登入Pagi itu Ranu sudah bangun sejak langit masih gelap.
Pria itu duduk di ruang kerjanya sambil memandangi layar laptop dengan wajah serius. Kopi hitam di sampingnya bahkan sudah dingin karena tak disentuh lagi. Satu per satu panggilan telepon ia lakukan. Mulai dari kenalan di kantor polisi, pengacara kenalan keluarganya, sampai seseorang dari lembaga perlindungan perempuan dan anak. "Ada dugaan kekerasan pada anak dan penelantaran pendPagi itu Ranu sudah bangun sejak langit masih gelap. Pria itu duduk di ruang kerjanya sambil memandangi layar laptop dengan wajah serius. Kopi hitam di sampingnya bahkan sudah dingin karena tak disentuh lagi. Satu per satu panggilan telepon ia lakukan. Mulai dari kenalan di kantor polisi, pengacara kenalan keluarganya, sampai seseorang dari lembaga perlindungan perempuan dan anak. "Ada dugaan kekerasan pada anak dan penelantaran pendidikan," ujar Ranu tegas lewat sambungan telepon. "Saya butuh pendamping resmi." Di ujung sana terdengar jawaban yang membuat rahangnya sedikit mengendur. "Baik, Pak Ranu. Kami bisa bantu mendampingi." Ranu akhirnya mengembuskan napas panjang. Tatapannya jatuh pada jam dinding. Pukul lima pagi. Tanpa membuang waktu, ia langsung mandi dan bersiap menjemput Pani. **** Saat mobil Ranu berhenti d
Malam itu rumah kecil milik Pani masih berantakan. Walau pecahan kaca sudah dibersihkan sebagian. Kursi yang miring sudah dibetulkan posisinya. Namun, bekas kekacauan masih tersisa. Ranu berdiri di tengah ruang tamu sambil memandangi keadaan sekitar dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal kuat. Ibunya Pani masih menangis pelan di sudut sofa. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kecil dari luar pagar. "Paaapaa!" Sasa berlari masuk sambil memegang tangan Aji. Di belakang mereka, Pani berjalan pelan membawa kantong plastik berisi es krim yang mulai meleleh. Begitu melihat Ranu masih ada di sana, langkahnya terhenti. Suasana mendadak canggung. "Papa belum pulang?" "Papa nunggu kalian," balas Ranu berjongkok menyamakan tinggi. "Papa?" ulang Pani dengan alis terangkat sebelah. Ranu langsung menatapnya. "Kenapa? Kau keberatan?"
"Kamu kemana saja sih seharian?" rengek wanita itu sambil mengusap perutnya yang membuncit. "Kok kemana aja? Aku kan kerja." "Tadi ada perempuan datang bawa anak itu. Dia panggil Mama. Kamu bohong ya sama aku? Katanya kamu sudah duda?!" Faisal terlihat kaget lalu langsung menggeleng kuat. "Kamu ngomong apa? Aku kan sudah bilang, mantan istriku sudah meninggal! Aku duda mati! Tidak ada ikatan apa-apa lagi!" "Terus siapa yang bawa Desi tadi?!" teriak istrinya makin histeris. "Dia panggil-panggil Mama! Kamu pasti masih berhubungan sama mantan kamu ya! Dasar pembohong!" Wanita itu mulai menangis, menjatuhkan diri ke sofa sambil mengeluh pusing dan lelah. "Aku hamil besar begini masih harus kerja keras bersihin rumah, mikirin hidup, eh kamu malah main belakang!" Faisal memijat pelipisnya kesal. Ia tahu siapa yang berani melakukan itu. Pasti mantan adik iparnya, Pani. Si perempuan sok suci yang selam
Mobil berhenti tepat di depan rumah kecil bercat krem yang sudah mulai pudar dimakan usia. Lampu terasnya menyala redup. Begitu melihat mobil hitam milik Ranu masuk ke gang sempit itu, seorang wanita paruh baya langsung keluar dengan wajah panik. "Astaghfirullah, Pani!" Ibunya Pani buru-buru turun dari teras. Tatapannya langsung mencari Desi. Pani cepat membuka pintu mobil lalu menggandeng Desi turun. "Ibu..." suara Pani langsung melemah. Ibunya langsung memeluk Desi duluan. Napas perempuan tua itu terdengar lega sekali. "Ya Allah, Nak... Ibu takut sekali tadi." Desi tampak bingung. "Lho, Emang kenapa sih semua panik?" Pani langsung mengusap kepala anaknya pelan sambil menahan tangis lagi. Ranu ikut turun dari mobil. Tingginya langsung mencolok di depan rumah sederhana itu. Ibunya Pani segera menoleh dan sedikit membungkuk sopan. "Pak Ranu? Kok bisa sama pak Ranu?" Ranu meng
"Pani?" Perempuan itu langsung menoleh cepat. Napasnya terlihat memburu di balik helm yang miring. Matanya merah. Entah karena marah atau habis menangis. Namun yang paling membuat Ranu heran adalah... Pani sama sekali tidak terkejut melihat dirinya. "Oh... Bapak." Jawabannya datar sekali. Ranu langsung mengernyit. "Kamu nabrak mobil orang terus reaksinya cuma 'oh bapak'?" Pani bahkan tidak menanggapi. Ia buru-buru membetulkan motornya yang miring lalu mencoba menyalakan mesin. "Cepetan... ayo nyala..." gumamnya panik. Motor itu menyala sebentar lalu mati lagi. "Ck!" Pani mencoba membelokkan stang. Namun... "Kok belok sih?!" serunya frustrasi. Stang motornya bengkok. Wajah Pani langsung pucat. "Ya Allah..." suaranya mulai bergetar. Ranu yang tadi kesal perlahan mengamati perempuan itu lebih serius. Biasanya Pani past
Esok paginya, suasana rumah besar milik Ranu terasa sedikit... aneh.Jam lima pagi, Bi Inah yang baru keluar dari dapur langsung berhenti melangkah sambil memicingkan mata.Di halaman belakang, Ranu sedang jogging.Itu bukan hal aneh.Yang aneh adalah...Pria itu senyum-senyum sendiri.Bahkan sesekali tertawa kecil tanpa sebab."Hih..." Bi Inah merinding sendiri. "Jangan-jangan kesambet."Ranu masih terus lari kecil sambil mendengarkan musik dari headset. Wajahnya segar sekali. Rambut sedikit basah karena keringat. Kaos hitam yang dipakainya menempel di tubuh tegapnya.Dan senyum itu belum hilang juga.Bi Inah makin curiga.Biasanya pagi-pagi Ranu wajahnya seperti bos debt collector gagal nagih.Ini malah seperti pengantin baru.Saat Ranu berhenti untuk minum, pria itu bahkan memandangi langit sambil tersenyum tipis sendiri.Bi Inah langsung lari ke dapur mengambil ponsel.Ia menelepon seseorang dengan panik."Bu Anggun
Pani masih menatap tangan Ranu yang terulur beberapa detik lebih lama dari seharusnya. “Bayar? Bapak kok perhitungan sekali sih?” Nada suaranya setengah protes, setengah tidak percaya. Ada sedikit kesal, tapi juga tidak benar-benar marah. Ranu menarik tangannya pelan. Wajahnya tetap datar. “Itu
Ranu hampir tidak percaya. Tatapannya bergantian antara Pani dan tiga anak kecil di depannya. “Kamu…” suaranya pelan, seperti menimbang kata, “Mereka bertiga, anakmu?” Pani terlihat canggung. Tangannya refleks merangkul bahu anak laki-laki kecil yang masih memeluk kakinya. “Iya, Pak.” Ranu mena
Pagi masih begitu dingin ketika Ranu sudah berdiri di ruang tengah. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. Gerakan peregangan dilakukan pelan, hati-hati, seolah setiap langkahnya dihitung dengan sadar. Kakinya sudah jauh lebih baik, tapi dia tetap tidak ingin gegabah.Pintu kamar terbuka perlah
"Papa!"Seorang anak kecil berusia 4 tahun memeluk kakinya. Sampai Ranu terlonjak kaget, tapi tak sampai bersuara. Dia menatap bocah itu. Siapa bocah ini? Kenapa tiba-tiba memanggil papa?"Aji!"Ranu menoleh, seorang wanita berpakaian rapi berlari mendekat dan menarik anak itu."Maaf, Pak.""Dia an







