Share

Bab 90

Author: Kharamiza
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-29 23:59:35

Astaga, membayangkannya saja Eca sudah tak sanggup.

Kalau itu sampai terjadi, warga pasti akan memandangnya rendah. Guru macam apa yang hamil sebelum menikah? Tentu, ia akan dicap wanita tidak benar sepanjang hidup.

Belum lagi dampaknya pada rencana pencalonan Ihsan sebagai kepala desa nanti. Sudah pasti kepercayaan warga terhadap suaminya akan hancur begitu saja.

Baru muncul gosip seperti ini saja, beberapa warga sudah terang-terangan bilang tak mau memilih Ihsan.

Apalagi kalau tuduhan itu ter
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
ga jauh dari perkiraan..tebakanku antara asih atau Dasim..dan ternyata Dasim
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 148

    Selesai makan malam dan membereskan dapur, keduanya pindah ke ruang tengah. Televisi di depan mereka menyala, tetapi hanya menjadi pengisi suara di ruangan itu.Eca duduk menyandar di dada Ihsan sambil menggulir layar ponselnya. Sesekali, tangannya meraih potongan rengginang yang dibawa mertuanya kemarin. Kedua kakinya selonjor di atas sofa, sementara Ihsan tetap membaca buku dengan tenang. Sesekali, pria itu menunduk hanya untuk mengecup pucuk kepala istrinya.Meski terlihat sibuk dengan ponselnya, Eca bisa merasakan dada Ihsan yang naik turun dengan tenang di belakang tubuhnya. Detak jantung pria itu juga terdengar samar di telinganya.Jauh berbeda dengan siang tadi.Keheningan yang justru terasa nyaman itu bertahan beberapa saat, sampai akhirnya suara Ihsan terdengar pelan di atas kepala Eca.“Neng ….”“Hm.” Eca mendongak sebentar. “Apa, Kang?”“Jangan marah lagi sama saya, ya.”Gerakan jempol Eca di layar ponsel langsung berhenti.“Tadi sudah dibilang aku udah maafin Akang,” balas

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 147

    Eca berkedip beberapa kali. Otaknya seperti mendadak loading, membuatnya hanya bisa menatap Bi Lastri dengan wajah kosong.Bi Lastri mendekat sedikit. Suaranya dipelankan, tetapi senyum di bibirnya justru semakin lebar.“Mun sudah keramas mah, berarti beres atuh urusannya.”Eca masih mengernyit.Sampai akhirnya Bi Lastri berdeham kecil sebelum menambahkan dengan nada yang penuh maksud.“Biasana mah kalau laki bini berantem, beresna di ranjang.”Mata Eca langsung membulat.Oh. Baru sekarang ia menangkap kalau sedari tadi arah pembicaraan tetangganya itu mengarah kesana.Ia buru-buru menggigit bibir, tetapi percuma saja. Sudut bibirnya sudah telanjur terangkat.“Bibi!”Bi Lastri malah terkekeh pelan. “Naon? Bener begitu, nya?”“Bibi ah, nggak usah dibahas.”Hawa panas seketika saja menjalar ke pipi hingga ke telinga Eca. Tangannya bahkan buru-buru menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal, sekadar mengusir sedikit rasa gugupnya.Ia menunduk sebentar, berharap Bi Lastri tidak meliha

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 146

    “Tapi saya mohon maafkan saya sekali ini, Neng.” Kali ini suara Ihsan benar-benar pecah.Eca hanya mampu terdiam, meski melihat bahu pria itu bergerak kecil sekali atau dua kali, lalu kembali bergetar hebat, lebih jelas dari sebelumnya.Ihsan sempat mengangkat tangan yang satunya ke wajah, tetapi beberapa detik kemudian menurunkannya lagi. Seolah percuma menyembunyikan sesuatu yang sudah telanjur jatuh di hadapan Eca.Tarikan napasnya terdengar patah-patah. Kemudian, satu tetes air jatuh tepat di punggung tangan Eca.Dada Eca seketika terasa sesak melihatnya.Selama ini, Ihsan selalu punya cara untuk membuatnya kesal. Entah lewat senyum menyebalkannya, candaan yang kelewat santai, atau sikapnya yang kadang membuat Eca ingin menjitak kepala pria itu, tetapi Ihsan juga selalu punya cara menenangkannya di saat yang bersamaan.Namun, sekarang, pria itu bahkan seperti tidak sanggup mengangkat wajah di hadapannya.Dahinya just

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 145

    Ihsan mengangguk cepat. Namun, Eca tak langsung bereaksi. Untuk beberapa detik, ia bahkan seperti lupa caranya berkedip. Matanya masih terpaku pada wajah pria di hadapannya, seolah sedang mencari celah untuk memastikan bahwa ia tidak salah menangkap anggukan itu. Jemarinya yang sejak tadi menggenggam tangan Ihsan perlahan mengerat. Suaminya itu tidak menarik kembali ucapannya, tetapi pula tersenyum atau mencoba menganggapnya sebagai candaan. Tenggorokan Eca mendadak terasa kering dibuatnya. Benarkah? Pria yang sejak kecil lebih banyak diam di sisinya itu benar-benar menyimpan perasaan seperti ini selama bertahun-tahun? Ihsan menarik napas panjang. Setelah beberapa detik, ia kembali memecah keheningan ruang tamu. “Waktu kecil, saya pikir saya cuma sayang sama Neng seperti adik sendiri. Ada naluri saya yang selalu ingin jagain Neng.” Ia ter

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 144

    Eca mengernyit semakin dalam. Surat? Ia sama sekali tidak ingat pernah menerima surat dari Fajar. Bahkan setelah mencoba mengingat kejadian sebelum keberangkatannya ke Jakarta, tetap tidak ada apa pun yang muncul di kepalanya. Tapi ia ingat satu hal, pagi itu rumahnya sudah sangat sibuk karena keberangkatannya ke Jakarta dipercepat sehari dari jadwal. Barang-barangnya sudah dimasukkan ke mobil, sementara Eca sendiri sudah duduk di kursi penumpang ketika melihat seseorang datang dari arah jalan. Dia Fajar. Pria itu mengendarai motor bututnya melewati lorong menuju rumahnya. Saat itu, Eca hanya mengira Fajar mungkin hendak ke rumah Ihsan. Mereka teman sejak SMP, jadi keberadaan Fajar di sekitar rumah itu bukan sesuatu yang aneh. Namun, Eca tidak sempat berbicara dengannya karena mobil sudah lebih

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 143

    Air mata yang sejak tadi mati-matian Eca tahan akhirnya jatuh juga. Bahkan, ia belum sanggup mengatakan apa pun ketika Ihsan kembali bicara.“Saya nggak bermaksud bicara begitu ke Neng,” kata Ihsan sambil terus memeluk Eca dari belakang.Lengannya melingkar erat di pinggang Eca, tetapi kali ini tidak terasa mengekang. Malah seperti seseorang yang sedang berusaha mempertahankan sesuatu yang hampir terlepas dari tangannya.Eca tetap diam.Dada yang sejak tadi sudah terasa penuh justru semakin sesak.Pelukan itu seharusnya membuatnya tenang. Seperti biasa, setiap kali Ihsan memeluknya, Eca selalu merasa ada tempat untuk pulang.Dan bagian paling menyebalkan dari semuanya, Eca ingin sekali berbalik.Ingin menyandarkan wajahnya ke dada suaminya, lalu membiarkan pria itu memeluknya sampai tangisnya mereda.Namun, kedua tangannya tetap menggantung di sisi tubuh, tanpa membalas pelukan Ihsan.Setelah beberapa detik, Eca menarik napas panjang. Ia tidak ingin berlama-lama dalam pelukan yang jus

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 30

    Kening Ihsan mengernyit singkat. Ia menunduk sedikit, sorot matanya yang tenang itu jatuh tepat ke wajah Eca. Namun, ada sesuatu yang sulit ditebak di dalamnya. “Saya ingat,” jawabnya nyaris tanpa ekspresi. “Tapi kenapa aku merasa lamarannya … terlalu resmi?” bisik E

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 18

    Tubuh Eca sontak menegang di tempat. Beberapa detik ia hanya berdiam diri, sebelum akhirnya menarik gagang pintu agak kasar sambil mengomel. “Ada apa lagi sih kam—” Ucapannya terhenti. Tadi, ia sempat berpikir yang datang itu Juragan Dasim atau orang-orangnya yang sengaja ingin mengganggunya l

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 15

    Saat diantar pulang oleh Ihsan pun, Eca masih belum bisa memahami semua pembicaraan hari ini.Bukan apa-apa, tetapi rasanya seperti mimpi yang berjalan terlalu cepat.Baru kemarin ia mati-matian mencari cara mempertahankan rumahnya. Sampai membuang harga diri memaksa Ihsan menikahinya, meski pria i

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 14

    Eca masih menunduk diam. Detik demi detik terasa begitu berat untuk dilewati. Sunyi di ruang tamu itu seperti menekan dadanya pelan-pelan.Andai bisa, Eca bahkan ingin menghilang saja sekarang juga.Tatapan ibunya Ihsan yang sejak tadi tertuju padanya membuat nyalinya seketika ciut. Dulu, ia begit

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status