LOGINInez terjatuh dan menimpa tubuh Evander yang telentang. Wajah mereka tak berjarak. Nafas Inez tersengal, ujung hidungnya menyentuh ujung hidung Evander. Satu gerakan saja bibir mereka bersentuhan. Jantung ke duanya berdebar kencang. Namun tangan Evander refleks menahan pinggangnya kuat, tapi tidak bergerak lebih jauh. Seolah ia takut bernapas terlalu dalam.“Aku—” Inez tersadar lebih dulu. “Maaf. Aku—”Namun Evander tidak segera melepasnya. “Kau pusing,” katanya rendah, perhatian. “Jangan bergerak dulu.”Inez menelan salivanya. Ia bisa merasakan detak jantung Evander yang sama cepatnya di bawah telapak tangannya. Begitu dekat hingga sulit diabaikan.“Aku baik-baik saja,” katanya pelan, meski suaranya bergetar. Wajahnya memerah. Entah saja kapan ia seperti itu. Berdekatan dengannya lebih berbahaya ketimbang perang dan darah.Evander mengangkat satu tangan, menyentuh pelipisnya. “Kau bohong,” katanya lirih.Tatapan mereka bertemu. Inez tiba-tiba menyadari satu hal yang membuat dadanya
Evander dan tiga prajurit bersiap turun untuk memeriksa objek yang baru saja ditabrak kapal. Sekoci kayu diturunkan perlahan dari sisi geladak. Tali katrol berdecit menahan beban, suaranya memecah keheningan laut.Perahu itu sempit, dengan lambung tebal dan berat. Ujungnya runcing, sengaja dirancang untuk menembus air.“Siapkan tali!” titah Evander dengan suara tegas. Seorang kelasi menyerahkan gulungan tali rami dan sebuah batu besar yang dilubangi. Alat yang biasa digunakan oleh pelaut pelabuhan. “Yang Mulia,” ujar salah satu prajurit. Ia merasa apa yang dilakukan oleh Evander itu berlebihan. Tidak seharusnya pangeran terjun ke medan yang berbahaya. “Biar kami saja yang menyelam,”“Aku akan turun sebentar,” ujar Evander dingin, mengabaikan prajurit yang sudah terlatih di medan air tersebut. Meskipun terselip rasa gelisah, ia akan tetap turun langsung menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di sana. Ia tidak akan merasa puas jika tidak melihatnya secara langsung. Ia menoleh sesaat
“Love looks not with the eyes, but with the mind.” (Cinta tidak memandang dengan mata, melainkan dengan pikiran. William Shakespeare)...Istana Velmont Raya,Suasana kamar sang putri tampak temaram. Jendela kaca terbuka tetapi tirainya dibiarkan tertutup. Clarissa duduk dengan malas sembari membaca sebuah kitab tentang sejarah Velmont Raya. Di sampingnya, suaminya tampak teraniaya. Sudah satu jam berlalu, ia memijat pundak istrinya yang katanya pegal. “Cedric,” panggilnya tiba-tiba. Ia menutup kitab lalu menaruhnya di sampingnya. Ia menatap suaminya dengan mata yang menggemaskan seperti tatapan seekor kelinci yang lucu. Ksatria itu menatap istrinya, menarik tangannya juga. Ia melakukan senam jari karena ia juga pegal akibat terlalu lama memijit istrinya. “Ya, Kelinci kecil?”Clarissa menelan saliva. Alisnya berkerut, ragu, lalu ia mendesah pelan. “Aku ingin… sup labu.”Cedric mengangguk cepat. “Baik. Aku suruh dapur—”“Dengan,” Clarissa menyela, matanya menyipit serius, “apel asa
Evander mendekat. Setiap langkahnya pasti. Ia meraih jemari Inez lalu meletakannya di dada bidangnya. Ia menutup matanya sesaat. Tingkahnya membuat Inez mengerjap.“Dengarkan,” imbuh Evander pelan lalu membuka matanya. “Sampai ini berhenti, aku berhenti,” helaan napas panjang terdengar. Jakunnya naik turun. Ia menatap dalam gadis yang terbaring lemah di atas ranjang. “Aku akan selalu menjagamu,”Di bawah telapak Inez, detak jantung Evander terasa keras dan tidak beraturan. Begitupula jantungnya berdegup keras. Tangan Inez gemetar. Nafasnya tertahan. Nalurinya menjerit untuk menjauh. Namun tangannya tetap di sana menempel seperti lem. Sial. “Kau bisa merasakannya?” lanjutnya, suaranya rendah.Inez menunduk dengan perasaan yang berkecamuk. Perasaan ini tidaklah benar. Namun entah mengapa, tubuhnya mengkhianati logika.“Aku seharusnya pergi,” ucapnya lirih, lebih seperti pengingat untuk dirinya sendiri. Ia mencoba menarik tangannya, meski hanya sedikit. “Ini tidaklah benar,”Evander me
Esok hari,Suara burung yang bertengger di atas tiang kapal terdengar riuh hingga membangunkan Inez dari tidur lelapnya. Demamnya turun menjelang dini hari. Ia membuka matanya perlahan, menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk lewat retina matanya. “Aku di mana?” imbuhnya berusaha bangun, tapi tangannya merasakan sesuatu yang hangat. Senyum terbit di wajahnya, ia merasa memegang tangan ayahnya. “A-ayah,” serunya tapi matanya membola tatkala melihat siapa pria yang menggenggam tangannya. Seorang pria tampan tampak ketiduran dengan kepala terkulai pada sisi ranjang dengan tangannya masih memegang tangannya. Jantung Inez terasa mau copot. Dadanya juga bergemuruh hebat.Sebelum menarik tangannya, tatapannya mengunci pada sosok itu. Evander menjaganya saat ia sakit? Lalu manik beningnya beredar. Ia tidak berada di kabin perwira. Dia berada di kabin milik … Evander.Ini bukan perhatian pangeran pada pengawalnya. Ini perhatian seorang pria pada wanitanya. Saat kepala Inez dipenuhi o
Geladak masih lembap oleh sisa kabut. Beberapa pelaut duduk bersandar pada peti, wajah mereka pucat. Serangan tiba-tiba pada awak kapal dan turunnya kabut adalah penyebabnya. Suasana tenang kini berubah menjadi menegangkan. Evander berdiri di hadapan mereka, jubahnya berkibar pelan diterpa angin asin. Setelah membawa Inez ke kabin utama, ia meminta Clara mengobatinya. Tak lama kemudian ia kembali ke geladak. Ia akan melakukan interogasi apa yang terjadi beberapa saat lalu pada awak kapal.“Mulai dari kau.” Evander menunjuk seorang pelaut berusia setengah baya yang berdiri paling depan. Bahunya tegang, tangan kasarnya saling menggenggam. “Kapan pertama kali kau mencium bau aneh itu?”Pelaut tersebut menelan saliva, jakunnya naik turun sebelum menjawab. “Setelah lonceng jaga kedua, Yang Mulia. Kabut turun cepat.”Evander memiringkan kepala sedikit. “Bau seperti apa?”“Getir,” jawabnya ragu. “Seperti kain basah yang dibakar.”Tatapan Evander bergeser ke pelaut lain, seorang pemuda kurus







