Share

BAB 10

Author: IRSADE
last update publish date: 2026-07-16 03:06:06

Sepi di ruangan ini rasanya kayak di gantung.

_Tik_

_tik_

_tik_

Dari lampu neon di atas menusuk ke ubun-ubun sampai kepala ku pening. Cahaya putihnya nyorot ke mata, bikin penglihatan ku kabur di pinggir. Keringat dingin turun dari pelipis, masuk ke leher, lengket. Bau badan ku sendiri kecampur bau karat dari borgol. Mual. Aku tahan. Gak boleh goyah. Begitu goyah, aku mati.

Pintu kebuka pelan.

_Ngek_

Masuk laki-laki. Jas abu-abu, klimis, tanpa satu lipatan pun. Dasi biru dongker. Sepatu ngelap sampai bisa buat ngaca. Rambutnya disisir ke belakang, licin pake minyak. Wangi parfumnya nyekrek, mahal, menusuk ke hidung bikin mual. Tipe orang yang kalau jalan, lantai ikut ngalah.

Dia duduk tanpa permisi. Kursi berdecit. Naruh tas kulit coklat di meja. Kulit asli. Ada logo emas kecil di pojok. Dorong pelan sampai berhenti pas di depan borgol ku. Jaraknya cuma sejengkal.

Dia memandangku dengan tersenyum. Senyum yang gak nyampe ke mata. Mata nya dingin. Menilai. Seolah-olah aku ini benda yang lucu dan mudah diatur. Seolah-olah aku ini kecoa yang tinggal di injak.

"Malam, Macho," katanya. Suaranya halus, tapi ada silet di dalamnya. Setiap suku kata dia potong pelan.

Aku diem. Mulut kering. Lidah menempel ke langit-langit. Rahang ngunci sampai gigi ngilu. Kalau aku buka mulut sekarang, yang keluar cuma makian.

"Andrian. Dari Pak Arman."

Nama itu jatuh ke dada ku kayak batu. Duk. Nafasku langsung pendek. Sesak. Di kepala ku langsung rusuh. Aku benci nama itu. Lebih dari namaku sendiri. Nama itu yang bikin berita. Nama itu yang bikin Citra nangis. Nama itu yang bikin aku di borgol.

Uang. Sepuluh miliar. Di tas itu.

Aku butuh. Tuhan tau aku butuh. Buat makan. Buat bayar pengacara. Buat kabur dari Jakarta. Buat nebus nama ku yang sudah di injak-injak media sampai jadi comberan. Tapi kalau aku ambil, aku jadi anjing dia selamanya. Di rantai. Di suruh gonggong kapan dia mau. Kalau aku gak ambil, aku busuk di penjara dan tetap miskin. Dan aku nggak mau itu terjadi padaku. Aku udah miskin 20 tahun. Cukup.

Andrian buka tasnya. Pelan. Pamer.

Di dalamnya tumpukan uang. Baru. Rapi. Ada pita kertas bank nya masih utuh. Wanginya menyengat. Wangi kertas. Wangi kuasa. Terus dia keluarin amplop coklat tebal. Di atasnya ada tulisan spidol hitam yang gemetar: 10.000.000.000.

Sepuluh miliar.

Angka itu muter di kepala ku. Muter terus. Ngeledek. "Ambil. Bebas." "Ambil. Busuk." Tenggorokan ku kering, aku telan ludah, pahit. Rasanya kayak nelen pecahan kaca. Aku nggak tahu mana yang bakal ku pilih. Aku hanya menatap lurus ke hadapan wajah Andrian.

"Ini apresiasi," bisik Andrian sambil condong ke depan. Bau parfumnya nyekek sampai ke paru-paru. Napasnya kena ke muka ku. "Gampang. Di sidang nanti kamu bilang kamu yang mulai. Bilang Pak Arman korban. Bilang kamu gak kenal siapa-siapa. Bilang kamu butuh uang."

Dia senyum lagi. Kali ini lebar. Gigi nya putih. Rapi. Senyum kemenangan. Senyum orang yang sudah menang sebelum perang. Bahunya rileks. Tangannya mainin pena emas di jari. Seolah-olah ini cuma transaksi biasa. Beli sayur di pasar.

Tanganku gemetar di atas meja. Bukan karena takut. Karena nahan. Karena marah. Karena lapar sudah dua hari. Perut ku keroncongan. Karena capek jadi sampah. Capek di ludahi. Capek di foto. Capek jadi bahan berita jam 7 malam. Lain lagi ulasan sosmed yang sudah barang tentu angel berita terekspos wajah ku seperti terdakwa tanpa vonis pengadilan.

Aku merem tiga detik. Dalam gelap itu aku liat diri ku sendiri. Umur dua puluh. Yatim piatu. Tidur di emperan. Udah jual badan. Masa iya mau jual sumpah juga? Harga ku berapa? Sepuluh miliar? Murah.

Terus kebayang muka Citra. Nangis liat berita. "Macho penipu. Macho terima suap." Air matanya. Tatapannya kecewa.

Aku buka mata.

Terus aku ambil amplop itu. Jari ku menyentuh kertasnya. Kasar. Berat. Dingin. Kayak megang nisan. Dorongan serakah menggoda. Akalku buta.

"Saya terima," kata ku. Suara ku sember, pecah di tengah. Tenggorokan serak. "Saya capek, Pak."

Andrian langsung menghela napas lega. Panjang. Bahunya turun. "Nah gitu. Pinter." Dia berdiri, merapikan jasnya, menepuk-nepuk lengan. Wajahnya sumringah. Matanya berbinar. Licik. Seolah-olah berkata, “aku bisa melaksanakan misi ini dengan mudah. Anak miskin emang gampang di beli.”

Dia sudah menang di kepala nya.

Mendadak otakku encer. Entah dari mana aku mendapatkan ide brilian walaupun aku nggak ngerti hukum. Hanya naluri. Hanya refleks. Hanya amarah 20 tahun jadi orang miskin yang diinjak-injak.

Nah. Sekarang waktunya!.

Aku batuk. Keras. Dari perut. Sengaja sampai dada sakit, sampai air mata hampir keluar. Badan ku oleng, kursi mundur _ngek_. "Pak... pusing," gumamku. Suara ku aku bikin lemah.

Andrian nengok. Alisnya naik. Bingung.

_Brak_

Amplop itu aku jatuhkan. Sengaja. Dengan dua tangan. Uang berhamburan ke lantai. Memenuhi ruangan. Lembaran 100 ribu beterbangan. Ada yang mendarat di kaki meja. Ada yang ke bawah kursi.

Andrian langsung panik. Topeng tenangnya retak. "Hei!" Dia langsung jongkok, buru-buru memungut lembaran uang yang berserakan itu. Tangannya gemetar. Takut kurang. Takut ada yang lihat.

"Aduh maaf!" Aku buru-buru nunduk juga, tangan gemetar pungut satu-satu. Lemot. Sengaja lemot. Biar kelihatan lemas. Biar keliatan pecundang. Biar dia gak curiga.

Tapi mata ku gak buta.

HP Andrian jatuh juga dari saku jasnya. Mendarat pas di sebelah tumpukan uang. Layarnya nyala. Jantungku mau copot. Bisa dengar degupan di telinga.

Dua detik. Cuma butuh dua detik.

Aku raih. Jari ku dingin. Klik. Cepat. Satu foto amplopnya. Satu foto uangnya yang masih berserakan. Satu foto muka Andrian yang panik, keringat di pelipisnya. Terus aku taruh lagi pelan, kayak gak terjadi apa-apa. CCTV di atas merekam aku yang "jatuh" dan "pungut", tapi gak merekam tangan ku yang menekan tombol. Badan ku nutupin.

"Udah, Pak," kataku sambil nyerahin amplop yang sudah lengkap lagi ke dia. Tangan ku masih gemetar. Akting.

Andrian hitung. Cepat. Dahi nya berkerut. Keringat beneran keluar sekarang. "Tadi jatuh ya?" Matanya menatap tajam tentang apa yang kuperbuat, seolah-olah mau menguliti jiwaku.

Aku angguk, bikin mata ku merah, bikin bibir ku bergetar. "Iya. Lapar. Dua hari gak makan."

Sesaat kemudian. Mendengar jawabanku, kecurigaannya sirna. Dia ketawa kering. Nafasnya masih kacau. "Yaudah. Makan yang banyak. Biar kuat di pengadilan besok." Senyumnya udah gak selebar tadi. Masih ada tersisa setitik curiga di matanya. Terus dia jalan keluar. Punggungnya kaku. Wajah senyum kemenangan sudah hilang. Pintu ketutup.

_Srettt_

Tinggal aku.

Dada ku naik turun kenceng kayak habis lari maraton. Napas ku berat. Tapi anehnya tenang. Tenang yang dingin. Karena foto itu ada. Di HP dia. Dan HP itu masih di lantai. Masih nyala.

Tik tik tik.

Pintu kebuka lagi. Pak Hendra masuk. Bau keringat dan rokok. Matanya langsung menyapu ruangan. Lihat aku. Lihat lantai yang masih ada beberapa lembar uang nyelip. Lihat amplop di tangan Andrian yang baru keluar dari ujung lorong.

"Ada apa?" tanyanya singkat. Suaranya berat.

Aku angkat tangan sebisa nya. Borgol ku berisik. "Pak... tadi orang itu ngasih saya sesuatu. Dia jatuhin HP nya. Di situ."

Pak Hendra duduk cepat. Kursi berdecit. Ngambil HP dari lantai. Nyalain. Diem. Jempolnya jalan. Terus dia buka galeri.

Tiga foto. Baru satu menit lalu. Amplop coklat di atas tumpukan uang. Uang berserakan di lantai. Muka Andrian yang panik, keringat di pelipis, mata melotot.

Wajah Pak Hendra berubah. Dari datar jadi tajam. Rahangnya mengeras. Matanya melotot menatapku. Seakan-akan tidak percaya apa yang aku perbuat barusan. Nafasnya berhenti sebentar.

"Kamu yang foto?"

Aku tunduk. Rambut ku nutupin muka. "Saya cuma mau selamat, Pak. Saya miskin. Dari kecil diinjak. Diludahi. Tapi saya gak mau jadi anjing."

Pak Hendra buang napas panjang. Berat. Dia masukin HP itu ke plastik barang bukti. Segel. Tulis tanggal. Tangan nya mantap.

"Ini bukti sah," katanya pelan. "Ada CCTV juga yang ngerekam lu jatuhin amplop. Logis. Masuk akal."

Dia jongkok, sejajar sama aku. Bau rokoknya kuat. "Denger. Orang kayak kamu bisa jadi saksi. Bisa ringan hukumannya. Bisa selamat. Mulai besok kamu bukan cuma pesakitan. Kamu partner kami buat nangkep yang gede."

Dada ku ringan sedikit. Kayak ada batu yang diangkat. Sepuluh miliar sudah dibawa orang, jadi barang bukti negara. Tapi aku masih punya nafas. Masih punya nama. Masih punya kesempatan.

Aku senyum. Tipis. Pahit. Di ujung bibir. "Saya capek miskin, Pak. Capek di injak terus. Capek dibilang sampah."

Pak Hendra nepuk bahu ku pelan. Tangannya kasar. "Besok sidang. Ada video. Delapan detik. Tentang kamu. Siap?"

Aku angguk.

Pintu ketutup lagi. Tinggal aku. Lampu neon. Dan suara jantung ku sendiri. Yang akhirnya gak cuma takut. Tapi juga mau lawan. Mau hidup.

Mau gak miskin lagi.

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 93

    PENUTUPHARI BAHAGIALangit Cianjur pagi itu tidak cerah. Mendung tipis. Tapi di papan tulis warung Ine, tulisan kapur kemarin masih ada:TUTUP. PENGANTIN BULAN MADU DI BENGKEL BARU.Warung memang tutup. Bukan karena malas. Karena penghuninya sedang pindahan.Macho dan Devi, Franz dan Kirana, pagi itu tidak bulan madu ke Bali. Mereka boncengan, dua motor bebek butut, membawa karung berisi baju, membawa rantang nasi liwet sisa semalam, dan membawa map coklat berisi empat sertifikat dari Arman, menuju Bekasi.Bekasi menyambut mereka bukan dengan karpet merah. Dengan debu, dengan klakson, dengan bau oli yang mereka rindukan.Ruko yang dimaksud Vania ada di pinggir jalan raya Narogong. Catnya pudar. Pintunya masih digembok. Di atasnya ada spanduk lama: DIKONTRAKKAN.Macho membuka gembok itu dengan kunci dari kado Vania. Kunci itu berderit.Di dalam, kosong. Lantai semen, dinding jamuran, bekas oli hitam di mana-mana. Inilah bengkel mereka yang dulu. Yang dulu mereka bangun dengan uang has

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 92

    BAB 92HARI BAHAGIASaat nasi liwet dibuka, saat semua mau makan, datang lagi satu mobil.Kali ini bukan Alphard. Porsche putih penyok.Vania.Vania, keponakan Arman, yang dulu melempar uang 30 juta ke warung.Vania turun, memakai dress putih, bukan baju ketat. Ia tidak bawa uang. Ia bawa kado. Dua kado besar dibungkus kertas kado murah.Semua tegang lagi. Devi dan Kirana yang baru sah, langsung pegangan tangan.Vania berjalan pelan ke pelaminan."Macho, Franz, selamat ya," kata Vania, suaranya pelan, tidak ada sombongnya lagi.Macho menatap Vania. Dulu Vania melempar uang. Sekarang Vania bawa kado."Vania, kamu untuk apa ke sini?" tanya Macho, masih waspada.Vania menyodorkan kado."Ini, dari tabungan aku. Bukan 30 juta. Cuma 5 juta isinya. Tapi ini bukan untuk beli kalian. Ini untuk buka bengkel baru. Bengkel yang kemarin tutup karena aib, sekarang buka lagi. Namanya Bengkel Barokah. Aku sudah sewa ruko di Bekasi, dekat kontrakan lama kalian. Surat sewanya ada di dalam kado."Semua

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 91

    BAB 91PERNIKAHANPagi akad, jam 06.00.Warung Ine disulap. Bukan disulap jadi gedung. Tetap warung bambu. Tapi Ine, Rani, Sarah, dan ibu-ibu pengajian memasang kain putih di atas bale. Menata tikar baru. Memasang janur kuning dari daun kelapa asli, bukan plastik.Dua pelaminan kecil dibuat dari bambu. Tulisannya: Macho & Devi dan Franz & Kirana. Double quartet. Dua pasang yang nasibnya sama.Macho memakai baju koko putih, bukan jas. Di sakunya, ia sengaja selipkan lap majun bekas bengkelnya yang sudah dicuci. Franz memakai batik coklat, sama seperti Macho, tapi ia pakai peci hitam yang agak miring karena gugup.Devi dan Kirana di dalam warung, dirias oleh Teh Siti. Bukan make up tebal. Hanya bedak, lipstik tipis, dan kerudung putih. Cantiknya bukan cantik panggung. Cantiknya nancep karena deg-degan.Jam 07.30, tamu datang. Bukan tamu pejabat. Tamu warung. Mang Ujang bawa cilok gratis. Pak RT bawa sound kecil. Anak-anak kecil duduk di pematang sawah, menunggu nasi liwet.Pak Rohman da

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 90

    UJIAN DARI CALON MERTUAIbu Rohman menutup mulut.Devi melanjutkan, air matanya jatuh ke bambu."Pak, dari kecil Bapak ajari Devi, jangan lihat orang dari masa lalunya, lihat dari sekarangnya dia sholat atau tidak. Macho sekarang sholat, Pak. Di warung ini, dia yang bangun paling pagi, ambil wudhu pakai air dingin, sholat subuh di pojok warung itu. Devi lihat sendiri.""Devi, kamu dibutakan cinta," potong Pak Rohman."Bukan, Pak. Devi yang dulu dibutakan malu. Devi malu punya pacar montir. Tapi waktu bengkel Macho dilempar uang 30 juta sama Vania, waktu warga usir dia, dia tidak lari. Dia berdiri di depan warga dan bilang, iya saya gigolo. Itu jujur, Pak. Laki-laki mana di Cianjur yang berani jujur aibnya di depan umum?"Warung itu bergetar.Franz yang duduk di pojok, memeluk Kirana yang juga menangis. Karena Kirana tahu, setelah ini giliran dia dan Franz.Arman akhirnya bicara. Pelan."Pak Rohman, saya Arman. Saya bukan ustadz. Saya mantan pejabat PUPR yang dipecat tidak hormat. Saya

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 89

    LAMARAN YANG DITOLAK WARGAPagi setelah makan nasi liwet itu, warung Ine tidak buka.Pintu bambu ditutup setengah. Di papan tulis kecil yang biasanya bertuliskan Ayam Goreng 12rb, Kopi Hitam 5rb, Ine menulis dengan kapur:TUTUP. ADA LAMARAN.Warga Cianjur yang lewat, berhenti. Membaca. Lalu berbisik."Lamaran siapa?""Si Macho itu katanya mau ngelamar si Devi.""Devi anaknya Pak Ustadz Rohman? Yang jilbabnya panjang itu?""Ya Allah. Jangan."Jam delapan pagi, sebuah angkot berhenti di depan warung. Turun tiga orang.Pak Rohman. Ibu Rohman. Dan Devi.Pak Rohman tidak memakai baju koko. Ia memakai kemeja batik yang rapi. Tapi wajahnya keras. Ibu Rohman menggandeng Devi erat, seperti takut Devi lari.Di dalam warung, semua sudah siap. Bukan siap pesta. Siap sidang.Arman duduk di bale tengah, memakai kemeja putih bersih yang baru dibeli Ine semalam di pasar. Tato naga di lehernya ia tutup dengan plester. Di sebelahnya, Macho. Macho memakai baju batik pinjaman Franz, kebesaran di bahu. Ra

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 88

    BENGKEL YANG DIBAKAR OLEH AIBMalam setelah Porsche putih Vania penyok itu pergi, warung Ine tidak langsung tenang.Justru malam itulah Arman tidak bisa tidur.Ia duduk di bale bambu sendirian, memegang foto lama yang diberikan Vania. Foto Mirna, adik angkarnya, yang meninggal tahun lalu. Di foto itu Mirna masih muda, masih memakai seragam pegawai negeri sipil Kementerian PUPR. Di samping Mirna, Arman yang masih gagah dengan kemeja putih dan dasi, belum ada tato naga di lehernya.Itu foto ahun sebelum semuanya hancur.Arman ingat betul tahun itu. Tahun di mana ia masih menjadi staf penting di Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR. Di siang hari ia rapat proyek jalan tol. Di malam hari ia menjadi Godfather Arman, yang menguasai lendir dan narkoba di Blok M, Senopati, dan jaringan pub kelas atas Jakarta.Dua kehidupan yang ia jalani dengan rapi. Sampai Bianca, germo kepercayaan Arman, melakukan kesalahan besar.Bianca adalah induk semang Macho dan Franz.Macho bukan anak pung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status