Share

BAB 6

Author: IRSADE
last update publish date: 2026-07-14 23:34:33

Hujan baru reda.

Taman Simpruk baunya tanah basah. Di kejauhan masih ada suara motor lewat. Lampu taman yang di tengah nyalanya kuning kotor. Nyorotin bangku kayu yang catnya mengelupas. Di sebelahnya ada genangan air.

Aku udah duduk duluan. Bukan karena berani. Karena kalau aku telat, aku takut dia pergi. Dan kalau dia pergi, berarti aku habis.

Di pangkuan ada map kosong. Di saku ada HP yang sudah aku matikan. Di kepala cuma satu nama yang muter. Arman.

Langkah kaki dari belakang. Pelan. Mantap.

Arman muncul dari balik pohon. Jas hitam. Bahannya jatuh bagus. Dasi sudah dilepas, dikantongi. Dua kancing kemeja paling atas dibuka. Di tangannya gak ada apa-apa. Di belakangnya, agak jauh, ada satu orang. Jas juga. Kacamata hitam. Tangan masuk saku. Dia gak liat aku. Tapi aku tau dia mengawasi.

Arman duduk. Gak basa-basi.

"Jadi?"

Suara dia rendah. Kayak ngomong dari dada.

Aku nelen ludah. Tenggorokan rasanya kayak ada pasir.

"Pilihan kedua. Saya ikut Bapak."

Arman nengok. Matanya coklat. Tajam. Capek. Tapi tetap ngelawan. Dia senyum. Tipis. Cuma sebelah.

"Orang pinter milih hidup."

Dia ngeluarin dua map dari tas kerjanya. Taruh di bangku di antara kami. Satu coklat. Satu biru.

"Buka yang biru."

Jariku gemetar pas narik map itu. Di dalamnya kertas. Banyak. Dijepit. Rapi banget.

Aku baca sekilas. Gak paham semua bahasanya. Tapi aku paham intinya.

Gaji. Tugas. Kerahasiaan. Hukuman kalau bocor.

Intinya, aku disuruh ngawasin istri dia. 24 jam. Foto. Laporan. Lokasi. Semua.

Aku membaca ulang dan mencoba memahami arti yang tertera dalam berkas itu. Arman memperhatikan dengan seksama. Aku mendongak dan bertanya penuh keberanian.

"Mengawasi istri sendiri?" tanyaku. Aku maksa suara tetap keluar.

"Supaya dia gak cari yang lain," jawab Arman. "Supaya dia gak bikin masalah."

Aku bingung apa maksud semua ini. Bianca adalah wanita yang baik walau sedikit nakal. Mencari pelarian karena hyper. Dan aku terjebak dalam permainan mereka. Atau… Bianca sengaja menjebakku?, aku bertanya pada diriku sendiri.

“Kenapa harus aku, Pak?.”

Dia jeda. Natap aku. "Kamu yang paling dia dengerin. Kamu yang paling dia percaya. Kamu tau cara bikin dia diem. Tanpa teriak. Tanpa bekas."

Kalimat itu masuk ke kepala. Nancep.

Jadi aku bukan manusia di mata dia. Aku alat. Aku peredam.

"Tapi saya punya syarat," kataku. Cepat. Takut kalau kelamaan nyaliku hilang. "Saya gak mau kena masalah hukum. Dan saya mau tau saya kerja buat siapa."

Arman diem. Angin lewat. Daun jatuh ke pangkuan map.

Terus dia ketawa. Pelan. Dari hidung.

"Berani juga."

Dia geser map coklat. Isinya fotokopi. KTP. Kartu keluarga. NPWP. Nama Arman Wibowo. Kerja: Staf Ahli.

"Itu kedok," katanya. "Buat ketemu orang penting. Buat bayar pajak."

Dia nutup lagi. "Kerjaan beneran? Aku punya tempat. Club. Diskotik. Impor. Dan beberapa titipan yang bikin orang kaya lupa hutangnya."

Darahku dingin.

Bandar.

"Saya gak mau pegang barang haram."

"Kamu gak akan," katanya santai. "Kerja kamu cuma satu. Jagain dia. Lapor ke aku. Lewat HP ini."

Dia ngeluarin HP baru. Masih segel. Ditaruh di atas map. "Nomor ini khusus ke aku. HP lamamu biar aku yang pegang. Biar kita sama-sama kebuka."

“Gak bisa, Pak!. Ini privasi karena ini banyak berisi nomor penting bagiku.”

Aku mengepal di bawah bangku. Kuku menancap ke telapak.

Ini bukan tawaran. Ini jerat.

Terserah kamu, jika menolak. Kamu sudah tahu jawabannya!.”

Aku berpikir sejenak. Gak ada jalan keluar dari jebakan ini. Aku tak mau malu, apalagi kembali jatuh miskin setelah apa yang kudapatkan.

Alhasil, pulpen tetap aku pegang. Tanda tangan tetap aku bubuhi. Karena kalau enggak, pintu keluar udah ketutup dari awal.

Arman ikut tanda tangan. Terus dia berdiri. Merapikan jas.

"Besok ke rumah. Kenalan sama istriku."

Dia pergi. Orang di belakangnya ikut. Gak ada pamit. Gak ada salam.

Aku ditinggal. Sama map, sama HP baru, sama rasa mual yang naik sampai ke leher.

Muntah.

---

Rumah Menteng pagarnya tinggi. Ada CCTV di tiap sudut. Satpam bukain gerbang tanpa nanya.

Pembantu bukain pintu. Mukanya datar. "Ibu di atas."

Tangga marmer. Dingin. Pegangannya licin.

Di ujung lorong ada cahaya kuning dari celah pintu.

Bianca ada di dalam.

Duduk di depan meja rias. Daster sutra. Rambut terurai. Di meja ada lilin yang apinya udah mau mati. Wanginya manis. Bikin sesak.

Dia nengok pas aku masuk.

"Macho?"

Matanya kaget. Terus menyipit.

"Ngapain kamu di sini?"

Aku melangkah mendekat. Bianca masih mendelik dan tak percaya aku bisa sampai dihadapannya. Aku duduk disebelahnya.

"Aku disuruh Pak Arman. Jadi asistennya."

Bianca diem lama. Dia berdiri. Jalan ke jendela. Buka gorden dikit. Di luar gelap. Taman kosong.

"Delapan bulan," katanya pelan. "Delapan bulan dia gak pulang. Gak nyentuh. Katanya sibuk."

Dia nengok. Matanya merah. Tapi gak ada air mata. Udah kering. "Tau kenapa? Karena aku gak bisa kasih dia anak lagi. Tiga kali. Yang terakhir gede. Dokter bilang sudah. Selesai."

Suaranya datar. Kayak baca cuaca.

"Sejak itu rumah ini dingin. Dia pulang cuma buat ganti baju. Dan aku... aku cari cara biar ngerasa masih ada."

Bianca menangis. Setelah reda aku bertanya, “Dan mengapa kamu harus jadikan aku gigolo?. Pak Arman kaya dan rumah ini megah. Apa alasannya?, atau kalian berdua menjebak aku?.”

Bianca ketawa kecil. Pahit.

"Dua tahun lalu aku nekat. Aku buka usaha sendiri. Spa. Pinjam nama teman. Kalah. Bangkrut. Hutang satu miliar. Rentenir. Dan yang nolongin bayarin siapa? Dia."

Dia menunjuk ke arah pintu. "Arman. Dengan satu syarat. Aku jadi istri yang baik. Di rumah. Jangan keluar. Jangan kenal siapa-siapa. Kalau aku langgar, hutang itu jatuh ke namaku lagi. Plus bunga."

"Jadi kamu..." kataku pelan.

"Jadi aku cari cara biar ngerasa masih hidup," potong Bianca. "Aku cari cara biar punya uang sendiri. Biar punya pegangan kalau suatu hari dia buang aku. Makanya ada kamu. Makanya ada yang lain."

Aku semakin merasa aneh. Ada yang ganjil. Tapi aku nggak tahu itu apa. Otakku beku dan jiwaku kasihan melihat penderitaan Bianca. Walau bagaimanapun, Bianca telah melepaskan aku dari kemiskinan.

Bianca melihatmu diam. Bianca menyentuh pundakku dan bertanya.

"Jadi tugas kamu apa?" tanya Bianca.

"Mengawasi kamu. Lapor ke Pak Arman."

“Biadab!.”

Lalu Bianca menatapku. Bianca angguk. Pelan. "Berarti kita sama. Sama-sama dipenjara. Dia punya cara mengikatmu. Kalau begitu, aku punya cara menghubungi mu.”

Bianca berjalan menuju laci nakas. Mengambil sebuah HP baru yang masih bersegel. Lalu menyerahkan padaku.

“Aku tahu, pasti HP mu ditahan. Kartumu disadap. Maka gunakan HP ini jika aku menghubungimu.”

Aku menerima pemberian Bianca dan berlalu pergi.

---

Hari-hari setelah itu kebelah.

Siang aku pake jas. Duduk di lobi kantor. Dengerin Arman telpon dengan suara paling sopan. "Siap Pak. Data saya kirim."

Malam aku jadi bayangan. Ikuti Bianca ke mall. Ke salon. Ke tempat gym. Foto dari jauh. Kirim. "Lapor. Ibu di sini. Sendiri."

HP pemberian Arman bunyi juga. Isinya ancaman. "Aku liat kamu sama siapa. Ingat video itu."

Aku mulai muntah tiap habis kirim laporan.

Lama-lama aku ngerti polanya.

Arman punya dua HP. Satu di laci mobil. Dikunci. Satu di saku.

Tiap dia keluar, dia selalu bawa tas kecil. Hitam. Berat.

Sopirnya pernah bilang pelan. "Anter titipan, Mas. Jangan dibuka."

Bianca juga punya pola. Kalau Arman gak ada, dia pasti ke satu tempat. Hotel yang sama. Kamar yang sama. Tempat pertama kali aku ketemu dia.

Mereka sama. Kosong. Dan aku ada di tengah. Jadi penambal. Jadi pendengar. Jadi mata-mata.

Sampai akhirnya Arman manggil aku ke ruang kerjanya.

Ruangannya gelap. Cuma lampu meja. Dindingnya ada lukisan yang harganya bisa buat beli rumah orang tuaku.

Dia ngasih aku kotak. Kecil. Bungkus hitam. Berat.

"Anter. Kasih ke orang. Jangan dibuka. Jangan nanya."

Tanganku dingin pas nerima.

Tempatnya rame. Musiknya nusuk ke dada. Bau alkohol campur parfum.

Orang yang menerima kotak itu lihat aku dari atas sampai bawah. Terus bisik. "Hati-hati. Bos lagi dipanasin orang."

HP getar. Nomor gak dikenal.

Aku ke toilet. Kunci pintu.

"Macho?" Suara perempuan. Napasnya kacau. "Ini aku. Bianca. Ketemu. Di tempat kita pertama. Penting. Soal Arman. Datang sendiri."

Telepon mati.

Aku keluar. Keringat dingin.

Di satu sisi ada Arman. Pegang kontrak, pegang video, pegang hidupku.

Di sisi lain ada Bianca. Yang pertama kali ngasih aku makan pas aku kelaparan.

Di belakang ada Citra. Yang gak tau apa-apa.

Dan di atas, entah siapa, yang mungkin udah ngintip dari lama.

Aku di parkiran hotel. Kartu kamar di tangan.

Dari dalam kedengeran suara isakan. Dan dari jauh Dua pasang mata tanpa kedip menguntitku. Orang suruhan Arman.

Pintu kebuka.

Remang.

Bianca duduk. Di depannya laptop.

Di layar ada dua hal. Wajahku. Dan satu folder. Namanya bikin jantungku copot. BUKTI ARMAN.

"Macho... bantu aku," katanya. "Kita habisin dia. Atau kita yang habis."

Dari luar ada langkah. Dua orang. Berat. Berhenti pas di depan pintu.

Tok. Tok. Tok.

Pintu belum dikunci.

HP di saku getar. Pesan masuk.

"Sayang kamu dimana? Aku kangen."

Di depan, Bianca dan rahasia yang bisa meledakkan semua.

Di belakang: orang yang ngetok.

Di HP, orang yang nunggu aku pulang.

Dan aku.

Terjebak di tengah.

Siang jadi anjing. Malam jadi peliharaan.

Gak ada sisi yang bersih. Semua abu-abu. Semua kotor.

Siapa yang ngetok?

Dan kalau pintu ini kebuka... siapa yang pertama kali akan aku khianati?

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 90

    UJIAN DARI CALON MERTUAIbu Rohman menutup mulut.Devi melanjutkan, air matanya jatuh ke bambu."Pak, dari kecil Bapak ajari Devi, jangan lihat orang dari masa lalunya, lihat dari sekarangnya dia sholat atau tidak. Macho sekarang sholat, Pak. Di warung ini, dia yang bangun paling pagi, ambil wudhu pakai air dingin, sholat subuh di pojok warung itu. Devi lihat sendiri.""Devi, kamu dibutakan cinta," potong Pak Rohman."Bukan, Pak. Devi yang dulu dibutakan malu. Devi malu punya pacar montir. Tapi waktu bengkel Macho dilempar uang 30 juta sama Vania, waktu warga usir dia, dia tidak lari. Dia berdiri di depan warga dan bilang, iya saya gigolo. Itu jujur, Pak. Laki-laki mana di Cianjur yang berani jujur aibnya di depan umum?"Warung itu bergetar.Franz yang duduk di pojok, memeluk Kirana yang juga menangis. Karena Kirana tahu, setelah ini giliran dia dan Franz.Arman akhirnya bicara. Pelan."Pak Rohman, saya Arman. Saya bukan ustadz. Saya mantan pejabat PUPR yang dipecat tidak hormat. Saya

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 89

    LAMARAN YANG DITOLAK WARGAPagi setelah makan nasi liwet itu, warung Ine tidak buka.Pintu bambu ditutup setengah. Di papan tulis kecil yang biasanya bertuliskan Ayam Goreng 12rb, Kopi Hitam 5rb, Ine menulis dengan kapur:TUTUP. ADA LAMARAN.Warga Cianjur yang lewat, berhenti. Membaca. Lalu berbisik."Lamaran siapa?""Si Macho itu katanya mau ngelamar si Devi.""Devi anaknya Pak Ustadz Rohman? Yang jilbabnya panjang itu?""Ya Allah. Jangan."Jam delapan pagi, sebuah angkot berhenti di depan warung. Turun tiga orang.Pak Rohman. Ibu Rohman. Dan Devi.Pak Rohman tidak memakai baju koko. Ia memakai kemeja batik yang rapi. Tapi wajahnya keras. Ibu Rohman menggandeng Devi erat, seperti takut Devi lari.Di dalam warung, semua sudah siap. Bukan siap pesta. Siap sidang.Arman duduk di bale tengah, memakai kemeja putih bersih yang baru dibeli Ine semalam di pasar. Tato naga di lehernya ia tutup dengan plester. Di sebelahnya, Macho. Macho memakai baju batik pinjaman Franz, kebesaran di bahu. Ra

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 88

    BENGKEL YANG DIBAKAR OLEH AIBMalam setelah Porsche putih Vania penyok itu pergi, warung Ine tidak langsung tenang.Justru malam itulah Arman tidak bisa tidur.Ia duduk di bale bambu sendirian, memegang foto lama yang diberikan Vania. Foto Mirna, adik angkarnya, yang meninggal tahun lalu. Di foto itu Mirna masih muda, masih memakai seragam pegawai negeri sipil Kementerian PUPR. Di samping Mirna, Arman yang masih gagah dengan kemeja putih dan dasi, belum ada tato naga di lehernya.Itu foto ahun sebelum semuanya hancur.Arman ingat betul tahun itu. Tahun di mana ia masih menjadi staf penting di Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR. Di siang hari ia rapat proyek jalan tol. Di malam hari ia menjadi Godfather Arman, yang menguasai lendir dan narkoba di Blok M, Senopati, dan jaringan pub kelas atas Jakarta.Dua kehidupan yang ia jalani dengan rapi. Sampai Bianca, germo kepercayaan Arman, melakukan kesalahan besar.Bianca adalah induk semang Macho dan Franz.Macho bukan anak pung

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 87

    Vania berdiri, masih senyum. Dia buka tas Hermes-nya, keluarkan tiga gepok uang, 100 ribuan masih diikat karet bank, lempar ke bale bambu. Uang itu jatuh, berhamburan."Ini 30 juta cash. Buat kamu. Ambil. Temenin aku siang ini aja."Semua diam melihat uang itu.Arman berdiri, kaki diplesternya sakit, tapi dia jalan ke depan. Dia pungut uang itu satu per satu, dengan tangan gemetar, lalu kembalikan ke tas Vania."Maaf, Mbak," kata Arman, sama seperti kemarin, jadi bapak yang mau menyatukan keluarga. "Anak saya tidak dijual."Vania kaget melihat Arman. "Bapak siapa?""Bapaknya," kata Arman.Vania mendengus, ambil tasnya, keluar. Tapi sebelum masuk Porsche, dia teriak dari depan."Kalian pikir cuma aku? Grup Rani isinya 80 orang! Semua sudah lihat foto kalian! Mereka semua OTW Cianjur hari ini! Kita lihat warung kampung ini tahan berapa lama!"Porsche putih itu pergi dengan suara knalpot keras.Belum lima menit, datang lagi. Kali ini Alphard putih lain. Turun dua perempuan, lebih muda, p

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 86

    Sore itu Cianjur seperti ditahan napasnya.Alphard hitam Rani sudah hilang di tikungan, tapi debu halusnya masih menggantung di depan warung Ine. Bau parfum mahal Rani masih tertinggal, bercampur bau gorengan dan kopi.Tidak ada yang bicara.Devi masih memegang tangan Macho. Kuku-kukunya menancap. Bukan manja. Menahan. Takut kalau dilepas, Macho akan ditarik kembali ke Jakarta yang dulu.Kirana masih memegang lengan Franz. Erat sekali sampai buku-buku jarinya putih. Wajahnya merah bukan karena malu lagi, tapi karena marah yang tidak tahu harus dilempar kemana.Ine yang di teras, napasnya pendek-pendek. Tangannya masih di dada. Arman berdiri di sampingnya, kaki diplester itu gemetar karena terlalu lama menahan berat badan, tapi tangannya menggenggam tangan Ine kuat.Yang pertama bersuara adalah Ine."Tutup warung setengah hari," katanya pelan.Arman mengangguk. "Tutup."Macho langsung mengerti. Dia balik badan, menurunkan setengah rolling door yang berderit keras. Bunyi itu memecah sep

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 85

    Jam dua siang. Xenia putih baru masih bau dealer parkir di depan warung Ine yang ramai. Warung makanan masih buka setengah, warung serba ada juga buka, pembeli keluar masuk beli rokok dan galon.Empat orang baru pulang dari Puncak. Macho nyetir, kepala masih diperban, tapi matanya lega habis liburan. Devi di sebelahnya, rambutnya masih agak berantakan kena angin Puncak, pipinya merah dingin, tangannya masih gandeng tangan Macho di bawah dashboard, tidak lepas sejak warung kopi tadi. Di belakang Kirana dan Franz, Kirana sandaran kepalanya ngantuk di bahu Franz, Franz diam, tidak bergerak, biarin Kirana tidur di bahunya, padahal bahunya pegal.Ine dan Arman di teras lihat Xenia putih datang, senyum ceria, bahagia. Cita-citanya menyatukan keluarga mulai terkabul, anak-anak pulang liburan bareng, dua pasang yang lagi kasmaran."Bagaimana liburan?" tanya Ine waktu mereka turun."Seru, Ma," kata Kirana, masih ngantuk, langsung peluk Ine. "Puncaknya dingin."Arman lihat Macho gandeng tangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status