LOGIN😢😢😢
PULUHAN MUSIM SETELANYA"Yang Mulia! Jangan berlari! Bagaimana dengan kandungan Anda!"Tapi wanita itu, mengabaikan teguran dan tetap berlari kecil. Kandungannya belum seberapa besar. Dia akan baik-baik saja.Berita yang baru saja dia terima tadi, telah membuatnya melupakan segalanya. Dia hanya ingin cepat menemuinya. Sambil memegang perutnya, ia berjalan cepat menuju kamar ayahnya.“Kau disini?” Dia kaget saat melihat suaminya berdiri di depan pintu kamar ayahnya.Suaminya mengangguk. “Aku akan menunggu di sini, kau masuk saja ke dalam.”“Kenapa begitu? Kau ikut saja!”Pria itu menggeleng, sambil mengusap rambutnya. “Aku yakin dia hanya ingin berbicara denganmu.”“Beliau hanya menunggu Anda.” Budak yang ada di depan kamar, ikut melapor sambil membungkuk padanya.“Terima kasih Daka. Dan tolong pertimbangkan tawaranku sekali lagi. Aku tidak ingin kau terus bekerja. Aku akan mempersiapkan rumah untukmu. Kau bisa beristirahat dengan nyaman di sana.” Budak bernama Daka itu membungkuk, me
Saat berbalik kembali ke Osiris, dia melihat pemandangan yang cukup mengganggu, karena ada seorang anak remaja tampak tersenyum sambil menatap benda berdarah yang ada di tangannya.Sudah jelas itu adalah mata yang diambil dari kepala Seth.“Jangan katakan kau akan menelannya!” Ra tiba-tiba teringat kata-kata Seth soal menelan darahnya.“Ewww! Tidak! Kau pikir aku apa?!” Osiris mengernyit jijik.“Lalu apa yang akan kau lakukan?” Ra tak habis pikir dengan apa yang akan dilakukan Osiris dengan bola mata.Osiris tidak menjawab. Dia merogoh ke dalam baju mengambil sebuah.... Tongkat. Ra tidak tahu harus menyebutnya apa.Dibanding tongkat, benda itu lebih mirip kunci raksasa, karena besarnya hampir sama dengan lengan. Bagian kepala kunci adalah lubang kosong berbentuk lonjong. Ada sebuah penyangga yang mencuat di tengah bagian kepala kunci itu. Bagian yang membuat benda itu tidak terlihat seperti kunci. Osiris tersenyum sejenak, untuk merayakan kemenangannya ini, lalu dengan wajah khidmat
Tapi pukulan yang baru saja mendarat di punggung tangannya, bahkan tidak membuat Ra merasa geli.Ini adalah pukulan yang yang tidak jauh berbeda dari pukulan manusia biasa. menandakan jika kekuatan Seth sudah mulai terpengaruh oleh darah Ra.Hanya saja si empunya tubuh tidak menyadarinya. Dengan baik hati, Ra segera berencana untuk membuat Seth menyadarinya.Pada ayunan yang berikutnya, Ra menangkap tongkat Seth dalam sekali cekal. Selain kekuatan, kecepatan Seth juga sudah jauh menurun, dan dia masih tidak menyadarinya, karena terlihat sangat kaget saat Ra dengan mudah menangkap tongkatnya itu.Dia merasa sudah mengayunkan tongkat secepat yang dia bisa. Selain yakin dengan kecepatan, Seth juga yakin kekuatan hantaman yang dia keluarkan, seharusnya akan membuat Ra terpental, karena itu Seth terlihat tertegun.Apalagi saat Ra dengan merebut tongkat itu dengan sangat mudah.Sesaat Seth berdiri diam sambil memandang kedua tangan yang kosong, lalu beralih pada luka yang ada di dadanya. L
Ra bangkit setelah berhasil membersihkan seluruh pasir di wajahnya. Kini dengan jelas, Ra bisa melihat pertarungan antara Osiris dan Seth di depan matanya.Saat itu juga dia merasa seperti anak kecil, karena apa yang dilakukannya bersama dengan Urhi tadi, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang dilihatnya saat ini.Dia tahu bagaimana kemampuan Osiris, dan kini dia sedang mengerahkan seluruh kemampuan itu.Osiris terlihat seperti menari, lincah menghindari tongkat Seth, sekaligus menghindari tendangan dan pukulannya. Dan balasan dari Osiris sebenarnya cukup akurat, dia mengenai beberapa bagian tubuh Seth.Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, perbedaan ukuran tubuh ada juga kekuatan, segera saja terlihat.Meski Osirs bisa menghindari hampir semua pukulan, jelas terlihat jika dia cepat sekali kehabisan nafas, sementara Seth sama sekali belum berkeringat.Osiris hebat, tetapi kehilangan sebagian kekuatannya tentu saja berakibat besar. Ra meraih pisau pemberian Giza, lalu
Urhi dengan cermat melihat kesempatan, dan menusukkan pedangnya. Dia mengincar leher, tapi Seth memiliki reflek yang bagus, dan menghindar pada detik terakhir. Pedang Urhi hanya menusuk lengannya.Tapi Urhi tetap gembira, karena itu adalah luka terbesar yang bisa dia berikan pada Seth selama mereka bertarung.Namun, kegembiraan itu tidak seiring dengan perasaan Seth.Dia kembali menggeram marah seperti tadi, dan Ra kembali sadar jika mengendalikan orang lain, bukanlah satu-satunya kekuatan milik Seth.Detik berikutnya Ra sadar kenapa Seth dijuluki Dewa Badai.Angin yang sangat kencang mendadak berhembus, dan pasir yang ada disekitar mereka seolah tertiup dan menghambur ke segala arah.Terdengar suara Urhi terbatuk, dan Ra adar apa yang membuatnya batuk, karena yang berikut, dia juga terkurung di dalam pusaran pasir, dan butir pasir lembut itu menyerbu tenggorokan dan juga matanya.Dan pasir itu semakin mengurungnya. Ra mencoba mengayunkan tangan, tapi dia hanya menyentuh angin dan pas
Ra tentu saja mengayunkan pisaunya ke arah punggung Seth, berharap mengakhiri pertarungan ini sebelum menjadi menyedihkan.Tapi gerakan Seth lebih cepat dari apa yang dibayangkan, pria itu berbalik lalu menangkis pisau yang menghujam ke punggungnya. Dengan sentakan kecil saja, dia berhasil melontarkan Ra menjauh dari dirinya.Giza dan juga Urhi yang mencoba untuk menyerang, dengan mudah dihindari. Dan setelah berhasil melontarkan Ra, dia kembali menyatakan tongkatnya, ke arah mereka berdua.Giza yang kali ini tidak beruntung, tongkat itu menghantam sisi kanannya. Giza mengeluh. Dia tidak terlontar seperti Amun yang sampai saat ini belum kembali, karena terlontar terlalu jauh, tapi tetap merasa tubuhnya baru saja dihantam oleh seonggok batu besar. Padahal hanya bagian kecil dari tongkat itu yang mengenai tubuhnyaUrhi kembali mengayunkan pedang, kali ini ditangkis menggunakan tongkat Seth.“Kau putra dari RA rupanya,” kata Seth, mengenali Urhi. “Dan kau membantu Horus? Ini menarik s







