LOGINRaut wajah Melly sempat tampak serbasalah, tetapi segera kembali normal. "Aku cuma sempat bertemu dua kali, itu pun sembunyi-sembunyi seperti pencuri. Lagian ....""Nggak kasih berarti nggak kasih. Alasannya banyak banget."Joycelin lekas-lekas menyimpan hadiahnya, seolah takut barang itu direbut oleh Melly."Kamu ... dari mana dapat uang sebanyak itu buat beli barang-barang begini?" Melly langsung berbalik menyerang. "Kamu minta uang dari Kakek dan Nenek lagi, ya?""Nggak!"Sejak kecil, Joycelin memang terbiasa hidup boros. Begitu dia dewasa, Melly memperketat pengeluarannya dengan memberi jatah uang saku bulanan dalam jumlah tetap, tanpa tambahan sepeser pun."Ini semua hasil tabunganku."Gaji yang didapatkannya dari bekerja di Grup Dominion bahkan nggak cukup untuk kebutuhannya.Selain uang saku, setiap hari libur dan perayaan besar dia selalu mendapat amplop uang. Semuanya selalu ditabungnya.Melly menimbang-nimbang sejenak, lalu berujar, "Kamu baru saja sampai, ayo ibu ajak jalan-
"Ibu, lah."Joycelin mengibaskan tangannya. "Ngapain kamu nahan-nahan aku? Anak yang dilahirkan Shelly itu anakmu, kenapa kamu nggak bilang dari awal? Terus kenapa Ibu nyuruh aku merahasiakannya dari Nenek?"Rentetan pertanyaan itu membuatnya sulit menjawab.Alis Jeffry berkerut dalam. Setelah terdiam beberapa detik, dia berkata, "Kamu belum boleh ketemu Jery dulu.""Kenapa nggak boleh?" Joycelin seketika emosi. "Aku ini tantenya!""Tante juga nggak boleh," tolak Jeffry lugas tanpa kompromi.Joycelin langsung merogoh ponselnya hendak menelepon Shelly, "Aku mau telepon kakak ipar. Aku nggak percaya kalau dia juga bakal ngelarang!"Sebelum panggilan tersambung, Jeffry sudah merebut ponsel itu dari tangannya."Masuk mobil dulu. Nanti aku jelaskan pelan-pelan."Raut wajah pria itu sedingin es. Meski tidak terima, Joycelin terpaksa menurut dan masuk ke mobil.Mobil Maybach itu perlahan meluncur keluar dari area parkir, lalu melaju kencang di jalanan berliku yang mulus mengelilingi perbukita
"Yang ini boleh?"Jeffry mengangguk.Shelly membawa pakaian itu hendak melangkah keluar, tetapi langkahnya tertahan saat mendengar Jeffry berkata, "Masih kurang satu."Shelly berhenti, lalu menunduk menatap pakaian di tangannya.Udara Kota Sentara sangat panas. Paduan kemeja dan celana bahan dengan mantel luar saja rasanya sudah berlebihan, apanya lagi yang kurang?Dia menatap Jeffry dengan bingung.Jeffry melipat tangan di dada, bersandar santai di kusen pintu ruang ganti sambil menatapnya lekat. Sepasang mata sehitam jelaga itu tampak begitu dalam, seolah sanggup menenggelamkan siapa pun yang memandangnya.Hari ini Shelly berdandan dengan riasan tipis yang sangat rapi. Penampilannya terlihat jauh lebih memikat dibanding biasanya saat dia hanya sibuk mengurus Jery di rumah.Bibir tipis Jeffry terkatup rapat."Kamu mau pakai celana dalaman termal?" tanya Shelly ragu.Jeffry bungkam tanpa kata.Melihat ekspresi Jeffry yang tidak biasa, Shelly terdiam.Bahkan pada puncak musim dingin pal
Dari balik jendela, sayup-sayup terdengar obrolan Bibi Sari dan Kak Ratih."Nyonya Muda suka acar sayur asin begini. Kalau bikin sendiri rasanya nggak terlalu asin, jadi nggak bakal ganggu ASI nya."Kak Ratih menimpali, "Tapi kalau kurang asin, gampang basi."Bibi Sari tersenyum. "Bikinnya dikit-dikit aja. Habis, baru bikin lagi. Lagian waktu kita kan luang banget."Urusan anak sudah diborong habis oleh Jeffry. Sepanjang pagi, bayi itu sama sekali belum menyentuh tangan Bibi Sari maupun Kak Ratih.Sembari membatin demikian, Bibi Sari melirik ke arah ruang tengah. Jeffry duduk di sana. Di dalam kereta bayi, Jery sesekali tertidur lalu terbangun. Begitu si kecil menangis, langsung disusui dengan susu formula, semuanya ditangani sendiri oleh Jeffry.Kak Ratih ikut melayangkan pandang ke ruang tengah. Menyaksikan pria berstatus setinggi Jeffry mau turun tangan sendiri mengurus anak membuatnya begitu kagum. Sungguh pemandangan langka!"Eh, Shelly sudah pulang."Mendengar bunyi pintu terbuka
Shelly mengangguk. "Baik."Keduanya beranjak pergi bersama.Tepat saat pintu ruang rapat tertutup, Gunawan mendadak bangkit berdiri hingga kakinya menyenggol kursi dengan suara berderit keras.Shelly mendengarnya, tapi langkah kakinya sama sekali nggak berhenti saat melangkah pergi."Kalau aku sampai mengacaukan kerja sama ini, kerugian Grup Vantara bakal besar nggak?" Begitu melangkah masuk ke dalam ruang kerja, Harrison langsung bertanya pada Shelly.Shelly duduk di sofa. "Melihat situasi sekarang, bukan cuma nggak rugi, kita malah bisa dapat keuntungan lebih banyak. Tapi bagaimana rencana Grup Vantara berkembang di Kota Sentara ke depannya, aku kurang tahu. Itu harus ditanyakan ke Pak Wirya."Wirya adalah pemegang kendali tertinggi Grup Vantara. Bagaimana rencananya, tidak seorang pun yang tahu.Bahkan Harrison sendiri pun tidak tahu."Nggak usah mikir sejauh itu, yang penting sekarang nggak ada kerugian." Harrison menepuk pahanya, tampak sudah punya keputusan sendiri di dalam hati.
"Sialan, ngapain dia ada di sini?"Harrison juga akhirnya bisa melihat jelas siapa orang yang duduk di dalam ruang rapat itu, sampai-sampai spontan mengumpat kasar.Terhalang sekat kaca jendela, orang yang berada di dalam ruang rapat mendengar suara Harrison lalu menoleh ke arah mereka."Pak Harrison."Asisten Johan melangkah keluar dari ruang rapat, menyapa Harrison dengan sikap penuh hormat. "Pak Johan sudah menunggu cukup lama. Silakan masuk.""Aku kira siapa yang bisa bikin Ayahku rela bagi jatah keuntungan, ternyata orang ini."Raut wajah Harrison tampak keruh. Dia menatap sinis ke arah asisten Johan, lalu menoleh menatap Shelly. "Mending kamu balik ke ruanganmu aja. Biar aku yang hadapi Keluarga Gunawan.""Nggak perlu, aku bisa."Shelly sadar dirinya mungkin bisa menghindar sesaat, tapi tidak bisa lari selamanya.Kerja sama antara Wirya dan Keluarga Gunawan sudah menjadi kesepakatan mutlak.Sebagai penanggung jawab di Kota Sentara, berurusan dengan orang-orang Keluarga Gunawan ad
Di dalam aula.Ke mana pun Jeffry pergi, selalu ada orang-orang yang mengerumuninya.Dia sedang berbincang dengan beberapa senior di dunia bisnis, sementara orang lain terus datang silih berganti untuk menyapanya.“Kak Jeffry.”Elora berjalan mendekat, lalu dengan manis menggandeng lengannya.Lengan
Langkah Shelly tiba-tiba terhenti. Napasnya tertahan, wajahnya perlahan menjadi serius.“Ada apa?” Maxwell bingung. “Bukannya kamu yang minta Pak Jeffry memindahkanmu kembali?”Shelly menggeleng.“Bukan. Aku datang untuk mengundurkan diri.”Maxwell langsung menarik napas tajam.“Mengundurkan diri? K
Joycelin memang mengiyakan dengan mulutnya, tapi begitu Melly pergi, dia langsung memonyongkan bibir ke arah punggung wanita itu....Elora menarik Jeffry untuk duduk di kursi makan. Pemandangan mereka duduk berdampingan terus terbayang di benak Shelly.Seharusnya dia tidak melihat adegan itu.Dalam
Shelly tanpa sadar menarik jaket tebalnya sedikit ke depan, menutupi perutnya yang masih rata.“Aku masuk kerja. Mungkin karena umurku sudah bertambah, tahun ini aku jadi lebih gampang kedinginan.”Dia berjalan mendekat lalu duduk, sengaja mengalihkan topik.“Perlu pakai laptopku? Kalau iya, aku amb







