LOGINShelly keluar dari gedung apartemen. Melihat sosoknya, langkahnya sempat terhenti sebelum akhirnya dia berjalan menghampirinya.“Nggak perlu repot-repot datang untuk mengantarkannya.”Jeffry menjawab, “Kalau nggak sengaja datang mengantarkannya, dari mana aku bisa punya kesempatan?”Dia bukan lagi Nyonya Anderson, juga bukan sekretarisnya.Kalau tidak sengaja datang, tentu mereka tidak akan punya kesempatan untuk bertemu.Perkataan itu terdengar agak menusuk. Shelly sedikit mengernyit.“Barangnya mana?”Sebelum Jeffry sempat mengambilnya, hujan deras tiba-tiba turun.Jeffry membuka pintu mobil. “Masuk dulu.”Tetesan hujan sebesar kacang jatuh deras, membuat pandangan Shelly seketika terhalang. Dia membungkuk masuk ke mobil, mengambil dua lembar tisu, lalu mengusap air hujan di pipi dan sudut matanya.Jeffry memutari mobil menuju kursi penumpang. Saat dia masuk, sebagian besar kemeja putihnya sudah basah dan menempel di dada bidangnya, memperlihatkan samar kulitnya yang kecokelatan.“Ap
Pukul satu siang, tiba-tiba turun hujan.Saat Saryna pulang, separuh tubuhnya sudah basah kuyup. Begitu masuk, dia langsung mengomel.“Di Kota Sentara ini semuanya bagus, hanya saja cuacanya berubah terlalu cepat. Saat aku keluar tadi mataharinya masih terik, tiba-tiba hujan turun. Hujannya deras sekali sampai aku baru saja memarkir mobil dan berlari masuk ke gedung, sudah jadi seperti ayam kehujanan.”Dia mengganti sepatu, melepas pakaian luarnya, lalu langsung menuju kamar mandi.Diiringi suara air yang mengalir deras, Shelly menjawab dari ruang tamu, “Aku sudah membuat teh jahe gula merah. Minum satu mangkuk supaya nggak masuk angin.”Beberapa saat kemudian, Saryna keluar dari kamar mandi dan melewati ruang tamu menuju ruang makan.“Untung kamu sudah mempersiapkannya. Aku ambilkan satu mangkuk untukmu juga?”“Nggak perlu, aku sudah minum.”Shelly duduk di sofa sambil menggendong Jery. Tatapannya yang tenang jatuh lembut pada si kecil.Saryna mengambil semangkuk untuk dirinya sendiri
Jeffry bersandar di kursi putarnya sambil memejamkan mata untuk beristirahat.Begitu Maxwell selesai melapor, ponselnya berdering.Herman yang menelepon.“Saryna datang kepadaku untuk melakukan tes DNA. Dia memberiku dua sampel rambut.”“Sudah tahu.” Jeffry menjawab singkat.Jadi, Diana pergi menemui Shelly dan Saryna untuk mengakui Saryna sebagai putrinya.Lalu bagaimana dengan Agnes?“Shelly nggak menghubungimu?”Herman menjawab, “Nggak. Kalau dia menghubungiku, akan segera aku beritahukan kepadamu.”Jeffry hanya mengeluarkan satu suku kata.“Tut ….”“Tunggu.”Herman tiba-tiba kembali membuka suara.“Jeffry, ibumu menghubungiku.”Alis pria itu langsung berkerut, garis alisnya menajam.“Untuk apa?”Herman menjawab, “Dia bilang akan membawa Elora ke Kota Sentara dan memintaku memeriksa Elora.”“Kamu menyetujuinya?”“Dia menggunakan Keluarga Vanindo untuk menekanku. Aku hanya bisa setuju.”Nada suara Herman terdengar tidak berdaya.Selain memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Jeffry
“Tenang saja, aku nggak akan mempercayai siapa pun.”Dalam hati, Shelly menambahkan satu kalimat, bahkan Bu Agnes pun nggak akan dia percayai.Mendengar itu, Agnes menghela napas lega, lalu melirik ke belakang Shelly. “Kamu nggak mau mempersilakanku masuk dan duduk sebentar?”“Nggak bisa.” Shelly tidak bergeming. “Di sini bukan hanya aku yang tinggal.”“Aku sudah dengar. Kamu tinggal bersama seorang teman. Kamu pasti cukup kesulitan selama ini. Anakmu di mana?”Agnes terlihat sangat peduli. “Anaknya baik-baik saja? Aku dengar anak laki-laki?”Shelly terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Semuanya baik.”“Baguslah, kalau begitu ....” Agnes berhenti sejenak. “Setelah selesai melakukan tes DNA, segera hubungi Ibu. Nanti Ibu akan menjemputmu pulang. Keluarga Gunawan kita juga bisa dibilang mendapat dua kebahagiaan sekaligus. Kamu kembali kepada keluarga dan membawa seorang anak.”“Seharusnya tiga kebahagiaan sekaligus, bukan? Nyonya Shane juga sudah melahirkan, kan? Bahkan anak kembar.
Yang bisa dilihat Shelly hanyalah ekspresi Agnes yang begitu penuh harap dan emosional. Dengan air mata membasahi wajahnya, dia menerjang ke arah Shelly dan memeluknya erat.Di ruangan yang sama ini, belum lama tadi, Diana baru saja datang dan mengatakan hal yang sama kepada Saryna.“Selama bertahun-tahun, aku begitu kesulitan mencarimu ....”Air mata Agnes membasahi pakaian Shelly. Suhu hangat dan lembapnya terasa di bahu Shelly.Shelly berdiri tanpa bergerak. Pantulan wajah polos tanpa riasan di dinding lift memperlihatkan ekspresinya yang dipenuhi kebingungan dan mati rasa, membuat raut wajahnya terlihat sangat rumit.“Shelly?”Agnes sudah cukup lama memeluknya sambil menangis. Karena tidak kunjung melihat reaksi Shelly, dia memanggilnya.Bola mata Shelly bergerak sedikit. Dia menatap Agnes.“Bu Agnes pasti bercanda. Aku nggak pernah mendengar Keluarga Gunawan memiliki seorang putri. Kamu pasti salah orang.”“Memangnya aku sendiri nggak tahu apakah aku punya seorang putri atau nggak
“Nyonya Agnes dari Keluarga Gunawan.”Shelly mengetahui beberapa hal tentang Keluarga Gunawan, jadi pun mengatakan apa adanya kepada Saryna. “Istri dari adiknya Johan Gunawan. Mereka berdua suami istri sering melakukan kegiatan amal. Mereka punya seorang putra yang sepertinya baru berusia sekitar sepuluh tahun. Aku dengar mereka juga pernah kehilangan seorang putri saat masih kecil.”Saryna duduk di sampingnya. “Dari ceritamu, sepertinya pasangan suami istri ini cukup baik. Berarti keluarga dari kakaknya ... nggak terlalu baik?”“Penilaian kalangan atas Kota Sentara terhadap Keluarga Gunawan memang persis seperti yang kamu katakan.”Shelly mengangguk pelan. Meskipun dia tidak mengkritik Johan dan istrinya secara langsung, ada beberapa hal yang bisa dipahami tanpa perlu diucapkan secara terang-terangan.“Kalau kamu benar-benar keturunan dari putra kedua Keluarga Gunawan, hidupmu pasti akan sangat bahagia.”Saryna mengeluarkan beberapa helai rambut itu. Setelah merenung sejenak, dia berd
Joycelin memang mengiyakan dengan mulutnya, tapi begitu Melly pergi, dia langsung memonyongkan bibir ke arah punggung wanita itu....Elora menarik Jeffry untuk duduk di kursi makan. Pemandangan mereka duduk berdampingan terus terbayang di benak Shelly.Seharusnya dia tidak melihat adegan itu.Dalam
Shelly tanpa sadar menarik jaket tebalnya sedikit ke depan, menutupi perutnya yang masih rata.“Aku masuk kerja. Mungkin karena umurku sudah bertambah, tahun ini aku jadi lebih gampang kedinginan.”Dia berjalan mendekat lalu duduk, sengaja mengalihkan topik.“Perlu pakai laptopku? Kalau iya, aku amb
Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada su
Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas







