แชร์

#006 Sekarang Apa?

ผู้เขียน: aisakurachan
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-08 16:08:55

“Tidak. Tidak usah. Tidak perlu, Heba.” Lea mencoba menghindar, saat Heba membantunya membuka baju. Itu pekerjaannya seperti memasang sandal pada kaki.

“Kau boleh membantuku dalam apa saja, tapi aku bisa mandi sendiri, dan memakai baju sendiri.”

Heba menelan keluhan, tak ingin terdengar kurang ajar. Ingat jika Putri yang ini memang aneh. “Setidaknya biarkan hamba membantu anda menggosokkan punggung. Anda tidak bisa meraihnya sendiri.”

Lea masih ingin menolak, tapi tak tahu harus menjawab bagaimana. Memang tangannya tak bisa menggosok bagian punggung. 

Biasanya Lea hanya meraih seadanya, atau menggunakan spon mandi panjang untuk menggosok punggung tengah. Benda yang tak mungkin ada di situ, meski pemandian itu luar biasa megah.

Tempat itu berupa kolam besar berair jernih. Berada di bawah naungan atap batu, disangga tiang batu besar, dengan hiasan ukir.

Batu yang menyusun lantai, telah digosok dengan halus. Meski tidak sampai mengkilap seperti marmer, tapi mulus. Mirip dengan lantai kamarnya tadi. 

Kekurangannya, pemandian itu tak memiliki tembok. Hanya tertutup oleh tirai tipis, yang membuat Lea merasa sedang berada di gazebo terbuka.

Lea tadi juga sempat memprotes, tapi Heba menenangkan. Menurut Heba semua pelayan di sini wanita, jadi tak perlu khawatir.

Masih menjadi masalah untuk Lea yang pemalu soal memperlihatkan tubuh, terutama saat tahu akan ada Heba di dekatnya selama mandi. 

“Baiklah, tapi untuk sekarang aku ingin mandi sendiri dulu, setelah itu kau bisa membantuku. Bagaimana?” Lea mencoba berkompromi. Heba tak mudah menerima. Curiga ini usaha Lea untuk menghindar.

“Aku akan memanggilmu nanti,” bujuk Lea.

Heba mungkin lebih muda dari Lea, tapi ketegasannya jauh lebih berkembang dari Lea.

Tapi Heba kalah karena status sebenarnya. Lea tak perlu membujuk, atau meminta. Jika dia memerintah dengan tegas, Heba akan menurut dan pergi. Sesuatu yang belum disadari Lea.

“Baiklah, Tuan Putri. Hamba akan menunggu panggilan itu.” Heba mundur ke balik tirai, belum jauh, tapi sudah cukup lumayan menurut Lea.

Lea membuka baju minim yang seharusnya berwarna putih itu, menjatuhkannya ke lantai. Baju itu berubah kecoklatan, setelah Lea memakainya duduk di pasir.

Perlahan dia turun ke air, melalui undakan batu yang ada di tepi kolam. Lea mendesah senang. Air itu segar dan dingin, mengusir gerah dan pasir yang menempel di tubuhnya. Lea mencelupkan seluruh tubuh, termasuk rambut, lalu bergerak menggoyangkan kaki, berenang dengan gaya bebas yang anggun. 

Satu-satunya olahraga yang Lea rela lakukan adalah berenang, dan dia sangat menyukai air. Kolam pemandian itu seukuran kolam renang yang biasa Lea kunjungi di waterboom, hanya lebih dangkal. Kedalamannya tidak lebih dari satu setengah meter.

Ukuran yang luar biasa itu, mungkin untuk memastikan semua istri mempunyai tempat untuk mandi. Ukuran kolam itu jelas bisa menampung lebih dari lima belas wanita.

Lea kembali menelan makian, saat Heba dengan santai menceritakan ayah Rasui memiliki lima belas istri resmi, dan entah berapa banyak selir tak resmi di luar sana. Jumlah itu bisa bertambah jika masih ingin. 

Mendengar kisah itu, Lea mulai menduga Nae lebih memilih mati karena hal ini. Hanya dugaan tentu saja, Lea masih tak bisa menyatukan dugaan itu dengan kenyataan Rasui mengenal Nae.

“Itu bukan urusanku!” Lea berteriak dalam hati lalu menepikan diri. 

Yang terpenting untuknya saat ini, adalah mencari tahu apa penyebab kejadian ajaib ini, dan bagaimana caranya kembali ke tubuhnya sendiri.

Namun sebelum itu, Lea ingin menyimpulkan soal tempat mendaratnya ini. Pertama, dia ada di daerah bergurun pasir. Nilai geografi Lea buruk tak pernah lebih dari C. Ini membuat Lea tak tahu persis daerah padang pasir ini dimana. 

Tebakan paling bagus adalah daerah Asia Barat, atau daerah Asia Selatan. Atau bisa jadi Afrika Utara. Perkiraan daerah yang terlalu luas. Dia harus bekerja lebih keras untuk menyimpulkan.

Lea melirik ke arah jubah Rasui yang diletakkan Heba di dekat bibir kolam, tak jauh dari bajunya. Lea berenang pelan mendekatinya.

Lea buruk dalam geografi, tapi dia botanis. Sentuhan sekilas, memberi tahu Lea jika kain itu terbuat dari linen, hasil olahan batang tanaman flax. Dan menurut sejarah yang yang dia baca, olahan flax untuk kain dimulai oleh orang Mesir kuno.

“Oh, tidak!” Lea mengeluh.

Kesimpulannya cepat terbentuk. Gurun pasir, dan kain linen memberinya jawaban Mesir kuno. Dia ada di suatu tempat di antara Afrika Utara.

Lea memijat kening, menenangkan diri. Dia kembali panik saat semakin yakin,  jika kesimpulan ini yang paling benar. Penampilan tubuhnya, gaya berpakaian Nae dan Rasui, bahkan Heba yang berupa tunik tanpa lengan, kini menjadi masuk akal. 

Nae mengingat salah satu pelajaran sejarah yang menampakkan foto gambar orang pada zaman Mesir kuno. Ada kemiripan dengan gaya Rasui, meski tidak sama persis.

Dan kesimpulan ini juga cocok dengan kenyataan Rasui tidak mengenal istilah tahun. Mesir kuno ada pada masa waktu lima ribu tahun sebelum masehi. 

Jadi kini masalah terbesarnya adalah waktu dan tubuh. Katakanlah dirinya berhasil menyeberangi laut tengah dan mencapai Eropa, Lea hanya akan masuk pada masa pra sejarah Inggris, bertemu pendiri Stonehenge, bukan keluarganya.

Dan kalaupun entah bagaimana dia kembali ke masanya, keluarganya tidak akan mengenali Lea lagi, karena terlalu cantik. Lea kembali ingin menangis, tapi apalah gunanya. Menangis sekarang tidak akan memberinya jalan keluar.

“This is shit!” umpat Lea. Dia tak tahu harus berbuat apa sekarang.

“Apa itu ‘shit’?”

“AGHH!” Lea memekik kaget, saat mendengar suara berat kali-laki.

Dengan otomatis menarik jubah Rasui yang ada di tangannya, menutupi bagian depan tubuhnya yang telanjang. Wajah Lea yang pucat, memandang pemilik jubah itu, yang berdiri menatap ke bawah. Menatap dirinya.

“APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?! SUDAH BERAPA LAMA?!” bentak Lea. “Pria tak boleh ada di sini!”

Lea tentu saja panik. Sejak tadi dia berenang bebas, dengan tubuh telanjang. Rasanya Lea ingin menyusup masuk ke dalam bumi, membayangkan jika Rasui menatapnya sejak tadi.

Rasui kini mengangkat alis. “Kau bicara apa? Serail hanya terlarang untuk pria selain aku. Istana ini milikku! Aku bebas berada dimana saja!”

“Istana ini milikmu, tapi aku tidak!” seru Lea, menunduk untuk menebar jubah itu di dalam air, berusaha menutupi seluruh tubuhnya.

Dia melewatkan bagaimana Rasui mendekat dengan langkah cepat, mengulurkan tangan menarik wajah Lea.

Lea kembali memekik,  selain terkejut, tangan Rasui mencengkeram terlalu kuat, sedikit menyakiti pipinya.

“Kau penyusup, dan jelas aku juga tak ingin memilikimu! Tapi ingat, tubuh itu adalah milikku. Milik Nae, istriku! Ingat itu!” 

“Kau pikir wanita itu barang yang bisa kau miliki begitu saja?!” Lea emosi, dan membentak. Sambil menepis tangan Rasui, dan mendorongnya menjauh. 

Usaha yang hanya bisa berhasil karena Rasui memang ingin melepaskan wajahnya. Lea hanya menggunakan satu tangan. Satu lagi tangannya masih mencengkram jubah Ra yang menutupi tubuhnya.

“Nae istriku, tentu saja dia milikku.”

“Menggelikan! Pikiranmu dangkal, picik, dan egois! Status istri bukan berarti kepemilikan tanpa batas. Kau pikir wanita itu boneka?!” bantah Lea, sinis. Jijik dengan pola pikir Rasui. 

“Tapi pendapat apa yang bisa aku harapkan dari seseorang yang memiliki ayah dengan lima belas istri?” Lea mengomel dalam hati. 

Sikap Rasui yang meremehkan wanita jelas hasil ajaran ayahnya.

Kesinisan Lea, kembali membuat Rasui terperangah. Baru sekali ini dia bertemu dengan wanita yang begitu berani membantahnya.

“Bagaimana kau bisa di dalam sana?! Kau membuat Nae terlihat buruk” ketus Rasui. Sikap klasik pria, lebih menyukai wanita penurut, dan mencela Lea karena melawan.

“Apa kau benar-benar bodoh dan sudah lupa?! Aku tidak tahu! Berapa kali aku harus mengulang?!” 

Mata coklat Rasui menatap Lea tajam, tapi perlahan mata itu melembut.  Meski ucapannya sangat pedas, Lea dengan mudah menemukan kelembutan di sana.

Lea paham. Mata lembut itu untuk Nae, ucapan pedas itu untuk dirinya. Dan kini pria itu mengalami dilema, tak tahu harus bersikap seperti apa pada Lea. Kemudian Rasui memilih pergi, setelah melirik Lea sejenak, dia berbalik meninggalkan kolam.

Lea sedang menggosok wajahnya, saat Heba datang menghampiri.

“Anda baik-baik saja, Tuan Puteri?” Heba menunduk di atas kolam.

Lea mengangguk. Rasui tidak akan mungkin menyakiti tubuh Nae, cekraman itu tidak sengaja pastinya.

Lea kini mengerti sepenuh hati jika Rasui menginginkan pernikahan ini, dia menginginkan Nae. Melihat mata sedih itu, keinginan itu lebih dari nafsu. 

Yang menjadi masalah adalah Nae. Dia memilih mati, daripada menikah dengannya. Misteri yang membuat Lea masih tak habis pikir.

Lea menurunkan tubuh, menenggelamkan kepala ke dalam air. Lagi-lagi berharap air akan membawanya kembali ke masa depan, meninggalkan tempat itu.

Lea tak ingin tersangkut dalam masalah Nae dan Rasui, yang terlihat lebih kusut daripada lalu lintas London pada hari senin.

“Apa aku harus mati?” Batin Lea berbisik. Tapi kemudian dia mengangkat kepalanya kembali ke atas air. Berbeda dengan Nae, Lea lebih memilih menghadapi Rasui daripada mati.

“Well, setidaknya dia sedap dipandang.” Lea menyebut satu-satunya nilai plus dari pria itu.

Selain wajah, Lea tak menemukan hal lain yang pantas dipuji darinya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Haruki Matsuda
wkwkwk..masih ada yg sedap dipandang ya Lea..
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #399 Aku Tahu Kau Di Sini!

    Ra berjam-jam duduk di ruang tengah, hanya diam, memandang pintu kamar Lea. Dia bahkan tak peduli saat suasana sudah berubah gelap. Untung saja beberapa lampu di ruang utama dilengkapi sensor cahaya, jadi rumah itu tidak gelap gulita, meski Ra tidak bergerak sama sekali sejak sore tadi.Makan malam telah lewat dan tidak ada yang peduli. Ra juga tidak ingin makan, dan dia juga tidak berani bertanya kepada Lea soal makan malam. Takut membuat dia kembali menangis lebih parah.Ra setengah mati ingin tahu kenapa Lea menangis. Tebakan terbaiknya, karena masalah dari ayah atau ibunya. Ra tentu paham jika saat ini mereka berdua masih menjadi ‘beban’ bagi Lea.Kurang lebih sama seperti Edrice dan juga Sudi.Tapi berbeda dari mereka berdua, Ra tidak tahu apapun soal Daisy dan Mark secara mendalam. Dulu Nae dan dirinya berteman, jadi dia cukup tahu apa yang terjadi dalam rumah mereka.Untuk Daisy dan Mark, Ra hanya tahu apa yang tertera di atas kertas. Dia hanya tahu kehidupan mereka minus, aki

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #398 Kau Menangis Lagi!

    “Apa botanist sebelum aku berhenti bekerja karena keracunan?” tanya Lea, curiga.Ra tertawa terbahak. “Tidak, Lea. Dia pindah.”Ra yang memaksanya pindah sebenarnya. Dia tidak memecat, hanya dipindahkan.Lea secepatnya berpaling. Tawa renyah itu kurang lebih berefek sama dengan senyuman Ra. Lea merasakan gelitik hangat di tubuhnya saat mendengar itu.“Hmm, jadi taman ini ada semenjak lama?” tanya Lea.Penilaian yang muncul karena mendengar pemilik sebelumnya adalah Duchess. “Ya. Lalu pemilik rumah ini membelinya begitu saja. Dia merombak sebagian besar rumah tapi bagian luar semuanya kurang lebih sama. Ah.. dia menambahkan kebun lavender itu, lalu...”Ra menjelaskan sambil berjalan meninggalkan area kebun beracun itu, menuju taman yang lebih normal. Taman bunga musim semi yang ada di tepi kolam renang.Tidak ada yang harus dijelaskan di sana, jadi mereka terus berjalan kembali ke rumah, melalui pintu belakang yang tembus ke dapur.“Kau sepertinya tahu banyak tentang pemilik rumah ini

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #397 Ini Semua Beracun!

    Ra tersenyum. Tidak terlalu terkejut. Meski ceroboh, Lea tidak bodoh. “Aku boleh mencoba, asal bisa membelinya. Itu berarti aku hanya bisa mentraktir dari deret yang ini. Bukan di sebelah sana.”Ra menunjuk deretan wine berusia muda. Meski bisa, tentu saja Ra tidak dengan bodoh menawarkan wine mahal. Dia tetap berakting sebagai pegawai. Lea akan kembali curiga jika dia menawarkan wine mahal.“Anggap saja ucapan selamat datang. Aku senang akhirnya tidak harus tinggal di sini sendiri lagi.”Lea ingin menangis, tapi kali ini sebabnya jelas. Ra tersenyum padanya, membujuk. Lea tahu benar kepalanya tak akan menggeleng. Tapi karena hatinya merasa tidak seharusnya dia menerima penawaran itu, kepala Lea juga tidak mengangguk.Namun Ra tetap menerjemahkan sikap diam itu sebagai iya.Dia bangkit, mengambil salah satu botol yang menurutnya cukup lumayan. Tidak terlalu murah, tapi tidak mahal luar biasa. Dengan gerakan tangan yang cekatan, Ra mengambil pembuka botol dan dua buah gelas.“Warnanya

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #396 Selamat Datang

    “Apa kau baik-baik saja? Kenapa kedua telingamu merah sekali?” tanya Ra, sambil mengerutkan kening.Tangannya terangkat, ingin menyentuh telinga Lea, dan memeriksa apa yang salah, tapi tangan itu berhenti di udara lalu mengepal. Ra sadar betapa buruknya ide untuk menyentuh Lea saat ini.Lea tidak melihat gerakan canggung itu, karena dia sibuk menggeleng. Mengumpulkan akal sehat.“Aku baik.” Lea menggosok telinganya yang sangat hangat, sambil menunduk. Kali ini Lea sama sekali tidak berani memandang Ra. Dia mungkin tidak menangis lagi, tapi telinga memerah juga bukan hal yang pantas untuk ditunjukkan di hadapan pria manapun.“Mmm… Apa kau mau berkeliling sekarang atau nanti saja? Kau masih lelah?” Ra mengutarakan maksud panggilannya tadi.“Oh... Sekarang saja. Aku tidak lelah!” Lea setuju dengan sangat cepat. Dia siap mengisi kepalanya dengan tugas dan tanggung jawab. Agar pikiran kotor dan nakal itu lekas hilang dari otaknya.“Kalau begitu, mari.” Ra mendahului Lea melangkah untuk m

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #395 Aku Tidak Mengerti!

    “Benar. Rumah ini kosong sebenarnya, jadi siapa saja boleh menempati kamar mana saja.”Bantahan yang telah Ra siapkan sejak kemarin, mengantisipasi jika Lea curiga. Dan memang benar dia curiga.“Oh... Apa tidak ada kamar khusus pegawai atau apa?” Meski bebas menempatinya, Lea merasa tidak nyaman.Dia merasa aneh jika harus menempati kamar semewah ini, dan masih dibayar. Lea merasa wajib membayar, jika menempati kamar semewah ini.Ra menggeleng. “Semua kamar di rumah ini seperti ini.”Tentu saja ada kamar tamu yang lebih sederhana, tapi untuk apa mengatakannya pada Lea sekarang? Dia hanya harus membiasakan Lea tinggal di kamar ini. “Apa kau ingin aku membantu membereskan barang?” tanya Ra.Lea yang masih bingung melihat keadaan kamarnya yang terlalu mewah, menggeleng seketika.“Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Dan terima kasih atas bantuannya.” Lea mengangguk dan tersenyum.Ra membalas senyuman itu hampir seketika. Lea menelan ludah. Senyum itu pastilah tidak menyehatkan, karena jantung

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #394 Aku Ingat!

    “Kamarmu akan ada di sebelah sana.”Ra menunjuk pintu kamar kayu, yang ada di sebelah ruang duduk. Kamar yang memang sudah disiapkan untuk Lea. Kamar yang memiliki pemandangan paling bagus di rumah ini. Dan tentu saja paling luas.Tapi tentu kenyataan itu tidak perlu dikatakan, karena sudah pasti Lea justru akan menolak kamar itu jika tahu kamar itu istimewa.Lea mengangguk, dan kini mengamati Ra, yang sedang menjelaskan detail rumah, soal dapur dan lain sebagianya.Melihat wajahnya dengan lebih normal, saat kabut pesona tak lagi mengganggu otaknya. Lea menyadari sesuatu, wajah Ra terlihat akrab. Ini bukan pertama kali dia bertemu dengannya.“Apa kita pernah bertemu sebelum ini?” tanya Lea.Ra terdiam saat itu juga, dan berpaling memandangnya. “Kau mengenaliku?”Ra mencoba menekan antusias yang muncul dalam hatinya, karena hal ini akan terlalu indah untuk menjadi nyata. Lea mengenalinya adalah hal mustahil yang terus dia harapkan akan menjadi nyata, setiap harinya.“Aku ingat! Aku t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status