LOGIN
"Dua ratus juta. Hamili istriku."
Kalimat itu mengubah hidup Arga dalam sekejap. Sebagai sopir pribadi keluarga Wiratama, Arga terbiasa menjalani hidup sederhana. Ia bekerja keras demi membiayai ibunya yang sakit dan melunasi utang keluarga. Namun, sebuah tawaran gila dari Reyhan Wiratama, pengusaha muda yang kaya raya, membuatnya terjebak dalam dilema yang tak pernah ia bayangkan. Reyhan dan istrinya, Nara, telah menikah selama lima tahun tanpa dikaruniai anak. Di balik citra rumah tangga sempurna yang mereka tunjukkan kepada publik, tersimpan rahasia besar yang tak diketahui siapa pun. Demi mempertahankan warisan keluarga dan kedudukannya sebagai pewaris tunggal perusahaan, Reyhan membuat keputusan ekstrem. Ia menyuruh Arga untuk menghamili Nara. Awalnya Nara menolak keras rencana itu. Namun tekanan dari suaminya dan keluarga besar membuatnya tidak memiliki banyak pilihan. Sementara Arga terjebak antara kebutuhan uang, rasa bersalah, dan ketertarikannya yang perlahan tumbuh kepada wanita yang seharusnya hanya menjadi majikannya. Semakin lama mereka terikat dalam rahasia yang sama, semakin sulit bagi Arga dan Nara untuk mengabaikan perasaan yang muncul di antara mereka. Ketika benih cinta mulai tumbuh bersamaan dengan benih kehidupan di dalam rahim Nara, keadaan menjadi semakin rumit. Di saat yang sama, Reyhan ternyata menyimpan agenda lain yang jauh lebih gelap daripada sekadar menginginkan seorang pewaris. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, Arga dan Nara harus memilih antara bertahan dalam sangkar emas yang penuh kebohongan atau memperjuangkan kebahagiaan mereka sendiri meski harus menghadapi amarah seorang pria yang memiliki kekuasaan untuk menghancurkan hidup mereka. *** Deru mesin mobil mewah berwarna hitam itu perlahan menghilang ketika Arga memarkirkannya di halaman sebuah mansion megah milik keluarga Wiratama. Matahari sore mulai tenggelam, memantulkan cahaya keemasan pada dinding marmer yang menjulang tinggi. Arga mengembuskan napas panjang. Seperti biasa, ia turun lebih dulu lalu membuka pintu belakang untuk majikannya. Reyhan Wiratama keluar dengan langkah tenang. Jas abu-abu yang dikenakannya tampak sempurna tanpa sedikit pun kerutan. Wajah tampannya yang dingin membuat banyak orang segan bahkan sebelum berbicara dengannya. "Masukkan mobil ke garasi setelah ini. Lalu temui aku di ruang kerja." Arga mengangguk. "Baik, Tuan." Biasanya Reyhan tidak pernah memanggilnya ke ruang kerja secara pribadi. Sebagai sopir, tugas Arga hanya mengantar dan menjemput. Karena itu, ada perasaan aneh yang muncul di dalam dadanya. Namun, ia tidak terlalu memikirkannya. Mungkin hanya ada pekerjaan tambahan. Setelah memarkir mobil dan memastikan semuanya beres, Arga berjalan menuju mansion. Langkahnya terasa berat, entah kenapa suasana rumah hari itu terasa berbeda, terlalu sunyi. Para pelayan berlalu-lalang dengan kepala tertunduk. Tak ada yang berani mengobrol, seolah ada sesuatu yang sedang terjadi. Arga berhenti di depan pintu ruang kerja Reyhan. Tok ... tok! "Masuk!" Suara berat itu terdengar dari dalam, Arga membuka pintu perlahan. Ruangan itu sangat luas. Rak-rak buku memenuhi sebagian dinding. Di tengah ruangan berdiri meja kerja besar dari kayu mahoni. Reyhan duduk di balik meja sambil memegang gelas berisi minuman. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan sulit untuk ditebak. "Tuan," ucap Arga dengan nada pelan. Reyhan meletakkan gelasnya. "Duduk!" Arga sedikit terkejut. Duduk? Biasanya Reyhan tidak pernah menyuruh bawahannya duduk saat berbicara. "Maaf, Tuan. Saya lebih nyaman berdiri." "Itu bukan permintaan," ungkapan itu sangat tegas. Arga langsung duduk, jantungnya mulai berdegup tidak nyaman. Ada sesuatu yang tidak beres. Reyhan menatapnya selama beberapa detik, seakan sedang menilai sesuatu. "Kamu sudah bekerja denganku tiga tahun." "Ya, Tuan." "Selama itu kamu tidak pernah membuat masalah." Arga mengangguk pelan. "Terima kasih, Tuan." "Kamu juga tidak pernah mencuri." "Tentu saja tidak." "Dan kamu sangat membutuhkan uang." Kalimat terakhir membuat Arga terdiam, tangannya perlahan mengepal. ia tidak pernah menceritakan kehidupan pribadinya kepada siapa pun di rumah itu. Namun, Reyhan adalah pemilik perusahaan besar. Mencari informasi tentang seseorang tentu bukan hal yang sulit baginya. "Ibu saya sedang sakit," jawab Arga pelan. "Operasi ginjal?" Reyhan mengangguk. "Aku tahu." Arga menelan ludah, perasaan tidak nyaman itu semakin kuat. "Aku juga tahu kamu memiliki utang seratus lima puluh juta untuk biaya pengobatan." Wajah Arga memucat, ia tidak menyangka majikannya mengetahui semuanya. "Maaf, Tuan." "Aku tidak menanyakan alasanmu berutang." Reyhan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku hanya ingin tahu satu hal." "Apa itu, Tuan?" "Seberapa jauh kamu mau melakukan sesuatu demi uang?" Arga mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan tuannya itu. "Saya tidak paham apa yang tuan maksud," ucapnya berhati-hati. Reyhan tersenyum tipis, senyum yang justru membuat bulu kuduk Arga meremang. "Aku punya pekerjaan untukmu." "Pekerjaan?" "Ya." "Apakah ada kaitannya dengan mengemudi?" "Tidak." Jawaban singkat itu membuat suasana semakin tegang, Arga mulai merasa ingin pergi dari sana. Namun, ia tidak mungkin melakukannya. Reyhan adalah atasannya. "Aku akan memberimu dua ratus juta rupiah." Mata Arga membelalak. "Dua ratus juta?" "Itu hanya uang muka." Uang muka? Arga bahkan tidak pernah memegang uang sebanyak itu seumur hidupnya. "Sebagai imbalan untuk satu tugas." "Tugas apa, Tuan?" Untuk pertama kalinya, Reyhan terlihat ragu. Namun, hanya sesaat. Lalu pria itu kembali memasang ekspresi dinginnya. "Dengar baik-baik." Arga merasakan tenggorokannya mengering. "Aku ingin kau menghamili istriku." Dunia seakan berhenti berputar. Beberapa detik berlalu tanpa suara Arga bahkan tidak yakin dirinya masih bernapas. "Apa?" Reyhan tidak mengulang ucapannya, ia hanya menatap lurus ke arah Arga. Seolah kalimat itu adalah hal paling normal di dunia. "Tuan..." suara Arga bergetar. "Saya pasti salah dengar." "Tidak." "Tuan bercanda?" "Aku tidak pernah bercanda." Arga berdiri begitu cepat hingga kursinya hampir terjatuh. "Maaf, Tuan, tapi ini tidak masuk akal!" Reyhan tetap tenang. "Istri Tuan adalah Nyonya Nara." "Benar." "Dan Anda meminta saya untuk --" Suara Arga tercekat, saat Reyhan memotong pembicaraannya. "Ya." Arga menggeleng berkali-kali, "Tidak, ini pasti mimpi buruk," batinnya. "Tidak, Tuan. Bagaimana mungkin tuan sebagai suami nyonya Nara meminta pria lain untuk menghamili istri tuan. Apalagi diriku yang hanya seorang sopir, seorang bawahan. Saya tidak bisa melakukan itu, Tuan," ucap Arga dengan suara bergetar. "Kamu bahkan belum mendengar alasannya." "Saya tidak perlu mendengar alasannya," suara Arga meninggi tanpa sadar. "Itu salah!" Tatapan Reyhan berubah tajam. "Salah menurut siapa?" Arga terdiam. "Dua ratus juta akan melunasi seluruh utangmu." Reyhan berdiri, langkahnya perlahan mendekati Arga. "Ibumu bisa dioperasi." Arga menunduk, dadanya terasa sesak, karena itulah titik lemahnya -- ibunya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki. "Aku juga akan memberimu pekerjaan tetap setelah semuanya selesai." "Tuan..." "Tiga ratus juta." Arga membeku. "Empat ratus juta." "Tuan, hentikan!" "Lima ratus juta." Suara Reyhan tetap datar, seolah sedang membicarakan angka yang tidak berarti apa-apa. Padahal bagi Arga, uang sebanyak itu bisa mengubah hidupnya. Bisa menyelamatkan ibunya. Bisa membuat mereka keluar dari kemiskinan. Namun, harga yang harus dibayar terlalu besar. "Saya tidak akan melakukannya." Untuk pertama kalinya Reyhan tersenyum. Aneh, sangat aneh. Seolah ia sudah memperkirakan jawaban itu. "Kalau begitu, pulanglah." Arga mengernyit. "Haah? Pulang." Reyhan kembali ke mejanya. "Aku tidak memaksa." Arga menatap pria itu penuh kebingungan. Semudah itu? Tidak ada ancaman? Tidak ada kemarahan? "Aku akan memberimu waktu berpikir." Reyhan membuka sebuah map lalu melemparkannya ke atas meja. "Ambil itu." Arga ragu-ragu, tetapi akhirnya ia mengambil map tersebut. Saat membukanya, matanya langsung membelalak. Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan medis milik Reyhan. Tangannya gemetar saat membaca beberapa halaman, kemudian wajahnya berubah. "Tuan..." "Aku mandul." Ruangan itu kembali sunyi, Arga mengangkat kepalanya perlahan. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda dalam diri Reyhan. Bukan kemarahan, bukan kesombongan. Melainkan kehancuran yang disembunyikan dengan sangat baik. "Keluargaku membutuhkan pewaris." Suara Reyhan terdengar lebih rendah. "Dan aku tidak bisa memberikannya." Arga tidak tahu harus berkata apa. "Kau boleh pergi sekarang." "Tuan..." "Aku bilang pergi." Arga menunduk. "Baik." Dengan langkah berat, ia keluar dari ruangan itu. Namun, sebelum pintu tertutup sepenuhnya, suara Reyhan kembali terdengar. "Dua ratus juta akan langsung masuk ke rekeningmu begitu kau setuju." Arga tidak menjawab, ia hanya melangkah pergi. Sementara di lantai atas mansion yang sama, seorang wanita berdiri di balik tirai jendela. Nara Wiratama, istri sah Reyhan. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata menggantung di pelupuk matanya, karena ia mendengar semuanya. Setiap kata, setiap tawaran, setiap rencana gila yang dibuat suaminya. Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan mereka, Nara menyadari satu hal yang menyakitkan. Bagi Reyhan, dirinya bukanlah seorang istri. Melainkan hanya alat untuk melahirkan pewaris keluarga. Sementara di luar mansion, Arga menatap langit yang mulai gelap. Pikirannya kacau, hatinya menolak. Namun, bayangan wajah ibunya yang terbaring lemah di rumah sakit terus menghantuinya. Ia tidak tahu bahwa keputusan yang akan diambilnya nanti akan menyeret dirinya ke dalam permainan berbahaya yang mengubah hidup mereka bertiga untuk selamanya. *****Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Hujan yang sejak sore mengguyur kota akhirnya berhenti, meninggalkan aroma tanah basah yang menyusup hingga ke dalam rumah utama keluarga Wiratama. Namun,, ketenangan itu tidak mampu menenangkan hati Nara.Wanita itu berdiri di balkon kamarnya dengan kedua tangan memeluk tubuh sendiri. Tatapannya kosong menembus gelap malam. Sudah beberapa hari sejak dokter mengatakan bahwa kondisi kesehatannya menurun akibat stres yang berkepanjangan.Ia tidak terkejut, justru ia heran bagaimana tubuhnya bisa bertahan selama ini. Tiga tahun hidup dalam pernikahan yang dingin, tiga tahun berpura-pura bahagia, tiga tahun menahan pertanyaan yang sama dari keluarga besar Wiratama."Kapan punya anak?"Kalimat sederhana yang terdengar biasa bagi orang lain, tetapi selalu terasa seperti pisau yang perlahan mengiris harga dirinya. Nara mengembuskan napas panjang, di belakangnya, kamar yang luas dan mewah terasa kosong. Begitu juga hidupnya.Pintu kamar terbuka, Nar
"Jangan pernah jatuh cinta pada istriku."Kalimat itu terus terngiang di kepala Arga bahkan setelah Reyhan pergi meninggalkannya di halaman belakang rumah, hujan masih turun, tetapi Arga tetap berdiri di tempatnya. Seolah kata-kata itu baru saja menghantam tepat ke bagian terdalam dirinya, karena yang paling membuatnya takut bukan peringatan Reyhan. Melainkan kenyataan bahwa ia tidak bisa menjamin dirinya mampu mematuhinya.Malam itu Arga tidak bisa tidur, ia berbaring di ranjang sempit kamarnya sambil menatap langit-langit. Pikirannya berputar-putar tanpa henti, kontrak sudah ditandatangani, uang sudah diterima dan operasi ibunya sudah dijadwalkan.Secara logika, semua masalahnya selesai. Akan tetapi justru sekarang hidupnya terasa semakin rumit, karena setiap kali mengingat Nara, dadanya terasa berbeda dan itu membuatnya takut. "Jangan bodoh, Arga." Ia duduk sambil mengusap wajahnya. "Nara itu istri majikanmu."Kalimat itu diulangnya berkali-kali, seolah sedang mencoba meyakinkan
Pagi itu terasa lebih berat dari biasanya, Arga hampir tidak memejamkan mata semalaman. Ucapan Reyhan terus terngiang di kepalanya. "Besok kau akan menandatangani kontraknya."Kontrak? Seolah semua ini hanyalah urusan bisnis, seolah perasaan manusia bisa ditulis dalam lembaran kertas dan dibeli dengan sejumlah uang. Arga menatap langit-langit kamarnya yang sederhana, dadanya terasa sesak. Ia tahu dirinya sedang berada di persimpangan hidup, keputusan yang diambil hari ini akan mengubah segalanya dan mungkin tidak ada jalan untuk kembali. ---Pukul sembilan pagi, Arga dipanggil ke kantor pusat Wiratama Group. Gedung pencakar langit yang menjulang megah itu terasa begitu asing meski sudah sering ia kunjungi. Biasanya ia hanya menunggu di area parkir atau ruang sopir, tetapi hari ini berbeda. Asisten pribadi Reyhan mengantarnya langsung ke lantai paling atas, lantai khusus direksi, lantai yang tidak bisa diakses sembarang orang. Jantung Arga berdetak semakin cepat, pintu ruang kerja R
Sejak malam di taman itu, sesuatu terasa berbeda, Arga berusaha mengabaikannya. Ia meyakinkan dirinya bahwa percakapannya dengan Nara hanyalah obrolan biasa. Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang perlu dipikirkan berlebihan.Namun, semakin ia mencoba melupakan, semakin jelas bayangan wanita itu muncul di kepalanya. Senyum tipisnya, tatapan matanya yang menyimpan kesedihan dan cara Nara bertanya tentang cinta seolah ia sendiri sudah lama kehilangan harapan.Arga menghela napas panjang saat sedang mencuci mobil di garasi pagi itu, pikirannya kacau. Di satu sisi ada ibunya yang membutuhkan biaya operasi, di sisi lain ada harga diri yang terus menolak tawaran Reyhan. Lalu sekarang muncul masalah baru, perasaan yang seharusnya tidak ada. "Arga."Suara berat itu membuat tubuhnya menegang, ia langsung menoleh. Reyhan berdiri beberapa meter darinya, masih dengan setelan jas hitam yang sempurna, masih dengan wajah dingin yang sulit dibaca. "Tuan," ucal Arga pelan. "Ke ruang kerjaku sekara
Arga tidak tidur semalaman.Ia duduk di tepi ranjang kecil di kamar belakang rumah utama keluarga Wiratama. Lampu kamar yang redup menciptakan bayangan panjang di dinding, sementara ponselnya masih menampilkan pesan dari rumah sakit.Pembayaran harus segera dilakukan.Kalimat sederhana itu terasa seperti beban berton-ton yang menekan dadanya. Di atas meja kecil, terdapat foto ibunya yang sudah mulai pudar. Wanita tua itu tersenyum hangat di dalam bingkai sederhana. Arga mengusap wajahnya kasar."Apa yang harus aku lakukan, Bu?" gumamnya pelan.Seumur hidup, ibunya selalu mengajarkan tentang harga diri. Tentang bekerja keras, tentang hidup jujur meski susah. Namun, sekarang hidup seakan menertawakannya.Karena jalan tercepat untuk menyelamatkan ibunya justru berasal dari sesuatu yang bertentangan dengan semua prinsip yang selama ini ia pegang. Pikirannya kembali pada percakapan bersama Reyhan."Dua ratus juta. Hamili Nyonya Nara."Seketika tubuhnya menegang, ia menggeleng keras. Tidak,
"Dua ratus juta. Hamili istriku."Kalimat itu mengubah hidup Arga dalam sekejap.Sebagai sopir pribadi keluarga Wiratama, Arga terbiasa menjalani hidup sederhana. Ia bekerja keras demi membiayai ibunya yang sakit dan melunasi utang keluarga. Namun, sebuah tawaran gila dari Reyhan Wiratama, pengusaha muda yang kaya raya, membuatnya terjebak dalam dilema yang tak pernah ia bayangkan.Reyhan dan istrinya, Nara, telah menikah selama lima tahun tanpa dikaruniai anak. Di balik citra rumah tangga sempurna yang mereka tunjukkan kepada publik, tersimpan rahasia besar yang tak diketahui siapa pun. Demi mempertahankan warisan keluarga dan kedudukannya sebagai pewaris tunggal perusahaan, Reyhan membuat keputusan ekstrem.Ia menyuruh Arga untuk menghamili Nara.Awalnya Nara menolak keras rencana itu. Namun tekanan dari suaminya dan keluarga besar membuatnya tidak memiliki banyak pilihan. Sementara Arga terjebak antara kebutuhan uang, rasa bersalah, dan ketertarikannya yang perlahan tumbuh kepada w







