Home / Romansa / PESONA SUPIR PRIBADIKU / bab 1 Dua Ratus Juta

Share

PESONA SUPIR PRIBADIKU
PESONA SUPIR PRIBADIKU
Author: Ria_rkive

bab 1 Dua Ratus Juta

Author: Ria_rkive
last update publish date: 2026-06-21 00:28:06

"Dua ratus juta. Hamili istriku."

Kalimat itu mengubah hidup Arga dalam sekejap.

Sebagai sopir pribadi keluarga Wiratama, Arga terbiasa menjalani hidup sederhana. Ia bekerja keras demi membiayai ibunya yang sakit dan melunasi utang keluarga. Namun, sebuah tawaran gila dari Reyhan Wiratama, pengusaha muda yang kaya raya, membuatnya terjebak dalam dilema yang tak pernah ia bayangkan.

Reyhan dan istrinya, Nara, telah menikah selama lima tahun tanpa dikaruniai anak. Di balik citra rumah tangga sempurna yang mereka tunjukkan kepada publik, tersimpan rahasia besar yang tak diketahui siapa pun. Demi mempertahankan warisan keluarga dan kedudukannya sebagai pewaris tunggal perusahaan, Reyhan membuat keputusan ekstrem.

Ia menyuruh Arga untuk menghamili Nara.

Awalnya Nara menolak keras rencana itu. Namun tekanan dari suaminya dan keluarga besar membuatnya tidak memiliki banyak pilihan. Sementara Arga terjebak antara kebutuhan uang, rasa bersalah, dan ketertarikannya yang perlahan tumbuh kepada wanita yang seharusnya hanya menjadi majikannya.

Semakin lama mereka terikat dalam rahasia yang sama, semakin sulit bagi Arga dan Nara untuk mengabaikan perasaan yang muncul di antara mereka. Ketika benih cinta mulai tumbuh bersamaan dengan benih kehidupan di dalam rahim Nara, keadaan menjadi semakin rumit.

Di saat yang sama, Reyhan ternyata menyimpan agenda lain yang jauh lebih gelap daripada sekadar menginginkan seorang pewaris.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap, Arga dan Nara harus memilih antara bertahan dalam sangkar emas yang penuh kebohongan atau memperjuangkan kebahagiaan mereka sendiri meski harus menghadapi amarah seorang pria yang memiliki kekuasaan untuk menghancurkan hidup mereka.

***

Deru mesin mobil mewah berwarna hitam itu perlahan menghilang ketika Arga memarkirkannya di halaman sebuah mansion megah milik keluarga Wiratama. Matahari sore mulai tenggelam, memantulkan cahaya keemasan pada dinding marmer yang menjulang tinggi.

Arga mengembuskan napas panjang. Seperti biasa, ia turun lebih dulu lalu membuka pintu belakang untuk majikannya.

Reyhan Wiratama keluar dengan langkah tenang. Jas abu-abu yang dikenakannya tampak sempurna tanpa sedikit pun kerutan. Wajah tampannya yang dingin membuat banyak orang segan bahkan sebelum berbicara dengannya.

"Masukkan mobil ke garasi setelah ini. Lalu temui aku di ruang kerja."

Arga mengangguk.

"Baik, Tuan."

Biasanya Reyhan tidak pernah memanggilnya ke ruang kerja secara pribadi. Sebagai sopir, tugas Arga hanya mengantar dan menjemput.

Karena itu, ada perasaan aneh yang muncul di dalam dadanya.

Namun, ia tidak terlalu memikirkannya. Mungkin hanya ada pekerjaan tambahan. Setelah memarkir mobil dan memastikan semuanya beres, Arga berjalan menuju mansion. Langkahnya terasa berat, entah kenapa suasana rumah hari itu terasa berbeda, terlalu sunyi. Para pelayan berlalu-lalang dengan kepala tertunduk. Tak ada yang berani mengobrol, seolah ada sesuatu yang sedang terjadi.

Arga berhenti di depan pintu ruang kerja Reyhan.

Tok ... tok!

"Masuk!"

Suara berat itu terdengar dari dalam, Arga membuka pintu perlahan. Ruangan itu sangat luas. Rak-rak buku memenuhi sebagian dinding. Di tengah ruangan berdiri meja kerja besar dari kayu mahoni. Reyhan duduk di balik meja sambil memegang gelas berisi minuman. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan sulit untuk ditebak.

"Tuan," ucap Arga dengan nada pelan.

Reyhan meletakkan gelasnya.

"Duduk!"

Arga sedikit terkejut.

Duduk? Biasanya Reyhan tidak pernah menyuruh bawahannya duduk saat berbicara.

"Maaf, Tuan. Saya lebih nyaman berdiri."

"Itu bukan permintaan," ungkapan itu sangat tegas.

Arga langsung duduk, jantungnya mulai berdegup tidak nyaman. Ada sesuatu yang tidak beres.

Reyhan menatapnya selama beberapa detik, seakan sedang menilai sesuatu.

"Kamu sudah bekerja denganku tiga tahun."

"Ya, Tuan."

"Selama itu kamu tidak pernah membuat masalah."

Arga mengangguk pelan.

"Terima kasih, Tuan."

"Kamu juga tidak pernah mencuri."

"Tentu saja tidak."

"Dan kamu sangat membutuhkan uang."

Kalimat terakhir membuat Arga terdiam, tangannya perlahan mengepal. ia tidak pernah menceritakan kehidupan pribadinya kepada siapa pun di rumah itu. Namun, Reyhan adalah pemilik perusahaan besar. Mencari informasi tentang seseorang tentu bukan hal yang sulit baginya.

"Ibu saya sedang sakit," jawab Arga pelan.

"Operasi ginjal?"

Reyhan mengangguk.

"Aku tahu."

Arga menelan ludah, perasaan tidak nyaman itu semakin kuat.

"Aku juga tahu kamu memiliki utang seratus lima puluh juta untuk biaya pengobatan."

Wajah Arga memucat, ia tidak menyangka majikannya mengetahui semuanya.

"Maaf, Tuan."

"Aku tidak menanyakan alasanmu berutang." Reyhan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Aku hanya ingin tahu satu hal."

"Apa itu, Tuan?"

"Seberapa jauh kamu mau melakukan sesuatu demi uang?"

Arga mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan tuannya itu.

"Saya tidak paham apa yang tuan maksud," ucapnya berhati-hati.

Reyhan tersenyum tipis, senyum yang justru membuat bulu kuduk Arga meremang.

"Aku punya pekerjaan untukmu."

"Pekerjaan?"

"Ya."

"Apakah ada kaitannya dengan mengemudi?"

"Tidak."

Jawaban singkat itu membuat suasana semakin tegang, Arga mulai merasa ingin pergi dari sana. Namun, ia tidak mungkin melakukannya. Reyhan adalah atasannya.

"Aku akan memberimu dua ratus juta rupiah."

Mata Arga membelalak.

"Dua ratus juta?"

"Itu hanya uang muka."

Uang muka? Arga bahkan tidak pernah memegang uang sebanyak itu seumur hidupnya.

"Sebagai imbalan untuk satu tugas."

"Tugas apa, Tuan?"

Untuk pertama kalinya, Reyhan terlihat ragu. Namun, hanya sesaat. Lalu pria itu kembali memasang ekspresi dinginnya.

"Dengar baik-baik."

Arga merasakan tenggorokannya mengering.

"Aku ingin kau menghamili istriku."

Dunia seakan berhenti berputar. Beberapa detik berlalu tanpa suara Arga bahkan tidak yakin dirinya masih bernapas.

"Apa?"

Reyhan tidak mengulang ucapannya, ia hanya menatap lurus ke arah Arga. Seolah kalimat itu adalah hal paling normal di dunia.

"Tuan..." suara Arga bergetar. "Saya pasti salah dengar."

"Tidak."

"Tuan bercanda?"

"Aku tidak pernah bercanda."

Arga berdiri begitu cepat hingga kursinya hampir terjatuh.

"Maaf, Tuan, tapi ini tidak masuk akal!"

Reyhan tetap tenang.

"Istri Tuan adalah Nyonya Nara."

"Benar."

"Dan Anda meminta saya untuk --"

Suara Arga tercekat, saat Reyhan memotong pembicaraannya.

"Ya."

Arga menggeleng berkali-kali, "Tidak, ini pasti mimpi buruk," batinnya.

"Tidak, Tuan. Bagaimana mungkin tuan sebagai suami nyonya Nara meminta pria lain untuk menghamili istri tuan. Apalagi diriku yang hanya seorang sopir, seorang bawahan. Saya tidak bisa melakukan itu, Tuan," ucap Arga dengan suara bergetar.

"Kamu bahkan belum mendengar alasannya."

"Saya tidak perlu mendengar alasannya," suara Arga meninggi tanpa sadar. "Itu salah!"

Tatapan Reyhan berubah tajam.

"Salah menurut siapa?"

Arga terdiam.

"Dua ratus juta akan melunasi seluruh utangmu."

Reyhan berdiri, langkahnya perlahan mendekati Arga.

"Ibumu bisa dioperasi."

Arga menunduk, dadanya terasa sesak, karena itulah titik lemahnya -- ibunya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki.

"Aku juga akan memberimu pekerjaan tetap setelah semuanya selesai."

"Tuan..."

"Tiga ratus juta."

Arga membeku.

"Empat ratus juta."

"Tuan, hentikan!"

"Lima ratus juta."

Suara Reyhan tetap datar, seolah sedang membicarakan angka yang tidak berarti apa-apa. Padahal bagi Arga, uang sebanyak itu bisa mengubah hidupnya. Bisa menyelamatkan ibunya. Bisa membuat mereka keluar dari kemiskinan. Namun, harga yang harus dibayar terlalu besar.

"Saya tidak akan melakukannya."

Untuk pertama kalinya Reyhan tersenyum.

Aneh, sangat aneh. Seolah ia sudah memperkirakan jawaban itu.

"Kalau begitu, pulanglah."

Arga mengernyit.

"Haah? Pulang."

Reyhan kembali ke mejanya.

"Aku tidak memaksa."

Arga menatap pria itu penuh kebingungan.

Semudah itu? Tidak ada ancaman? Tidak ada kemarahan?

"Aku akan memberimu waktu berpikir."

Reyhan membuka sebuah map lalu melemparkannya ke atas meja.

"Ambil itu."

Arga ragu-ragu, tetapi akhirnya ia mengambil map tersebut. Saat membukanya, matanya langsung membelalak. Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan medis milik Reyhan. Tangannya gemetar saat membaca beberapa halaman, kemudian wajahnya berubah.

"Tuan..."

"Aku mandul."

Ruangan itu kembali sunyi, Arga mengangkat kepalanya perlahan. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda dalam diri Reyhan. Bukan kemarahan, bukan kesombongan. Melainkan kehancuran yang disembunyikan dengan sangat baik.

"Keluargaku membutuhkan pewaris."

Suara Reyhan terdengar lebih rendah.

"Dan aku tidak bisa memberikannya."

Arga tidak tahu harus berkata apa.

"Kau boleh pergi sekarang."

"Tuan..."

"Aku bilang pergi."

Arga menunduk.

"Baik."

Dengan langkah berat, ia keluar dari ruangan itu. Namun, sebelum pintu tertutup sepenuhnya, suara Reyhan kembali terdengar.

"Dua ratus juta akan langsung masuk ke rekeningmu begitu kau setuju."

Arga tidak menjawab, ia hanya melangkah pergi. Sementara di lantai atas mansion yang sama, seorang wanita berdiri di balik tirai jendela.

Nara Wiratama, istri sah Reyhan. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata menggantung di pelupuk matanya, karena ia mendengar semuanya. Setiap kata, setiap tawaran, setiap rencana gila yang dibuat suaminya. Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan mereka, Nara menyadari satu hal yang menyakitkan.

Bagi Reyhan, dirinya bukanlah seorang istri. Melainkan hanya alat untuk melahirkan pewaris keluarga. Sementara di luar mansion, Arga menatap langit yang mulai gelap.

Pikirannya kacau, hatinya menolak. Namun, bayangan wajah ibunya yang terbaring lemah di rumah sakit terus menghantuinya.

Ia tidak tahu bahwa keputusan yang akan diambilnya nanti akan menyeret dirinya ke dalam permainan berbahaya yang mengubah hidup mereka bertiga untuk selamanya.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 17 Seharusnya sudah mati

    Hujan belum berhenti ketika Reyhan tiba di rumah Maya. Arga sudah menunggunya di dalam mobil. Wajahnya terlihat serius, sementara ponsel di tangannya masih menampilkan foto yang baru saja diterimanya. Begitu Reyhan membuka pintu mobil, Arga langsung menyerahkan ponselnya. "Ini yang saya terima." Reyhan menatap layar, foto itu memperlihatkan Damar berdiri di depan sebuah gedung tua. Di sebelahnya terdapat seorang pria yang wajahnya tampak jelas, Hendra Kusuma. Tidak mungkin salah. Reyhan pernah melihat foto Hendra dalam arsip perusahaan. Pria itu dinyatakan meninggal dua puluh tahun lalu. "Di mana foto ini diambil?" "Saya belum tahu." "Siapa yang mengirim?" "Nomor yang sama." Reyhan menghela napas. "Berarti dia ingin kita menemukan Hendra." Arga mengangguk. "Atau sengaja ingin menyesatkan kita." Reyhan menatap foto tersebut sekali lagi. "Kita harus mencari tahu."****Nara keluar dari rumah ketika mendengar suara mobil Reyhan. Ia terkejut melihat suaminya bersama Arg

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 16 Rekaman

    Ruangan itu mendadak sunyi. Reyhan masih menatap layar laptop yang telah berubah gelap. Rekaman yang baru saja mereka lihat hanya berlangsung beberapa menit, tetapi cukup untuk mengguncang keyakinannya terhadap keluarganya.Arga berdiri beberapa langkah di belakangnya."Tuan..."Reyhan tidak menjawab, tangannya masih bertumpu di atas meja. Selama bertahun-tahun, ia percaya bahwa ayahnya adalah sosok yang keras, tetapi tetap menjunjung kehormatan keluarga. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa semua keputusan yang diambil ayahnya bertujuan melindungi perusahaan. Namun, rekaman itu memperlihatkan sisi yang berbeda. Ada sesuatu yang disembunyikan dan mungkin jauh lebih besar daripada dugaan mereka."Putar lagi."Arga menekan tombol dan rekaman vidio itu kembali berjalan. Wajah ayah Reyhan muncul di layar bersama beberapa orang. Suaranya terdengar samar, tetapi kalimat terakhir masih sangat jelas."Kalau Damar mulai bicara, pastikan dia tidak pernah kembali ke perusahaan."Rekaman berhenti, Re

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 15 Gudang di pelabuhan

    Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Arga masih memandangi alamat yang tertera di layar ponselnya. Pesan misterius itu belum juga keluar dari pikirannya. Kalau ingin tahu siapa dalang semuanya, datanglah sendirian.Ia tahu itu bisa saja jebakan. Namun, jika benar ada seseorang yang mengetahui penyebab semua teror yang menimpa keluarga Wiratama, kesempatan itu terlalu berharga untuk diabaikan. Setelah berpikir beberapa menit, Arga akhirnya mengambil keputusan.Ia tidak akan datang tanpa persiapan. Diam-diam ia mengirimkan lokasi gudang itu kepada sahabat lamanya, Bimo, seorang polisi yang pernah tumbuh bersamanya di kampung. Pesan yang dikirimnya singkat."Kalau dalam satu jam aku tidak menghubungimu, tolong datangi lokasi ini."Beberapa detik kemudian, balasan masuk."Hati-hati. Jangan gegabah."Arga menghela napas lega, setidaknya kini ada seseorang yang mengetahui ke mana ia pergi. Gudang tua di kawasan pelabuhan tampak gelap dan sepi. Lampu-lampu di sekitar pelabuhan hanya

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 14 Luka yang disembunyikan

    Pagi itu, suasana di rumah keluarga Wiratama jauh dari kata tenang. Sejak insiden pengejaran semalam, jumlah petugas keamanan ditambah. Beberapa mobil patroli tampak berjaga di sekitar gerbang utama, sementara setiap orang yang keluar masuk rumah diperiksa dengan ketat.Namun, semua pengamanan itu tidak mampu menghilangkan kegelisahan di hati Reyhan. Ia berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandang halaman rumah yang mulai diterpa cahaya matahari. Di atas meja tergeletak foto Damar, mantan kepala keamanan ayahnya. Nama yang selama belasan tahun menghilang tanpa jejak, kini kembali muncul bersamaan dengan rentetan ancaman terhadap keluarganya. Ketukan pelan terdengar. "Masuk." Arga memasuki ruangan. "Tuan, hasil penyelidikan sementara sudah keluar." Reyhan berbalik. "Ceritakan." "Tim keamanan berhasil menemukan tempat mobil yang mengejar kami semalam." "Lalu?" "Mobil itu ternyata kendaraan curian." Reyhan tidak terkejut, ia memang sudah menduga lawannya bekerja dengan s

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 13 Kejaran di tengah hujan

    Suara mesin mobil terdengar semakin keras, Arga menggenggam kemudi erat. Matanya terus bergantian memperhatikan jalan di depan dan kaca spion di atas kepalanya. Mobil hitam itu masih membuntuti, jaraknya tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak pernah tertinggal."Nyonya, tetap tenang," ucap Arga.Nara mengangguk pelan, meski jantungnya berdetak sangat cepat."Menurutmu mereka siapa?" tanya Nara dalam kecemasannya."Saya juga belum tahu, Nyonya. Siapa mereka," jawab Arga."Berhati-hatilah," pinta Nara."Baik, Nyonya," jawab Arga. Arga tetqp fokus pada laju mobilnya, dan ia juga tidak ingin berspekulasi siapa yang sedang membuntuti mereka. Saat ini yang terpenting adalah memastikan Nara tetap selamat.Hujan turun semakin deras, jalanan mulai dipenuhi kendaraan yang melambat karena jarak pandang berkurang. Arga memanfaatkan keadaan itu, ia membelok ke jalan alternatif yang lebih sempit. Mobil hitam di belakang ikut berbelok."Mereka masih mengikuti kita." Suara Nara terdengar pelan.Arga

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 12 Musuh dibalik bayangan

    Hujan turun sejak dini hari. Tetesannya menghantam kaca ruang kerja Reyhan, menciptakan irama yang terdengar menyesakkan. Semalaman ia tidak memejamkan mata. Berkas-berkas yang menumpuk di atas meja tidak satu pun berhasil menarik perhatiannya. Pikirannya hanya dipenuhi dua hal, Nara dan ancaman yang kini mengintai keluarga Wiratama. Ponselnya berdering. "Halo," ucap Reyhan. "Tuan, kami sudah melacak pengirim amplop ke media." "Bagaimana hasilnya?" "Pelaku menggunakan kurir lepas. Semua jejak pembayaran dilakukan melalui rekening palsu." Reyhan memejamkan mata sejenak. "Lanjutkan penyelidikan, cari siapa pun yang pernah memiliki akses ke dokumen kontrak." "Baik, Tuan." Panggilan berakhir, belum sempat ia menarik napas, pintu ruang kerja diketuk. Arga masuk dengan wajah serius. "Tuan." "Ada perkembangan?" tanya Reyhan Arga menganggukkan kepalanya. "Saya sudah memeriksa rekaman CCTV di sekitar kantor pengacara." "Lalu?" "Motor yang melempar amplop ternyata menggunakan p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status