MasukAya melepaskan ponsel, kembali menyimpannya di dalam tas putihnya. Berkedip dan menarik napas sebelum mengangkat wajahnya, ia tersenyum, “Itu Sella,” katanya sambil terkekeh pelan.
“Kamu masih ada jadwal?”
Menatap kembali pada Mei, Aya mengangguk, “Apakah aku-“ Aya menarik napas, menelan pahit di tenggorokannya, “Apakah aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dulu?” tanyanya kemudian.
Surya terkejut membalas tatapan ragu-ragu Aya.
Aya terkekeh dipaksakan, “Hanya jika Papa memberi izin,” katanya kemudian. Matanya sudah memanas sejak tadi.
Melihat gemetar di bibir Aya, Surya tertegun. Bahkan saat rapat dengan orang-orang penting di perusahaannya, Aya tidak pernah gemetar. Sejak memulai karirnya di Suryas Corp, Aya selalu tampil percaya diri. Bukan karena ia sombong karena anak pemilik dan pemegang tahta tertinggi di perusahaan, namun karena gadis itu punya nilai yang baik atas dirinya sendiri. Tapi nilai itu seketika lebur saat kenyataan menampakan diri.
Surya mengangguk, “Silakan lanjutkan pekerjaanmu, Bu Aya,” jawabnya dengan nada yang biasa dipakainya di dalam perusahaan.
Aya tersenyum, “Baik, Pak,” jawabnya sama.
Membalas genggaman tangan Mei, Aya bangkit dari duduknya, ia tersenyum lalu mencium punggung tangan Mei. “Aya berangkat lagi, Mah,” pamitnya. Menegakkan punggung, Aya mengangkat tangan kanan, “Duluan, Kak,” pamitnya pada Chandra, lalu bergerak di dekat Ari.
Ari mengangkat wajah, menatap Aya dengan bingung. Lalu mengerjap saat Aya menunduk memeluknya.
“Selamat datang,” ucap Aya dengan ceria.
Ari bertambah bingung. Ia berkedip pada Mei. Tapi orang yang ternyata adalah ibu kandungnya itu hanya tersenyum kecil dan mengangguk.
Aya melepaskan pelukannya. Menatap gadis di depannya yang bisa ia temukan kemiripannya dengan Chandra, bibirnya melengkung senyum, “Kita harus ngobrol nanti, Ari. Tapi sekarang aku harus pergi dulu,” katanya masih dalam nada ceria, lalu matanya melirik Surya yang ada di belakangnya. Nada suranya berubah seketika, “kalau enggak kerja nanti Pak Surya akan memecat saya.”
Papa mereka terkekeh pelan, “Pergilah, Sayang, hati-hati. Pak Gunawan itu cerdik banget kalau udah masalah dana.”
Aya menoleh dan mengangguk, “Anda benar, Pak Surya, maka dari itu saya benar-benar harus undur diri. Kalau tidak, Sella akan meneror saya sampai minggu depan,” kekehnya pelan sambil menegakkan punggungnya. Beralih dari depan Ari lalu mencium punggung tangan dan pipi kanan Papanya. Kebiasaan yang sekarang membuat Aya tersenyum kecil, “Aku pamit, Pah,” katanya kemudian.
Tangan Aya meraih chanel 25-nya dan mengangkat tangan kanan, melangkah elegan dengan heels tingginya, dan berteriak kecil di ambang pintu, “Aya berangkat.”
Sebuah teriakkan kebiasaan setiap kali melangkah keluar dari bangunan megah yang sekarang membuat Aya ragu untuk menyebutnya rumah.
*
Tangannya yang gemetar menggenggam roda kemudi lebih erat dari biasanya. Jemarinya mati rasa, memutih digenggamannya. Aya memutuskan untuk menepi sebentar. Menenangkan dirinya yang menerima berita besar itu di tengah hari di saat ia masih harus menghadapi dua meeting lagi. Berita besar di tengah padatnya jadwal yang menguras tenaganya.
Sekarang bukan hanya fisiknya yang lelah, mentalnya juga dibuat tidak berdaya.
Kedua orang tuanya, tidak, kedua orang yang menjadi orang tuanya itu sudah mengetahui sejak awal. Tapi masih mengasuhnya dan membesarkannya dengan penuh cinta seperti ini. Diberikan semua kasih sayang dan kemewahan yang lebih dari yang seharusnya ia terima. Bahkan ia punya jabatan sementereng ini di usianya yang baru dua tujuh karena kedua orang tuanya juga.
Dengan napas tersendat dan jantungnya yang masih berdentum seperti ini, Aya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menunduk di atas roda kemudi.
Mendadak ia merasa tidak adil saat melihat penampilan Carita yang sangat sederhana. Merasa bersalah dengan menjadi anak dari orang tua yang tidak seharusnya mengurusnya seperti ini, yang memberikan semua hal terbaik yang mereka punya untuknya. Juga semua cinta dan kemewahan yang seharunya milik Ari.
Meskipun ini bukan salahnya, tapi kenapa rasanya menyesakkan seperti ini?
Drtt.
Aya tersentak dengan suara panggilan di mobilnya. Ia mengangkat wajah, yang tak terasa sudah basah. Ah, sejak kapan ia menangis? Tanpa melihat siapa yang menelepon, Aya menekan tombol angkat begitu saja.
“Ya?” tanyanya.
‘Kamu kenapa?’
Kepalanya menoleh segera pada layar dan melihat nama Arya. Aya menutup mata, lalu berdeham pelan, “Gak apa-apa,” jawabnya singkat.
Hening.
Aya meraih tissu dan mengusap ujung matanya juga wajahnya yang basah.
‘Kamu nangis?’
Menghela napasnya, Aya menggeleng, “Enggak,” jawabnya lagi.
‘Kalau sedih karena Zayn ayo kita datangi dan hajar bareng-bareng,’ Arya berkata dengan penuh semangat.
Aya terkekeh pelan, “Gue gak nangis dan juga gak sedih karena Zayn, kok, Ar.”
‘Terus?’
Kening Aya berkerut, “Gak apa-apa, nanti juga lo pasti tau beritanya, kok.” Aya menghela napas.
‘Udah makan siang?’
Ujung bibir Aya kembali tertarik. Arya memang sering kepo dengan hubungannya dengan Zayn, tapi begitu akar masalahnya bukan pacarnya itu, Arya akan diam dan tidak mendesaknya.
Aya mengangguk, “Udah brunch sambil meeting tadi,” jawabnya.
‘Udah dapet tawaran makan malam bareng belum?’
“Arya,” panggil Aya, “Gue masih pacaran sama Zayn,” katanya.
‘Aku tau.’
“Dan lo tau dia posesifnya kayak apa,” Aya menghela napas. Mereka tahu itu, Zayn yang adalah teman Chandra tentu saja sudah dikenal oleh Aya sebelum mereka pacaran resmi. Tapi sikapnya yang posesif parah hanya ditunjukan Zayn saat mereka berdua. “Gue tutup kalau gak ada yang penting,” katanya dengan jari sudah menuju tombol end.
‘Kamu gak ada niatan untuk udahan sama Zayn?’
“Jangan ngaco! Udah ya, gue mau meeting nih. Bye,” Aya memutuskan sambungan telepon mereka secara sepihak. Lalu mobilnya kembali hening. Aya menatap tangannya yang sudah tidak gemetar. Ah, lumayan juga, pikirnya kemudian. Membicarakan Zayn memang selalu membuatnya kesal.
Umur pacarannya dengan teman Chandra itu memang belum terlalu lama. Baru dua bulan, itupun setelah Zayn Alexandra Wijaya itu mengejarnya tidak henti sejak setahun yang lalu. Sejak pertemuan pertama mereka di pesta ulang tahun Chandra ke tiga puluh, Zayn dengan gigih mendekatinya.
Wajah tampan Zayn memang menggoda, tapi bukan itu yang membuat Aya menerimanya. Kegigihan Zayn membuat Aya akhirnya luluh dan menerimanya. Chandra juga bilang kalau Zayn itu teman yang baik saat mereka kuliah di Amerika. Meskipun tidak satu univ, namun sebagai teman sesama orang Indonesia mereka saling mengenal.
Tapi mengenal sebagai teman dan sebagai pacar memang berbeda. Zayn memperlihatkan sifat aslinya saat bersama Aya. Kadang Aya merasa menyesal sudah menerimanya, karena Zayn mode mengejar dengan Zayn mode mempertahannkan sungguh berbeda. Lelaki itu, Aya menghela napas, terlalu mengekangnya. Dalam tiga bulan hubungan mereka, Aya sudah harus menjelaskan banyak hal pada lelaki itu.
Melirik kembali pada jam tangannya, Aya kembali memutar roda kemudi. Kembali melaju ke tempat meeting dengan Pak Gunawan, dimana Sella mengabarinya bahwa ia sudah sampai di tempat. Aya mengangguk tegas. Ia sedang menjalankan pekerjaannya. Ia harus bertanggung jawab dengan pekerjaan di depan matanya. Meskipun hatinya masih berantakan, tidak tertata karena berita mencengangkan tadi.
Namun telepon dari Arya sukses membelokan pikirannya. Aya tersenyum, Arya Arkana Kusumah, lelaki yang baru dikenalnya sebulan ini berkat Papanya itu sudah mengenalnya bagai teman baik.
*
Aya pikir, ia akan sulit beradaptasi di tempat baru ini. Awalnya iya. Malam pertama di rumahnya, ia tidak bisa tidur. Karena suara binatang-binatang malam yang Aya takutkan akan masuk melalui celah-celah dinding, kasur Ari yang dingin, dan tempat baru yang membuatnya jadi menoleh ke kiri dan kanan karena asing. Malam itu Tris menemaninya di rumah Abah. Lelaki itu bersedia tidur di ruang tamu. Sampai subuh. Lelaki itu masih ada saat Aya keluar kamar setelah hanya bisa menutup mata sebentar. Alarm tubuhnya yang biasa bangun jam empat memaksanya membuka mata. Dingin menusuk meski tanpa AC central seperti di kamarnya dulu, nyatanya selimut tipis milik Ari tidak bisa menghalau dingin itu. Aya pilek. “Aku sungkan mau buka lemari Ari,” katanya jujur. “Tapi Ari udah ngasih kamu izin, kan?” tanya Tris begitu mereka duduk di kursi yang sama. Setelah Tris membuatkan teh hangat untuk Aya. Aya mengangguk. “Mungkin siang ini aku akan coba beresin.” “Mau saya bantu?” Kepala Aya men
Suara jangkrik dan binatang-binatang malam yang tidak terlihat bentuknya terdengar oleh Aya. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Menatap kebun di kiri kanan rumah abahnya. Mencari sumber suara yang memuatnya waspada. Bukan tidak pernah, tapi di tempat yang asing dan dengan suara-suara yang tidak bisa ia kenali bentuk dan jenisnya. Itu sedikit menyeramkan, bukan? Tangannya mendorong pintu mobil kembali menutup. “Jadi kamu yang namanya Aya?”Aya menoleh mendengar suara berat itu. Berbeda dengan suara ramah Papa, suara Abah membuat Aya menoleh kaget. Pelan, ia menarik napas dan berusaha menguasai diri. Ini bukan perjalanan dinas yang membuatnya bisa jauh-jauh ke London. Ini perjalanan yang menguras emosinya. Sepagi tadi ia harus menahan perasaan saat berpisah dengan semua keluarganya, lalu berkendara dengan perasaan hampa dan kehilangan. Setelah itu dihadapkan lagi pada kenyataan kalau ia harus menghadap orang tuanya sendiri. Abahnya, ayahnya yang Ari bilang tidak pernah membuat Ama bahagia
Rumah itu apakah layak disebut rumah?Aya menahan napasnya. Bahkan sepertinya mobil ini lebih mahal dari bangunan di depannya. Dari semua yang bisa Aya hitung, itu bahkan tidak setengahnya. Bagaimana tembok setengah dengan anyaman bambu di sisa tembok sampai ke atap. Atap ringan yang bisa saja terbang saat tertiup angin. Lalu lantai yang masih tanah.Bangunannya memang tidak sekecil itu. Tapi, dengan keadaan seperti ini, pantas kalau Ari bilang Ama tidak pernah bahagia.Ari juga sepertinya tidak.Mesin mobil dimatikan Tris. Lelaki itu kemudian menoleh pada Aya yang terlihat ragu-ragu. Meski ia sudah menjawab dua kali kalau ini benar rumah abahnya Aya. Sungguh, Tris tidak mau menjudge Aya begitu saja. Kalau saja ia tidak tahu di mana Aya tinggal selama ini.Di dalam sebuah rumah yang lebih layak disebut istana. Yang kamarnya saja lebih besar dari ruang tamu di rumahnya. Yang bahkan kamarnya saja punya dua ruangan lain selain ruang untuk menyimpan kasur. Yang lemarinya saja bisa jadi ka
Hamparan hijau kebun teh menyapa Aya yang hampir saja mabuk darat. Benar kata papanya, Maserati-nya tidak akan cocok meski mama bilang kalau mobil itu akan tetap jadi mobil Aya. Sebagai gantinya, Jimny berwarna kuning itu menjadi mobil hadiah dari mama dan papa. Sekarang Aya mengerti, jalan yang berbatu dan kecil, memang tidak cocok untuk kesayangannya. “Sayang banget kalau mobil kamu dipaksa kesini, Aya,” ucap Tris sambil memutar roda kemudi. Kepala Aya mengangguk-angguk. Sejak tadi mereka tidak berhenti menanjak. Jalanan berbatu, kadang berlumpur dan becek, lalu menanjak jauh, dengan belokan-belokan yang membuat perut Aya teraduk-aduk. Ia yang biasa melintasi jalanan Jakarta yang datar dan lurus merasa kalau ini akan membuatnya mabuk. Bedanya juga, di Jakarta kiri kanan adalah beton. Di sini, sepanjang jalan yang ia lewati adalah pepohonan hijau. Sejuk, membuat matanya mengerjap karena belum pernah melihat hutan serapat itu, atau kebunan bambu yang menyeramkan seperti itu. Ia han
Mei memeluk Aya sekali lagi. Putri kecilnya yang tumbuh dewasa bersamanya kini harus ia relakan. Saat semua teman seusianya melepaskan putri mereka dipinang jodohnya, ia malah harus melepaskan Aya untuk kembali pada orang tua kandungnya. Saat semua temannya menyambut menantu, ia harus kehilangannya juga. Zayn juga sudah tidak datang sejak dua minggu yang lalu.Tidak apa-apa untuk Mei. Ari bisa mencari pelan-pelan. Zayn memang bermasalah sejak dengan Aya. Jadi ia akan membiarkan Ari mencari lelaki yang cocok untuknya.Dan untuk Aya, Mei akan selalu menganggapnya sebagai anaknya juga. Tidak ada yang lebih baik dari Cahaya Anindiya. Entah kapan, tapi Mei mengetahui dari asprinya kalau Aya sudah melepaskan nama Sudira dari namanya. Sella yang mengurus semuanya. Sambil menangis dan mengatakan kalau ia tidak akan tahu apa yang akan dilakukannya setelah ini.Untuk Sella, Aya juga sudah membuat surat rekomendasi yang akan membuatnya diterima di mana saja gadis itu akan memulai kembali. Menjad
Tok! Tok! Tok! Chandra mengangkat wajah sekilas dari dokumen yang ada di depannya saat mendengar pintu ruangannya diketuk. “Masuk,” katanya memberi izin. Lalu kembali menekuri kertas-kertas di depannya. Ia menyangka kalau yang mengetuk adalah Jinni, sekretarisnya. Sudah kali keberapa siang ini pintunya diketuk. “Pak Chandra, saya izin masuk.” Suara itu bukan suara Jinni. Chandra menoleh, mendapati Aya yang masuk dan menutup pintu sambil tersenyum padanya. Kaki dengan louboutin sepuluh centi itu mengetuk lantai marmer saat Aya berjalan. Ruangan Chandra berada sepuluh lantai di atas ruangannya. Ruangan yang tentu saja lebih besar dari ruangannya sendiri. Kakaknya sekaligus CEO Surya Corp berada di sana, duduk di kursi hitam dengan roda aerodinamis di balik meja yang MacBooknya terbuka dan lembaran kertas di depannya. Ia sengaja datang sebelum rapatnya besok. Ia juga sengaja ingin bicara dengan Chandra. Setelah kemarin seharian merasa canggung, setibanya mereka dari Jepang. Sungguh
Empat harinya di Jepang tidak membuat Aya menikmati liburnannya. Ia tetap menerima jadwal meeting yang dibuat Sella untuknya. Meski hanya melihat lewat layar iPad-nya. Aya juga tetap membereskan dokumen yang harus diperiksanya.“Belum selesai?” Tris menyimpan segelas butter beer di hadapannya dan s
‘Bagaimana bisa anak manis yang selalu ia jahili dan menjahilinya balik ini ternyata bukan adiknya?’Chandra tertegun sendiri melihat Aya yang membungkuk di depan wastafel dan membasuh wajah dan matanya yang perih. Tangannya memegangi rambut panjang Aya yang terurai ke atas wastafel basah, menahann
Ari tidak terima! Kenapa kesannya Aya memutuskan Zayn karena kasihan padanya? Kenapa rasanya seperti Aya sengaja melakukannya karena ia adalah anak kandung Mama dan Papanya? Kenapa rasanya seperti bukan kemenangan yang ia banggakan siang tadi?Benar, ia mendengar smeua perkataan Aya dan Tris di tan
“Makasih udah jemput,” Aya tersenyum pada Tris yang duduk di balik kemudi.“Makasih juga udah dipinjemin mobilnya,” jawab Tris dengan senyum terpaksa yang harus ia berikan pada Aya dengan alasan kesopanan.Hari ini ia memang menerima tawaran meminjam mobil Aya. Setelah kemarin pergi dengan pesanan o







