Share

Pagi Baru Tanpa Dirimu
Pagi Baru Tanpa Dirimu
Author: Yunita

Bab 1

Author: Yunita
Saat kandunganku memasuki bulan kelima, Dion Sudarma sudah empat bulan berturut-turut tidak pernah menemaniku kontrol kehamilan karena cinta sejatinya yang belum bisa dia lupakan.

Bahkan hingga pemeriksaan yang kelima, dia tetap mengingkari janjinya.

Suaranya terdengar dingin dan penuh kekesalan dari balik telepon. "Anak itu bukan cuma tanggung jawabku. Kamu ibunya, jadi wajar kalau kamu yang lebih banyak berkorban. Memangnya kalau aku nggak ada, dia bakal mati?"

Aku tidak menjawab. Pandanganku tertuju pada layar di rumah sakit yang sedang menayangkan dirinya tersenyum begitu lembut kepada Vivian Janitra.

Aku hanya menggumam pelan. "Hm."

Sepertinya Dion menyadari ada yang tidak beres dengan suasana hatiku. Saat dia hendak mengatakan sesuatu lagi, aku sudah lebih dulu menutup telepon.

Tak lama kemudian, para perawat yang sedang membicarakan berita tentang Dion yang menghabiskan banyak uang untuk mengadakan pesta kembang api bagi cinta sejatinya akhirnya selesai mengobrol. Salah seorang dari mereka menghampiriku.

"Nona, untuk pemeriksaan kehamilan silakan ke arah sini."

Aku menggeleng. "Nggak perlu. Tolong jadwalkan operasi aborsi untukku seminggu dari sekarang."

...

Saat Dion menemukanku, aku sedang duduk termenung di tepi jalan.

Di layar raksasa tertinggi di kawasan pertokoan seberang jalan, video dirinya dan Vivian masih terus diputar.

Keduanya berdiri berdampingan sambil menengadah menatap kembang api, layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.

Dion berdiri di hadapanku dengan wajah dingin. Dia mencengkeram lenganku lalu menarikku berdiri.

"Malam-malam begini, kenapa kamu malah bikin keributan? Cuma karena aku nggak temani kamu kontrol kehamilan, 'kan? Kenapa sih kamu nggak bisa lebih pengertian?"

Aku tertegun sejenak. Selama dua tahun menjadi istrinya, kata-kata yang paling sering kudengar darinya adalah agar aku lebih pengertian.

Ingin melihat ponselnya, katanya aku tidak pengertian.

Ingin menemaninya menghadiri acara-acara publik, katanya aku juga tidak pengertian.

Bahkan saat aku minta dia menemaniku kontrol kehamilan, jawabannya tetap sama. Aku tidak pengertian.

Kalau dulu, aku pasti akan segera meminta maaf dengan rendah hati.

Namun sekarang, saat menatap perutku yang sudah membesar, aku tidak ingin lagi menjadi orang yang selalu harus mengalah dan mengerti.

Melihatku mengabaikannya dan terus berjalan ke depan, Dion langsung naik pitam.

"Sebenarnya apa sih maumu?"

"Studio foto."

Mendengar jawabanku, Dion terdiam sesaat.

Menemaniku kontrol kehamilan dan mengambil foto kehamilan adalah dua hal yang paling kuharapkan darinya.

Sayangnya, tidak satu pun yang dia ingat.

Sekilas rasa bersalah muncul di wajah Dion dan tak lama kemudian, dia membawaku menuju sebuah studio foto.

"Akhir-akhir ini aku memang sering lupa. Tolong maklumi saja."

Aku diam-diam tersenyum dalam hati. Daya ingat Dion sebenarnya sangat baik.

Dia ingat ulang tahun Vivian. Dia ingat camilan kesukaan wanita itu.

Bahkan tanggal dibentuknya setiap karya yang dibuat Vivian pun dia hafal.

Jumlahnya puluhan, bahkan ratusan.

Hanya terhadapku saja dia mudah lupa.

Saat sedang melamun, aku tersadar bahwa kami sudah sampai di tujuan.

Begitu mendongak, tubuhku langsung menegang. Ini adalah toko milik Vivian.

Sejak hari pertama Vivian kembali ke Kota Ganora, aku sudah tahu Dion begitu bersungguh-sungguh menyiapkan segalanya untuk wanita itu.

Nama tokonya, "Cinta Sepuluh Tahun", melambangkan hubungan mereka yang telah berlangsung selama sepuluh tahun.

Mereka sudah saling mencintai sejak muda. Kemudian Vivian pergi ke Avora demi mengejar impiannya.

Dalam luapan emosi, Dion menikahiku. Namun setelah dua tahun pernikahan kami, Vivian kembali.

Hanya karena kehujanan satu kali, Dion memaafkan semua masa lalu wanita itu dan secara terang-terangan kembali dekat dengannya.

Dalam semalam, justru aku yang terlihat seperti orang ketiga.

Namun kini aku sudah tidak ingin mempertahankan hubungan yang setengah hati seperti ini lagi.

Tanganku yang memegang pintu mobil tanpa sadar mengencang.

Namun sebelum sempat menolak, Dion sudah lebih dulu menarikku masuk.

Vivian segera menyambut kami. Tubuhnya ramping dan anggun. Rambut hitamnya disanggul sederhana, membuatnya tampak elegan sekaligus santai.

Dibandingkan denganku yang berwajah pucat serta mengalami pembengkakan di tangan dan kaki akibat kehamilan, kami benar-benar bagaikan langit dan bumi.

Salah seorang asisten toko tampaknya sudah sering bertemu Dion. Dengan wajah ceria, dia berkata, "Kak Dion datang lagi mau nemuin Kak Vivian, ya?"

Wajah Dion langsung menegang. Dia buru-buru melirik ke arahku.

Vivian berseru pelan lalu berbalik menegur gadis itu, "Jangan bicara sembarangan. Ini istrinya."

Setelah itu, dia tersenyum kepadaku. "Jessica, jangan dimasukkan ke hati. Anak muda memang suka asal bicara."

Setelah itu, Vivian mengajakku melihat-lihat pakaian.

Sepanjang waktu, ekspresiku tetap datar. Beberapa kali Vivian melirik ke arahku. Saat melihat aku benar-benar tidak bereaksi, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum sinis.

Sementara itu, pandanganku tertuju pada sebuah gaun panjang di hadapanku. Warnanya putih mutiara, memancarkan kesan anggun dan suci.

Namun tepat ketika aku hendak mencobanya, Dion mengulurkan tangan dan menahanku.

"Pilih yang lain saja," katanya dengan suara rendah.

Aku mengernyit. Saat hendak menanyakan alasannya, pandanganku tanpa sengaja jatuh pada fotonya dan Vivian yang tergantung di dinding.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 9

    Aku berkata terbata-bata, "Tunggu aku ... tunggu sampai urusanku di sana selesai, baru kita bicarain lagi."Mata Harvey langsung berbinar. Seperti anak muda yang sedang dimabuk cinta, dia memelukku lalu mengangkat tubuhku ke udara.Aku senang sekaligus ketakutan. Di tengah malam yang sunyi, teriakanku terus terdengar tanpa henti.Sampai sebuah bentakan tiba-tiba terdengar dari bawah lampu jalan, barulah aku tersadar dan menoleh.Ternyata itu Dion.Wajahnya tampak suram dan menyeramkan, seperti seseorang yang bisa kehilangan kendali kapan saja.Aku menatapnya dengan tenang. "Sudah siap? Kapan kita mau mengurus perceraian?"Mata Dion langsung berkaca-kaca. Rahangnya mengeras saat dia memaksa mengeluarkan kata-kata dari sela giginya."Jadi kamu benar-benar nggak percaya sama aku?"Aku tertawa pelan. Semua orang di sekelilingnya selalu lebih penting daripada diriku. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin aku masih bisa percaya padanya?Tatapan Dion beralih kepada Harvey, dipenuhi per

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 8

    "Memang pantas! Siapa suruh kamu bocorkan? Kamu benar-benar bikin aku muak!"Ekspresi sedih di wajah Vivian langsung membeku. Dia menatap Dion dengan tatapan tak percaya, sementara air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.Dia tidak mengerti bagaimana pria yang dulu begitu mencintainya bisa berubah sedrastis ini. Dalam benaknya, semua ini pasti karena Jessica. Padahal, menurutnya, dalam segala hal, Jessica masih kalah darinya.Semakin memikirkannya, semakin dia tidak terima. "Semua ini aku lakuin demi siapa? Bukankah karena aku peduli sama kamu? Aku tahu betapa besar keinginanmu menjadi seorang ayah, tapi kamu …."Sebelum Vivian sempat menyelesaikan ucapannya, Dion sudah memotong dengan bentakan keras, "Diam!"Dia menatap Vivian dengan dingin, lalu menggeleng pelan."Sampai sekarang kamu masih saja berbohong. Yang kamu pikirin cuma dirimu sendiri. Tiga tahun lalu begitu, tiga tahun kemudian tetap nggak berubah. Aku benar-benar nyesal pernah punya hubungan sama orang kayak kamu."Se

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 7

    Wajah ibu mertua menjadi sedingin es. Dengan bentakan keras, dia menghentikan Dion dan berkata dengan penuh amarah, "Jangan salahin Vivian, aku yang ingin tahu kebenarannya!"Dia mengangkat tangannya dan menunjuk ke arahku. "Besok juga ceraikan perempuan jalang ini! Dulu kamu sudah kehilangan akal sampai bersikeras nikahin dia. Lihat sekarang, dia bahkan membunuh anakmu!"Makin banyak berbicara, dia makin emosional. Ibu mertua langsung mengangkat bangku dan melemparkannya ke arahku. Dion dengan sigap segera berdiri di depanku. Dia menangkap bangku itu dan berteriak histeris, "Nggak perlu campuri urusan kami! Ayah sampai bercerai karena dipaksa sama Ibu, dan sekarang Ibu mau maksa aku juga! Berapa banyak kebahagiaan orang yang ingin Ibu hancurkan!"Suara penuh kemarahan Dion menggema seperti petir di ruang tamu yang luas. Wajah ibu mertua seketika memucat seperti kertas. Jari telunjuknya yang runcing gemetar saat menunjuk ke arahnya."Apa kamu bilang? Demi perempuan jalang itu, kamu b

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 6

    Ekspresi Dion langsung membeku.Dengan nada lebih tegas, dia mengulanginya sekali lagi, "Jessica sedang menjalani operasi?"Perawat itu mengangguk, lalu menjawab dengan tidak sabar, "Benar. Beliau sedang menjalani operasi aborsi. Sebentar lagi juga keluar."Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, pintu ruang operasi perlahan terbuka.Aku yang masih tertidur didorong keluar oleh perawat.Wajah Dion seketika memucat. Dengan langkah yang terasa goyah, dia berjalan menghampiriku.Tatapannya jatuh pada perutku yang kini telah kembali rata. Dalam sekejap, hatinya seperti disayat oleh pisau.Kepalanya berdengung. Dunia di sekelilingnya seperti berputar. Seolah seluruh tubuhnya dilempar ke ruang hampa tanpa pijakan.Tiba-tiba terdengar seruan kaget dari seorang perawat. Dion ambruk dengan keras ke lantai....Tidur kali ini terasa sangat nyenyak. Namun saat terbangun, tubuhku masih terasa lemas dan berat.Aku mengulurkan tangan hendak mengambil segelas air di atas meja, tetapi Dion yang duduk

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 5

    Sementara itu, setibanya di rumah Vivian, untuk pertama kalinya Dion benar-benar marah.Dia tidak percaya Vivian sampai berpura-pura bunuh diri demi menipunya.Perasaan dipermainkan itu seketika membawanya kembali ke masa lalu.Meski mereka telah berpacaran selama bertahun-tahun, Vivian terlalu mementingkan diri sendiri dan sering bertindak sesuka hatinya. Begitu menemukan seseorang yang menurutnya lebih menarik, dia akan bersikap ambigu. Bahkan saat memutuskan pergi ke luar negeri demi mengejar kariernya, dia langsung mengakhiri hubungan mereka tanpa ragu.Dulu, saat masih muda, Dion masih bisa memaklumi semua itu. Namun sekarang usianya sudah hampir tiga puluh tahun. Dia tidak punya waktu lagi untuk terus memainkan drama cinta yang melelahkan seperti ini.Melihat Dion berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Vivian tersenyum manis lalu memeluknya dari belakang."Siapa suruh kamu cuekin aku? Aku telepon berkali-kali, nggak sekali pun kamu angkat. Mataku sampai bengkak kar

  • Pagi Baru Tanpa Dirimu   Bab 4

    "Kudengar mereka putus karena kamu, orang ketiga. Nggak tahu malu, dasar perebut suami orang!""Kamu hamil, 'kan? Cepat gugurin saja. Jangan sampai dilahirkan, nanti Vivian sedih.""Hati pria itu nggak pernah ada padamu. Seberapa keras pun kamu maksa, tetap nggak akan ada gunanya. Lepaskan saja pasangan yang saling mencintai itu."Kontroversi itu makin membesar dan terus bertahan di puncak berita selama tiga hari penuh.Tidak mungkin Dion tidak tahu apa yang sedang kuhadapi, tetapi dia sama sekali tidak melakukan apa pun.Aku tahu dia sedang menunggu aku mengalah. Dalam hubungan ini, dia memang selalu menjadi pihak yang memegang kendali.Dia mengatur cara berpakaianku, mengatur pola makanku, bahkan memantau setiap tempat yang kudatangi.Seluruh kelembutan dan toleransinya hanya diberikan pada Vivian, sementara yang tersisa untukku hanyalah ketegasan dan sikap dingin.Dia ingin membuktikan bahwa tanpa diriku, hidupnya tetap berjalan dengan baik.Sedangkan tanpa dirinya, aku bukan siapa-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status