Share

Bab 58

Penulis: Kharamiza
last update Tanggal publikasi: 2026-05-13 21:28:47

Tanpa menunggu lama lagi, Eca segera melangkah menghampiri Ihsan sambil sedikit menyipitkan mata. Cuaca siang itu terik sekali sampai ia harus mengangkat tangan ke atas kepala untuk melindungi wajahnya dari matahari langsung.

Panasnya benar-benar kontras dengan udara dingin pagi tadi.

Debu jalanan beterbangan tipis tertiup angin, sementara suara anak-anak yang masih berkegiatan masih terdengar samar dari lapangan sekolah.

Begitu melihat Eca datang, Ihsan langsung memasukkan ponselnya ke saku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
neng Eca...kalau baca ini jelas Ihsan masih mengingat masa masa dulu persahabatan dengan neng Eca..atau Ihsan dulu jutek karena menutupi perasaan yg sebenarnya..kalian saat ini sudah saling jatuh cinta tapi gengsi yaaa????
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 138

    Bibir Eca seketika mengerucut sebal. Pipinya mendadak hangat setelah ulah Ihsan barusan. Untung saja ia masih sempat menundukkan kepala sebelum rona merah itu benar-benar terlihat jelas.Huh. Orang lagi kesak, dia malah cium tangan segala, tanpa merasa bersalah pula.Cepat-cepat Eca menarik napas, lalu turun dari mobil. Namun baru beberapa langkah menjauh, suara Ihsan kembali terdengar dari belakang.“Neng.”Eca berhenti, tetapi tak segera menoleh.“Neng hati-hati di sekolah.”Baru setelah mendengar itu, ia menoleh sedikit. Tatapan Ihsan kini berpindah ke pergelangan kakinya yang sempat keseleo.“Jangan kebanyakan jalan dulu. Kakinya masih adaptasi."Eca menggigit bibir bawahnya sebentar, sedikit terharu dengan perhatian Ihsan, tetapi ia segera menyadarkan diri kalau hubungannya dengan pria itu lagi dingin.“Iya,” jawabanya singkat.Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera melangkah menuju halaman kantor.“Bu Ayesh!” Panggilan itu membuat langkah Acha kembali terhenti.Bu Fatimah d

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 137

    Keesokan paginya, Eca sudah bersiap kembali mengajar. Tas kecilnya telah tersampir di bahu ketika ia melangkah keluar rumah.Ia menarik napas pelan sebelum menaiki motornya. Pergelangan kaki kirinya memang masih sedikit pegal, tetapi sudah jauh lebih baik dibanding beberapa hari lalu.Eca buru-buru memasukkan kunci ke lubang kontak. Kalau bisa, ia ingin sudah berada di sekolah sebelum Ihsan sempat keluar rumah.Setidaknya ... pagi ini ia belum siap berhadapan terlalu lama dengan suaminya.Sayangnya, baru saja ia memutar kunci kontak, sebuah tangan tiba-tiba menahan setang motornya.“Neng.”Eca mendongak.Ihsan sudah berdiri di samping motor dengan raut wajah yang tampak sulit dibantah.“Saya antar saja.”“Nggak usah, Kang.” Eca menjawab cepat, nyaris seperti sengaja menghindar. “Aku bisa berangkat sendiri.”Ihsan bergeming. Tatapannya justru turun ke arah kaki sang istri, sebelum kembali naik ke wajah Eca.“Kaki Neng belum sembuh sepenuhnya.”“Aku bisa, kok.”“Nggak,” potong Ihsan teg

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 136

    Eca masih menatap Ihsan tanpa berkedip.Rasanya dadanya tiba-tiba sesak setelah mendengar pengakuan suaminya itu.Bukannya merasa lega, penjelasan Ihsan justru membuat kepalanya semakin penuh.Ia benar-benar merasa seperti orang paling bodoh di sini.Selama ini ia hampir menyerah mencari jalan keluar seorang diri.Ketika Dasim mengajaknya menikah saat itu, ia merasa harga dirinya diinjak-injak. Bahkan ia sampai rela mengesampingkan harga diri demi rumah peninggalan ayahnya. Ia mendatangi Ihsan, memohon agar pria itu bersedia menikahinya agar statusnya menjadi warga tetap yang sudah menikah.Sampai sekarang, Eca masih ingat bagaimana tubuhnya gemetar saat berdiri di depan Ihsan hari itu.Dengan segala rasa malu yang nyaris menghancurkan harga dirinya, ia memohon agar pria itu bersedia menikahinya, meski jawabannya ditolak mentah-mentah. Dan sejak rumah itu dikabarkan akan digusur, hampir tak ada malam

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 135

    Tubuh Eca sempat terpaku sejenak. Rasanya pertanyaan suaminya barusan terus berputar-putar di kepalanya.‘Neng percaya kalau lahan rumah kita ngotot diambil itu demi kepentingan desa?’Apa artinya semua itu? Keningnya mengerut perlahan. Bola matanya bahkan kini bergerak pelan mencari wajah Ihsan, seolah berharap pria itu segera menjelaskan maksud ucapannya.“Memangnya bukan begitu?” tanyanya lirih tanpa melepas pandangan dari wajah sang suami.Angin malam kembali bertiup perlahan, mengibaskan beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatannya.Ihsan tidak langsung menanggapi pertanyaan istrinya.Juatru ia meraih kembali surat yang tadi diletakkan di atas meja balkon. Jemarinya mengetuk pelan bagian kop surat itu sebelum mengembuskan napasnya panjang.“Neng tahu,” ujarnya kemudian, “kalau rumah ini benar-benar masuk pembebasan lahan, prosesnya nggak sesederhana ini.”

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 134

    Menjelang Magrib, suara motor Ihsan akhirnya terdengar berhenti di garasi.Eca yang sejak tadi hanya duduk mematung di ruang tamu refleks mengangkat kepala.Dua lembar kertas itu masih tergeletak di pangkuannya. Sudah entah berapa kali ia lipat, lalu dibuka lagi. Berkali-kali pula ia berniat menyembunyikannya ke dalam kamar.Namun, setiap kali bangkit, niat itu selalu menguap.Menyembunyikannya bukan pilihan yang tepat. Cepat atau lambat, Ihsan tetap harus tahu.Masalahnya, bagaimana ia harus memulai semua ini?Suara mesin motor di luar perlahan mati, tak lama kemudian terdengar bunyi pintu yang berderit pelan saat Ihsan membukanya.“Neng?” panggil Ihsan begitu masuk ke rumah.Refleks Eca melipat kedua lembar kertas itu, lalu menyelipkannya di bawah paha.Saking kalutnya, Eca tetap duduk diam. Biasanya, baru mendengar suara motor Ihsan saja ia sudah bergegas menyambut di depan pintu.Kali ini tidak. Malah Ihsan yang lebih dulu menghampiri dengan alis bertaut.“Neng, kenapa?”Eca buru-

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 133

    Malam itu, Eca baru benar-benar bisa memejamkan mata saat hari sudah sangat larut.Meski begitu, ada satu hal yang sangat ia syukuri. Ihsan tetap terjaga menemaninya hampir sepanjang malam. Berkali-kali pria itu memastikan kompres di pergelangan kakinya masih dingin, mengecek apakah ia membutuhkan sesuatu, bahkan tak segan membetulkan selimutnya setiap kali tanpa sadar bergeser.Hingga tak terasa, hampir seminggu pun berlalu sejak kecelakaan itu.Bengkak di pergelangan kaki Eca memang belum sepenuhnya hilang, tetapi sudah jauh lebih baik dibanding beberapa hari pertama.Kini ia sudah bisa menapak perlahan tanpa harus terus-menerus bertumpu pada Ihsan.Sesekali masih terasa nyut-nyutan kalau terlalu lama berdiri. Namun, dibanding terus berbaring di tempat tidur, Eca lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan ringan.Besok ia bahkan sudah berniat kembali mengajar.Tok ... tok ... tok ....Suara ketukan pintu itu memecah keheningan sore saat Eca sedang menyiangi sayuran d

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 117

    Hari itu, keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja, seolah benar-benar ingin menikmati hari libur berdua. Matahari sudah bergeser cukup jauh ketika Eca akhirnya menyerah menatap layar laptopnya. Sejak tadi ia memang duduk di atas karpet ruang keluarga sambil menonton drama terbaru y

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 116

    Cahaya matahari sudah menyusup dari sela-sela gorden saat Eca membuka matanya keesokan pagi. Ia berkedip beberapa kali. Butuh beberapa detik baginya untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Lalu, ketika ingatan itu datang begitu saja. Eca spontan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Asta

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 85

    Kalimat itu seperti menghantam telak kepala Eca berkali-kali. Periksa ke bidan? Tubuhnya hampir goyah, tetapi ia segera mencari tangan Ihsan di sampingnya lalu menggenggamnya erat, seakan takut jatuh jika tidak berpegangan. Jemarinya terasa dingin, bahkan telapak tangannya mulai lembap oleh keri

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 62

    Berkebalikan dengan Eca yang hatinya mulai meradang sendiri, Ihsan justru tampak tenang seperti biasa.“Terima kasih, Asih, tapi lain kali saja,” jawabnya santai.“Yaelah, sekali-sekali atuh main ke rumah.” Wanita itu tersenyum sambil menatap Ihsan penuh harap. “Mamah juga pasti senang kalau tahu k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status