共有

BAB 47

作者: IRSADE
last update 公開日: 2026-08-08 19:11:16

HP di lantai bergetar tiga kali. Nama di layar: BAGAS. Setelah sekian lama tidak menelpon sudah tiga bulan lamanya. Lalu sekarang baru nelpon. Pasti ada sesuatu yang penting sehingga baru kali ini dia nelpon aku.

Aku tidak langsung angkat. Tanganku masih memegang foto aku dan Siska. Tangan satunya menggenggam teh yang sudah dingin. Di luar, gerimis masih mengetuk seng.

Angkat.

“Halo.”

Suara di seberang tertawa dulu. Panjang. Puas. Seperti orang yang baru menang judi. Aku mendengarkan sampai ke
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 47

    HP di lantai bergetar tiga kali. Nama di layar: BAGAS. Setelah sekian lama tidak menelpon sudah tiga bulan lamanya. Lalu sekarang baru nelpon. Pasti ada sesuatu yang penting sehingga baru kali ini dia nelpon aku. Aku tidak langsung angkat. Tanganku masih memegang foto aku dan Siska. Tangan satunya menggenggam teh yang sudah dingin. Di luar, gerimis masih mengetuk seng.Angkat.“Halo.”Suara di seberang tertawa dulu. Panjang. Puas. Seperti orang yang baru menang judi. Aku mendengarkan sampai kekeh yang terakhir. Begitu renyah dan penuh kemenangan. “Pak Bos,” katanya. “Kamu sudah tamat.”Aku diam.“Maksudmu?”“Usahamu semua sudah ku jual. PT, rekening Singapura, proyek IKN, pub di SCBD. Semua sudah di TF ke rekeningmu. Sisanya 3 miliar. Cukup buat beli kuburan, Pak.”Jantungku tidak berdetak. Hanya suara darah di telinga.“Kenapa kamu ambil keputusan tanpa sepengetahuan ku?”“Sekarang aku yang berkuasa,” lanjut Bagas. “Bella juga sama aku. Dia bilang capek jadi sekretaris bapak yang k

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 46

    MASA SEKARANG Dengan pelan mobil mengitari setiap gang sempit. Aku turun untuk memastikan alamat Macho. Sesampainya di alamat yang dituju. Mereka juga nggak tau dimana keberadaan Macho. “Maaf, Pak nggak kenal.”“Disini banyak sih yang ngekos tapi jarang tau siapa nama.”“Kayak kenal tapi lupa.”Berbagai macam jawaban mereka. Dan satu pun nggak ada yang kenal. Sampailah di suatu gang padat warga dan bedengan pinggir kali. Orang tua itu memastikan bahwa dia kenal tapi tak tahu nama. “Iya Pak saya tanda anak ini. Ganteng sih tapi jarang nyapa warga. Dulu dia kost di kamar nomor dua. Sekitar dua tahun lalu. Abis itu kabarnya pindah kemana gitu.”Aku frustasi. Karena sudah malam dan aku belum mandi, aku perintahkan ke Yanto kerumah lama. Di Tambun, Bekasi. "Ke Tambun, Pak?""Ke rumah dulu. Rumah yang di Tambun."Sepanjang tol aku diem. Jakarta lewat. Macet. Klakson. Sama kayak 22 tahun lalu. Bedanya dulu aku bawa koper 500 ribu hasil judi. Sekarang aku bawa sisa uang miliaran yang masi

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 45

    “Menurut ayah, apa sebaiknya kulakukan?. Apa aku harus diam tak mencari anakku atau kuanggap aja anakku tak ada dan nikah lagi?. Aku pernah gagal jadi suami. Tapi sekarang aku tak ingin gagal jadi ayah walau telat hampir 22 tahun.”Ayah termenung. Dia sulit untuk menjawab pertanyaanku. Karena baginya hidup ini sederhana. Sebagai ayah, dia sudah melakukan hal yang mampu dilakukan mencukupi kebutuhan keluarga. Walau dia menyadari dia bukan ayah yang baik dan berkecukupan. Sebagai suami, Zubaidah, istrinya tak pernah mengeluh walau hidup mereka serba berkekurangan. Karena dia yakin bahwa tidak sukses hidupnya mungkin sukses di anaknya. “Ayah cuma bisa bilang, jangan sampai kau gagal untuk menjadi ayah. Semua orang punya salah. Punya masa lalu yang kelam. Tapi yang tetap punya niat dan menebus kesalahan itu menunjukkan kamu sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab. Cari anakmu walau sampai ke ujung dunia sekalipun.”“Makasih ayah. Itulah yang ingin aku lakukan. Empat hari lalu, secara

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 44

    Akhirnya, setelah menyelesaikan semua kemelut dalam keluargaku. Hari ini aku sampai. Sudah tiga bulan pengelanaan dari Jakarta, Bali, Medan dan berakhir di sini. Kota kecil Tanjung Balai. Kampung halamanku sendiri. Secara tak sengaja, karena mantan mertua pindah tapi ternyata sudah meninggal. Akhirnya aku kembali ke ayah dan emak. Mengurus mana yang bisa ku-urus, termasuk pengobatan Manja, adik kesayangan. Aku sampai ke rumah lama. Aku turun sebentar, Manja juga. Sopir sudah mau menurunkan koper. “Tunggu dulu, Bang. Aku mau ngecek dulu.”Sopir tak jadi turun. Manja juga. Dia masih ingat bahwa ini memang rumah mereka, tapi kok abangnya malah melarang turun?. Keningnya berkerut, tapi tetap diam tak berani turun. “Assalamu'alaikum”“Waalaikum salam”Turun seorang lelaki yang agak muda dari usia ku. Aku melirik. Apa ini Hamzah?, adik iparku suami Aisyah?, tanyaku dalam hati. “Ya, Bang. Cari siapa?”“Apa Aisyah sudah atau Bu Zubaidah dah pindah?”“Oh, iya Bang. Kami baru beli dua mingg

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 43

    Bau Klinik Utama Bina Atma itu bukan bau rumah sakit. Ruangan tertata rapi dan keramahan petugas medis membuat nyaman dan betahnya pasien. Apalagi kebersihan setiap sudut harus diakui strip dari bau dan sampah yang mengganggu. Bau karbolnya samar. Ketutup wangi melati dari diffuser di pojok lobi. Lantainya marmer. Ada kolam kecil dengan ikan koi. Ada musik piano pelan yang diputer 24 jam. Ini klinik swasta. Khusus kejiwaan. Dan selama 30 hari, aku tidur di sofa kulit di ruang tunggu VIP lantai 2. Nyaman serasa hotel mini tanpa biaya. Ada juga ruang yang memungkin keluarga pasien untuk tiduran sambil jaga keluarga. Biayanya 32 juta. Lunas di awal. Dulu uang segitu aku hamburin buat 1 malam di club sama anak buah. Sekarang aku pakai buat duduk manis nemenin adikku ngelipat kertas origami.“Hari ke-28, Pak Arman,” kata suster Ayu pas nganterin teh. “Sebentar lagi pulang ya.”“Iya, Yu,” jawabku. Suaraku serak. “Doain.”---Pagi, keesokan harinya. “Pak Arman. Silakan masuk.”Aku berd

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 42

    Bau karbol menusuk hidung. Hilir mudik para pengunjung dan paramedis sebagai rutinitas sehari-hari di rumah sakit. Lampu neon putih menyilaukan di atas lorong RSUD H. ABDUL MANAN. Suara roda brankar berderit pelan di lantai keramik. Aku bolak balik di ruangan menunggu adikku di dalam yang baru selesai dimandikan dipakaikan pakaian pasien. Begitu keluar dari ruangan, aku ingin langsung bertanya, tapi belum sempat ngomong. Perawat langsung berkata. “Pak, tahan ya. Kami harus observasi dulu,” kata perawat sambil mendorong Manja yang masih terbius.Aku mengangguk. Tenggorokanku kering. Tangan kiriku masih basah bekas memegang tangan Manja yang bau dan dingin. Tangan kanan mengepal di sisi tubuh. Aku masih sangat terpukul melihat keadaan adikku. Adik yang paling kumanja. Cantik dan manis wajahnya, seperti wajah emak, meneduhkan. Dan aku membiarkan yang terjadi selama ini. Ruangan UGD penuh. Ada anak kecil nangis, ada ibu-ibu gendong bayi, ada bapak-bapak duduk dengan infus. Tapi di kepa

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status