Share

Bab 3

Penulis: Sweety
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-10 12:00:23

Keputusan Ellena untuk mengundurkan diri sudah bulat. Gadis itu meluruskan punggung di balik meja kerja. Bola mata kecoklatan nya tertuju pada amplop putih di balik map. Sisa menunggu Reon datang dan dia akan menyerahkan surat resignnya.

Suara klik halus dari pintu masuk spontan membuat Ellena menutup map rapat-rapat di meja.

"Ellena, dokumen kemarin udah diapproved sama Pak Reon?" tanya Laura. Perempuan berlipstik merah terang itu melangkah melewati kursi Ellena dan meletakkan tas jingganya di meja.

Ellena mengerjapkan mata pelan. Dia tidak tahu nasib dokumen tersebut. Ellena pergi begitu saja karena kelakuan brengsek Reon malam tadi.

"Sudah saya serahkan ke Pak Reon, Kak, tapi saya belum tahu udah diapproved atau enggak," jawab Ellena hati-hati.

"Duhhh, kamu gimana sih, Ellena, harusnya kamu pastiin dulu sebelum pulang. Saya kan butuh dokumen itu juga." Laura menghembuskan napas kasar. "Kita pasti kena omelan Pak Reon lagi kalau kayak gini."

"Maaf, Kak," sahut Ellena pelan. Tidak mungkin dia menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Lebih baik resign tanpa ada drama.

Tak berselang lama, Reon muncul bersama asisten pribadinya. Ellena dan Laura beranjak dari kursi, menyambut mereka.

Seperti biasa, Reon berlalu begitu saja masuk ke dalam ruangannya. Tanpa sapaan ataupun sekadar lirikan, hanya meninggalkan hawa dingin.

Begitu laki-laki itu hilang dari balik pintu ganda, Ellena kembali duduk dengan helaan napas ringan. Jemari lentiknya membuka map untuk menatap amplop putih polos itu lagi.

'Kalau Vino keluar, aku langsung ajuin surat resignnya,' ujar Ellena dalam hati penuh tekad menunggu asisten pribadi Reon.

Namun, tiba-tiba ponsel gadis itu berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari tetangga kontrakannya.

"Halo, Bu, ada apa?" Ellena bingung kenapa tetangganya menelepon di jam kerja Ellena. Tidak biasa.

"Nak Ellena…" suara wanita paruh baya itu terdengar lirih dan bergetar, "Nenek kamu…"

Mata Ellena langsung memanas dan mengeluarkan air. "N-nenek kenapa, bu?" tanya gadis itu.

Suaranya tercekat. Hal yang paling ditakutkan Ellena adalah kehilangan orang yang dia sayangi. Dia sudah pernah melewati rasa pedih ditinggal selamanya oleh kakeknya. Dia tidak bisa membayangkan kalau neneknya juga pergi.

"Nenek kamu tidak sadarkan diri, Nak," katanya terisak. "Tadi, tukang sayur yang biasa lewat depan lorong liat nenek kamu jatuh, ibu juga langsung panik waktu dengerin teriakannya."

Air di pelupuk mata Ellena mulai penuh. Tangannya gemetaran memegang ponsel. "Terus sekarang nenek di mana, Bu?"

"Udah di rumah sakit, Nak Ellena, Cuma tadi ibu denger nenek kamu butuh dioperasi."

"Bu Tari makasih, yah, saya segera ke sana, Bu." Ellena buru-buru merapikan tasnya sambil beranjak dari kursi. Bulir-bulir hangat mulai jatuh satu per satu ke pipinya.

Begitu telepon berakhir, Ellena langsung menoleh pada meja Laura yang tidak jauh dari sebelah mejanya. "Kak Laura, saya mau keluar sebentar, nenek saya masuk rumah sakit."

"Oh, oke, entar aku sampein ke Pak Reon." Laura mengangguk dengan senyum manis.

"Makasih banyak, Kak." Elena bergegas pergi.

Sewaktu bayi, Ellena ditemukan oleh kakek neneknya di tempat pembuangan sampah saat pasangan itu mencari barang-barang bekas untuk ditukar dengan uang.

Entah orang tua mana yang tega membuang bayinya. Saat itu, Ellena dibawa pulang oleh pasangan tersebut dan diberi nama Ellena Satya.

Meski hidup tidak berkecukupan, kakek neneknya begitu menyayangi Ellena dan sedapat mungkin memenuhi kebutuhan bayi yang sudah diangkat jadi cucunya itu.

Saat Ellena tumbuh jadi remaja cantik, keduanya menyarankan Ellena untuk mencari tahu siapa orang tua kandungnya. Tapi, gadis itu menolak.

Mengetahui dirinya ditemukan di tempat sampah artinya dia sudah dibuang oleh orang tuanya yang tidak bertanggung jawab. Jadi, Ellena tidak mau peduli soal orang tuanya yang entah masih hidup atau tidak.

Namun, sisa neneknya yang Ellena punya di dunia ini dan penyakit neneknya itu semakin parah.

Di rumah sakit, Ellena tidak berhenti tersedu-sedu di sudut ruangan tunggu yang sepi. Rasa khawatir, takut dan bingung bercampur jadi satu di dadanya.

Kalau total biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan neneknya dari operasi dan perawatan lain butuh setidaknya 500 juta.

Uang di rekeningnya saja tidak cukup untuk membayar 0,01 persen dari total biaya pengobatan tersebut.

Astaga. Dari mana Ellena mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Moonroe
YaAllah musibah emang gaada yang tau. Tapi anjim lah gedeg bgt w sama Reon dan Laura gatau knp. Btw ceritanya seru kakkk, lanjutkan!
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 118. Manis dan Menggoda

    Setelah belasan jam penerbangan dari Singapura, Ellena dan ketiga manajemen senior RCA Investments akhirnya tiba di bandara Zurich. Pesawat mereka mendarat sekitar pukul enam pagi. Langit masih kelabu kebiruan, matahari baru merangkak naik di balik siluet pegunungan Alpen dan lampu runaway masih menyala kuning pucat, memantul di lapisan salju tipis. Itu pertama kalinya juga bagi Ellena melihat salju. Bukan dari layar ataupun film, tetapi salju asli. Begitu pintu pesawat dibuka, udara musim dingin langsung menyergap tajam, kering dan menggigit. Napas yang keluar dari hidung dan mulut berubah jadi uap putih. Ellena refleks memeluk mantel tebalnya lebih rapat.Tiga manajemen senior di depannya sudah terlihat siap seperti mau pemotretan majalah bisnis.Melinda—Wakil Direktur Keuangan mengenakan mantel wol panjang, turtleneck hitam dan boots kulit ramping. Rambutnya rapi dengan makeup tipis profesional. Kiandra—Wakil CIO memakai coat abu-abu gelap tailored fit, syal kasmir, koper kecil

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 117. Pertama Kali Naik Pesawat

    Awalnya, Ellena masih belum percaya kalau namanya masuk list untuk ikut perjalanan dinas. Bahkan saat Laura sudah mengirimkan detailnya via email, Ellena juga belum yakin. Bisa saja namanya tiba-tiba diganti untuk beberapa hari ke depan. Tapi, hari itu… saat dia berdiri di lantai bandara, Ellena merasa jantungnya berpacu kuat menyadari bahwa dia benar-benar akan keluar negeri. Ellena bahkan belum pernah naik pesawat sekali pun. Baginya, bandara cuma tempat yang selama ini dilihat dari drama Korea atau vlog orang lain. Tapi sekarang, dia berada di tengah suara pengumuman penerbangan yang bersahut-sahutan, koper berderak dan orang-orang yang berlalu-lalang dengan jas mahal dan paspor di tangan.Ellena menelan saliva sembari menguatkan genggaman pada tiket pesawatnya. Udara dingin AC menyapu wajahnya yang sedikit… pucat—mungkin karena ini akan jadi pengalaman pertamanya naik pesawat. Berbagai pikiran negatif perlahan menyusup di pikiran

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 116. Yang Membuat Ellena Ragu Balikan

    Ellena terlihat sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak meraup bibir Reon. Bagaimana tidak? Jarak mereka hanya terpisah beberapa inci dan Reon tidak berhenti menggodanya tipis-tipis. Untung, pertahanan Ellena tidak rapuh. Keraguan masih jadi benteng tertinggi untuk menerima ajakan balikan dengan Reon meski semua kesalahpahaman mereka telah usai. "Pak Reon… saya harus antarkan dokumen ini ke Kak Laura," Ellena menatap Reon serius. Lelaki itu mengangkat alisnya sekilas. "Kamu boleh pergi, kalau kamu gak bicara formal sama aku saat lagi berduaan begini."Ellena menghela napas panjang. Ya, Dareon Sankara harus dituruti kemauannya. "Reon… tolong minggir, aku mau keluar dan bawa dokumen ini ke Kak Laura," kata Ellena dengan tegas. Reon menyeringai lembut, sementara itu Ellena segera keluar dari dominasi tubuh Reon.Setelah Ellena melewati pintu, gadis itu akhirnya bisa bernapas lega. Dia lanjut melangkah menuju lift, membawa dokumen di tangannya. Saat jam makan siang, Ellena dan

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 115. Ruangan Arsip yang Terasa Sempit

    Malam semakin larut, semua tamu sudah pulang, menyisakan kesunyian seperti biasa di unit apartemen itu. Mata Ellena tidak kunjung tertutup dan kesadarannya masih masih melingkupi. Gadis itu akhirnya bangun, turun dari ranjang dan melangkah ke meja kerja di sisi kamar. Selanjutnya, dia meraih buku sketsa serta kotak pensil warna yang merupakan kado dari Reon. Lampu nakas menyala hangat dengan memantulkan cahaya kekuningan di dinding krem. Ellena kemudian duduk bersandar di sisi kasur dengan lutut ditekuk di depan dada sambil meletakkan buku sketsa di atasnya. Sampul buku sketsa itu tebal, warna biru muda, teksturnya seperti kulit asli. Saat dibuka, kertasnya halus dan berat—bukan kertas biasa. Jenis yang membuat orang takut salah coret.Jemari Ellena mengusap halaman pertama pelan, hampir seperti menyentuh sesuatu yang rapuh.Senyum kecil terbit di bibirnya sebelum dia mulai menggerakkan pensil di tangannya. Perlahan

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 114. Kalau Begini Kamu Suka?

    Ellena menelan saliva, pupilnya agak bergetar saat memandang Reon tepat di bola mata hitam lelaki itu. Dia kemudian melangkah melewati Reon. "Bukan begitu… Reon, aku sekarang… mau jalanin aja apa yang ada."Reon menoleh sebentar dari balik bahu lalu akhirnya berbalik. Ellena lalu merendahkan badan untuk menyimpan barang belanjaannya di dekat lemari. "Soal ajakan kamu untuk balikan…," dia meluruskan punggung, "aku gak nolak, tapi aku juga belum bisa bilang iya, Reon.""Kenapa?" Reon mendekat, mengiris jarak di antara mereka saat Ellena memutar tubuh menghadap Reon. "Aku sudah mengakui kesalahan aku di fun day dan Highmark, Elle," sambung lelaki itu. "Karena aku masih butuh waktu, Reon. Bukannya kamu bilang kamu mau nunggu."Reon menunduk kala jarak mereka sisa satu jengkal, sementara Ellena harus mendongak karena perbedaan tinggi mereka. "Tapi kamu kasih kesempatan untuk laki-laki lain dekat sama kamu, contohnya sama

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 113. Menolak Balikan?

    Tatapan Ellena terpaku pada Reon, kemudian dia menggeleng, "aku bisa sendiri.""Go on, then," kata Reon dengan nada dalamnya. Jemari Ellena menekan salah satu bagian kotak hingga kertas yang melapisi bagian atasnya tersobek. Gadis itu meraih sebuah gulungan kertas dari dalam sana. "Nomor… delapan," ucap Ellena. "Nomor delapan! Kado nomor delapan mana?!" teriak Vino semangat.Astra langsung lari ke troli, mengambil kado besar berpita. "Ini, Kak," ujar gadis remaja itu, menyerahkan kotak pada Ellena. "Uwwww, itu kado dari aku," kata Graciella tersenyum lebar. Semuanya bertepuk tangan lagi, sementara Ellena mulai melepaskan bungkus kado kemudian membuka penutup kotak. Mata Ellena melebar ketika mengeluarkan sebuah tas limited edition yang dia kisar seharga ratusan juta dari kotak. "Gracy… ini…""Eitsss… gak boleh ditolak ya, Ellena, aku tahu isi pikiran kamu apa sekarang."Ellena t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status