LOGINClara meneguk salivanya. Wajahnya menegang. Nada suaranya sedikit bergetar. “Jika hamba salah, maka di kapal ini pasti ada seseorang yang jauh lebih berbahaya daripada Dragoria,”Akhirnya Evander berkata pelan. “Terima kasih atas kewaspadaanmu,”Clara mengangguk lalu pergi dari sana dengan perasaan sedikit lebih lega. Di balik pintu kabin, ia bersenandika. “Setidaknya kali ini aku bisa melakukan sesuatu yang benar, Bu.” Ia menatap cincin warisan ibunya yang melingkari jari tengahnya. “Kelak aku akan buktikan kalau Ibu tidak bersalah.”Gadis berambut coklat madu itu berjalan melewati lorong menuju kabin tamu. Malam menjelang. Di kabin utama, Evander masih memperhatikan peta di atas meja. Ia tak sabar ingin mengungkap kasus perairan Selvara. Senyum terukir di wajahnya tatkala ia membayangkan jika berhasil menuntaskan misi penting sekaligus berbahaya ini. Ia ingin sekali membuat ayahnya bangga. Selama ini ia hanya berada di balik bayang-bayang kakaknya—yang selalu memasang badan melind
Istana Ravensel Sayap Timur,Ana dan Leon sedang menikmati waktu berdua di balkon sembari berbincang ringan sebagaimana sebuah kebiasaan mereka saat waktu senggang. Saat anak-anak mereka tidur. Sedari kemarin Leon memerhatikan istrinya yang tampak sedikit berbeda. Ana lebih banyak diam dan bicara seperlunya saja. Dan, baru hari itu ia berani menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. “Kenapa kau diam?”“Aku hanya sedang memikirkan soal—” kata-katanya terputus. Lalu ingatannya kembali pada percakapannya dengan Elia. “Apa Ayahanda sebelumnya memintamu untuk memimpin ekspedisi penyelidikan kasus kapal muatan suplai yang menghilang?” tanyanya dengan hati-hati. Ia tidak ingin terprovokasi juga oleh ucapan Elia yang seakan menyudutkannya. Leon mendekat, menggeser tempat duduknya di samping istrinya. “Sebetulnya, iya. Kenapa?” Ana menelan saliva. Lalu ia menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak apa-apa.” Ia enggan membahas lebih jauh. Barangkali Leon memiliki pertimbangan yang berarti untuk per
Inez terjatuh dan menimpa tubuh Evander yang telentang. Wajah mereka tak berjarak. Nafas Inez tersengal, ujung hidungnya menyentuh ujung hidung Evander. Satu gerakan saja bibir mereka bersentuhan. Jantung ke duanya berdebar kencang. Namun tangan Evander refleks menahan pinggangnya kuat, tapi tidak bergerak lebih jauh. Seolah ia takut bernapas terlalu dalam.“Aku—” Inez tersadar lebih dulu. “Maaf. Aku—”Namun Evander tidak segera melepasnya. “Kau pusing,” katanya rendah, perhatian. “Jangan bergerak dulu.”Inez menelan salivanya. Ia bisa merasakan detak jantung Evander yang sama cepatnya di bawah telapak tangannya. Begitu dekat hingga sulit diabaikan.“Aku baik-baik saja,” katanya pelan, meski suaranya bergetar. Wajahnya memerah. Entah saja kapan ia seperti itu. Berdekatan dengannya lebih berbahaya ketimbang perang dan darah.Evander mengangkat satu tangan, menyentuh pelipisnya. “Kau bohong,” katanya lirih.Tatapan mereka bertemu. Inez tiba-tiba menyadari satu hal yang membuat dadanya
Evander dan tiga prajurit bersiap turun untuk memeriksa objek yang baru saja ditabrak kapal. Sekoci kayu diturunkan perlahan dari sisi geladak. Tali katrol berdecit menahan beban, suaranya memecah keheningan laut.Perahu itu sempit, dengan lambung tebal dan berat. Ujungnya runcing, sengaja dirancang untuk menembus air.“Siapkan tali!” titah Evander dengan suara tegas. Seorang kelasi menyerahkan gulungan tali rami dan sebuah batu besar yang dilubangi. Alat yang biasa digunakan oleh pelaut pelabuhan. “Yang Mulia,” ujar salah satu prajurit. Ia merasa apa yang dilakukan oleh Evander itu berlebihan. Tidak seharusnya pangeran terjun ke medan yang berbahaya. “Biar kami saja yang menyelam,”“Aku akan turun sebentar,” ujar Evander dingin, mengabaikan prajurit yang sudah terlatih di medan air tersebut. Meskipun terselip rasa gelisah, ia akan tetap turun langsung menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di sana. Ia tidak akan merasa puas jika tidak melihatnya secara langsung. Ia menoleh sesaat
“Love looks not with the eyes, but with the mind.” (Cinta tidak memandang dengan mata, melainkan dengan pikiran. William Shakespeare)...Istana Velmont Raya,Suasana kamar sang putri tampak temaram. Jendela kaca terbuka tetapi tirainya dibiarkan tertutup. Clarissa duduk dengan malas sembari membaca sebuah kitab tentang sejarah Velmont Raya. Di sampingnya, suaminya tampak teraniaya. Sudah satu jam berlalu, ia memijat pundak istrinya yang katanya pegal. “Cedric,” panggilnya tiba-tiba. Ia menutup kitab lalu menaruhnya di sampingnya. Ia menatap suaminya dengan mata yang menggemaskan seperti tatapan seekor kelinci yang lucu. Ksatria itu menatap istrinya, menarik tangannya juga. Ia melakukan senam jari karena ia juga pegal akibat terlalu lama memijit istrinya. “Ya, Kelinci kecil?”Clarissa menelan saliva. Alisnya berkerut, ragu, lalu ia mendesah pelan. “Aku ingin… sup labu.”Cedric mengangguk cepat. “Baik. Aku suruh dapur—”“Dengan,” Clarissa menyela, matanya menyipit serius, “apel asa
Evander mendekat. Setiap langkahnya pasti. Ia meraih jemari Inez lalu meletakannya di dada bidangnya. Ia menutup matanya sesaat. Tingkahnya membuat Inez mengerjap.“Dengarkan,” imbuh Evander pelan lalu membuka matanya. “Sampai ini berhenti, aku berhenti,” helaan napas panjang terdengar. Jakunnya naik turun. Ia menatap dalam gadis yang terbaring lemah di atas ranjang. “Aku akan selalu menjagamu,”Di bawah telapak Inez, detak jantung Evander terasa keras dan tidak beraturan. Begitupula jantungnya berdegup keras. Tangan Inez gemetar. Nafasnya tertahan. Nalurinya menjerit untuk menjauh. Namun tangannya tetap di sana menempel seperti lem. Sial. “Kau bisa merasakannya?” lanjutnya, suaranya rendah.Inez menunduk dengan perasaan yang berkecamuk. Perasaan ini tidaklah benar. Namun entah mengapa, tubuhnya mengkhianati logika.“Aku seharusnya pergi,” ucapnya lirih, lebih seperti pengingat untuk dirinya sendiri. Ia mencoba menarik tangannya, meski hanya sedikit. “Ini tidaklah benar,”Evander me







