Home / Romansa / PESONA SUPIR PRIBADIKU / bab 2 Pilihan Yang Mustahil

Share

bab 2 Pilihan Yang Mustahil

Author: Ria_rkive
last update publish date: 2026-06-21 00:44:45

Arga tidak tidur semalaman.

Ia duduk di tepi ranjang kecil di kamar belakang rumah utama keluarga Wiratama. Lampu kamar yang redup menciptakan bayangan panjang di dinding, sementara ponselnya masih menampilkan pesan dari rumah sakit.

Pembayaran harus segera dilakukan.

Kalimat sederhana itu terasa seperti beban berton-ton yang menekan dadanya. Di atas meja kecil, terdapat foto ibunya yang sudah mulai pudar. Wanita tua itu tersenyum hangat di dalam bingkai sederhana. Arga mengusap wajahnya kasar.

"Apa yang harus aku lakukan, Bu?" gumamnya pelan.

Seumur hidup, ibunya selalu mengajarkan tentang harga diri. Tentang bekerja keras, tentang hidup jujur meski susah. Namun, sekarang hidup seakan menertawakannya.

Karena jalan tercepat untuk menyelamatkan ibunya justru berasal dari sesuatu yang bertentangan dengan semua prinsip yang selama ini ia pegang. Pikirannya kembali pada percakapan bersama Reyhan.

"Dua ratus juta. Hamili Nyonya Nara."

Seketika tubuhnya menegang, ia menggeleng keras. Tidak, itu gila, benar-benar gila. Namun, suara dokter kembali terngiang.

"Jika operasi terus ditunda, kondisi ibumu bisa semakin memburuk."

Arga memejamkan mata, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar terpojok.

***

Pagi harinya, Arga mengambil cuti setengah hari untuk mengunjungi rumah sakit. Lorong rumah sakit yang dingin dipenuhi aroma obat-obatan dan cairan antiseptik. Ia berjalan menuju ruang rawat tempat ibunya dirawat. Begitu membuka pintu, senyum lemah langsung menyambutnya.

"Arga."

Pria itu memaksakan senyum.

"Bagaimana kabarnya hari ini, Bu?"

"Masih hidup."

Wanita tua itu tertawa kecil. Arga ikut tersenyum meski hatinya terasa sesak. Ibunya memang selalu berusaha terlihat kuat, bahkan saat tubuhnya semakin lemah dari hari ke hari.

"Kamu sudah makan?"

Pertanyaan itu membuat Arga nyaris menangis. Di tengah kondisinya sendiri, wanita itu masih memikirkan dirinya.

"Sudah."

"Bohong."

Arga terkekeh pelan.

"Benar, Bu."

"Mata kamu bilang tidak."

Mereka terdiam sesaat, lalu sang ibu menggenggam tangan Arga.

"Jangan terlalu memikirkan biaya rumah sakit."

Arga menunduk.

"Bu..."

"Kalau memang tidak mampu, kita pulang saja."

"Jangan bicara begitu."

"Arga."

Suara wanita itu melembut.

"Kamu sudah berkorban terlalu banyak untuk Ibu."

Tenggorokan Arga terasa tercekat. Sejak ayahnya meninggal bertahun-tahun lalu, hanya mereka berdua yang saling memiliki, karena itu ia tidak bisa kehilangan ibunya. Tidak sekarang, tidak setelah semua yang sudah mereka lalui.

"Aku akan mencari caranya."

Sang ibu menggeleng.

"Kamu jangan melakukan hal yang membuatmu menyesal."

Jantung Arga berdegup kencang, seolah ibunya bisa membaca isi pikirannya.

***

Sementara itu, di rumah utama keluarga Wiratama. Nara sedang menikmati sarapan sendirian, meja makan yang panjang dan mewah itu terasa terlalu besar untuk satu orang. Seperti biasa, Reyhan sudah berangkat bekerja lebih awal. Tidak ada percakapan., tidak ada ucapan selamat pagi dan tidak ada apa-apa.

Nara mengaduk kopi di depannya tanpa minat. Pernikahan mereka terasa semakin dingin setiap hari, kadang ia bertanya-tanya apa sebenarnya yang salah. Dulu ia sempat percaya bahwa waktu akan membuat hubungan mereka membaik. Namun, tiga tahun berlalu dan tidak ada yang berubah, yang ada hanya jarak yang semakin lebar.

"Nyonya."

Suara pelayan membuatnya tersadar.

"Ya?"

"Tuan meminta Nyonya menghadiri makan malam keluarga akhir pekan ini."

Nara menghela napas.

"Baik."

Ia sudah bisa menebak tujuannya, pertanyaan yang sama. Kapan punya anak? Kapan memberi pewaris Kapan keluarga Wiratama memiliki cucu? Pertanyaan yang selalu membuatnya merasa gagal sebagai seorang istri. Padahal bukan dirinya yang memilih hidup seperti ini.

***

Malam hari, Arga kembali bekerja. Ia menjemput Reyhan dari kantor pusat Wiratama Group, perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan. Sampai akhirnya suara Reyhan terdengar dari kursi belakang.

"Sudah kau pikirkan?"

Tangan Arga langsung menegang di atas setir. Tentu ia tahu apa yang dimaksud.

"Tuan..."

"Aku tidak suka mengulang pertanyaan."

Arga menarik napas panjang.

"Saya belum bisa menjawab."

Reyhan tertawa pendek.

"Kau sedang mempertimbangkannya."

Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan, dan yang paling menyebalkan, Reyhan benar. Arga memang sedang mempertimbangkannya. Meski ia membenci dirinya sendiri karena hal itu.

"Aku akan menaikkan jumlahnya."

Mata Arga melebar.

"Tuan?"

"Lima ratus juta."

Mobil seolah kehilangan udara.

Lima ratus juta -- Jumlah yang bahkan tidak pernah berani ia bayangkan. Uang sebanyak itu bisa membayar operasi ibunya, melunasi seluruh utang keluarganya, membeli rumah kecil serta Memulai hidup baru. Namun, harga yang harus dibayar terasa terlalu mahal.

"Kenapa harus saya?"

Pertanyaan itu akhirnya keluar, Reyhan menatap keluar jendela.

"Laki-laki lain akan memanfaatkan situasi ini."

"Tapi saya juga laki-laki."

"Kau berbeda."

Arga hampir tertawa pahit. Jika Reyhan tahu isi pikirannya saat ini, mungkin lelaki itu tidak akan berkata demikian.

***

Sesampainya di rumah, Arga langsung menuju garasi. Ia membutuhkan waktu sendirian. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seseorang duduk di bangku taman dekat kolam.

Nara.

Wanita itu sedang menatap permukaan air yang tenang, Sendirian. Entah mengapa pemandangan itu terlihat menyedihkan.

"Nyonya?"

Nara menoleh, lalu tersenyum.

"Kamu baru pulang?"

"Iya."

"Capek?"

Arga mengangguk, mereka terdiam beberapa saat. Hanya suara jangkrik malam yang terdengar.

"Arga."

"Iya, Nyonya?"

"Kamu pernah mencintai seseorang?"

Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba, Arga membeku. Nara tertawa kecil.

"Lupakan saja."

"Tidak."

Arga menggaruk tengkuknya.

"Pernah."

"Bagaimana rasanya?"

Pertanyaan itu membuat Arga berpikir.

"Bahagia."

"Kalau cintanya tidak dibalas?"

Arga tersenyum tipis.

"Sakit."

Nara menunduk, tatapannya kembali ke kolam.

"Kalau menikah dengan orang yang tidak mencintaimu?"

Pertanyaan berikutnya terdengar lebih seperti bisikan, dan untuk pertama kalinya, Arga melihat kesedihan yang selama ini tersembunyi di balik senyum wanita itu. Dadanya terasa sesak, karena kini ia mulai memahami sesuatu. Nara tidak bahagia, sama sekali tidak bahagia, dan entah kenapa, kenyataan itu membuatnya sulit bernapas.

"Saya yakin suatu hari akan ada seseorang yang benar-benar menghargai Nyonya."

Nara menatapnya, mata mereka bertemu. Beberapa detik, terlalu lama. Lalu wanita itu tersenyum kecil.

"Terima kasih."

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Arga melihat senyum yang benar-benar tulus dari Nara. Dan saat itulah sesuatu yang berbahaya mulai tumbuh tanpa mereka sadari. Sementara dari lantai dua rumah utama, seseorang sedang memperhatikan mereka.

Reyhan.

Tatapannya dingin, gelap, sulit dibaca. Namun kedua tangannya mengepal kuat, karena untuk pertama kalinya sejak rencana itu dimulai, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia perhitungkan sebelumnya -- kecemburuan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 17 Seharusnya sudah mati

    Hujan belum berhenti ketika Reyhan tiba di rumah Maya. Arga sudah menunggunya di dalam mobil. Wajahnya terlihat serius, sementara ponsel di tangannya masih menampilkan foto yang baru saja diterimanya. Begitu Reyhan membuka pintu mobil, Arga langsung menyerahkan ponselnya. "Ini yang saya terima." Reyhan menatap layar, foto itu memperlihatkan Damar berdiri di depan sebuah gedung tua. Di sebelahnya terdapat seorang pria yang wajahnya tampak jelas, Hendra Kusuma. Tidak mungkin salah. Reyhan pernah melihat foto Hendra dalam arsip perusahaan. Pria itu dinyatakan meninggal dua puluh tahun lalu. "Di mana foto ini diambil?" "Saya belum tahu." "Siapa yang mengirim?" "Nomor yang sama." Reyhan menghela napas. "Berarti dia ingin kita menemukan Hendra." Arga mengangguk. "Atau sengaja ingin menyesatkan kita." Reyhan menatap foto tersebut sekali lagi. "Kita harus mencari tahu."****Nara keluar dari rumah ketika mendengar suara mobil Reyhan. Ia terkejut melihat suaminya bersama Arg

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 16 Rekaman

    Ruangan itu mendadak sunyi. Reyhan masih menatap layar laptop yang telah berubah gelap. Rekaman yang baru saja mereka lihat hanya berlangsung beberapa menit, tetapi cukup untuk mengguncang keyakinannya terhadap keluarganya.Arga berdiri beberapa langkah di belakangnya."Tuan..."Reyhan tidak menjawab, tangannya masih bertumpu di atas meja. Selama bertahun-tahun, ia percaya bahwa ayahnya adalah sosok yang keras, tetapi tetap menjunjung kehormatan keluarga. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa semua keputusan yang diambil ayahnya bertujuan melindungi perusahaan. Namun, rekaman itu memperlihatkan sisi yang berbeda. Ada sesuatu yang disembunyikan dan mungkin jauh lebih besar daripada dugaan mereka."Putar lagi."Arga menekan tombol dan rekaman vidio itu kembali berjalan. Wajah ayah Reyhan muncul di layar bersama beberapa orang. Suaranya terdengar samar, tetapi kalimat terakhir masih sangat jelas."Kalau Damar mulai bicara, pastikan dia tidak pernah kembali ke perusahaan."Rekaman berhenti, Re

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 15 Gudang di pelabuhan

    Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Arga masih memandangi alamat yang tertera di layar ponselnya. Pesan misterius itu belum juga keluar dari pikirannya. Kalau ingin tahu siapa dalang semuanya, datanglah sendirian.Ia tahu itu bisa saja jebakan. Namun, jika benar ada seseorang yang mengetahui penyebab semua teror yang menimpa keluarga Wiratama, kesempatan itu terlalu berharga untuk diabaikan. Setelah berpikir beberapa menit, Arga akhirnya mengambil keputusan.Ia tidak akan datang tanpa persiapan. Diam-diam ia mengirimkan lokasi gudang itu kepada sahabat lamanya, Bimo, seorang polisi yang pernah tumbuh bersamanya di kampung. Pesan yang dikirimnya singkat."Kalau dalam satu jam aku tidak menghubungimu, tolong datangi lokasi ini."Beberapa detik kemudian, balasan masuk."Hati-hati. Jangan gegabah."Arga menghela napas lega, setidaknya kini ada seseorang yang mengetahui ke mana ia pergi. Gudang tua di kawasan pelabuhan tampak gelap dan sepi. Lampu-lampu di sekitar pelabuhan hanya

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 14 Luka yang disembunyikan

    Pagi itu, suasana di rumah keluarga Wiratama jauh dari kata tenang. Sejak insiden pengejaran semalam, jumlah petugas keamanan ditambah. Beberapa mobil patroli tampak berjaga di sekitar gerbang utama, sementara setiap orang yang keluar masuk rumah diperiksa dengan ketat.Namun, semua pengamanan itu tidak mampu menghilangkan kegelisahan di hati Reyhan. Ia berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandang halaman rumah yang mulai diterpa cahaya matahari. Di atas meja tergeletak foto Damar, mantan kepala keamanan ayahnya. Nama yang selama belasan tahun menghilang tanpa jejak, kini kembali muncul bersamaan dengan rentetan ancaman terhadap keluarganya. Ketukan pelan terdengar. "Masuk." Arga memasuki ruangan. "Tuan, hasil penyelidikan sementara sudah keluar." Reyhan berbalik. "Ceritakan." "Tim keamanan berhasil menemukan tempat mobil yang mengejar kami semalam." "Lalu?" "Mobil itu ternyata kendaraan curian." Reyhan tidak terkejut, ia memang sudah menduga lawannya bekerja dengan s

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 13 Kejaran di tengah hujan

    Suara mesin mobil terdengar semakin keras, Arga menggenggam kemudi erat. Matanya terus bergantian memperhatikan jalan di depan dan kaca spion di atas kepalanya. Mobil hitam itu masih membuntuti, jaraknya tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak pernah tertinggal."Nyonya, tetap tenang," ucap Arga.Nara mengangguk pelan, meski jantungnya berdetak sangat cepat."Menurutmu mereka siapa?" tanya Nara dalam kecemasannya."Saya juga belum tahu, Nyonya. Siapa mereka," jawab Arga."Berhati-hatilah," pinta Nara."Baik, Nyonya," jawab Arga. Arga tetqp fokus pada laju mobilnya, dan ia juga tidak ingin berspekulasi siapa yang sedang membuntuti mereka. Saat ini yang terpenting adalah memastikan Nara tetap selamat.Hujan turun semakin deras, jalanan mulai dipenuhi kendaraan yang melambat karena jarak pandang berkurang. Arga memanfaatkan keadaan itu, ia membelok ke jalan alternatif yang lebih sempit. Mobil hitam di belakang ikut berbelok."Mereka masih mengikuti kita." Suara Nara terdengar pelan.Arga

  • PESONA SUPIR PRIBADIKU   Bab 12 Musuh dibalik bayangan

    Hujan turun sejak dini hari. Tetesannya menghantam kaca ruang kerja Reyhan, menciptakan irama yang terdengar menyesakkan. Semalaman ia tidak memejamkan mata. Berkas-berkas yang menumpuk di atas meja tidak satu pun berhasil menarik perhatiannya. Pikirannya hanya dipenuhi dua hal, Nara dan ancaman yang kini mengintai keluarga Wiratama. Ponselnya berdering. "Halo," ucap Reyhan. "Tuan, kami sudah melacak pengirim amplop ke media." "Bagaimana hasilnya?" "Pelaku menggunakan kurir lepas. Semua jejak pembayaran dilakukan melalui rekening palsu." Reyhan memejamkan mata sejenak. "Lanjutkan penyelidikan, cari siapa pun yang pernah memiliki akses ke dokumen kontrak." "Baik, Tuan." Panggilan berakhir, belum sempat ia menarik napas, pintu ruang kerja diketuk. Arga masuk dengan wajah serius. "Tuan." "Ada perkembangan?" tanya Reyhan Arga menganggukkan kepalanya. "Saya sudah memeriksa rekaman CCTV di sekitar kantor pengacara." "Lalu?" "Motor yang melempar amplop ternyata menggunakan p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status