Teilen

Sayap Bangau yang Patah

last update Veröffentlichungsdatum: 09.09.2026 11:50:57

Qiu Hui mulai terdesak.

Napasnya berat.

Beberapa luka telah terbuka di tubuhnya, dan darah membasahi jubah hitamnya.

Di hadapannya, Wu Keming masih berdiri dengan pedang berkarat di tangan.

Tidak ada kesombongan di wajahnya.

Hanya ketenangan.

Setiap jurus yang dikeluarkan Qiu Hui telah dibaca.

Jurus pedang.

Senjata rahasia.

Racun.

Bahkan gerakan tipuan yang sengaja dibuat untuk membuka celah palsu.

Semuanya gagal.

Wu Keming seperti sudah mengetahui ke mana serangan itu akan bergerak sebelum Qiu
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Sepuluh Kali Lipat, Puluhan Kali Lipat

    “Mao Ming, berhenti!”Teriakan Wu Keming tenggelam di tengah ledakan qi.Mao Ming berdiri dengan tombak terangkat. Matanya memerah, urat-urat di lehernya menegang, dan qi yang mengalir dari tubuhnya terus meningkat. Jurus Tombak Tak Terkalahkan yang sebelumnya sudah mampu melipatgandakan tenaga dalamnya hingga sepuluh kali lipat kini berkembang jauh melampaui batas itu.Dua puluh kali lipat.Tiga puluh kali lipat.Bahkan lebih!Tanah di bawah kakinya mulai retak. Angin yang berputar di sekitar tombaknya membuat para murid Perguruan Tombak Langit terpaksa mundur.Namun, ada sesuatu yang salah.Mao Ming tidak lagi mendengar suara orang-orang di sekitarnya. Tatapannya kosong, seolah seluruh pikirannya telah ditelan oleh qi yang terus membesar. Ia tidak lagi mengendalikan kekuatannya.Sebaliknya, kekuatan itulah yang mulai menguasainya.Wu Keming segera menyadarinya.“Borise! Serap qi-nya sebelum dia kehilangan kesadaran sepenuhnya!”Borise, yang baru saja memastikan Mao Da masih bernapas

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Kuncian Iblis Laut Utara

    Halaman Perguruan Tombak Langit dipenuhi suara benturan senjata dan ledakan qi.Mao Da semakin berhati-hati. Tombaknya menusuk dari kejauhan, lalu segera ditarik sebelum Borise sempat menyentuhnya. Setiap kali tubuh besar Borise mendekat, Mao Da langsung mundur dengan wajah tegang.Ia tidak takut pada kekuatan telapak tangan Borise semata.Ia takut terkunci.Dan lebih dari itu, ia takut tenaga dalam yang telah dilatihnya selama puluhan tahun akan diserap oleh Jurus Dewa Laut Utara.Borise menyadari semuanya.Ia menghindari sebuah tusukan, lalu mendadak berhenti. Kedua kakinya terbuka selebar bahu, lututnya sedikit ditekuk, sementara kedua tangannya terangkat di depan dada.Sikap tubuhnya berbeda dari sebelumnya.Wu Keming, yang sedang berhadapan dengan Mao Ming, sempat melirik.Ia mengenal banyak gaya bertarung Borise, tetapi kali ini sahabatnya itu mengambil kuda-kuda yang menyerupai ilmu gulat dari negeri utara, dengan tumpuan tubuh rendah dan posisi tangan yang siap menangkap serta

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Bayi Nakal, Putri Penasaran, dan Tiga Korban

    Pagi di Gunung Li seharusnya tenang.Sayangnya, Li Huatang sudah tidak percaya lagi pada kata tenang sejak ia ditinggalkan sendirian bersama Xianhua.“Xianhua, jangan tarik rambut Ibu.”Bayi itu menatapnya dengan mata bulat, lalu menarik lebih kuat.Li Huatang menarik napas panjang.“Baiklah. Rambut ini milikmu untuk sementara.”Di seberang ruangan, Ketua Li Dihua sedang duduk menikmati teh. Melihat muridnya yang biasanya tenang kini berjuang menghadapi seorang bayi, sudut bibirnya terangkat.“Guru,” panggil Li Huatang dengan senyum yang terlalu dipaksakan. “Bisakah Guru membantu saya sebentar?”Li Dihua mengangkat cangkirnya.“Tentu. Aku akan mengambil teh lagi.”“Cangkir Guru masih penuh.”“Kalau begitu, aku akan memeriksa halaman.”“Halaman sudah diperiksa pagi tadi.”“Benarkah? Kalau begitu, aku baru ingat ada urusan penting di luar.”Li Dihua berdiri dengan gerakan anggun.Li Huatang langsung menggendong Xianhua dan menghadang pintu.“Guru, murid hanya meminta bantuan menjaga ana

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Jurus Aneh Sang Murid Nakal

    Dentuman tombak kembali mengguncang halaman Perguruan Tombak Langit.Mao Da dan Mao Ming akhirnya menyadari satu kenyataan yang tidak menyenangkan: jika mereka terus bertarung dengan cara masing-masing, mereka akan kalah.Mao Da harus menjaga jarak dari Borise agar tenaga dalamnya tidak terserap. Sementara itu, Mao Ming sudah mengerahkan Jurus Tombak Tak Terkalahkan, tetapi tetap kesulitan menembus pertahanan Wu Keming.Bahkan jika Mao Ming berhasil mengalahkan Wu Keming dalam pertarungan satu lawan satu, ia belum tentu sanggup menghadapi Borise setelahnya.Dua makhluk aneh itu terlalu merepotkan untuk dilawan secara bergantian.“Mao Da! Dengarkan aku!” teriak Mao Ming sambil memutar tombaknya. “Jangan hanya menggunakan Tombak Pemecah Gunung! Gabungkan seranganmu dengan Jurus Tombak Tak Terkalahkan!”Mao Da menoleh sekilas, lalu menghindari telapak tangan Borise.“Jurus itu belum sempurna!”“Justru karena belum sempurna, kau harus membantuku mengendalikannya! Gunakan tombakmu untuk me

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Qi yang Tak Kunjung Habis

    Suara benturan senjata kembali mengguncang halaman Perguruan Tombak Langit.Mao Da tak lagi menyerang dengan membabi buta. Setelah menyadari bahwa setiap sentuhan Borise dapat menguras tenaga dalamnya, ia mulai mengubah cara bertarung. Tombaknya bergerak lebih terukur, menusuk dari kejauhan dan segera menarik diri sebelum Borise sempat mendekat.Jurus Tombak Pemecah Gunung tetap mengerikan. Setiap tusukan membawa tekanan qi yang mampu merobek udara, sementara sapuan tombaknya memaksa Borise terus mengubah posisi.Namun, Borise tidak terburu-buru.Tubuh besarnya bergerak dengan kelincahan yang sulit dipercaya. Sesekali ia menangkis menggunakan telapak tangan, tetapi lebih sering ia menghindar, menunggu kesempatan untuk mendekat.“Adik Mao, kau semakin pintar,” seru Borise sambil menyeringai. “Sekarang kau tahu bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan menusuk orang!”Wajah Mao Da menggelap.“Jangan banyak bicara!”Tombaknya melesat lurus ke dada Borise.Borise memiringkan tubu

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Tabib yang Lebih Menakutkan daripada Racun

    Cahaya di ruang pengobatan perlahan meredup.Zhushu menarik napas panjang, lalu mengangkat kedua tangannya dari punggung Altani. Keringat membasahi dahinya, sementara tato di lengan dan bahunya perlahan kembali seperti semula.Racun yang masuk ke tubuh sang putri ternyata tidak sedikit. Jika dibiarkan lebih lama, racun itu bukan hanya merusak organ dalam, tetapi juga mengacaukan aliran qi hingga tubuhnya kehilangan kemampuan untuk memulihkan diri.Untungnya, Zhushu berhasil mengatasinya.Ia menggunakan jurus pendorong dan penyalur qi untuk menggerakkan racun menuju jalur yang dapat dikeluarkan tubuh. Pada saat yang sama, ia mengobati bagian dalam tubuh Altani, memperbaiki aliran qi yang kacau, serta membuang qi yang tidak berguna dan mengganggu keseimbangan tubuhnya.Proses itu melelahkan. Namun, akhirnya napas Altani kembali teratur.Zhushu menyeka keringatnya.“Sudah selesai. Racunnya berhasil dikeluarkan. Untuk sementara, biarkan dia tidur.”Di luar ruang pengobatan, tiga pria bert

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status