LOGIN😏😏 duh kok bisa ya #pura2gatahu
“LEA!”Michelle berteriak nyaring, saat melihat Lea sedang mengantri lift.Tanpa peduli pandangan orang disekitarnya, Michelle berlari menyambut Lea, sementara jas laboratorium berkelebat di sekitar tubuhnya. Dia memang punya kebiasaan memakai jas itu begitu turun dari mobil.Lea sendiri, menyimpan jasnya dengan rapi di tas, dan baru akan memakainya nanti setelah sampai di ruangannya.Michelle adalah teman akrab Lea, dan dia juga bekerja sebagai peneliti di laboratorium yang sama dengan Lea. Pelukan hangat adalah hadiah wajar setelah akhirnya melihat Lea kembali bekerja setelah sekian lama.Pelukan itu terlalu hangat malah, karena terlalu erat, dan selangkah lagi meremukkan tubuh Lea. Lea sudah mengambil jeda waktu tiga hari, dari hari kepulangannya dari rumah sakit, sebelum kembali bekerja, agar tubuhnya lebih kuat. Tapi tetap saja, tubuh Lea yang sedikit tipis kalah telak oleh pelukan Michelle yang tebal.Tubuh Michelle tidak kecil, dia sedikit gempal. Tapi tidak gemuk, Lea akan men
“Aku tidak akan pernah lelah memintamu meninggalkannya lagi, karena aku ingin kau meninggalkannya dengan berani. Aku ingin kau merasa menang darinya, Mom. Bukan melarikan diri.”Lea tidak bisa menyeret ibunya untuk keluar dari rumah itu begitu saja, karena keadaan mental Daisy yang tidak stabil.Lea pernah melakukan ini sekali, tapi dengan mudah ayahnya meminta ibunya kembali dan dia patuh karena takut. Perasaan inferior yang dimiliki Daisy, membuatnya sangat sulit melepaskan diri dari racun Mark. Lea menyadari ini, saat melihat bagaimana ibunya dengan gemetar memilih untuk kembali, padahal tahu hanya neraka yang menunggunya jika kembali bersama dengan Mark.Sayangnya Daisy sudah merasa terbiasa dengan neraka itu. Dia terbiasa oleh rasa panas dan api yang ada di rumah itu, karena sudah menjalaninya selama bertahun-tahun. Jadi meski saat dia terluka atau sakit, Daisy sudah terbiasa dan menganggapnya bagian dari hidup.Semenjak itu Lea tahu jika pekerjaan membujuk ibunya meninggalkan ay
Dan kini Ra telah membelokkan mobil ke arah jalan menuju apartemen Lea yang mana berarti ia tahu alamat Lea.“Hmm… pihak rumah sakit telah memberikan info alamat Anda kepada saya tadi.”Ra bisa merasakan rasa hangat mengaliri tangan dan kakinya, lega karena berhasil membuat alasan yang sangat baik.“Oh…” Lea mengangguk maklum, tentu saja percaya dengan alasan itu. Tidak ada alasan baginya untuk curiga.Dia memang sudah menghafal alamat Lea di luar kepala, dan bukan hanya alamat, tapi seluruh laporan yang diberikan oleh Marin tentang Lea.Ra sudah menghafal isinya, karena begitu sering membacanya selama setahun lebih menanti Lea membuka mata.“Apartemen paling ujung.” Lea menunjuk bangunan paling ujung di jalan itu.Semakin mendekati gedung apartemen Lea, kerutan di kening Ra semakin dalam. Dia mengernyit karena bangunan apartemen itu sangat tidak layak menurut Ra.Ra tahu dimana area apartemen Lea, tapi baru hari ini dia melihat bagunannya secara langsung. Dia tahu area tempat tinggal
“Kau yakin baik-baik saja?” tanya Daisy, melihat Lea mengangkat tas yang berisi barang-barang yang dibawanya pulang.Lea berjalan keluar lift sambil memutar bola mata. “Mom, tas ini hanya berisi tiga potong baju dan sikat gigi. Aku bisa membawanya sendiri.”Dia tinggal di rumah sakit, bukan sedang berlibur. Barang bawaannya tentu sangat minim, karena Daisy selalu membawa baju ganti secara rutin dan membawa pulang yang kotor.Daisy tersenyum. Dia tentu hafal sifat Lea yang selalu tak ingin menyusahkan. Saat sakit atau apapun, Daisy harus lebih sering bertanya tentang keadaannya, karena Lea pasti akan diam dan menyembunyikan keadaan itu dari dirinya.“Dan aku sebenarnya bisa pulang sendiri naik taksi. Tidak perlu mengantar. Seharusnya kau beristirahat saja saat liburan seperti ini.” Lea menggerutu, karena ibunya memakai jatah liburnya yang berharga untuk menemaninya pulang. Padahal Lea merasa tidak perlu ditemani, dia bisa pulang sendiri ke apartemennya.Daisy menggandeng lengan Lea saa
Tapi sampai di rumah sakit, Ra justru kebingungan. Dia hanya berdiri di depan area VVIP. Sadar tak mungkin bisa menemui Lea sekarang juga.Dia bukan siapa-siapa baginya. Dia bukan sanak saudara apalagi kekasih. Hanya orang asing. Dia tidak berhak ada bersamanya saat ini.Terdengar langkah terburu-buru di belakangnya, dan Ra segera menyingkir sambil menunduk. Daisy juga nyaris berlari, tergesa menuju kamar Lea.Daisy tentu juga sudah mendapat kabar soal Lea. Dan dia datang sendiri, karena Mark sepertinya kembali tidak peduli dengan keadaan anaknya. Ra sesaat merasa iri dengan status keluarga, dia juga ingin melihat bagaimana keadaannya. Kemarin malam Ra menunggunya sampai nyaris dini hari, tidak terlihat perubahan apapun. Kini Lea sudah membuka mata.“Kau tidak masuk? Kenapa hanya di sini?” Ra menoleh, melihat Stefan yang terlihat heran, menghampirinya.Ra menggeleng. “Tidak perlu. Di sini saja.”Stefan mengerutkan kening. Dia tahu berapa kali Ra menjenguk penghuni kamar itu. Catatan b
“Aku tidak terlalu ingat dengan apa yang dikatakan Thoth waktu menjelaskan hal ini padaku dulu, karena tidak aku anggap penting.”Osiris mencoba menjawab pertanyaan Ra, melalui sepotong ingatan percakapannya dengan Thoth.“Dia menjelaskan sesuatu tentang mimpi. Saat ini tubuh Lea ada dalam keadaan seperti tertidur, dan sedang mengalami mimpi. Apa yang dialaminya di Tamiat akan dia anggap tak lebih dari mimpi. Dan kau tahu sendiri, mimpi adalah sesuatu yang akan mudah terlupakan begitu seseorang terjaga, Dan semakin lama dia terbangun, mimpi itu semakin pudar dan terlupakan.” Ini teori yang nyata, karena Ra sendiri juga mengalaminya. Akan semakin sulit mengingat mimpi setelah terbangun lama.“Untuk perbandingan, agar kau mengerti betapa ingatan itu akan sulit kembali, kau lihat saja bagaimana ingatanmu membutuhkan keajaibanku untuk bertahan. Aku dengan sengaja menanamkan ingatan itu kepadamu, agar kau bisa tetap mengingatnya. Sedang untuk Lea, aku tak mungkin melakukannya, karena dia







