Share

BAB 14

Author: IRSADE
last update publish date: 2026-07-18 22:05:55

Meja bundar. 12 kursi. Tapi cuma 9 yang diisi. 3 kosong. Karena yang punya udah "dijemput" KPK minggu lalu. Yang hadir mulai kasak kusuk masing-masing ingin bekerjasama demi nama baik dan keluarga.

Anggota Dewan A - Komisi III: Jari gemetar pegang gelas. "Dia pegang kita semua. Daftar 12 nama itu. Ada nama gue disitu. Proyek e-KTP 2016."

Anggota Dewan B - Komisi VI: "Diam! Mau kita semua mati?"

Bupati X dari Kalimantan: Keringat bercucuran padahal AC 16 derajat. "Saya cuma terima 3M buat 'lan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 92

    BAB 92HARI BAHAGIASaat nasi liwet dibuka, saat semua mau makan, datang lagi satu mobil.Kali ini bukan Alphard. Porsche putih penyok.Vania.Vania, keponakan Arman, yang dulu melempar uang 30 juta ke warung.Vania turun, memakai dress putih, bukan baju ketat. Ia tidak bawa uang. Ia bawa kado. Dua kado besar dibungkus kertas kado murah.Semua tegang lagi. Devi dan Kirana yang baru sah, langsung pegangan tangan.Vania berjalan pelan ke pelaminan."Macho, Franz, selamat ya," kata Vania, suaranya pelan, tidak ada sombongnya lagi.Macho menatap Vania. Dulu Vania melempar uang. Sekarang Vania bawa kado."Vania, kamu untuk apa ke sini?" tanya Macho, masih waspada.Vania menyodorkan kado."Ini, dari tabungan aku. Bukan 30 juta. Cuma 5 juta isinya. Tapi ini bukan untuk beli kalian. Ini untuk buka bengkel baru. Bengkel yang kemarin tutup karena aib, sekarang buka lagi. Namanya Bengkel Barokah. Aku sudah sewa ruko di Bekasi, dekat kontrakan lama kalian. Surat sewanya ada di dalam kado."Semua

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 91

    BAB 91PERNIKAHANPagi akad, jam 06.00.Warung Ine disulap. Bukan disulap jadi gedung. Tetap warung bambu. Tapi Ine, Rani, Sarah, dan ibu-ibu pengajian memasang kain putih di atas bale. Menata tikar baru. Memasang janur kuning dari daun kelapa asli, bukan plastik.Dua pelaminan kecil dibuat dari bambu. Tulisannya: Macho & Devi dan Franz & Kirana. Double quartet. Dua pasang yang nasibnya sama.Macho memakai baju koko putih, bukan jas. Di sakunya, ia sengaja selipkan lap majun bekas bengkelnya yang sudah dicuci. Franz memakai batik coklat, sama seperti Macho, tapi ia pakai peci hitam yang agak miring karena gugup.Devi dan Kirana di dalam warung, dirias oleh Teh Siti. Bukan make up tebal. Hanya bedak, lipstik tipis, dan kerudung putih. Cantiknya bukan cantik panggung. Cantiknya nancep karena deg-degan.Jam 07.30, tamu datang. Bukan tamu pejabat. Tamu warung. Mang Ujang bawa cilok gratis. Pak RT bawa sound kecil. Anak-anak kecil duduk di pematang sawah, menunggu nasi liwet.Pak Rohman da

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 90

    UJIAN DARI CALON MERTUAIbu Rohman menutup mulut.Devi melanjutkan, air matanya jatuh ke bambu."Pak, dari kecil Bapak ajari Devi, jangan lihat orang dari masa lalunya, lihat dari sekarangnya dia sholat atau tidak. Macho sekarang sholat, Pak. Di warung ini, dia yang bangun paling pagi, ambil wudhu pakai air dingin, sholat subuh di pojok warung itu. Devi lihat sendiri.""Devi, kamu dibutakan cinta," potong Pak Rohman."Bukan, Pak. Devi yang dulu dibutakan malu. Devi malu punya pacar montir. Tapi waktu bengkel Macho dilempar uang 30 juta sama Vania, waktu warga usir dia, dia tidak lari. Dia berdiri di depan warga dan bilang, iya saya gigolo. Itu jujur, Pak. Laki-laki mana di Cianjur yang berani jujur aibnya di depan umum?"Warung itu bergetar.Franz yang duduk di pojok, memeluk Kirana yang juga menangis. Karena Kirana tahu, setelah ini giliran dia dan Franz.Arman akhirnya bicara. Pelan."Pak Rohman, saya Arman. Saya bukan ustadz. Saya mantan pejabat PUPR yang dipecat tidak hormat. Saya

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 89

    LAMARAN YANG DITOLAK WARGAPagi setelah makan nasi liwet itu, warung Ine tidak buka.Pintu bambu ditutup setengah. Di papan tulis kecil yang biasanya bertuliskan Ayam Goreng 12rb, Kopi Hitam 5rb, Ine menulis dengan kapur:TUTUP. ADA LAMARAN.Warga Cianjur yang lewat, berhenti. Membaca. Lalu berbisik."Lamaran siapa?""Si Macho itu katanya mau ngelamar si Devi.""Devi anaknya Pak Ustadz Rohman? Yang jilbabnya panjang itu?""Ya Allah. Jangan."Jam delapan pagi, sebuah angkot berhenti di depan warung. Turun tiga orang.Pak Rohman. Ibu Rohman. Dan Devi.Pak Rohman tidak memakai baju koko. Ia memakai kemeja batik yang rapi. Tapi wajahnya keras. Ibu Rohman menggandeng Devi erat, seperti takut Devi lari.Di dalam warung, semua sudah siap. Bukan siap pesta. Siap sidang.Arman duduk di bale tengah, memakai kemeja putih bersih yang baru dibeli Ine semalam di pasar. Tato naga di lehernya ia tutup dengan plester. Di sebelahnya, Macho. Macho memakai baju batik pinjaman Franz, kebesaran di bahu. Ra

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 88

    BENGKEL YANG DIBAKAR OLEH AIBMalam setelah Porsche putih Vania penyok itu pergi, warung Ine tidak langsung tenang.Justru malam itulah Arman tidak bisa tidur.Ia duduk di bale bambu sendirian, memegang foto lama yang diberikan Vania. Foto Mirna, adik angkarnya, yang meninggal tahun lalu. Di foto itu Mirna masih muda, masih memakai seragam pegawai negeri sipil Kementerian PUPR. Di samping Mirna, Arman yang masih gagah dengan kemeja putih dan dasi, belum ada tato naga di lehernya.Itu foto ahun sebelum semuanya hancur.Arman ingat betul tahun itu. Tahun di mana ia masih menjadi staf penting di Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR. Di siang hari ia rapat proyek jalan tol. Di malam hari ia menjadi Godfather Arman, yang menguasai lendir dan narkoba di Blok M, Senopati, dan jaringan pub kelas atas Jakarta.Dua kehidupan yang ia jalani dengan rapi. Sampai Bianca, germo kepercayaan Arman, melakukan kesalahan besar.Bianca adalah induk semang Macho dan Franz.Macho bukan anak pung

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 87

    Vania berdiri, masih senyum. Dia buka tas Hermes-nya, keluarkan tiga gepok uang, 100 ribuan masih diikat karet bank, lempar ke bale bambu. Uang itu jatuh, berhamburan."Ini 30 juta cash. Buat kamu. Ambil. Temenin aku siang ini aja."Semua diam melihat uang itu.Arman berdiri, kaki diplesternya sakit, tapi dia jalan ke depan. Dia pungut uang itu satu per satu, dengan tangan gemetar, lalu kembalikan ke tas Vania."Maaf, Mbak," kata Arman, sama seperti kemarin, jadi bapak yang mau menyatukan keluarga. "Anak saya tidak dijual."Vania kaget melihat Arman. "Bapak siapa?""Bapaknya," kata Arman.Vania mendengus, ambil tasnya, keluar. Tapi sebelum masuk Porsche, dia teriak dari depan."Kalian pikir cuma aku? Grup Rani isinya 80 orang! Semua sudah lihat foto kalian! Mereka semua OTW Cianjur hari ini! Kita lihat warung kampung ini tahan berapa lama!"Porsche putih itu pergi dengan suara knalpot keras.Belum lima menit, datang lagi. Kali ini Alphard putih lain. Turun dua perempuan, lebih muda, p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status