LOGINmajuuuuuu ☝️☝️
Urhi dengan cermat melihat kesempatan, dan menusukkan pedangnya. Dia mengincar leher, tapi Seth memiliki reflek yang bagus, dan menghindar pada detik terakhir. Pedang Urhi hanya menusuk lengannya.Tapi Urhi tetap gembira, karena itu adalah luka terbesar yang bisa dia berikan pada Seth selama mereka bertarung.Namun, kegembiraan itu tidak seiring dengan perasaan Seth.Dia kembali menggeram marah seperti tadi, dan Ra kembali sadar jika mengendalikan orang lain, bukanlah satu-satunya kekuatan milik Seth.Detik berikutnya Ra sadar kenapa Seth dijuluki Dewa Badai.Angin yang sangat kencang mendadak berhembus, dan pasir yang ada disekitar mereka seolah tertiup dan menghambur ke segala arah.Terdengar suara Urhi terbatuk, dan Ra adar apa yang membuatnya batuk, karena yang berikut, dia juga terkurung di dalam pusaran pasir, dan butir pasir lembut itu menyerbu tenggorokan dan juga matanya.Dan pasir itu semakin mengurungnya. Ra mencoba mengayunkan tangan, tapi dia hanya menyentuh angin dan pas
Ra tentu saja mengayunkan pisaunya ke arah punggung Seth, berharap mengakhiri pertarungan ini sebelum menjadi menyedihkan.Tapi gerakan Seth lebih cepat dari apa yang dibayangkan, pria itu berbalik lalu menangkis pisau yang menghujam ke punggungnya. Dengan sentakan kecil saja, dia berhasil melontarkan Ra menjauh dari dirinya.Giza dan juga Urhi yang mencoba untuk menyerang, dengan mudah dihindari. Dan setelah berhasil melontarkan Ra, dia kembali menyatakan tongkatnya, ke arah mereka berdua.Giza yang kali ini tidak beruntung, tongkat itu menghantam sisi kanannya. Giza mengeluh. Dia tidak terlontar seperti Amun yang sampai saat ini belum kembali, karena terlontar terlalu jauh, tapi tetap merasa tubuhnya baru saja dihantam oleh seonggok batu besar. Padahal hanya bagian kecil dari tongkat itu yang mengenai tubuhnyaUrhi kembali mengayunkan pedang, kali ini ditangkis menggunakan tongkat Seth.“Kau putra dari RA rupanya,” kata Seth, mengenali Urhi. “Dan kau membantu Horus? Ini menarik s
Dua mata kontras milik Seth memandang Ahmose awalnya, mulutnya terbuka ingin bertanya, tapi kemudian mata itu melirik lebih jauh, dan menangkap bayangan kelompok manusia lain.Seth memicingkan mata, mengamati mereka satu demi satu. Selama beberapa saat, gurun yang sunyi itu, menanggung ketegangan yang nyaris membuat leher Ra terasa seperti tercekik. Tapi dia menggelengkan kepala.Tidak ingin terintimidasi. Seth bukan dewa yang tidak terkalahkan. Dia tak lain adalah makhluk menyebalkan yang sejenis dengan Osiris. Ra mengingat ini dalam hati, agar tidak gentar.Penampilan Seth seperti orang kebanyakan. Dia memakai baju seperti orang-orang yang dia temui saat di pasar. Hanya pakaiannya lebih rapi seperti bangsawan. jika melihat dari segi itu Seth tidak lebih dari orang biasa. Ra merasa tak perlu takut.Sayangnya, hal berikutnya yang diucapkan oleh Urhi, membuat Ra mengumpat karena usahanya untuk memanusiakan Seth, menjadi percuma.“Dia terang terang sekali! Seperti Ayahku,” gumam Urhi.
Tidak seberapa lama, mereka telah meluncur di udara. Mereka menemukan jendela yang cukup besar tadi, sehingga tidak terlalu sulit untuk keluar dari sana.Ahmose sama seperti yang lain, tidak terlalu menyukai ide terbang. Wajahnya yang sudah pucat menahan sakit, semakin pucat saja akibat mual dan pening. Tapi untung perjalanan mereka tidak lama, Ra tidak sampai merasa pusing, karena mulai terbiasa.Giza dengan lihai mengendalikan burung itu, lalu mendarat pada gurun pasir luas yang ada di luar kota Byblos. Tidak jauh dari tempat mereka mendarat kemarin, hanya kali ini Giza tidak memilih tempat di sekitar bukit.Dia memilih gurun lapang tanpa penghalang apapun. Lebih cocok untuk tempat pertarungan.Ra mendorong Ahmose turun. Sekali lagi tanpa memandang bagaimana lukanya.Ahmose mengumpat tanpa malu-malu, saat kakinya yang sakit dengan terpaksa mendarat terlebih dulu. Sudah pasti kaki itu tidak akan pernah bisa diselamatkan lagi, karena sekarang telah bengkak menghitam.“Sebentar jangan
Amun dan Urhi menatap Giza Malam dengan mata tak percaya. Tidak mengerti bagaimana jalan pikirannya. Yang jelas jalan pikiran Giza Malam berada dalam gelombang yang berbeda dari kebanyakan manusia."Aku rasa dia tampan, jika dia bisa menghasilkan anak seperti ini." Ra menunjuk Ahmose yang masih ada di bawah kakinya. Dia tentu tidak akan menyebut jika beberapa Dewa akan berwujud seperti Thoth yang tua renta. Tidak perlu menjelaskan kepada Giza soal ini, karena mungkin dia akan berubah pikiran soal membantu melawan Seth.Giza terlihat mengangguk puas. Meski sedikit gila, Ra akan menghargai bantuan Giza.Ra kembali memandang Amun yang kini menatapnya dengan penuh amarah.“Tidak perlu terlalu kesal dengan kekalahan ini. Kau kalah karena terlalu mengandalkan kekuatan untuk membaca pikiran.”Ra memberi sedikit nasehat, karena dia ingin Ahmose tidak mendendam. Pertarungan ini bukan antara dirinya dengan Ra sebenarnya.“Kekuatan itu hebat, tapi begitu aku tahu kelemahannya, maka aku bisa de
“Hentikan!” Ahmose membentak Giza, dan kelengahan itu dimanfaatkan oleh Ra.Ra mengayunkan pukulan, dan tentu saja Ahmose menghindar dengan mudah. Meski berusaha untuk menggerakkan tangan dan tubuhnya dengan reflek, tapi saat menyerang terlebih dahulu seperti ini, mau tidak mau tersusun rencana dalam kepala Ra. Rencana yang tentu saja terbaca oleh Ahmose, meski dengan bersusah payah, akibat gangguan dari Giza.Tapi bukan berarti Ra akan menyerah, meski banyak serangannya bisa dihindari, Ra terus menyerang sambil berusaha menjejalkan pengetahuan soal pengolahan biji wijen ke dalam kepala Ahmose.Pengolahan yang sedikit rumit dengan proses panjang berbelit. Dengan senang hati Ra memikirkan setiap detail mulai awal proses mengekstrak minyak wijen.Berkonsentrasi pada hal itu, gerakannya kini murni dituntun oleh insting dan reflex tubuh yang terbiasa berlatih bersama Osiris. Serangan yang akhirnya membuat Ahmose terdesak. Dia berusaha menangkis pukulan dari Ra, tapi tinju dan juga tendan







