LOGINKeributan akhirnya mereda, meskipun suasana di puncak Gunung Li masih jauh dari kata damai.Para pendekar kembali berkumpul dalam kelompok masing-masing. Tatapan curiga terus berseliweran, sementara beberapa orang masih sibuk mengomel karena senjata mereka terlepas atau tubuh mereka terasa sakit akibat ulah Wu Keming dan Wu Jian.Wu Keming sendiri sudah kehilangan minat untuk menjelaskan persoalan gudang.Ia baru saja membuka mulut ketika belati merah itu mengacaukan segalanya. Sekarang, bahkan jika ia mencoba menjelaskan, belum tentu ada yang mau mendengarkan.Lebih buruk lagi, beberapa kawannya memandangnya dengan cemas.“Jangan bicara dulu,” bisik Zhushu.Wu Keming menoleh. “Kenapa?”“Karena kalau kau bicara, mereka akan mengarahkan semua pedang kepadamu lagi.”Borise mengangguk serius. “Kali ini mungkin lebih banyak.”Li Huatang melirik kerumunan. “Kita sebaiknya mencari tahu siapa pemilik belati itu terlebih dahulu.”Wu Keming mengangkat kedua tangan, menunjukkan bahwa dirinya ti
Keributan di puncak Gunung Li semakin tidak terkendali.Suara benturan senjata bercampur dengan teriakan makian. Para pendekar dari wilayah barat yang terkenal bertemperamen keras mulai membalas serangan para pendekar dari wilayah timur dan tengah. Tuduhan yang semula hanya berupa kata-kata kini berubah menjadi perkelahian terbuka.Di tengah kekacauan itu, Wu Jian mencabut pedangnya.“Berhenti! Siapa pun yang masih berani mengangkat senjata tanpa alasan jelas, akan kuanggap sebagai penantang Perguruan Pedang Wu!”Sayangnya, suaranya tenggelam di antara teriakan orang-orang.Seorang pendekar bertubuh kekar dari wilayah barat mengayunkan golok ke arah seorang pria berjubah abu-abu. Pria itu menghindar, lalu membalas dengan tusukan pedang. Golok dan pedang beradu keras.Sebelum keduanya sempat melancarkan serangan berikutnya, dua sosok muncul dari arah berlawanan.Wu Jian menahan pergelangan tangan si pendekar berjubah abu-abu dengan sisi pedangnya, sementara Wu Keming menyelipkan Pedang
Wu Jian berdiri di hadapan Wu Keming dengan wajah tegang. Setelah perdebatan panjang, akhirnya ia kehabisan kata-kata. Bukan karena semua pertanyaannya telah terjawab, melainkan karena mantan kakak seperguruannya itu selalu berhasil membuat pembicaraan berputar ke arah yang tidak terduga.Wu Jian menarik napas panjang.“Baiklah. Kali ini aku akan mendengarkan. Kakak Senior, jelaskan sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada gudang itu.”Wu Keming mengangguk. Ia meletakkan botol araknya, kemudian menyapu pandangan ke arah orang-orang yang berkumpul di aula.“Akulah yang menghancurkan gudang itu.”Pengakuan tersebut langsung membuat suasana hening.Wu Jian mengerutkan dahi. “Kakak Senior benar-benar menghancurkannya?”“Benar.”“Dan kau tidak merasa perlu memberi tahu siapa pun?”“Aku sedang berusaha menjelaskan.”Wu Jian mengatupkan rahang, tetapi kali ini ia menahan diri. Ia sudah berjanji akan mendengarkan.Wu Keming melanjutkan, “Gudang itu bukan tempat penyimpanan biasa. Di dalamnya
"Kalau begitu, kau memang harus mendirikan perguruan."Suara Borise membuat Wu Keming yang sedang menikmati tehnya berhenti mengunyah kudapan.Ia menoleh perlahan."Apa?"Borise menatapnya dengan wajah serius."Kau mendengar perkataanku. Jika kau memiliki ilmu yang unik, kau harus mencari seseorang untuk mewarisinya. Kalau tidak, apa yang akan terjadi ketika kau sudah tua dan tidak sanggup lagi menggunakannya?"Wu Keming menggaruk kepalanya."Aku masih sehat.""Aku tidak sedang membicarakan keadaanmu sekarang.""Kalau begitu, kita bicarakan nanti."Borise memejamkan mata.Terkadang, ia benar-benar tidak mengerti bagaimana seseorang bisa begitu pandai menghindari persoalan sederhana."Adik seperguruanmu benar," lanjut Borise. "Sebuah perguruan bukan hanya tempat untuk berkumpul. Perguruan juga harus memiliki penerus. Jika kau ingin mendirikan Perguruan Shuanghe, setidaknya kau harus memikirkan siapa yang akan mewarisi ilmu yang kau miliki."Wu Jian, yang mendengar percakapan itu, langs
"Atau jangan-jangan, dalam pertemuan ini, kita hanya boleh berbicara jika membawa nama besar di belakang kita?"Pertanyaan Wu Keming membuat aula kembali hening.Wu Jian menatap kakak seperguruannya dengan ekspresi serius."Kau salah memahami perkataanku.""Benarkah?" Wu Keming menyandarkan tubuhnya. "Kalau begitu, jelaskanlah. Aku sedang mendengarkan."Wu Jian menarik napas panjang."Aku tidak menyangkal kemampuanmu. Aku juga tidak mengatakan bahwa orang yang tidak memiliki perguruan tidak berhak menyampaikan pendapat."Ia berhenti sejenak, seolah sedang menyusun kata-kata yang telah lama ingin disampaikannya."Tetapi Jianghu bukan sekadar tempat orang berkumpul, minum arak, lalu berpisah setelah urusan selesai. Setiap perguruan memiliki murid, aturan, dan tanggung jawab. Ada warisan yang harus dijaga, ada orang-orang yang menggantungkan hidup mereka pada perguruan tersebut."Tatapannya tertuju kepada Wu Keming."Aku membutuhkan kakak seperguruanku untuk kembali."Kali ini, nada suar
Suasana aula Perguruan Li semakin tegang.Sejak kedatangan Quilan beserta rombongannya, pembicaraan yang awalnya berpusat pada keadaan Jianghu perlahan berubah menjadi ajang saling mencurigai. Setiap laporan yang disampaikan seolah membawa bukti baru bahwa salah satu kelompok sedang menyembunyikan sesuatu.Namun, di balik semua pembicaraan itu, terdapat seseorang yang tidak perlu hadir untuk memengaruhi jalannya pertemuan.Qiu Hui.Ia telah mengatur langkah orang-orangnya jauh sebelum pertemuan dimulai. Mereka mengetahui apa yang harus disampaikan, kapan harus berbicara, dan bagaimana menyampaikan tuduhan tanpa terlihat sedang menyerang pihak tertentu.Salah satu orang yang menjalankan rencana itu adalah Quilan, adik tiri Qiu Hui sekaligus Ketua Sekte Bangau Hijau.Quilan meletakkan cangkir tehnya, kemudian menatap para pendekar yang hadir."Sebenarnya, ada satu persoalan yang menurutku perlu kita bicarakan bersama."Beberapa pasang mata langsung tertuju kepadanya."Ketika aku melakuk







