Share

Pria Licik Itu.

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-08-09 19:02:28

Deru mesin SUV hitam yang melesat membelah jalanan menanjak Puncak yang diguyur hujan lebat malam itu terdengar mencekam. Di dalam kabin mobil yang remang-remang, ketegangan masih menggantung tebal. Bianca menatap pantulan wajah Arga dari kaca spion tengah dengan sorot penuh selidik. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya sejak tadi.

"Kamu bilang Naya itu adik perempuanmu," buka Bianca, memecah keheningan yang hanya diisi oleh derik wiper dan suara rintik hujan.

"Tapi cara kamu nyebut nama d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Dimanipulasi!

    "Tentu aja, Dek. Mas mau dia tahu rasa putus asa. Mas mau dia sadar kalau dia bakal selalu selangkah di belakang Mas," jawab Arga, meletakkan tabletnya. Tangan besar Arga terulur, menangkup sebelah pipi Naya dengan sentuhan yang posesif. Ibu jarinya mengusap sudut bibir wanita itu. "Kamu takut dia bakal berhasil nembus badai dan nemuin kita di kabin ini?" pancing Arga, matanya menyipit mencari celah kebohongan di wajah Naya. Naya menatap lurus ke dalam manik mata kelam kakak tirinya. Sudut bibirnya perlahan melengkung membentuk senyuman tipis yang sarat akan kepasrahan gila. Ia menyandarkan pipinya ke telapak tangan Arga. "Walaupun dia nemuin kita... kakiku udah terantai ke pilar ini, kan, Mas?" bisik Naya dengan suara yang mengalun membius, tak lagi menyembunyikan fakta bahwa ia mulai menikmati intimidasi ini. "Kuncinya udah ada di lambung Mas. Aku enggak bisa ke mana-mana, dan aku enggak mau lari ke mana-mana." Seringai iblis Arga merekah sempurna. Ia menarik tengkuk Naya

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Rekha Datang!

    "Geledah semuanya! Hancurkan dindingnya kalau perlu! Jangan sampai ada satu jengkal pun yang terlewat! Temukan Naya sekarang juga!" Suara raungan Rekha yang menggelegar membelah sunyinya malam, bersamaan dengan suara dobrakan keras. Pintu kayu jati rapuh dari rumah tua peninggalan keluarga Arga itu hancur berkeping-keping, ditendang hingga lepas dari engselnya oleh sang raja bisnis yang kini sepenuhnya berubah menjadi monster haus darah. Belasan anggota *Shadow Team* berpakaian serba hitam dengan senjata laras panjang merangsek masuk, menyisir setiap sudut rumah yang gelap dan pengap itu. Rekha melangkah di belakang mereka, napasnya memburu kencang, matanya yang semerah darah menyala di tengah kegelapan, mencari-cari sosok wanita yang bisa meredam kegilaannya. "Naya! Kamu di mana, Sayang?! Ini aku!" teriak Rekha, suaranya parau dan putus asa, membuka paksa setiap pintu kamar yang ia lewati. "Tuan Rekha..." Bima muncul dari arah kamar utama dengan wajah pucat pasi dan tangan se

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Enak, Dek!

    "Mas, otot di bahu kamu beneran kaku lagi, atau ini cuma alasan baru buat nyuruh aku dekat-dekat sama kamu?" Suara Naya mengalun pelan, hampir membelah keheningan kabin kaca yang diselimuti kabut pagi. Ia berdiri di dekat nakas, memegang botol minyak aromaterapi. Matanya yang sembab menatap lurus ke arah Arga yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang dengan kemeja setengah terbuka. Arga sedikit tersentak. Kilat terkejut melintas sejenak di manik matanya sebelum akhirnya berganti menjadi seringai miring yang begitu gelap. "Kenapa tanya gitu, Sayang? Kamu mulai ragu sama rasa sakit yang Mas rasain?" rintih Arga, memasang raut wajah terluka dengan nada suara yang sengaja dibuat bergetar. "Mas ini korban, Naya. Saraf di punggung Mas beneran nyeri tiap kali trauma itu datang..." "Mas Arga, stop," potong Naya. Langkah kakinya mendekat ke tepi ranjang, rantai besi di pergelangan kakinya bergemerincing halus. "Tangan kamu enggak gemetar sama sekali hari ini. Napas kamu juga stabil

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Ohh, Naya!

    "Kamu enggak pinter bohong, Adik kecilku," bisik Arga, menggeser wajahnya hingga hidungnya menyapu pipi Naya yang merona hebat. "Kamu suka kan diintimidasi begini? Kamu suka saat akal sehatmu dipaksa tunduk? Kamu butuh alasan supaya kamu bisa ngelepasin semua beban moralmu tanpa harus ngerasa bersalah, kan?" "Jangan ngomong sembarangan, Mas... kepalaku pusing dengarnya..." erang Naya tertahan, memejamkan matanya rapat-rapat saat embusan napas Arga menyapu telinganya. "Jangan mikir pakai kepala, Sayang. Pakai instingmu," perintah Arga dengan suara bariton yang mutlak, tak terbantahkan. Tangan besarnya menutupi punggung tangan Naya, memberikan tekanan lembut namun memaksa. "Pijat urat saraf itu pelan-pelan. Lemaskan ototnya buat Mas." Naya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga nyaris berdarah. Logikanya berteriak menyuruhnya lari, tapi tubuhnya benar-benar tak mau beranjak. Dengan perlahan, sangat perlahan hingga membuat napas Arga tercekat, jari-jari Naya mulai bergerak. Ia me

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Pijat Anuku, Naya

    Arga memejamkan mata, menyembunyikan seringai iblisnya. "Ke atas lagi, Sayang... urat pusatnya bukan di situ... urat di perut bawah Mas kram parah." "D-di sini, Mas?" tanya Naya ragu, tangannya perlahan memijat perut bagian bawah kakak tirinya yang mengeras karena otot-otot yang tegang. "Lebih ke bawah lagi, Naya. Di pangkal paha Mas... akhh! Sakit banget, Dek..." desah Arga dengan intonasi yang begitu rapuh, sengaja mendongakkan kepalanya agar terlihat sangat menderita. "Tolong pijit pelan-pelan urat di titik sensitif itu... atau darahnya bakal berhenti ngalir dan Mas beneran bisa lumpuh permanen." Tangan Naya seketika berhenti. Tubuhnya mematung kaku. Wajahnya memerah padam bercampur pucat pasi. "M-Mas... tapi itu... itu area sensitif kamu... aku enggak berani nyentuh sampai ke sana, Mas. Kita ini saudara..." "Saudara?! Di saat nyawa Mas lagi dipertaruhkan dan Mas bisa lumpuh, kamu masih mikirin status kita?!" bentak Arga tiba-tiba, suaranya pecah oleh isak tangis palsu ya

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Hampir Ketahuan

    Tangan besar Arga yang menyusup ke balik punggung Naya meremas pinggang sang adik tiri dengan keposesifan gila. Sentuhan yang tadi diminta sebagai 'pengobatan' kini berubah menjadi invasi yang membakar kewarasan. Arga terus memonopoli bibir Naya, menyesap setiap rintihan manis yang keluar dari tenggorokan wanita itu, mengubah niat suci Naya menjadi penyaluran gairah gelapnya. Naya menangis di sela ciuman memabukkan itu. Ia bingung, takut, sekaligus tak berdaya. Tubuhnya terlalu kecil untuk melawan tenaga Arga yang mendadak bangkit kembali. Hatinya menjerit, menyadari ada yang salah dengan kekuatan pria ini, namun manipulasi rasa bersalah yang ditanamkan Arga membuatnya tak berani memberontak keras. Ia takut Arga akan kembali 'sekarat' jika ia menolaknya. Setelah Naya benar-benar kehabisan napas dan tubuhnya melemas di pelukan Arga, barulah pria itu melepaskan pautannya. Arga menatap bibir Naya yang membengkak merah dengan napas yang kini memburu—bukan karena sakit, melainkan kar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status