Home / Pendekar / Para Pendekar dari Sungai Kembar / Pertarungan 3 Pendekar Aneh

Share

Pertarungan 3 Pendekar Aneh

Author: Ocyobot
last update publish date: 2026-08-01 21:11:25

Pertarungan yang semula hanya menjadi ajang saling menguji...

perlahan berubah menjadi sebuah percakapan.

Bukan dengan kata-kata.

Melainkan...

melalui pedang.

Tang!

Tang!

Tang!

Percikan bunga api terus bermunculan setiap kali Pedang Lotus bertemu dengan pedang tua berkarat milik Wu Keming.

Para murid Perguruan Pedang Li bahkan lupa bernapas.

Tak seorang pun berani bersuara.

Mereka takut...

suara sekecil apa pun akan merusak keindahan pertarungan di hadapan mereka.

Li H
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Ketua Bayangan Bangau Hijau

    Malam telah menutupi kota ketika Qiu Hui memasuki sebuah bangunan tua yang hampir tidak pernah didatangi orang.Di dalamnya hanya ada beberapa lampu minyak.Tidak ada lambang perguruan.Tidak ada penjaga.Namun beberapa orang berjubah hijau telah menunggu.Mereka semua berdiri ketika Qiu Hui masuk.Tidak seorang pun memanggilnya ketua.Di kursi utama duduk seorang lelaki yang secara resmi merupakan pemimpin Sekte Pedang Bangau Hijau.Namun ketika Qiu Hui berhenti di hadapannya, lelaki itu justru menundukkan kepala.“Bagaimana keadaan kota?”“Persediaan obat terus berkurang.”“Bagus.”“Beberapa tabib mulai mencurigai sesuatu.”“Jangan hentikan semuanya.”Qiu Hui berjalan melewati meja.“Kalau semua obat menghilang sekaligus, orang akan curiga. Biarkan pasar tetap memiliki persediaan. Sedikit saja.”Ketua Bangau Hijau mengangguk.“Lalu Tabib Miao?”Qiu Hui berhenti.“Jangan bunuh dia.”“Kenapa?”“Karena kematiannya akan menimbulkan pertanyaan.”Ia menoleh.“Buat dia sibuk.”Ketua itu me

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Tabib yang Menyuruh Orang Menangkap Jangkrik

    Matahari baru saja melewati puncak ketika halaman pengobatan kembali dipenuhi suara gaduh.“Dapat!”“Jangan diinjak!”“Lari ke kiri!”“Jangkriknya masuk ke bawah meja!”Wu Keming berdiri di tengah halaman dengan wajah kosong.Puluhan pasien yang masih cukup kuat berlarian ke sana kemari.Mereka tidak sedang mengejar pencuri.Tidak pula sedang berlatih ilmu bela diri.Mereka sedang menangkap jangkrik.Wu Keming perlahan menoleh kepada Li Huatang.“Ini pengobatan?”Li Huatang mengerutkan kening.“Aku juga tidak tahu.”Keduanya kemudian menoleh kepada Borise.Lelaki besar itu duduk tenang di bawah pohon sambil memakan bakpao.“Borise.”“Hmm?”“Kau tidak merasa ini aneh?”Borise mengunyah pelan.“Tidak.”“Pasien disuruh menangkap jangkrik.”“Ya.”“Di siang hari.”“Ya.”“Selama dua jam.”“Ya.”Wu Keming menatapnya beberapa saat.“Dan kau tidak heran?”Borise menelan bakpao.“Dulu Zhushu pernah menyuruhku mengejar ayam selama setengah hari.”Li Huatang ikut menoleh.“Untuk apa?”“Katanya wa

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Obat yang Menghilang

    Hari itu, Zhushu tidak meninggalkan tempat pengobatan.Sejak pagi ia memeriksa satu pasien ke pasien lainnya.Semakin banyak yang datang, semakin serius wajahnya."Obat kalian terlalu sedikit," katanya kepada tabib tua.Tabib itu menghela napas."Bukan karena kami tidak membeli.""Pedagangnya?""Beberapa hari terakhir tidak ada yang datang."Zhushu menoleh."Semua?""Sebagian besar."Ia memandang rak-rak kosong.Penyakit menyebar.Obat menghilang.Dua hal itu terjadi pada waktu yang hampir bersamaan.Bagi Zhushu, itu bukan kebetulan.Namun ia belum memiliki bukti."Aku akan membuat obat lain."Tabib tua itu terkejut."Obat lain?"Zhushu mengangguk."Tidak semua obat harus berasal dari toko."Ia membuka tas besarnya.Dari dalamnya keluar beberapa botol kecil.Kemudian sebuah kotak kayu.Kemudian satu kantong yang bergerak-gerak.Wu Keming yang kebetulan masuk langsung berhenti."Kenapa kantong itu bergerak?"Zhushu tersenyum."Obat."Wu Keming mundur satu langkah."Obatnya hidup?""Seb

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Penyakit yang Bersembunyi

    Ketika kesadaran Yangxiang kembali, hal pertama yang dirasakannya adalah aroma bunga.Bukan bau kamar penginapan.Bukan pula aroma obat.Aroma yang lembut dan mahal.Ia membuka mata perlahan.Langit-langit kamar tinggi dengan ukiran kayu yang rumit terbentang di atasnya. Tirai sutra menggantung di sisi tempat tidur. Lampu minyak berlapis emas menerangi ruangan yang begitu mewah hingga Yangxiang sempat lupa bahwa dirinya baru saja diculik.Ia mencoba bangun.Kepalanya masih berat.Pintu kamar terbuka.Seorang lelaki masuk.Qiu Hui.Lukanya masih terlihat. Perban melilit bagian tubuhnya, tetapi wajahnya tetap tenang."Jangan bangun terlalu cepat."Suara itu masih sama.Lembut.Tenang.Seolah mereka sedang bertemu di sebuah kedai, bukan setelah dirinya diculik.Yangxiang menatapnya."Kau..."Qiu Hui tersenyum."Aku tahu kau marah.""Kenapa kau menculikku?""Aku tidak ingin kau terluka.""Ini bukan jawaban."Qiu Hui berjalan mendekat."Kalau aku membiarkanmu tetap bersama Wu Keming, merek

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Bayangan di Balik Jendela

    Malam semakin larut setelah duel Wu Keming dan Huang Liang.Di ruang utama penginapan, suasana kembali tenang.Yangxiang tidak ikut berkumpul.Sejak sore tubuhnya terasa lebih mudah lelah. Zhushu sudah memeriksanya dan memberikan obat penguat tubuh yang aman untuk kehamilan awal."Minum ini sebelum tidur," pesan Zhushu.Yangxiang menurut."Aku merasa merepotkan kalian."Zhushu menggeleng."Kau sedang membawa satu kehidupan. Istirahat bukan merepotkan."Yangxiang tersenyum kecil.Setelah itu ia kembali ke kamarnya.Sementara itu, di ruang utama, Huang Liang mengeluarkan sangkar kecil.Seekor Burung Awan Patah berada di dalamnya."Li Huatang."Li Huatang menoleh."Ini untukmu."Ia menyerahkan sangkar tersebut."Gunakan burung ini untuk mengirim laporan kepada gurumu. Jauh lebih cepat daripada pengantar biasa."Li Huatang menerimanya."Terima kasih."Huang Liang mengangguk."Kalian juga bisa menggunakannya jika menemukan sesuatu selama berada di kota."Wu Keming tersenyum."Kalau begitu

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Awan dan Angin

    Malam semakin larut, tetapi halaman penginapan justru semakin ramai.Huang Liang berdiri beberapa langkah di hadapan Wu Keming.Ia tidak menghunus pedang.Tidak pula mengambil sikap bertarung.Hanya tersenyum sopan."Aku sudah lama mendengar tentangmu."Wu Keming menggaruk kepala."Semoga yang kau dengar bukan soal aku sering tersesat."Huang Liang tertawa kecil."Justru itu yang paling sering kudengar."Li Huatang menahan senyum.Wu Keming menoleh kepadanya."Kau juga?""Tentu."Di samping Li Huatang, Huang Jiayu duduk dengan tenang.Ia menatap ayahnya."Ayah mau melawan Om Wu?"Huang Liang menggeleng."Bukan melawan.""Kalau begitu apa?"Huang Liang tersenyum."Hanya bertukar sedikit ilmu."Huang Jiayu mengangguk.Kemudian ia menoleh kepada Li Huatang."Tante Li, aku boleh duduk di sini?""Silakan."Huang Liang menatap anaknya."Jiayu, duduk di dekat Ayah.""Tidak."Jawaban itu begitu cepat sampai semua orang terdiam.Borise bahkan menghentikan kunyahannya.Huang Liang menarik napas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status