Se connecterIa menatap ke arah pintu ruang rawat, di mana Alfie kini terbaring lemah di balik kaca. Tubuh kecil itu masih menggigil, tapi kali ini bukan karena demam semata, melainkan karena sesuatu yang lebih dalam, lebih menyakitkan. Nyeri yang sama dirasakan oleh Ibunya.
Air mata jatuh perlahan di pipi Deon.
Hatinya benar-benar pecah.
Beberapa menit kemudian, Deon menyeka air matanya dengan kasar. Pandangannya buram, tapi hatinya sudah mantap. Ia tidak peduli lagi dengan apa pun, tidak dengan perusahaan, tidak dengan proyek miliaran rupiah yang sedang ia pimpin, tidak dengan semua reputasi yang selama ini ia jaga.
Yang terpenting baginya saat ini hanyalah satu: 'mencari Jannah.'
Ia berdiri dari kursinya di ruang tunggu rumah sakit, menatap ke arah kamar Alfie sekali lagi. Anak kecil itu masih terbaring lemah, tapi Deon tahu, satu-satunya orang yang mampu membuat dunia mereka utuh kembali hanyalah Jannah.
“Papa akan menjemput Mama untukmu, Nak,&
Bella mengangkat bahu sebisanya. “Aku hanya mengingatkan. Dunia hiburan kejam. Aku artis pendatang baru yang cukup terkenal dan dicintai penggemar. Banyak sekali penggemarku berada di lokasi saat itu dan cedera di lokasi syuting perusahaan Mahendra. Media akan mencium ini. Cepat atau lambat.”“Dan itu sebabnya aku di sini sekarang,” balas Deon. “Untuk memastikan semuanya jelas dan bersih.”Ketukan di pintu terdengar. Cahyo masuk bersama seorang dokter paruh baya. “Pak Deon, ini dokter ortopedi yang menangani Miss Dian.”Deon mengangguk hormat. “Dokter, saya ingin mendengar langsung. Sejujurnya.”Dokter membuka berkas, nadanya profesional. “Pasien mengalami cedera serius di lutut kanan. Fraktur kompleks. Kami sudah melakukan tindakan awal, tapi untuk prognosis jangka panjang masih perlu observasi. Risiko gangguan mobilitas permanen memang ada.”“Berapa persen?” tanya
Deon membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, nyaris tak peduli klakson yang bersahutan di belakangnya. Pikirannya penuh, dadanya sesak oleh satu nama yang terus berputar tanpa henti. Bella.Dia ingin segera menyelesaikan masalah Bella lalu kembali ke rumah untuk acara makan malam bersama yang sudah sangat ia rindukan selama ini.Begitu sampai di depan kamar rawat inap, Cahyo sudah lebih dulu menyambut majikannya. Wajah asisten pribadinya itu tegang, seolah sudah menyiapkan diri untuk kemarahan yang tak terelakkan."P-Pak Deon."“Bagaimana bisa bagian produksi begitu lalai?” suara Deon rendah, namun penuh tekanan.“Iya, Pak. Kami sudah menyelidiki,” jawab Cahyo cepat. “Tangga di lokasi memang licin, dan bagian produksi malah meletakkan beberapa kain di tangga itu sebagai dekorasi, katanya untuk mempercantik ruangan pengambilan foto.”Rahang Deon mengeras. “Dan keadaannya?”Cahyo menelan
Mereka duduk bersama di ranjang besar itu, tanpa jarak, tanpa sekat. Deon meraih Amara sebentar, menggoyangnya pelan hingga bayi itu terkekeh kecil. Jannah tertawa, suara yang lama tidak terdengar sebebas itu. Alfie ikut tertawa, lalu menceritakan hal-hal kecil yang ia lakukan hari itu, tentang mainan barunya, tentang cerita yang dibacakan pengasuh, tentang bagaimana Amara tersenyum saat ia mengajak bicara.Untuk sesaat, dunia di luar kamar itu lenyap. Tidak ada rencana, tidak ada ancaman, tidak ada masa lalu yang membayangi. Yang ada hanya mereka, keluarga kecil yang utuh dalam tawa dan sentuhan.Deon tersenyum puas, memandangi pemandangan itu dengan dada penuh. Ada rasa bahagia yang begitu sederhana namun menyesakkan karena terlalu indah. Ia berpikir, andai waktu bisa berhenti di sana. Diam-diam ia berjanji untuk selalu melindungi keluarga kecilnya sampai nafas terakhir yang dia miliki.Dia tidak akan mengizinkan siapa pun merusak kebahagiaan yang ia miliki sa
Deon mengecup air mata itu, satu per satu, seolah menghapus hari-hari yang terlalu berat. Ia tidak berkata apa-apa lagi, mereka kembali berpelukan di dalam selimut yang sama.Karena kadang, cinta sejati tidak membutuhkan kalimat panjang. Cukup kehadiran yang setia.Pelampiasan hasrat yang dalam dan penuh cinta.Waktu berlalu tanpa mereka sadari. Malam pun perlahan merapat ke pagi. Saat akhirnya mereka terlelap, Jannah tertidur lelap, dengan tangan Deon melingkar di punggungnya, pelukan yang tidak mengekang, tidak menuntut atau pun penuh permintaan.Pagi datang dengan cahaya lembut. Jannah terbangun lebih dulu. Ia memandang wajah Deon yang tertidur, lelaki yang ia cintai, lelaki yang ia marahi, lelaki yang kini memilihnya lagi tanpa paksaan dan lelaki yang baru saja menyiksanya di atas ranjang.Wajah Jannah menghangat, membayangkan bagaimana lelaki itu sudah menjungkirbalikkan garis pertahanannya. Bagaimana ia membuatnya merintih, mengeran dan mendesah tanpa malu.Ada garis lelah di wa
Dan di antara kulit yang menyatu dalam keringat dan saling mengenal kembali, Jannah sadar: inilah cinta yang ia dambakan, cinta yang sabar, yang memilih, dan yang tinggal meski tahu betapa rapuhnya mereka berdua.Malam itu menjadi sunyi yang menenangkan. Mereka saling merangkul dalam cinta. Beberapa saat kemudian mereka menyatukan kembali kepingan yang retak dengan sentuhan yang penuh kasih, ciuman yang pelan, hati-hati, dan tulus. Lalu mereka kembali menanamkan diri ke satu inti penuh kenikmatan yang hangat dan dalam.Di antara napas yang berangsur tenang, bercampur aduk dengan keringat dan bagian inti yang basah serta sedikit nyeri, Jannah memejamkan mata.Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa istimewa. Deon benar-benar memberikan kehormatan dan penghargaan kepadanya disertai kasih sayang yang sempurna.Malam itu berjalan perlahan, seperti waktu yang sengaja melambat agar dua hati yang sempat tersesat bisa saling menemukan kembali.Setelah
Jannah memejamkan mata. Napasnya bergetar. Di antara marah dan rindu, hatinya terbelah.Tubuh Deon limbung di atas ranjang empuk dengan keras, tapi laki-laki itu benar-benar tampak tak berdaya."Nyonya, Pak Deon mungkin membutuhkan... pelepasan, atau dia mungkin akan sangat menderita. Ha-haruskah aku memanggil dokter?"Jannah terdiam, berusaha meredakan peperangan bathin dalam dirinya. Waktunya terlalu singkat untuk Deon divonis berselingkuh sementara keadaan dirinya saat ini masih membuktikan bagaimana dia membutuhkan pelepasan.Cahyo mundur selangkah, memberi ruang. Deon menatap Jannah dengan harap yang nyaris runtuh.Dan di ambang keheningan itu, keputusan Jannah menggantung—rapuh, tapi menentukan segalanya.Dia mengibaskan tangannya ke arah Cahyo. Memerintahkan kepadanya untuk keluar.Cahyo menangkap isyarat itu dengan cepat. Ia mengangguk singkat, lalu melangkah mundur ke pintu.“Saya akan di luar,” ucapn







