تسجيل الدخولMalam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Hujan yang sejak sore mengguyur kota akhirnya berhenti, meninggalkan aroma tanah basah yang menyusup hingga ke dalam rumah utama keluarga Wiratama. Namun,, ketenangan itu tidak mampu menenangkan hati Nara.Wanita itu berdiri di balkon kamarnya dengan kedua tangan memeluk tubuh sendiri. Tatapannya kosong menembus gelap malam. Sudah beberapa hari sejak dokter mengatakan bahwa kondisi kesehatannya menurun akibat stres yang berkepanjangan.Ia tidak terkejut, justru ia heran bagaimana tubuhnya bisa bertahan selama ini. Tiga tahun hidup dalam pernikahan yang dingin, tiga tahun berpura-pura bahagia, tiga tahun menahan pertanyaan yang sama dari keluarga besar Wiratama."Kapan punya anak?"Kalimat sederhana yang terdengar biasa bagi orang lain, tetapi selalu terasa seperti pisau yang perlahan mengiris harga dirinya. Nara mengembuskan napas panjang, di belakangnya, kamar yang luas dan mewah terasa kosong. Begitu juga hidupnya.Pintu kamar terbuka, Nar
"Jangan pernah jatuh cinta pada istriku."Kalimat itu terus terngiang di kepala Arga bahkan setelah Reyhan pergi meninggalkannya di halaman belakang rumah, hujan masih turun, tetapi Arga tetap berdiri di tempatnya. Seolah kata-kata itu baru saja menghantam tepat ke bagian terdalam dirinya, karena yang paling membuatnya takut bukan peringatan Reyhan. Melainkan kenyataan bahwa ia tidak bisa menjamin dirinya mampu mematuhinya.Malam itu Arga tidak bisa tidur, ia berbaring di ranjang sempit kamarnya sambil menatap langit-langit. Pikirannya berputar-putar tanpa henti, kontrak sudah ditandatangani, uang sudah diterima dan operasi ibunya sudah dijadwalkan.Secara logika, semua masalahnya selesai. Akan tetapi justru sekarang hidupnya terasa semakin rumit, karena setiap kali mengingat Nara, dadanya terasa berbeda dan itu membuatnya takut. "Jangan bodoh, Arga." Ia duduk sambil mengusap wajahnya. "Nara itu istri majikanmu."Kalimat itu diulangnya berkali-kali, seolah sedang mencoba meyakinkan
Pagi itu terasa lebih berat dari biasanya, Arga hampir tidak memejamkan mata semalaman. Ucapan Reyhan terus terngiang di kepalanya. "Besok kau akan menandatangani kontraknya."Kontrak? Seolah semua ini hanyalah urusan bisnis, seolah perasaan manusia bisa ditulis dalam lembaran kertas dan dibeli dengan sejumlah uang. Arga menatap langit-langit kamarnya yang sederhana, dadanya terasa sesak. Ia tahu dirinya sedang berada di persimpangan hidup, keputusan yang diambil hari ini akan mengubah segalanya dan mungkin tidak ada jalan untuk kembali. ---Pukul sembilan pagi, Arga dipanggil ke kantor pusat Wiratama Group. Gedung pencakar langit yang menjulang megah itu terasa begitu asing meski sudah sering ia kunjungi. Biasanya ia hanya menunggu di area parkir atau ruang sopir, tetapi hari ini berbeda. Asisten pribadi Reyhan mengantarnya langsung ke lantai paling atas, lantai khusus direksi, lantai yang tidak bisa diakses sembarang orang. Jantung Arga berdetak semakin cepat, pintu ruang kerja R
Sejak malam di taman itu, sesuatu terasa berbeda, Arga berusaha mengabaikannya. Ia meyakinkan dirinya bahwa percakapannya dengan Nara hanyalah obrolan biasa. Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang perlu dipikirkan berlebihan.Namun, semakin ia mencoba melupakan, semakin jelas bayangan wanita itu muncul di kepalanya. Senyum tipisnya, tatapan matanya yang menyimpan kesedihan dan cara Nara bertanya tentang cinta seolah ia sendiri sudah lama kehilangan harapan.Arga menghela napas panjang saat sedang mencuci mobil di garasi pagi itu, pikirannya kacau. Di satu sisi ada ibunya yang membutuhkan biaya operasi, di sisi lain ada harga diri yang terus menolak tawaran Reyhan. Lalu sekarang muncul masalah baru, perasaan yang seharusnya tidak ada. "Arga."Suara berat itu membuat tubuhnya menegang, ia langsung menoleh. Reyhan berdiri beberapa meter darinya, masih dengan setelan jas hitam yang sempurna, masih dengan wajah dingin yang sulit dibaca. "Tuan," ucal Arga pelan. "Ke ruang kerjaku sekara
Arga tidak tidur semalaman.Ia duduk di tepi ranjang kecil di kamar belakang rumah utama keluarga Wiratama. Lampu kamar yang redup menciptakan bayangan panjang di dinding, sementara ponselnya masih menampilkan pesan dari rumah sakit.Pembayaran harus segera dilakukan.Kalimat sederhana itu terasa seperti beban berton-ton yang menekan dadanya. Di atas meja kecil, terdapat foto ibunya yang sudah mulai pudar. Wanita tua itu tersenyum hangat di dalam bingkai sederhana. Arga mengusap wajahnya kasar."Apa yang harus aku lakukan, Bu?" gumamnya pelan.Seumur hidup, ibunya selalu mengajarkan tentang harga diri. Tentang bekerja keras, tentang hidup jujur meski susah. Namun, sekarang hidup seakan menertawakannya.Karena jalan tercepat untuk menyelamatkan ibunya justru berasal dari sesuatu yang bertentangan dengan semua prinsip yang selama ini ia pegang. Pikirannya kembali pada percakapan bersama Reyhan."Dua ratus juta. Hamili Nyonya Nara."Seketika tubuhnya menegang, ia menggeleng keras. Tidak,
"Dua ratus juta. Hamili istriku."Kalimat itu mengubah hidup Arga dalam sekejap.Sebagai sopir pribadi keluarga Wiratama, Arga terbiasa menjalani hidup sederhana. Ia bekerja keras demi membiayai ibunya yang sakit dan melunasi utang keluarga. Namun, sebuah tawaran gila dari Reyhan Wiratama, pengusaha muda yang kaya raya, membuatnya terjebak dalam dilema yang tak pernah ia bayangkan.Reyhan dan istrinya, Nara, telah menikah selama lima tahun tanpa dikaruniai anak. Di balik citra rumah tangga sempurna yang mereka tunjukkan kepada publik, tersimpan rahasia besar yang tak diketahui siapa pun. Demi mempertahankan warisan keluarga dan kedudukannya sebagai pewaris tunggal perusahaan, Reyhan membuat keputusan ekstrem.Ia menyuruh Arga untuk menghamili Nara.Awalnya Nara menolak keras rencana itu. Namun tekanan dari suaminya dan keluarga besar membuatnya tidak memiliki banyak pilihan. Sementara Arga terjebak antara kebutuhan uang, rasa bersalah, dan ketertarikannya yang perlahan tumbuh kepada w







