LOGINJam 9 malam. Hotel Grand Hyatt. Lobby marmer.
Aku baru keluar dari lift. Kemeja masih rapi. Di tangan ada tas kertas dari butik. Itu "bayaran" minggu ini dari Mbak Siska. "Macho." Suara itu bikin darahku berhenti. Arman. Suami Bianca. Duduk di sofa lobby. Jas hitam. 2 bodyguard di belakang. Di meja ada map coklat. Kontan aku melirik dan gemetar. Apalagi melihat bodyguard yang ototnya menonjol kayak balon. Aku mundur selangkah. "Pak..." "Duduk." Aku duduk. Jarak 2 meter. Jantung mau copot. Tapi benakku berkecamuk hebat. Dudukku gelisah. Tanganku sedikit gemetar. Arman tidak melewatkan semua itu. Dia tersenyum. Menang. Arman buka map. Isinya foto. Foto aku dan Bianca masuk hotel. Foto aku menerima amplop. Foto transfer 5 juta per minggu. Aku melirik wajahnya, melirik bodyguard dan nafas yang sesak tiba-tiba. Sesaat ku baca situasi seakan-akan aku mau berlari kabur entah kemana. Tapi, jalan itu buntu. Arman melirik sambil wajahnya datar. Senyum kecil yang licik tercetak di ujung bibirnya. _Gleekk_ Aku menelan saliva. "Sudah 3 bulan saya ikuti kalian," kata Arman datar. "Istri saya bilang lembur. Ternyata lembur di ranjang sama anak semester 1." Selesai. Hidupku selesai. Wajah putih-ku makin pucat. Sesaat berbagai bayangan kayak film-film terlintas. Aku akan diseret paksa masuk mobil. Dan… _Dorrr_ Mataku terpejam. Keringat mengucur deras di tubuhku. Aku bergeser ke belakang. Seolah-olah itu sudah terjadi. Butiran kasar keringat nongol di jidatku. Basah. "Pak, saya bisa jelasin..." "Gak usah." Arman motong. "Saya bukan orang bodoh. Saya tahu istri saya kesepian. Saya tau kamu butuh uang. Tapi kamu tetap pebinor." Kata "pebinor" itu nusuk. Tanganku masih gemetar. Lututku goyang. Suaraku tercekat. Aku berusaha bersikap normal dan mengeluarkan pertanyaan klise. "Maunya Bapak apa?" tanyaku lirih. Arman nyender. Sikapnya santai. Bagai menginterogasi tawanan yang kalah perang. "Ada dua pilihan. Pilihan pertama, Saya lapor polisi. Pasal 284. Kamu masuk. Bianca saya ceraikan. Nama kamu hancur di kampus." Dia diem. Nyeruput air putih. Melihat lantang tembus ke otakku dengan tatapannya yang tajam menusuk. Kedua bodyguard disampingnya menegangkan wajah melihatku. "Pilihan kedua, Kamu putus sekarang juga. Blokir Bianca. Kosongkan apartemen. Dan kamu kerja buat saya 1 tahun. Jadi asisten pribadi. Gaji 15 juta per bulan. Buat nutup mulut." Aku tertegun. Menimbang sejenak apa yang akan ku katakan. Tentunya aku tak ingin kelihatan menyerah dan Arman akan senang dengan keadaanku. Aku ketawa getir. "Itu namanya pemerasan, Pak." Suaraku sedikit meninggi. Walau sebenarnya otakku lagi berantakan. Hanya menguatkan hati dan pendirian. "Itu namanya solusi, Nak." Arman senyum. "Kamu pintar. Kamu tau cara bikin perempuan tua bahagia tanpa menyentuh. Saya butuh orang kayak kamu. Buat jagain Bianca biar gak cari orang lain." Jantungku berhenti. Aku merasa dirinya sedikit memberi ruang agar aku tidak merasa tertekan. "Jadi Bapak... tau?" "Tau. 3 bulan ini kamu cuma nemenin ngobrol, makan, tidur dipeluk. Gak lebih. Saya sudah pasang kamera di kamar hotel." Muka aku kebakar. Malu. Aku menunduk sejenak. Karena apa yang kulakukan ternyata sudah di pantau. Dan aku tak sadar hal itu. "Tapi kalau suatu hari kamu kelepasan... saya penjara kamu." Arman berdiri. Ngasih kartu nama. "24 jam. Besok jam 8 malam jawabannya. Kalau iya, kita tanda tangan kontrak. Kalau tidak... kita ketemu di kantor polisi." Dia pergi. Bodyguard ikut. Aku mencoba berdiri. Badanku panas dingin walau AC cukup sejuk mengitari suasana. Kurasa lututku masih goyang, nafasku masih berantakan. Aku duduk lemas di lobby hotel 5 bintang. Dengan tas kertas berisi uang haram. “Sialan” Cepat-cepat kulirik Rado kesayanganku. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Satu jam lagi aku harus on the way janjian sama tante Maya. Sejam kemudian. Cafe Gelora. Tante Maya. Umur 38. Hyper. Suaminya pilot. Sebulan pulang sekali. Aku mencari tempat yang dijanjikan. Mataku liar mencari nomor meja seperti isi chat tante Maya. Di pojok belakang ku lihat wanita cantik yang menawan. Rambut sebahu dan tas sandang Dior yang terletak di meja. Dia melambaikan tangan. Aku bergegas menyapa. “Tante Maya?.” “Iya” Aku menanyakan kabar. Basa basi sebagai pembuka dialog. Bertanya tentang lainnya. Keluarga, hobi dan kegiatan. "Macho, Tante sumpek," katanya sambil genggam tanganku. "Nemenin Tante yuk." “Siap, Tante. Siap kemana aja yang tante mau.” Aku sudah hafal triknya. 3 bulan sama Bianca ngajarin aku banyak hal. "Tante, kita dinner aja ya. Ngobrol. Jalan. Nonton." Tante Maya cemberut. "Tante butuh pelukan." "Ya udah peluk. Tapi jangan di tempat umum. Kita cari tempat yang lebih privat. Entar ada yang iri, Tante.” Aku tersenyum diplomatis. Berusaha mencairkan suasana dan kegelisahannya yang galau ditinggal suami. Jam 1 malam. Hotel bintang 4. Pintu baru kebuka 5 cm. "Macho!" Tante Maya langsung nyeret aku masuk. Dress merahnya udah agak melorot di bahu. Parfumnya menyengat. Matanya liar. Aku paham, Tante Maya lagi On berat dan ingin melampiaskan segera. Sial. Ini bahaya. Hyper level 100. Kalau aku diem, 5 menit lagi aku hancur. Aku mundur 2 langkah. Senyum. "Tante, minum dulu yuk. Biar rileks." Maya ngeleng. "Gak usah minum. Tante udah haus dari tadi." Dia maju lagi. Tangan udah mau ke kerah bajuku. Aku tangkap tangannya. Pelan tapi tegas. "Tante... liat aku." Maya diem. Nafasnya berat. "Tante kesepian ya?" tanyaku pelan. Dia angguk. Air mata langsung jatuh. "Banget, Macho. Rumah gede. Dingin. Gak ada yang nyentuh Tante 3 minggu." Aku tarik dia ke sofa. Dudukin. Tuangin air putih. "Cerita, Tante. Dari awal." Dan boom. Bendungan jebol. "Suami Tante gak pernah di rumah! Anak Tante di Australia! Tante ngerasa kayak pajangan! Tante masih muda! Tante masih butuh..." Dia nangis. Kejer. Aku duduk di sebelah. Gak nyentuh dulu. Biarin dia nangis 10 menit. Pas udah reda, baru aku bisik. "Peluk ya?" Maya langsung nyamperin. Peluk aku kenceng. Kayak orang tenggelam. "Sshh... Tante kuat. Tante hebat," kataku sambil tepuk punggungnya. "Tante cantik. Tante pantes disayang." 1 jam. Cuma peluk dan dengerin. Jam 1 malam dia udah lemes. "Macho... temenin tidur ya. Gak ngapa-ngapain." Aku ngangguk. "Iya Tante. Tapi kita pisah selimut ya. Biar adem." Kami rebahan. Aku di pinggir. Dia di tengah. 20 menit kemudian dia mulai gerak lagi. Tangan mulai bergerilya. Dorongan purbawi begitu bergelora. "Macho..." Matanya satu. Wajahnya merah dan mulai bertingkah aneh. "Tante," bisikku. Suara paling lembut. "Pejam. Bayangin kita lagi di villa. Ada kolam. Ada angin. Tante aman di sini. Ada aku." Maya ketiduran. Beneran. Sambil masih pegang ujung kemejaku. Ketiduran karena lelah pikiran. Mabuk beneran dan ngantuk yang membuai. Jam 3 pagi aku bangun. Aku gak bisa pulang tangan kosong. Maya harus "ngerasa" udah dapet apa yang dia mau. Lalu Aku acak-acak selimut. Bantal dua aku taruh numpuk di tengah. Mataku mencari gelas wine du biji aku isi air putih, bibir gelas aku kasih lipstick Maya. Sejenak aku berdiri dan memikirkan apa selanjutnya sambil posisi jemari menggenggam dibawah bibir. Aku semprot parfum aku ke bantal dia. Lalu Foto. _Cekrekk_ Ranjang berantakan dari jauh. Keluar kamar. Titip key card ke resepsionis. "Bangunin Tante jam 7 ya." Keesokan paginya. Maya keluar. Mata sembab tapi ada malu-malu. "Tadi malam..." dia gak lanjut. Aku pura-pura nunduk. Garuk kepala. "Maaf Tante kalo aku... khilaf." Maya langsung nutup muka. "Udah... udah. Gak usah diomongin." Aku tersenyum. Melihat Tante Maya seperti anak gadis yang malu-malu karena ketahuan aksinya. Padahal dalam hatinya senang sekali dengan pelayanan “palsu” - ku. "Transfer ya Tante," kataku pelan. "Iya. 3 juta. Makasih ya Macho. Tante udah lama gak tidur setenang ini." Dia cium pipi aku cepat. "Kamu beda. Kamu jagain Tante." Aku senyum. Dalam hati: Maaf Tante. Kita cuma tidur. Tapi kalau Tante ngerasa bahagia, dan aku selamat... kita sama-sama menang. Aku pulang. Mandi dua kali. Cuci otak. Dua minggu kemudian. Jam 7 malam. Apartemen. Tok tok. "Siapa?" "Aku." Aku melangkah ke pintu. Kenal dengan suara itu. Suara gadis kampus yang mulai mengisi hari-hariku. Citra. Memakai kemeja putih, jeans, bawa totebag. Khas anak kampus. Memang ini hari jadwal kuliahku kosong. Dan satu harian bersama Mbak Siska. Anak konglomerat yang punya sisi liar. "Kenapa gak bilang dulu mau kesini?" Dia tersenyum "Mau ngasih kejutan," katanya masuk. Matanya langsung jelalatan. "Woy... ini apartemen kamu?" "Kontrakan om," Citra beredar ke sekeliling apartemen. Menikmati pemandang kaca yang menampilkan gemerlap ibukota dari lantai dua puluh dua. Lalu Citra duduk di sofa. Aku menghampirinya sambil membawa baki yang beri cemilan dan minuman. "Wangi banget. Habis dari mana?" "Dari... kerja part time. Jadi EO." Citra buka tote bag. Ngeluarin surat tagihan. Mengeluarkan surat dan membacanya. Wajahnya kelihatan sedih. Aku penasaran dan bertanya. “Surat apa itu?.” "SPP telat 2 minggu. Kalau gak lunas minggu depan aku DO. Beasiswa telat cair. 3,2 juta." Dadaku sesak. Hal yang sama dulu pernah terjadi padaku. Dan sekarang Citra mengalaminya. "Cit... aku yang bayar. Minggu depan lunas." Dia memandang lekat-lekat. Pupil matanya membesar. Roman wajahnya melebar. "Serius? Dari mana?" "Tabungan." Citra peluk aku. Air mata bahagia menetes membasahi kemeja dibelakangku. "Makasih, Macho. Kamu cowok paling tulus." Pelukan itu berubah. Jadi erat. Napas kami gak beraturan. Tekanan benda lunak begitu membakar dadaku. Pelukan berubah jadi belaian halus menyapu punggungku. Sesaat kemudian Citra menolak halus dan menatapku. "Cium aku," bisik Citra. Kami berciuman. Lembut. Lama. Panas. Layaknya pacar yang udah lama gak ketemu. Begitu bergelora dan Hangat membara. Saling dekap. Guling di sofa. Tawa kecil. Sampai Citra yang sadar. Mundur. "Macho... stop. Aku takut." Aku sudah terbuai. Ibarat nyala api terpadam dengan siraman air. Nafasku masih memburu. Dan gairahku sudah di ubun-ubun. Tapi aku harus tau diri. Citra masih suci. Dan barusan menolak diriku lembut seraya menjauh. "Maaf Cit." "Gak apa-apa." Dia merapikan kemejanya. "Aku ngerti." Tapi badanku masih panas. Bekas dari Mbak Siska yang liar, ditambah Citra. "Ke kamar mandi dulu ya." "Kenapa?" "Cuci muka." Di kamar mandi aku siram muka. Aku melampiaskan hasrat libido tertunda. Sejak jadi gigolo plus-plus, tegangan voltase tinggi. Gila. Barusan sama tante orang. Sekarang sama pacar sendiri. Aku ini apa. Munafik. Hasratku tuntas. Keluar, Citra udah duduk manis. Matanya menunduk malu. Antara mau dan malu. Tapi Citra sudah mengambil langkah yang tepat. Karena pada saat ini aku lagi tinggi-tingginya. HP getar. Nomor Arman. "Besok jam 8. Taman Simpruk. Bawa jawaban dan 1 syarat dari kamu." Citra liat. "Siapa?" —--Hujan baru reda. Taman Simpruk baunya tanah basah. Di kejauhan masih ada suara motor lewat. Lampu taman yang di tengah nyalanya kuning kotor. Nyorotin bangku kayu yang catnya mengelupas. Di sebelahnya ada genangan air.Aku udah duduk duluan. Bukan karena berani. Karena kalau aku telat, aku takut dia pergi. Dan kalau dia pergi, berarti aku habis.Di pangkuan ada map kosong. Di saku ada HP yang sudah aku matikan. Di kepala cuma satu nama yang muter. Arman.Langkah kaki dari belakang. Pelan. Mantap. Arman muncul dari balik pohon. Jas hitam. Bahannya jatuh bagus. Dasi sudah dilepas, dikantongi. Dua kancing kemeja paling atas dibuka. Di tangannya gak ada apa-apa. Di belakangnya, agak jauh, ada satu orang. Jas juga. Kacamata hitam. Tangan masuk saku. Dia gak liat aku. Tapi aku tau dia mengawasi.Arman duduk. Gak basa-basi. "Jadi?"Suara dia rendah. Kayak ngomong dari dada. Aku nelen ludah. Tenggorokan rasanya kayak ada pasir. "Pilihan kedua. Saya ikut Bapak."Arman nengok. Matanya cokl
Jam 9 malam. Hotel Grand Hyatt. Lobby marmer. Aku baru keluar dari lift. Kemeja masih rapi. Di tangan ada tas kertas dari butik. Itu "bayaran" minggu ini dari Mbak Siska. "Macho."Suara itu bikin darahku berhenti.Arman. Suami Bianca. Duduk di sofa lobby. Jas hitam. 2 bodyguard di belakang. Di meja ada map coklat. Kontan aku melirik dan gemetar. Apalagi melihat bodyguard yang ototnya menonjol kayak balon. Aku mundur selangkah. "Pak...""Duduk."Aku duduk. Jarak 2 meter. Jantung mau copot. Tapi benakku berkecamuk hebat. Dudukku gelisah. Tanganku sedikit gemetar. Arman tidak melewatkan semua itu. Dia tersenyum. Menang. Arman buka map. Isinya foto. Foto aku dan Bianca masuk hotel. Foto aku menerima amplop. Foto transfer 5 juta per minggu. Aku melirik wajahnya, melirik bodyguard dan nafas yang sesak tiba-tiba. Sesaat ku baca situasi seakan-akan aku mau berlari kabur entah kemana. Tapi, jalan itu buntu. Arman melirik sambil wajahnya datar. Senyum kecil yang licik tercetak di ujung bi
Bianca dan Lidya hanya diam. Seakan-akan tidak mendengar pertanyaanku tadi. Aku mengulangi kembali pertanyaan tadi. “Lha… Kok kita larinya ke taman?.”Bianca matiin mesin. Suasana jadi sunyi. Cuma suara AC.“Tau nggak, Macho. Parfum kamu itu membuat Lidya dari tadi mau mual. Aku juga dah nggak tahan nyium aroma parfummu. Itu merk apaan sih?.”Aku tertunduk malu dan nyengir mendengar penjelasan Bianca. “Maklumlah, Bian. Aku kan anak kuliahan. Lagian, aku gak punya duit beli yang aneh-aneh. Berapa sih emangnya duit seorang pelayan kafe. Hadeh.. “Aku hanya tepuk jidat menjawab pernyataan Bianca. Kami bertiga kemudian duduk di bangku taman dan memandang orang-orang yang jogging dan jalan-jalan sekitar taman. Kami saling diam memperhatikan sekelilingnya. Aku menoleh dan memandang Bian dan Lidya yang tampil ciamik. Walau kelihatan santai tapi casual yang dipakai sangat serasi dipadu dengan baju kaos yang super ketat menonjolkan kewanitaannya. “Oh ya, ngomong-ngomong tadi katanya mau bic
Aku masih berperang dengan pikiranku sendiri. Anak yatim piatu. Masih ngekos dan hidup mandiri. Semua demi kehidupan yang lebih baik. Baru dua bulan lalu ayah dan ibu meninggal tabrakan maut di jalan raya. Aku baru kuliah semester satu. Butuh banyak biaya. Kujual semua yang ada. Kami tinggal ngontrak. Hanya anak tunggal. Tapi semangat tak menyerah. Aku tetap lanjut sekolah dan bekerja di Kafe Senja. Mbak Dita bersedia membantu. Owner Kafe Senja hanya bisa bantu gaji harian sesuai pendapatan kafe. Komisi diberikan, saat kafe tutup. Lumayan untuk menambah ongkos dan makan walau tak seberapa. Rasa penyesalan masih membekas. Tapi rasa nikmat masih terasa. Walau wajah tak ganteng amat, tapi bodiku lumayan tinggi dan six pack. Aku rajin bantu tetangga yang bangun rumah dan mendapat upah saat liburan. Kadang ngangkat beras dan lainnya. Bianca sudah keluar dari kamar mandi. Tanpa malu bersalin pakaian di hadapanku. Sangat menantang. “Aku harus pergi. Sekarang.” Aku hanya diam tak bersuara
Tanpa ragu Bianca menarik pergelangan tanganku. Tarikannya lembut tapi pasti, sampai tubuhku terdorong dan duduk di tepi ranjang bersamanya.Terlalu dekat.Aroma parfumnya bukan parfum murah. Mahal. Lembut. Tapi begitu masuk ke hidung, kepalaku langsung pusing. Wajahnya hanya sejengkal dari wajahku. Kulitnya bersih, bibirnya merah muda, matanya menatapku tanpa berkedip. Seolah sedang menimbang.Tangannya turun. Mendarat di pahaku. Hangat. Jari-jarinya bergerak pelan, seperti menguji. Lengan kami bersentuhan dan ruangan itu mendadak kehilangan suara.“Maksud Tante apa?” Suara aku keluar pelan, mencoba menahan gugup. Aku berusaha terdengar tenang, tapi gagal.Bianca tersenyum tipis. “Aku tahu kamu anak kos. Masih baru kuliah, ya?”Aku terkejut. "Kok Tante tahu?""Karena aku memperhatikan." Ia menunduk, memainkan ujung jarinya di pahaku. "Kamu tiap pulang kuliah selalu lewat depan butikku. Beli indomie, duduk di depan kos, baca buku sambil nunggu jemuran kering."Darahku berdesir. Aku
Jam 11 malam. Aku masih ngelap meja nomor 7 di Kafe Senja. Udah 3 kali muter di tempat yang sama. Pikiran entah kemana."Macho, tip malam ini 32 ribu," kata Mbak Dita sambil menaruh receh di tanganku.Aku angguk. 32 ribu. 8 jam kerja. Cukup buat beli bensin 2 liter.Di pojokan, ada 4 ibu-ibu kantor masih nongkrong. Salah satunya bisik-bisik sambil ngelirik aku."Itu loh kasirnya. Anak kuliahan kali ya. Kasihan.""UMR juga kali. Pantas bajunya gitu-gitu aja."Aku senyum. Pura-pura bodo amat. Buang sampah ke belakang.Di toilet aku ngitung lagi. Gaji 1,3. Kost 600. Bensin 300. Sisa 400 buat 30 hari.400 bagi 30. 13 ribu sehari.Monologku:Dua bulan lalu ayah ibu tabrakan. Sekarang aku sendirian. Ngekos. Kuliah semester 1. Semua biaya numpuk. TV sama kulkas udah kejual. Tinggal kasur sama kipas.Harus kuat. Gak mau jadi beban siapa-siapa.Keluar kafe aku jalan kaki. Motor mogok 3 hari. Dompet tipis. Aku berjalan dengan gontai walau pikiranku berkecamuk kayak nyamuk banyak berdengung di k







