak Hendra buang napas panjang. Berat. Dia masukin HP itu ke plastik barang bukti. Segel. Tulis tanggal. Tangan nya mantap. "Ini bukti sah," katanya pelan. "Ada CCTV juga yang ngerekam lu jatuhin amplop. Logis. Masuk akal." Dia jongkok, sejajar sama aku. Bau rokoknya kuat. "Denger. Orang kayak kamu bisa jadi saksi. Bisa ringan hukumannya. Bisa selamat. Mulai besok kamu bukan cuma pesakitan. Kamu partner kami buat nangkep yang gede." Dada ku ringan sedikit. Kayak ada batu yang diangkat. Sepuluh miliar sudah dibawa orang, jadi barang bukti negara. Tapi aku masih punya nafas. Masih punya nama. Masih punya kesempatan. Aku senyum. Tipis. Pahit. Di ujung bibir. "Saya capek miskin, Pak. Capek di injak terus. Capek dibilang sampah." Pak Hendra nepuk bahu ku pelan. Tangannya kasar. "Besok sidang. Ada video. Delapan detik. Tentang kamu. Siap?" Aku angguk. Pintu ketutup lagi. Tinggal aku. Lampu neon. Dan suara jantung ku sendiri. Yang akhirnya gak cuma takut. Tapi juga mau lawan. Mau hidup. Mau gak miskin lagi. ---UJIAN DARI CALON MERTUAIbu Rohman menutup mulut.Devi melanjutkan, air matanya jatuh ke bambu."Pak, dari kecil Bapak ajari Devi, jangan lihat orang dari masa lalunya, lihat dari sekarangnya dia sholat atau tidak. Macho sekarang sholat, Pak. Di warung ini, dia yang bangun paling pagi, ambil wudhu pakai air dingin, sholat subuh di pojok warung itu. Devi lihat sendiri.""Devi, kamu dibutakan cinta," potong Pak Rohman."Bukan, Pak. Devi yang dulu dibutakan malu. Devi malu punya pacar montir. Tapi waktu bengkel Macho dilempar uang 30 juta sama Vania, waktu warga usir dia, dia tidak lari. Dia berdiri di depan warga dan bilang, iya saya gigolo. Itu jujur, Pak. Laki-laki mana di Cianjur yang berani jujur aibnya di depan umum?"Warung itu bergetar.Franz yang duduk di pojok, memeluk Kirana yang juga menangis. Karena Kirana tahu, setelah ini giliran dia dan Franz.Arman akhirnya bicara. Pelan."Pak Rohman, saya Arman. Saya bukan ustadz. Saya mantan pejabat PUPR yang dipecat tidak hormat. Saya
LAMARAN YANG DITOLAK WARGAPagi setelah makan nasi liwet itu, warung Ine tidak buka.Pintu bambu ditutup setengah. Di papan tulis kecil yang biasanya bertuliskan Ayam Goreng 12rb, Kopi Hitam 5rb, Ine menulis dengan kapur:TUTUP. ADA LAMARAN.Warga Cianjur yang lewat, berhenti. Membaca. Lalu berbisik."Lamaran siapa?""Si Macho itu katanya mau ngelamar si Devi.""Devi anaknya Pak Ustadz Rohman? Yang jilbabnya panjang itu?""Ya Allah. Jangan."Jam delapan pagi, sebuah angkot berhenti di depan warung. Turun tiga orang.Pak Rohman. Ibu Rohman. Dan Devi.Pak Rohman tidak memakai baju koko. Ia memakai kemeja batik yang rapi. Tapi wajahnya keras. Ibu Rohman menggandeng Devi erat, seperti takut Devi lari.Di dalam warung, semua sudah siap. Bukan siap pesta. Siap sidang.Arman duduk di bale tengah, memakai kemeja putih bersih yang baru dibeli Ine semalam di pasar. Tato naga di lehernya ia tutup dengan plester. Di sebelahnya, Macho. Macho memakai baju batik pinjaman Franz, kebesaran di bahu. Ra
BENGKEL YANG DIBAKAR OLEH AIBMalam setelah Porsche putih Vania penyok itu pergi, warung Ine tidak langsung tenang.Justru malam itulah Arman tidak bisa tidur.Ia duduk di bale bambu sendirian, memegang foto lama yang diberikan Vania. Foto Mirna, adik angkarnya, yang meninggal tahun lalu. Di foto itu Mirna masih muda, masih memakai seragam pegawai negeri sipil Kementerian PUPR. Di samping Mirna, Arman yang masih gagah dengan kemeja putih dan dasi, belum ada tato naga di lehernya.Itu foto ahun sebelum semuanya hancur.Arman ingat betul tahun itu. Tahun di mana ia masih menjadi staf penting di Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR. Di siang hari ia rapat proyek jalan tol. Di malam hari ia menjadi Godfather Arman, yang menguasai lendir dan narkoba di Blok M, Senopati, dan jaringan pub kelas atas Jakarta.Dua kehidupan yang ia jalani dengan rapi. Sampai Bianca, germo kepercayaan Arman, melakukan kesalahan besar.Bianca adalah induk semang Macho dan Franz.Macho bukan anak pung
Vania berdiri, masih senyum. Dia buka tas Hermes-nya, keluarkan tiga gepok uang, 100 ribuan masih diikat karet bank, lempar ke bale bambu. Uang itu jatuh, berhamburan."Ini 30 juta cash. Buat kamu. Ambil. Temenin aku siang ini aja."Semua diam melihat uang itu.Arman berdiri, kaki diplesternya sakit, tapi dia jalan ke depan. Dia pungut uang itu satu per satu, dengan tangan gemetar, lalu kembalikan ke tas Vania."Maaf, Mbak," kata Arman, sama seperti kemarin, jadi bapak yang mau menyatukan keluarga. "Anak saya tidak dijual."Vania kaget melihat Arman. "Bapak siapa?""Bapaknya," kata Arman.Vania mendengus, ambil tasnya, keluar. Tapi sebelum masuk Porsche, dia teriak dari depan."Kalian pikir cuma aku? Grup Rani isinya 80 orang! Semua sudah lihat foto kalian! Mereka semua OTW Cianjur hari ini! Kita lihat warung kampung ini tahan berapa lama!"Porsche putih itu pergi dengan suara knalpot keras.Belum lima menit, datang lagi. Kali ini Alphard putih lain. Turun dua perempuan, lebih muda, p
Sore itu Cianjur seperti ditahan napasnya.Alphard hitam Rani sudah hilang di tikungan, tapi debu halusnya masih menggantung di depan warung Ine. Bau parfum mahal Rani masih tertinggal, bercampur bau gorengan dan kopi.Tidak ada yang bicara.Devi masih memegang tangan Macho. Kuku-kukunya menancap. Bukan manja. Menahan. Takut kalau dilepas, Macho akan ditarik kembali ke Jakarta yang dulu.Kirana masih memegang lengan Franz. Erat sekali sampai buku-buku jarinya putih. Wajahnya merah bukan karena malu lagi, tapi karena marah yang tidak tahu harus dilempar kemana.Ine yang di teras, napasnya pendek-pendek. Tangannya masih di dada. Arman berdiri di sampingnya, kaki diplester itu gemetar karena terlalu lama menahan berat badan, tapi tangannya menggenggam tangan Ine kuat.Yang pertama bersuara adalah Ine."Tutup warung setengah hari," katanya pelan.Arman mengangguk. "Tutup."Macho langsung mengerti. Dia balik badan, menurunkan setengah rolling door yang berderit keras. Bunyi itu memecah sep
Jam dua siang. Xenia putih baru masih bau dealer parkir di depan warung Ine yang ramai. Warung makanan masih buka setengah, warung serba ada juga buka, pembeli keluar masuk beli rokok dan galon.Empat orang baru pulang dari Puncak. Macho nyetir, kepala masih diperban, tapi matanya lega habis liburan. Devi di sebelahnya, rambutnya masih agak berantakan kena angin Puncak, pipinya merah dingin, tangannya masih gandeng tangan Macho di bawah dashboard, tidak lepas sejak warung kopi tadi. Di belakang Kirana dan Franz, Kirana sandaran kepalanya ngantuk di bahu Franz, Franz diam, tidak bergerak, biarin Kirana tidur di bahunya, padahal bahunya pegal.Ine dan Arman di teras lihat Xenia putih datang, senyum ceria, bahagia. Cita-citanya menyatukan keluarga mulai terkabul, anak-anak pulang liburan bareng, dua pasang yang lagi kasmaran."Bagaimana liburan?" tanya Ine waktu mereka turun."Seru, Ma," kata Kirana, masih ngantuk, langsung peluk Ine. "Puncaknya dingin."Arman lihat Macho gandeng tangan







