Share

Bab 7

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-04-05 19:00:00

Pertanyaan Eca membuat langkah Ihsan benar-benar terhenti, bahkan pria itu sampai berbalik.

Keningnya sedikit terangkat saat menatap wajah gadis di hadapannya, seolah sedang menimbang sesuatu, atau … justru menganggapnya aneh.

Beberapa saat, hanya suara angin yang berhembus pelan di antara hamparan sawah. Daun-daun padi bergesekan lembut, seakan ikut menunggu jawaban.

Entah kenapa, menunggu jawaban dari Ihsan rasanya jauh lebih menegangkan bagi Eca dibanding saat ia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 7

    Pertanyaan Eca membuat langkah Ihsan benar-benar terhenti, bahkan pria itu sampai berbalik.Keningnya sedikit terangkat saat menatap wajah gadis di hadapannya, seolah sedang menimbang sesuatu, atau … justru menganggapnya aneh.Beberapa saat, hanya suara angin yang berhembus pelan di antara hamparan sawah. Daun-daun padi bergesekan lembut, seakan ikut menunggu jawaban.Entah kenapa, menunggu jawaban dari Ihsan rasanya jauh lebih menegangkan bagi Eca dibanding saat ia hampir jatuh ke sawah tadi.“Apa kamu ini sudah tidak waras?”“Apa maksudmu?”“Omonganmu barusan,” lanjut Ihsan tanpa ekspresi. “Masuk akal atau tidak, kamu pasti tahu.”Mulut Eca sedikit terbuka. Ia tentu sadar sedang disindir. Tetapi, ia tidak mundur.“Aih!” Eca mendecak kesal. “Aku serius, Ihsan,” balasnya dengan napas yang masih belum sepenuhnya teratur.Ihsan menatapnya beberapa detik, nampak seperti berusaha memastikan sesuatu.

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 6

    Eca mundur satu langkah, namun pria itu tetap saja maju, seakan tak peduli penolakan yang jelas dari gadis itu.Tanpa pikir panjang, kaki Eca langsung terangkat.Bugh!“AAARGH! Sialan!”Tubuh Juragan Dasim seketika membungkuk. Kedua tangannya refleks menutup selangkangan, wajahnya memerah menahan nyeri.Napas Eca memburu. Dadanya naik turun cepat, tetapi ia tak berhenti di situ saja.Dengan tenaga yang masih tersisa, ia mendorong bahu Juragan Dasim kuat-kuat.“Keluar!” bentak Eca.Dasim terhuyung beberapa langkah ke belakang, nyaris jatuh andai tak sempat berpegangan pada pintu.“Kamu ….” Napasnya tersendat, matanya melotot penuh amarah. “Berani-beraninya kamu melakukan ini pada saya!”“Keluar dari rumah saya!” potong Eca. Suaranya bergetar, tetapi tatapannya tajam, tak sedikit pun gentar.Beberapa detik, hanya suara napas berat yang saling bersahutan di antara mereka.Juragan Dasim akhirnya berdiri tegak, meski wajahnya masih tampak menahan sakit. Ia merapikan bajunya dengan gerakan

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 5

    Eca tertegun. Ucapan itu seperti berhenti di kepalanya, namun tak bisa langsung dicerna. Menikah? Dadanya tiba-tiba sedikit sesak. Rasanya, itu terlalu dekat dengan masalahnya sendiri. Ia menelan ludah dalam-dalam, lalu sedikit mengintip dari balik tembok. Ihsan terlihat diam sejenak. Wajahnya yang tadi tenang, kini tampak berubah tipis, meski hanya sesaat. “Menikah?” ulang Ihsan, seakan memastikan. “Ya,” jawab pria bertopi hitam itu. “Itu satu-satunya cara agar citramu bagus, San.” “Aku bisa bantu nyari calon kalau perlu,” tambahnya. “Saya rasa tidak perlu, Mang,” jawab Ihsan sopan. “Nanti saya pikirkan.” Eca kembali mematung. Di kepalanya langsung mengingat kalau ternyata bukan cuma dirinya yang butuh nikah untuk menyelamatkan rumah? Namun, untuk menjadi kades pun harus menikah agar dipercaya bisa membangun desa. Dari mana coba korelasinya? Eca hampir berdecak. Aneh sekali. Seolah semua masalah di desa ini bisa selesai hanya dengan menikah. Cukup lama, Eca tenggelam d

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 4

    Eca masih terpaku di tempatnya. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, seolah enggan hilang. Ia menelan ludah pelan, mencoba mencerna. Ihsan … mencalonkan diri jadi kades? “Serius, Bi? Dulu ‘kan, Ihsan betul-betul pendiam? Kok tiba-tiba …” Sekarang … tiba-tiba mau memimpin satu desa? Ucapan Eca tidak sempat tersuarakan. Ia kaget dengan kabar yang baru didengarnya ini. Tidak salah? “Begitulah, Neng. Ya udah, Bibi pamit dulu, Neng. Makanannya jangan lupa dihangatin, nya” ujar Bi Lastri sambil berdiri. “Iya, Bi. Hatur nuhun.” Setelah pintu tertutup, rumah itu kembali sepi. Eca masih berdiri beberapa detik, sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang dan menjatuhkan diri ke sofa. Baru kemarin ia kembali ke desa ini, tetapi rasa penasaran semuanya sudah berubah, termasuk Ihsan. Eca menatap kosong ke arah meja. Kalau memang Ihsan sekarang mau maju jadi kades, berarti dia punya pengaruh di desa. Jika itu benar, mungkin benar kata Bi Lastri. Meminta bantuan ke dia bukan ide

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 3

    Pria yang dipanggil Ihsan itu diam. Ekspresinya tenang, namun tatapannya sulit terbaca. Ihsan adalah teman masa kecil Eca. Dulu, yang Eca kenal, Ihsan itu anaknya pendiam. Ke mana-mana ikut saja. Jarang bicara, bahkan kalau diajak main, seringnya cuma mengangguk tanpa banyak komentar. Eca tidak pernah melihatnya lagi sejak ia pergi ke ibukota. Ia hanya sempat mendengar beberapa kabar burung mengenai Ihsan. Ada yang berkata bahwa pria itu melanjutkan studi ke luar negeri, ada juga yang mengatakan bahwa Ihsan pergi karena dijodohkan. Apapun itu, Eca tidak pernah tahu hal yang sebenarnya. Namun, dipertemukan seperti ini tentu membuat Eca terkejut. Apalagi, perawakan Ihsan jauh berbeda dengan seseorang yang terlihat culun saat kecil. Kini, pria itu berdiri tegap dengan bahu-bahu yang lebar. Matanya tajam dan rahangnya terbentuk sempurna. Eca ingin menyapa pria itu, memastikan bahwa apa memang ia benar-benar Ihsan yang Eca kenal. Namun belum sempat Eca berkata apa-apa lagi, suara

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 2

    Menjelang sore, Eca menepikan motornya di dekat pagar rumah besar milik Juragan Dasim. Langkahnya sempat terhenti saat melihat pemandangan rumah itu. Tadi pagi, ia memang terdengar begitu yakin akan memenuhi apa pun syarat yang diberikan asal rumahnya tidak digusur. Namun, melihat rumah yang begitu mencolok di antara rumah warga lain, halaman luas, pagar besinya tinggi, dan beberapa motor serta mobil terparkir rapi di samping, justru membuat perasaannya mendadak tak tenang. Apakah mungkin juragan itu mau membantunya? Ia merapikan ujung bajunya. Dengan satu tarikan napas, Eca akhirnya melangkah masuk. “Permisi .…” Pria paruh baya yang duduk di kursi rotan teras menoleh sekilas, lalu kembali membaca koran. Perutnya tampak menonjol di balik kemeja yang sedikit terbuka di bagian atas. Di tangannya ada gelas kopi. Di atas meja kecil di depannya, beberapa bungkus rokok berserakan. “Siapa?” tanyanya santai. “Saya … Ayesha, Juragan. Anaknya almarhum Pak Rahmat.” Eca menjawab sopan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status