로그인Anya tidak menjawab sedikitpun. Ia masih merasakan kenikmatan yang diciptakan Bagas. Pikirannya melayang jauh.“Sayang, masih kuat ditusuk pakai lidah saya?” tanya Bagas kembali, suaranya terdengar teramat parau, berat, dan basah di sela-sela paha Anya yang gemetar hebat.Matanya yang menggelap pekat menatap ke atas, menyaksikan bagaimana asisten cantiknya mencengkeram erat tepi bathtub marmer dengan kuat. Anya tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa melenguh panjang, menggelengkan kepalanya pasrah dengan air mata kepuasan yang kian deras membasahi pipi meronanya." Ahh, M-Mas Bagas, ahhh, emhh! " cicit Anya di sela napasnya yang terputus-putus. Tubuh moleknya masih menyentak halus, sisa-sisa gelombang pelepasan masif tadi membuat seluruh urat sarafnya terasa lumpuh sekaligus teramat peka. "T-Tolong jangan lepas dulu, jilat lagi lubang saya yang basah ini, Mas, ahh."Bagas menyunggingkan seringai sensual yang teramat beringas. Alih-alih menyudahi atau memberikan waktu
Tubuh Anya bergetar hebat di atas wajah Bagas. Puncak pelepasan yang dipicu oleh jilatan beringas sang CEO sudah berada di ujung urat sarafnya. Air matanya menetes, tangannya meremas rambut hitam Bagas kian erat seiring lenguhan panjang yang siap lolos dari belahan bibirnya." Ahhh! Mas Bagas, sedikit lagi, emhh, ahhh! " rintih Anya dengan suara yang terputus-putus.Bagas semakin gencar menyesap titik peka itu, menikmati bagaimana asisten cantiknya sepenuhnya bertekuk lutut di bawah kendalinya. Kamar mandi mewah itu benar-benar dipenuhi oleh kabut gairah yang teramat pekat.Drttttt! Drttttt! Drttttt!Samar-samar dari balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat, suara getaran keras ponsel Bagas yang tertinggal di atas meja nakas luar terdengar berdering tanpa ampun. Nada dering khusus itu terus berbunyi, seolah menandakan ada urusan yang teramat mendesak di luar sana.Bagas sempat menghentikan gerakan lidahnya sejenak. Rahangnya mengeras, menyadari bahwa panggilan di jam seperti ini bi
“Mas, aku masih mau. Tapi lemas,” jawab Anya, menutup wajahnya.Dengan dominasi yang tak terbantahkan, Bagas memegang pinggang Anya dan perlahan mendorongnya untuk bangkit."Berdirilah di hadapan saya!" perintah Bagas dengan suara bariton yang teramat serak dan dalam.Anya melenguh pelan, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk berdiri tegak di dalam bathtub yang licin, tepat di hadapan Bagas yang kini perlahan merebahkan diri, merebahkan punggung kekarnya dengan santai di dalam lengkungan marmer.Bagas menatap ke atas, memandangi setiap jengkal keindahan tubuh polos Anya dari sudut pandang bawah yang teramat intim. Tatapannya kemudian terkunci pada mahkota keintiman Anya yang masih memerah dan basah pasca pelepasan."Mas Bagas ... kenapa saya diminta berdiri seperti ini?" tanya Anya dengan suara parau yang bergetar, tangannya refleks bergerak sedikit ke depan untuk menutupi rasa malunya yang mendadak kembali membuncah.Bagas tersenyum sensual, meraih kedua pergelangan tangan Anya d
Bagas benar-benar sudah berada di batas ketahanannya. Hasrat yang sedari tadi ditahan dan diulur kini berontak hebat, menuntut pelepasan yang sesungguhnya. Tanpa menunggu Anya kembali menurunkan kepalanya, Bagas mencengkeram pinggang ramping asisten cantiknya itu dengan kedua tangan kekarnya, lalu mengangkat tubuh Anya sedikit ke atas.Anya melenguh pelan, kedua tangannya refleks bertumpu pada dada bidang Bagas yang kokoh untuk menyeimbangkan tubuhnya. Dari posisi saling berhadapan di atas pangkuan, Anya bisa merasakan ujung kejantanan Bagas yang panas dan menegang sempurna kini kembali mengintip di depan gerbang keintimannya. Anya merasakan getaran dalam hatinya, bersama Bagas ia merasakan keindahan dalam kebersamaan."Mas Bagas, ahh," desah Anya parau, menatap langsung ke dalam manik mata elang Bagas yang berkilat beringas sekaligus penuh puja. "Masukkan, Mas, saya sudah tidak sanggup menahannya lagi. Mas, ayo Mas, Mas Bagas sayang, ayo!""Sesuai keinginanmu, permaisuriku," geram Ba
Setelah hantaman gairah yang begitu beringas di depan cermin mereda, Bagas tidak membiarkan penyatuan mereka terputus begitu saja. Dengan sisa-sisa tenaga kekarnya, ia menggendong tubuh polos Anya yang sudah lemas tak berdaya, membawanya melangkah menuju bathtub .Bagas menurunkan Anya dengan teramat perlahan, menuntun Anya untuk duduk bersandar di tepi bathtub yang masih kering. Anya melenguh tipis, menyandarkan kepalanya yang terasa pening akibat pelepasan dahsyat tadi, sementara sepasang matanya menatap Bagas dengan tatapan sayu yang sarat akan cinta."Mas, saya sudah lemas sekali," ucap Anya dengan suara parau yang terputus-putus, napasnya masih menyisakan sisa-sisa badai gairah yang baru saja berlalu.Bagas tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu justru ikut masuk dan berlutut di hadapan Anya. Tatapan matanya yang semula beringas kini berubah menjadi begitu hangat dan penuh puja. Bagas memajukan tubuhnya, menunduk untuk mengecup lembut kening Anya, menyalurkan rasa sayang yang
Anya refleks menutup wajahnya dengan kedua tangan. Merasa teramat malu sekaligus terangsang hebat melihat pemandangan vulgar nan erotis dari pantulan diri mereka sendiri. Cermin sebagai saksi kenikmatannya."Mas, jangan lihat, saya malu," bisik Anya dengan suara yang bergetar.Bagas memeluk tubuh Anya yang menggantung dari belakang, menumpukan dagunya di bahu ramping sang asisten sambil menatap tajam pantulan mata sayu Anya di cermin. Ia menurunkan paksa tangan Anya dari wajahnya, membiarkan jemari mereka saling bertautan erat tanpa mengendurkan sedikit pun penyatuan intim mereka."Buka matamu, Sayang. Lihat ke cermin! Lihat bagaimana cantiknya dirimu saat saya miliki seutuhnya seperti ini," bisik Bagas dengan nada yang terdengar begitu romantis namun teramat panas, membuat jantung Anya berdentum dua kali lebih cepat. "Kamu adalah milik saya, dan pantulan di depan sana adalah buktinya."Bagas sengaja tidak langsung bergerak cepat. Ia membiarkan Anya menatapi pantulan tubuh mereka seje
"Ke apartemenku," jawab Bagas datar. "Kamu basah kuyup, Anya. Kamu butuh pakaian kering dan tempat untuk menenangkan diri."Anya mengerjap. Ia memang ingin menenangkan diri sebelum akan bertemu Gusti kembali. Bagas seolah tahu suasana hatinya yang sedang hancur. Namun, kata 'apartemen' itu membuat
"Tadi ... pelayan, Mas. Ada pelayan yang tidak sengaja menabrakku saat membawa nampan," dusta Anya dengan suara yang kecil. Gusti tertawa sinis. Bagi Anya, suara tawa itu terdengar seperti geraman predator yang mempermainkan mangsanya. Anya meringis ketika Gusti merenggut dagu Anya dengan keras,
“Tidak, Mas,” bisik Anya berbohong. Sudah tidak sanggup lagi rasanya berdebat dengan suaminya.Permainan menyakitkan Gusti pun dimulai. Anya hanya bisa meringis tiap kali pria itu menggunakan tubuhnya hanya untuk memuaskan hasrat. Tidak ada hal lembut yang bisa Anya rasakan, tidak seperti apa kata
[Puas sekali kemarin siang di hotel, Mas. Lembut banget kamu kalau lagi sama aku. Sampai ketemu di Surabaya minggu depan ya, Sayang.]Anya kesulitan napas setelah membaca pesan itu. Dadanya sesak luar biasa, jantungnya berdegup liar, dan pandangannya kabur tertutup air mata yang mulai menggenang.







