로그인Edward tidak memandang Dylan atau pun Clara. Setelah menyerahkan gelasnya kepada seorang pelayan, dia langsung mengejar Elsa.Clara memperhatikan suasana hati Elsa yang tidak biasa, dia awalnya ingin mengikuti, tetapi melihat Edward sudah mengejarnya, dia menjadi ragu dan akhirnya memilih untuk tidak menyusul.Dylan juga sedikit khawatir tentang Elsa. Namun, melihat Edward sudah mengejar anak itu, dia pun merasa lega dan berkata kepada Dokter Luwana, "Dokter Luwana, kami pamit sekarang."Dokter Luwana mengangguk. "Baiklah, sampai jumpa lain waktu."Clara tersadar dari lamunannya, dia lalu mengangguk, dan berbalik untuk pergi bersama Dylan.Semua orang yang hadir di sana mengira Clara dan Edward mungkin bakal bertengkar, tetapi tanpa diduga, mereka berdua justru berpisah begitu saja tanpa bertukar sepatah kata pun .…Bukan hanya orang-orang luar, tetapi juga Richard, Gery, Dani, dan Gading semuanya merasa agak terkejut.Setelah tersadar, Gery meletakkan gelasnya dan mengejar mereka. "Ap
“Oleh karena itu, aku secara khusus meminta seseorang menghubungi Pak Dylan, dengan harapan agar Clara dapat menghadiri jamuan makan malam ini.”Pada saat itu, dia melirik ke arah Vanessa dan Edward sebelum melanjutkan ucapannya, “Mengenai Vanessa, aku baru tahu malam ini kalau dia tertarik untuk belajar di bawah bimbinganku. Namun, setelah mengobrol lebih dalam dengan Clara, aku menjadi lebih yakin tentang pilihan siapa yang akan menjadi muridku.”“Sebelum ini, aku nggak pernah memberikan jawaban pasti kepada Vanessa. Dan setelah yakin dengan pilihanku, aku langsung menolak keinginannya.”“Oleh karena itu, dalam hal ini, sama sekali nggak ada dasar untuk mengatakan bahwa Clara sudah sengaja merebut kesempatan Vanessa untuk menjadi muridku.”Setelah Dokter Luwana selesai berbicara, riuh bisik-bisik kembali menyebar di aula perjamuan.“Dulu, waktu Prof Nian menolaknya, dia mengira Bu Clara yang berada di balik semua itu. Sekarang Dokter Luwana lebih memilih Clara daripada dirinya, dia j
Di tengah diskusi, Dylan menatap Vanessa.Meskipun pandangannya tertunduk, namun Vanessa tetap bisa menyadari tatapan Dylan padanya.Sebelum dia sempat bereaksi, Dylan sudah menyeringai dan berkata, "Bu Vanessa, aku ingat kalau kau itu seumuran dengan juniorku, kan? Clara mengembangkan CUAP saat berusia tujuh belas tahun. Hingga hari ini, CUAP masih tetap menjadi produk unggul dan terkuat Morti Group, belum ada seorang pun di industri ini yang mampu menembusnya.""Selain itu, walaupun juniorku ini menarik diri dari karir karena pernikahan dan memiliki anak, tapi dia sudah bisa mencapai hasil yang luar biasa dalam waktu kurang dari dua tahun setelah kembali ...." Orang-orang di sekitar mereka sudah terdiam saat Dylan kembali mulai berbicara.Dylan mengabaikan sekitarnya, dan melanjutkan, "Tapi bagaimana denganmu? Kalau aku nggak salah ingat, sampai saat ini kau belum mencapai apa pun. Bahkan belum pernah mengembangkan sesuatu yang bernilai milikmu sendiri, kan?""Mungkin kita nggak per
Mendengar bisik-bisik dari para tamu, Rita dan Ervan tetap diam, begitu pula Doni, Anggi, dan Rendi.Mereka masih terguncang karena merasa terkejut.Namun, ada orang sepertinya teringat akan sesuatu dan tiba-tiba berkata, "Aku samar-samar ingat pernah mendengar kalau Morti Group didirikan bersama oleh dua muridnya Prof Nian. Karena Bu Clara adalah salah satu pendiri Morti Group, apa itu berarti dia juga ...."Rita, Ervan, Rendi, Anggi, Doni, dan Gading, semuanya mendengar hal tersebut.Mereka pun seketika tersadar, kemudian langsung menatap ke arah Dylan dan Clara.Dokter Luwana juga sangat terkejut.Seseorang buru-buru bertanya, "Pak Dylan, apa ... itu benar? Apa Bu Clara benar-benar muridnya Prof Nian?"Di bawah tatapan semua orang, Dylan tersenyum dan berkata, "Benar sekali, Pak Surya nggak salah ingat. Selain sebagai rekan kerja, Clara juga adalah juniorku."Kata-katanya disambut kembali dengan seruan kaget.Seseorang tak kuasa berkata, "Pantas saja setiap ada pertemuan dengan Prof
Rendi tidak pernah menyangka bahwa CUAP sebenarnya adalah hasil prestasinya Clara.Guncangan di hatinya bertahan cukup lama, dadanya terasa sesak, dan butuh beberapa saat baginya untuk bisa pulih dan tersadar.Dia menatap Dylan dan berbicara dengan susah payah, "Anda tiba-tiba mengatakan semua ini padaku .... Apa karena ingin memberitahuku bahwa dia bisa masuk Morti Group karena memiliki kemampuan yang cukup, dan bukan karena ... masuk melalui koneksi seperti yang kubayangkan?"Mendengar ucapannya, semua orang di sekitar terdiam."Tentu saja bukan." Dylan tersenyum sinis, dan berkata, "Bukannya kau tadi bertanya tentang kegagalan Bu Vanessa masuk ke Morti Group, lalu menjadi murid guruku, dan malam ini juga gagal menjadi murid Dokter Luwana …. Apakah itu semua adalah balas dendam Clara terhadapnya?""Aku nggak tahu detail kejadian dia menjadi murid Dokter Luwana malam ini. Lagipula, aku dan Clara sama seperti semua orang di sini, kita baru saja tahu kalau Dokter Luwana ingin menjadikan
Dylan pertama-tama menyerahkan ponsel kepada sekretarisnya, lalu seolah-olah baru mendengar lelucon, dia menatap Rendi dan berkata, "Pak Rendi, kau terlalu banyak berpikir. Hanya karena Bu Vanessa yang kau kagumi itu adalah orang licik, bukan berarti semua orang seperti dia." Mendengar penghinaan Dylan yang tanpa ragu terhadap Vanessa, Rendi tersadar kembali ke kenyataan. "Kau …." Namun, Dylan tidak berniat mendengarkan kalimatnya.Dia langsung menyela, tiba-tiba berkata, "Kau tadi bilang kalau kau dan Bu Vanessa ini sama-sama bergabung dengan Morti Group karena bahasa pemrograman CUAP milik kami, kan? Banyak orang yang berpikir kalau akulah yang sudah mengembangkan CUAP, tapi aku ingat dulu pernah bilang padamu kalau itu bukan ciptaanku."Rendi terkejut. "Iya, Anda memang pernah bilang begitu …."Dia tidak mengerti mengapa Dylan tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan ke hal tersebut.Tiba-tiba, sebuah pikiran terlintas di benaknya.Dalam sekejap, dia langsung mengerti maksud Dylan.







