Share

Bab 4

Author: bucinyarukher
last update publish date: 2026-05-24 05:36:27

BREAKING NEWS

Aktor berinisial AR diam - diam menemui seorang wanita yang sedang hamil. AR merupakan anak tunggal dari salah satu pengusaha tambang timah. Belum lama ini AR mempersunting seorang wanita non seleb berinisial MK yang merupakan salah satu staf di agensi managementnya. Lalu siapakah wanita non seleb lain yang sedang hamil yang ditemuinya secara diam - diam itu?

07.00 AM

Mutia menghela nafas panjang setelah melihat postingan terbaru akun gosip I*******m @lambe_lamis. Beberapa menit kemudian, #AlanRedflag mengema, menduduki peringkat 1 di aplikasi X. Foto istri Kevin berhadapan dengan Alan yang terlihat memakai hodie hitam dan muka ditutupi masker di bawah tiang lampu merkuri dua hari lalu sukses mengemparkan dunia maya pagi ini.

Ponsel Mutia di atas nakas terlihat terus bergetar. Notifikasi sosial media hingga telepon dan chat bermunculan tanpa henti. Mutia matikan ponselnya, kemudian TV ia nyalakan, dan langsung dia matikan kembali karena isinya sama saja.

Di depan cermin Alan dengan santai mencukur bulu halus yang mulai muncul di area sekitar mulut dan dagunya. Seperti tidak ada apapun, Mutia menahan diri dibuatnya.

Ketika Farel datang membombardir Alan dengan berbagai pertanyaan tentang skandal dirinya pagi ini. Alan hanya terkekeh. Mengoles tambahan selai kacang yang malah ia lakukan pada roti yang disantapnya.

“Baru dua hari aku tinggal, semuanya jadi runyam! Lan, ini nggak becanda! Semua pada nanya ke aku, nuntut kejelasan." Muka Farel memelas. "Sebagai manager kamu, aku harus tau siapa wanita itu? Seenggaknya aku bisa satu suara sama kamu saat ditanya vendor atau wartawan, Please!"

"Serius, Rel. Aku beneran nggak kenal sama wanita itu. Ada Mutia juga sama aku disana. Kalau nggak percaya tanya Mutia. Iya, kan sayang!?" lemparnya begitu saja.

Tatapan Farel beralih menguliti Mutia yang otomatis membuat Mutia harus memutar otak, "Alan dua hari lalu habis jogging. Minta ku jemput, kebetulan nunggu disitu. Terus wanita itu tiba aja keluar buang sampah depan rumah negur dia karena udah lama banget dia berdiri disitu nunggu jemputanku."

"Jogging malam pake hodie dan masker? Really?!” dahi Farel mengeryit.

"You knows, fashion Alan emang random. Jadi lebih baik kita fokus segera selesaikan masalah ini dengan bantuan Pak Yuda. Kasihan wanita itu sedang hamil, takutnya diserang fansnya Alan. Lagian aku kenal sama suami wanita itu! Namanya Kevin, Michael Kevin." tandas Mutia sembari melirik Alan.

"Wait, ku send nomer suami wanita itu ke kamu! Nanti kamu tinggal hubungi aja dia buat bicara lebih lanjut!" imbuh Mutia untuk menenangkan hati Farel.

"Kamu bisa kenal Kevin dan dapat nomornya dari mana? Selancang itu kah kamu sampai mencari tahu tentang saudara kembar Karen? Kevin itu satu-satunya keluarga yang Karen miliki, jadi jangan pernah mengusiknya hanya karena masalah diantara kita!" kalimat tuduhan itu yang pertama meluncur dari mulut Alan pada Mutia saat Farel sudah pulang. Mutia yang masih enggan bicara dengan Alan hanya mengedikan kedua bahunya. Beranjak dari ruang makan yang kemudian malah Mutia lakukan. Muka Alan memerah, sungguh dia tidak akan melepaskan wanita itu sebelum membuka mulutnya.

Mutia kembali menscroll berita skandal tentang Alan melalui second account-nya. Tidak habis pikir dengan paparazi yang malam itu menguntit Alan. Memotret dengan angel sembarangan dan menulis berita seenak jidat yang menimbulkan spekulasi Alan menghamili wanita lain di luar nikah.

Nama Mutia jelas ikut terseret dalam pusaran badai tak bertuan ini. Para fans fanatik Alan menuduh dirinya istri yang tidak becus mengurus suami sampai Alan menjadi seperti itu. Mutia sampai tidak habis pikir mengapa tidak ada paparazi atau netizen pintar di negara ini. Bikin gosip dan asal ketik sana sini tanpa akal. Padahal fakta tentang Alan itu homo lebih masuk akal bila digali. Mutia sangat menyayangkan kesembronoan warga +62 yang mudah menyebarkan hoax di sosial media.

Dalam sepanjang kariernya, baru kali ini Alan yang sangat menjaga privasi bisa terlibat skandal dan jadi bulan-bulanan awak media. Mutia yang akan keluar mengurungkan niat menyaksikan para wartawan dan wartawati berbaur puluhan fans Alan berbaris di depan gerbang rumah menanti bahan gunjingan yang akan mereka sebarkan di sosial media. Remasan di lengan kiri Mutia, mengalihkan atensinya dari pemandangan luar jendela. Alan yang berdiri di sisi kirinya makin mempererat cengkraman.

"Ahh.. sakit Lan, lepasinnn" rintih Mutia.

Alan malah menarik tubuh Mutia dalam pelukannya, "Sorry, sebenernya aku nggak mau ngelakuin ini, tapi kamu sudah melewati batas, sayang. Tolong jelasin yang sejujurnya, gimana kamu bisa punya kontak dia?"

Hal ini sudah keterlaluan bagi Mutia. Alan mulai berani main kasar hanya demi menuntut kejelasan tentang dirinya yang memiliki kontak Kevin, saudara kembar Karen.

"Lepasin dulu banci! Baru aku mau ngomong soal itu." maki Mutia. Sebuah tamparan tiba saja melesat untuk menghantam pipi kanannya hingga membuat air matanya seketika menetes.

Tubuh Alan bergetar, dia tidak bermaksud menampar Mutia. Tapi menurutnya, Mutia sudah keterlaluan dengan mengatai dirinya banci. "Sorry, aku—"

Plakkk.

Mutia balik menamparnya. Untuk pertama kali Alan melihat tatapan jijik dari sorot mata Mutia ketika menatapnya. Langkah kaki wanita itu dengan cepat berlalu menjauhinya. Saat punggung Mutia benar-benar hilang, jantung Alan terasa sakit entah mengapa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PUDAR   Bab 83

    Setelah menganti popok dan memasang kembali celana pada bagian bawah tubuh bayi mungilnya. Mutia meratakan bedak tabur di wajah Micheal yang menggeliat dengan mata berbinar. Senyum Mutia seketika mengembang dibuatnya. Saat Mutia kemudian menimang Micheal agar bayinya itu segera tidur, Bita yang merasa tidak enak karena sedari tadi tidak melakukan apapun, menegur Mutia agar memberinya perintah. "Apa ada yang bisa saya bantu atau kerjakan nyonya?" "Tidak ada, kamu istirahat saja." Mutia timang Micheal sembari mengelitik dada mungilnya sampai bayinya itu mengeluarkan suara tawa. Karena usaha Mutia untuk menidurkannya belum berefek sama sekali. Bita tidak berpaling sedikit pun dari posisinya. "Tapi sudah seharian saya tidak ngapa - ngapain nyonya. Mohon beri saya perintah." Jam digital di dinding menampilkan angka pendek di 6 dan angka panjang di 12. Mutia rasa sudah saatnya makan malam, tapi masalahnya cadangan b

  • PUDAR   Bab 82

    Ibu Puni Astutik menjentikan jemarinya. Seketika makanan lezat yang menggugah indera perasa berdatangan. Tapi Farel malah mengajak Alan bergosip ditengah semua kenikmatan ini dengan berbisik, "Kamu tau nggak, Lan? Kata anak - anak. Bu Prista sama Pak Yuda itu dulu pernah pacaran. Setelah putus dan menikah dengan pasangan masing - masing, mereka malah jadi saingan bisnis sampai hari ini."Alan memotong steak di hadapannya dengan penuh penekanan. Hal ini memperingati Farel untuk menghentikan ocehannya sebab ia rasa Alan tidak dalam mood yang baik setelah kesepakatan besaran saham Swana Ghama yang ingin Alan beli dipertimbangkan kembali oleh Ibu Puni Astutik.Disamping Alan, Renata senyam senyum tak karuan. Ia masih belum terbiasa menyembunyikan rasa senangnya. Menjadi fashion stylist Alan di acara seperti Paris Fashion Show memang bukan impiannya. Tapi visual Alan yang menarik hatinya membuat dirinya kegirangan entah mengapa. Renata akui sempat patah hati k

  • PUDAR   Bab 81

    Saat Alan dan Farel baru sampai di gedung Starblue Management, Pak Yuda dengan sumringah menyambut mereka didepan pintu. Tampaknya kehadiran Alan sudah ia nanti sedari tadi. Rolls Royce Limosin berwarna black metal tiba saja mendarat mulus tepat dibelakang mobil Farel, dengan segera ia pindahkan mobilnya menuju parkiran dalam gedung Starblue Managerment. Pak Yuda ajak Alan terlebih dahulu masuk kedalam limosin yang entah milik siapa itu. Farel menyusul masuk juga kemudian dengan tergopoh. Rolls Royce Limosin warna black metal itu membawa mereka ke sebuah private studio bertulis Swana Ghama. Alan seperti tidak asing dengan tempat ini. Ketika Pak Yuda berpelukan dengan seorang wanita yang dikenal sebagai mantan menteri perikanan dan kelautan dari kabinet sebelumnya yakni Ibu Puni Astutik. Alan dan Farel saling pandang menerka apa yang telah di rencanakan oleh Pak Yuda dibelakang mereka. "Ini Alan Ryan, bintang utama kami.

  • PUDAR   Bab 80

    Dito meremas tangannya sendiri saat Rano Karno tetap tak mengindahkan permintaannya untuk mendepak Adiyana dari proyek pembangunan baru gedung walikota. Tentunya proyek yang sudah berjalan dan draft pengesahan menjadi alasan Adiyana untuk dipertahankan. Seperti sebuah teka - teki bagaimana perusahaan Adiyana yang sering mengalami inflasi malah menghasilkan benefit dan makin berkembang. Dito tidak habis pikir bagaimana anak buahnya tidak mampu menemukan bukti apapun perihal kejanggalan ini. Dito yakin Kevin pasti tau jawabannya dibalik pertanyaan bagaimana seorang Adiyana bisa mencapai itu. Tapi Dito enggan menanyai Kevin yang pasti bungkam. Kevin sendiri telah menyatakan masih akan berpihak pada Adiyana walau ia telah mengadopsinya sebagai anak. Sebelum jamuan di istana Presiden berakhir, Dito biarkan Tary mengendap-endap untuk masuk ke dalam mobil Adiyana. Ada rasa menggelitik di dada Dito menebak jika Tary mungkin tidak tau ia masih mengamatinya. Tary m

  • PUDAR   Bab 79

    Tiada pilihan lain bagi Farel selain mengajak Alan minum beberapa gelas coktail di Sunrise Bar. Sebenarnya Farel enggan, tapi melihat tatapan kosong yang Alan lemparkan padanya membuat Farel mengajaknya untuk duduk manis di salah satu kursi di bar ini. "Kamu nggak mau cerita tapi begong begini. Astaga Lan." Farel bergidik sembari menatap ke sekeliling. Alan tertunduk dengan jemari mengetuk - ngetuk meja. Didetik berikutnya Alan menegak sebotol whisky hingga isinya tinggal separuh dan lanjut mengikuti dentuman musik yang dimainkan DJ. Ia akhirnya memilih bergabung dengan yang artis lainnya —yang sedang menikmati akhir malam disana —untuk menari di tengah bar. Farel ikut bangkit. Bukan untuk ikut menari seperti Alan, tapi untuk mengeret Alan keluar dari bar. Dengan sekali tamparan yang cukup keras, Farel ingin Alan sadar. "Kalau kamu tetep begini, aku tinggal." Farel lirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Sorry, Lan. Ini

  • PUDAR   Bab 78

    Walau mereka hidup bersama, Mutia sadar jika Alan hidup di dunia yang berbeda. Bahkan setelah mengetahui rahasia dibalik keputusan Karen memilih bunuh diri pun, Alan enggak membahas apapun padanya. Suaminya itu hanya terlihat lebih murung dan makin menutup diri. Untung saja kehadiran Micheal memberi semangat lain bagi Mutia untuk tetap bertahan. "Anak pintar, ayo sama Mama." Mutia raih Micheal dari kedua tangan Alan. Tangan lentiknya dengan telaten menyuapi bayi mungilnya ini. Saat para pembantu yang disewa hanya untuk membersihkan rumah Alan berpamitan pulang. Mutia dan Alan yang tengah duduk di depan kolam renang tersenyum ramah dengan anggukan untuk mempersilahkan mereka pulang. Alan yang sudah menggunakan setelan jas warna navy menggoyangkan jemari - jemarinya untuk sedikit bermain air sembari menatap Micheal yang lahap menelan bubur yang Mutia suapkan. Walau i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status