Beranda / Romansa / Paman, Bawa Aku Pergi / 66. Perhatian Mertua

Share

66. Perhatian Mertua

Penulis: Bunga
last update Tanggal publikasi: 2026-06-04 20:59:15

Anya tersentak pelan, berjalan menuju dapur bersih untuk mengambilkan segelas air putih hangat tanpa berniat menunjukkan kepatuhan yang berlebihan.

"Aku baik-baik saja, seperti yang Mama lihat. Gusti tidak perlu seberlebihan itu sampai harus merepotkan Mamanya yang baru saja menempuh perjalanan jauh dari luar negeri."

Anggun menerima gelas yang disodorkan Anya, meminumnya sedikit lalu meletakkannya kembali di atas meja kaca dengan gerakan yang teramat pelan dan penuh wibawa seorang nyonya besar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Paman, Bawa Aku Pergi   92. Puncak di Ujung Batas

    Anya tidak menjawab sedikitpun. Ia masih merasakan kenikmatan yang diciptakan Bagas. Pikirannya melayang jauh.“Sayang, masih kuat ditusuk pakai lidah saya?” tanya Bagas kembali, suaranya terdengar teramat parau, berat, dan basah di sela-sela paha Anya yang gemetar hebat.Matanya yang menggelap pekat menatap ke atas, menyaksikan bagaimana asisten cantiknya mencengkeram erat tepi bathtub marmer dengan kuat. Anya tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa melenguh panjang, menggelengkan kepalanya pasrah dengan air mata kepuasan yang kian deras membasahi pipi meronanya." Ahh, M-Mas Bagas, ahhh, emhh! " cicit Anya di sela napasnya yang terputus-putus. Tubuh moleknya masih menyentak halus, sisa-sisa gelombang pelepasan masif tadi membuat seluruh urat sarafnya terasa lumpuh sekaligus teramat peka. "T-Tolong jangan lepas dulu, jilat lagi lubang saya yang basah ini, Mas, ahh."Bagas menyunggingkan seringai sensual yang teramat beringas. Alih-alih menyudahi atau memberikan waktu

  • Paman, Bawa Aku Pergi   91. Candu yang Menolak Berhenti

    Tubuh Anya bergetar hebat di atas wajah Bagas. Puncak pelepasan yang dipicu oleh jilatan beringas sang CEO sudah berada di ujung urat sarafnya. Air matanya menetes, tangannya meremas rambut hitam Bagas kian erat seiring lenguhan panjang yang siap lolos dari belahan bibirnya." Ahhh! Mas Bagas, sedikit lagi, emhh, ahhh! " rintih Anya dengan suara yang terputus-putus.Bagas semakin gencar menyesap titik peka itu, menikmati bagaimana asisten cantiknya sepenuhnya bertekuk lutut di bawah kendalinya. Kamar mandi mewah itu benar-benar dipenuhi oleh kabut gairah yang teramat pekat.Drttttt! Drttttt! Drttttt!Samar-samar dari balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat, suara getaran keras ponsel Bagas yang tertinggal di atas meja nakas luar terdengar berdering tanpa ampun. Nada dering khusus itu terus berbunyi, seolah menandakan ada urusan yang teramat mendesak di luar sana.Bagas sempat menghentikan gerakan lidahnya sejenak. Rahangnya mengeras, menyadari bahwa panggilan di jam seperti ini bi

  • Paman, Bawa Aku Pergi   90. Kenikmatan Berbeda

    “Mas, aku masih mau. Tapi lemas,” jawab Anya, menutup wajahnya.Dengan dominasi yang tak terbantahkan, Bagas memegang pinggang Anya dan perlahan mendorongnya untuk bangkit."Berdirilah di hadapan saya!" perintah Bagas dengan suara bariton yang teramat serak dan dalam.Anya melenguh pelan, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk berdiri tegak di dalam bathtub yang licin, tepat di hadapan Bagas yang kini perlahan merebahkan diri, merebahkan punggung kekarnya dengan santai di dalam lengkungan marmer.Bagas menatap ke atas, memandangi setiap jengkal keindahan tubuh polos Anya dari sudut pandang bawah yang teramat intim. Tatapannya kemudian terkunci pada mahkota keintiman Anya yang masih memerah dan basah pasca pelepasan."Mas Bagas ... kenapa saya diminta berdiri seperti ini?" tanya Anya dengan suara parau yang bergetar, tangannya refleks bergerak sedikit ke depan untuk menutupi rasa malunya yang mendadak kembali membuncah.Bagas tersenyum sensual, meraih kedua pergelangan tangan Anya d

  • Paman, Bawa Aku Pergi   89.Puncak Dahaga di Bathtub

    Bagas benar-benar sudah berada di batas ketahanannya. Hasrat yang sedari tadi ditahan dan diulur kini berontak hebat, menuntut pelepasan yang sesungguhnya. Tanpa menunggu Anya kembali menurunkan kepalanya, Bagas mencengkeram pinggang ramping asisten cantiknya itu dengan kedua tangan kekarnya, lalu mengangkat tubuh Anya sedikit ke atas.Anya melenguh pelan, kedua tangannya refleks bertumpu pada dada bidang Bagas yang kokoh untuk menyeimbangkan tubuhnya. Dari posisi saling berhadapan di atas pangkuan, Anya bisa merasakan ujung kejantanan Bagas yang panas dan menegang sempurna kini kembali mengintip di depan gerbang keintimannya. Anya merasakan getaran dalam hatinya, bersama Bagas ia merasakan keindahan dalam kebersamaan."Mas Bagas, ahh," desah Anya parau, menatap langsung ke dalam manik mata elang Bagas yang berkilat beringas sekaligus penuh puja. "Masukkan, Mas, saya sudah tidak sanggup menahannya lagi. Mas, ayo Mas, Mas Bagas sayang, ayo!""Sesuai keinginanmu, permaisuriku," geram Ba

  • Paman, Bawa Aku Pergi   88. Sentuhan Lembut di Bathtub

    Setelah hantaman gairah yang begitu beringas di depan cermin mereda, Bagas tidak membiarkan penyatuan mereka terputus begitu saja. Dengan sisa-sisa tenaga kekarnya, ia menggendong tubuh polos Anya yang sudah lemas tak berdaya, membawanya melangkah menuju bathtub .Bagas menurunkan Anya dengan teramat perlahan, menuntun Anya untuk duduk bersandar di tepi bathtub yang masih kering. Anya melenguh tipis, menyandarkan kepalanya yang terasa pening akibat pelepasan dahsyat tadi, sementara sepasang matanya menatap Bagas dengan tatapan sayu yang sarat akan cinta."Mas, saya sudah lemas sekali," ucap Anya dengan suara parau yang terputus-putus, napasnya masih menyisakan sisa-sisa badai gairah yang baru saja berlalu.Bagas tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu justru ikut masuk dan berlutut di hadapan Anya. Tatapan matanya yang semula beringas kini berubah menjadi begitu hangat dan penuh puja. Bagas memajukan tubuhnya, menunduk untuk mengecup lembut kening Anya, menyalurkan rasa sayang yang

  • Paman, Bawa Aku Pergi   87. Pesona di Depan Cermin

    Anya refleks menutup wajahnya dengan kedua tangan. Merasa teramat malu sekaligus terangsang hebat melihat pemandangan vulgar nan erotis dari pantulan diri mereka sendiri. Cermin sebagai saksi kenikmatannya."Mas, jangan lihat, saya malu," bisik Anya dengan suara yang bergetar.Bagas memeluk tubuh Anya yang menggantung dari belakang, menumpukan dagunya di bahu ramping sang asisten sambil menatap tajam pantulan mata sayu Anya di cermin. Ia menurunkan paksa tangan Anya dari wajahnya, membiarkan jemari mereka saling bertautan erat tanpa mengendurkan sedikit pun penyatuan intim mereka."Buka matamu, Sayang. Lihat ke cermin! Lihat bagaimana cantiknya dirimu saat saya miliki seutuhnya seperti ini," bisik Bagas dengan nada yang terdengar begitu romantis namun teramat panas, membuat jantung Anya berdentum dua kali lebih cepat. "Kamu adalah milik saya, dan pantulan di depan sana adalah buktinya."Bagas sengaja tidak langsung bergerak cepat. Ia membiarkan Anya menatapi pantulan tubuh mereka seje

  • Paman, Bawa Aku Pergi   2. Tanda yang Terlihat

    “Tidak, Mas,” bisik Anya berbohong. Sudah tidak sanggup lagi rasanya berdebat dengan suaminya.Permainan menyakitkan Gusti pun dimulai. Anya hanya bisa meringis tiap kali pria itu menggunakan tubuhnya hanya untuk memuaskan hasrat. Tidak ada hal lembut yang bisa Anya rasakan, tidak seperti apa kata

  • Paman, Bawa Aku Pergi   1. Pesan Tak Diundang

    [Puas sekali kemarin siang di hotel, Mas. Lembut banget kamu kalau lagi sama aku. Sampai ketemu di Surabaya minggu depan ya, Sayang.]Anya kesulitan napas setelah membaca pesan itu. Dadanya sesak luar biasa, jantungnya berdegup liar, dan pandangannya kabur tertutup air mata yang mulai menggenang.

  • Paman, Bawa Aku Pergi   4. Bahasa yang Tak Terucap

    "Paman, dia keluar! Jas ini …!" Anya buru-buru melepas jas wol itu dengan tangan yang gemetar hebat.Bagas menerima jasnya dengan gerakan sangat tenang. "Tenanglah, Anya. Atur napasmu.""Paman harus pergi, cepat!" bisik Anya panik, matanya terus melirik ke arah pintu perpustakaan yang mulai terbuka

  • Paman, Bawa Aku Pergi   3. Sentuhan Ketenangan

    Aroma parfum maskulin yang elegan, seketika memenuhi indranya. Ini bukan aroma Gusti yang tajam dan mendominasi. "Sstt ... ini aku, Anya. Jangan takut," bisik Bagas tepat di telinganya.Bagas perlahan melepaskan tangannya. Anya berbalik, menyandarkan punggungnya pada pilar marmer yang dingin, menc

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status