ホーム / Romansa / Paman, Bawa Aku Pergi / 19. Dilanda Rasa Was-was

共有

19. Dilanda Rasa Was-was

作者: Bunga
last update 公開日: 2026-02-23 19:19:39

Ciuman itu terasa seperti badai yang lebih hebat daripada hujan di luar. Bibir Bagas yang hangat mendarat lembut, namun penuh dengan tuntutan yang terselubung. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti berputar. Anya memejamkan mata, membiarkan rasa hangat itu menjalar dan mengusir dingin yang sejak tadi merantai tubuhnya.

Ada rasa bersalah yang mencubit nuraninya. Namun rasa itu dengan cepat tenggelam oleh gelombang kekecewaan yang jauh lebih besar terhadap Gusti. Dalam sentuhan Bagas, Anya
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Paman, Bawa Aku Pergi   32. Telepon di Ruang Kerja

    Setelah makan siang yang penuh kepura-puraan itu berakhir. Suasana rumah perlahan kembali sunyi. Anggun bangkit dari kursinya, merapikan tas tangannya dengan gerakan santun yang menjadi ciri khasnya. Ia menatap menantunya dengan tatapan teduh, seolah ingin memberikan sisa kekuatan yang ia miliki."Anya, Mama pulang ke rumah dulu, ya. Ada beberapa berkas yang harus Mama tanda tangani segera," ucap Anggun sambil mengusap lembut pipi Anya. "Besok Mama kembali lagi ke sini untuk menemanimu. Gusti, pastikan istrimu tidak kelelahan.""Iya, Ma. Hati-hati di jalan," jawab Gusti patuh. Ia mengantar ibunya sampai ke pintu depan dengan sikap anak berbakti yang sempurna.Anya perlahan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Tubuhnya terasa berat, bukan hanya karena sisa sakitnya, tapi karena beban pikiran yang kian menumpuk. Begitu pintu depan tertutup, suasana hangat yang tadi dipaksakan seketika menguap. Gusti tidak langsung menyusul ke kamar. Ia memilih melangkah menuju ruang kerjanya di lan

  • Paman, Bawa Aku Pergi   31. Ajakan Ke Surabaya

    Gusti memegang pipinya yang panas dan berdenyut. Ia menarik napas panjang, mencoba menyusun pembelaan secepat mungkin."Ma, maafkan Gusti. Ada kerjaan yang perlu fokus, karena besok aku harus ke Surabaya. Jadi semua pekerjaan di sini harus diselesaikan dulu sampai tuntas, makanya ponselku mati karena aku tidak mau diganggu," dalih Gusti dengan wajah meyakinkan, meski itu hanya bualan belaka.Gusti kemudian berpaling ke arah ranjang. Ia mencoba memasang wajah penuh penyesalan dan mendekati istrinya untuk mengalihkan pembicaraan."Sayang, kamu sudah membaik?" tanya Gusti dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin."Iya Mas, aku sudah baikan," jawab Anya singkat dan dingin. Anya tidak menjawab lebih jauh, ia hanya menatap kosong, membiarkan suaminya tersiksa oleh tekanan Mama Anggun.Gusti mencoba tersenyum kaku, lalu kembali membujuk. "Besok aku ke Surabaya, kamu ikut saja ya? Biar aku tidak khawatir meninggalkanmu sendirian lagi di rumah dalam kondisi seperti ini. Kita bisa sekalia

  • Paman, Bawa Aku Pergi   31. Kehadiran Mertua

    "Mamah Anggun ...," bisik Anya dengan bibir bergetar.Bukan Gusti yang menelepon, melainkan Mama Anggun. Ketakutan Anya kian memuncak. Bagas yang sedang berdiri tanpa baju, hanya mengenakan celana pendek, langsung mendekat. Ia meraih ponsel itu dari tangan Anya yang gemetar sebelum panggilan itu terputus."Angkat," perintah Bagas singkat. "Katakan yang sejujurnya, tapi jangan sebut aku."Anya menarik napas dalam-dalam. Mencoba menstabilkan suaranya yang serak. Bagas memberikan isyarat agar ia menyalakan pengeras suara."Halo, Ma?" suara Anya terdengar parau."Anya! Kamu di mana?!" Suara Mama Anggun meledak dari seberang telepon. "Mama sekarang ada di rumah kamu. Tapi kata Bibi kamu dibawa ke rumah sakit! Di Rumah sakit mana?sekarang mau Mama ke sana."Anya memejamkan mata. Keringat dingin mulai bercucuran. Ia melirik Bagas yang terus mengawasi setiap gerakannya."Anya di apartemen teman, Ma," jawab Anya akhirnya. Suaranya bergetar menahan tangis."Apartemen teman?! Kenapa pulang ke ru

  • Paman, Bawa Aku Pergi   29. Perawatan Menegangkan

    Cahaya pagi yang hangat menembus gorden sutra, menyentuh kelopak mata Anya yang perlahan terbuka. Ia mengerjapkan mata, merasakan pening di kepalanya sudah jauh berkurang, namun tubuhnya masih terasa lunglai. Hal pertama yang ia lihat adalah sosok tegap Bagas yang sedang berdiri di dekat jendela, membelakanginya.Pagi ini, Bagas tampil jauh dari kesan formalnya. Pria itu tidak memakai baju, hanya mengenakan celana pendek saja, memamerkan otot-otot dada dan punggungnya yang kokoh serta atletis. Pemandangan itu membuat jantung Anya berdesir hebat; ia baru menyadari betapa maskulinnya paman suaminya itu tanpa balutan jas mahal."Sudah bangun?" suara bariton itu menyapa dengan lembut saat Bagas membalikkan badan.Anya berusaha duduk, merapatkan selimut ke dadanya. "Paman ... aku mau pulang. Tapi badanku terasa lengket sekali," bisik Anya. Ia merasa risi dengan sisa-sisa keringat demam dan jejak semalam yang masih tertinggal di kulitnya."Ya sudah, sebelum keluar, mandi dulu," jawab Bagas

  • Paman, Bawa Aku Pergi   28. Pelukan Hangat

    Pria itu melirik ponsel di tangan Anya yang masih menyala, menampilkan posisi taksi online yang tinggal beberapa meter lagi. Dengan gerakan tenang namun tegas, ia mengambil ponsel itu, membatalkan pesanan, lalu menyimpannya di saku jasnya sendiri. Ia membawa Anya masuk ke dalam mobil mewah pribadinya.Mobil melaju tenang membelah gerimis kota. Anya dibawa ke sebuah apartemen eksklusif yang sunyi dan jauh dari jangkauan siapa pun. Pria itu merawat Anya dengan ketelatenan luar biasa. Ia sendiri yang mengompres dahi Anya.Saat Anya sedikit tersadar di atas sofa. Ia mengerjapkan matanya yang berat. Hal pertama yang tertangkap penglihatannya adalah sosok tegap yang sedang berlutut di sampingnya."Paman ...," ucap Anya lirih. "Kenapa aku bisa ada di sini?""Tadi aku menjenguk klien di rumah sakit, melihat kamu dan Gusti dari kejauhan. Saat aku akan menyusul ke IGD, malah melihat kamu keluar sendiri dan hampir pingsan di lobi," jawab Bagas tenang. Ia mengusap rambut Anya lembut. "Istirahatla

  • Paman, Bawa Aku Pergi   27. Ditinggal di Rumah Sakit

    Pagi itu, kamar utama yang megah terasa sunyi dan mencekam. Cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden sutra tidak memberikan kehangatan sedikit pun bagi Anya. Ia tidak sanggup bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya terasa seperti remuk, sendi-sendinya ngilu, dan kulitnya terasa panas membara. Bekas-bekas merah keunguan di leher dan pergelangan tangannya. Jejak kekasaran Gusti semalam, kontras dengan wajahnya yang pucat pasi. Napasnya pendek-pendek dan berat, setiap tarikan udara terasa seperti membakar tenggorokannya.Gusti, yang baru saja selesai berpakaian rapi dengan kemeja slim-fit dan jas abu-abu arangnya, menyadari ada yang tidak beres. Ia tidak mendengar suara air dari kamar mandi atau kesibukan Anya menyiapkan keperluannya. Ia melangkah mendekat ke sisi tempat tidur dan menyentuh dahi Anya. Tangannya seketika ditarik kembali karena panas yang menyengat, seolah ia baru saja menyentuh permukaan logam yang terpanggang."Anya? Tubuhmu panas sekali," ucap Gusti, nada suaranya be

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status