LOGINSetelah pintu kamar tertutup pelan di belakang Donna dan Zavian, Marco tidak membuang waktu. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah pucat Zea yang masih berkeringat dingin. Napas wanita itu pendek-pendek dengan dada naik-turun tidak teratur. Noda basah di kaus kebesaran Zea semakin melebar. ASI yang mulai merembes perlahan membuat kain di bagian depan tubuhnya semakin lembap. Dengan gerakan cepat namun tetap hati-hati, Marco menyibak kaus itu ke atas, sekaligus bra yang sudah basah ditariknya turun dalam satu tarikan. Kedua payudara yang bengkak dan memerah langsung terbebas. Putingnya mengeras, dan cairan putih mulai menetes deras tanpa henti, seolah sudah terlalu lama menahan. Marco langsung menunduk. Bibirnya menempel di puting kanan Zea dan menghisap dalam-dalam dan kuat, tanpa ragu. Lidahnya berputar pelan, lalu menekan, memaksa aliran cairan itu keluar sebanyak mungkin. “Nghh … ahh … Sayang…” desah Zea parau. Tubuhnya sedikit tersentak, dan jari-jarinya refleks me
Keheningan yang amat pekat seketika memburu seluruh sudut ruang tengah mansion Yozefa. Michael Yozefa terpaku total di sofa tunggalnya. Mulut pria itu sedikit terbuka, sepasang matanya membelalak lebar diselimuti rasa syok yang teramat sangat. Pria kaku yang terkenal dingin di dunia bisnis itu bagaikan disambar petir di tengah malam yang sunyi. "P-Pernikahan resmi ...?" bisik Michael parau, suaranya bergetar hebat lantaran tak sanggup mencerna kenyataan yang melompat begitu jauh dari bayangannya. "Tepat setelah Final?!" Bahkan Moara Yozefa yang biasanya selalu tenang dan penuh kendali ikut terperanjat kaku di tempat duduknya. Cangkir teh di tangannya hampir saja goyah. Binar mata anggunnya membelalak pelan, tak mengira bahwa keputusan nekat putranya akan melampaui rencana pertunangan sederhana yang pernah didiskusikan mereka. "Marco ... mau langsung menikahkannya secara resmi?" gumam Moara halus, sebelum senyuman bangga dan haru perlahan merekah luas di wajah cantiknya. "Dasar g
Cahaya lampu gantung kristal membiaskan pendar keemasan di atas meja marmer ruang tengah mansion Yozefa yang megah. Keheningan malam yang sunyi hanya dihiasi gesekan halus jemari Moara yang membalik lembaran halaman buku di pangkuannya. Lalu tiba-tiba, langkah kaki yang mantap namun terdengar berat mendadak memecah kesunyian koridor utama. Moara tidak langsung mendongak, namun aroma parfum kayu cendana dan tembakau halus yang sangat ia kenal seketika menyapu udara. Michael Yozefa berjalan masuk. Pria paruh baya yang selalu tampak dominan itu melepas jas gelapnya, menyampirkannya di lengan sofa dengan raut wajah yang menyisakan kelelahan teramat sangat. "Oh, ternyata kamu masih ingat rumah, ya?" sindir Moara halus tanpa mengalihkan pandangannya dari buku. Suaranya mengalun tenang, namun sarat akan intonasi dingin. Michael hanya mendengus pelan, menolak memberikan komentar atas sindiran istrinya. Pandangan matanya menyapu sekeliling ruangan yang lengang. "Marco di mana?" tanya Micha
Suasana di halaman depan rumah seketika hening total begitu ultimatum Zavian menggema di udara. Angin malam yang berhembus pelan seolah ikut membeku, menyisakan keheningan mencekam di antara mereka.Zea terperangah dengan mata membelalak lebar. Bibirnya sedikit terbuka dengan napas tercekat di tenggorokan karena sama sekali tidak menyangka kakaknya akan melontarkan syarat seekstrem itu."K-Kak ..." cicit Zea dengan suara bergetar parau, menatap wajah Zavian tak percaya. "Kakak ... serius sama ucapan Kakak?"Zavian tak mengindahkan pertanyaan adiknya sama sekali. Sepasang matanya yang tajam tidak bergeser satu milimeter pun dari wajah Marco, memantau setiap inci reaksi pria di hadapannya yang masih berdiri tegap dengan raut wajah datar tanpa celah.Pak RT dan beberapa bapak-bapak tetangga saling pandang sejenak. Menyadari arah pembicaraan yang sudah berpindah mutlak menjadi urusan komitmen dan masa depan keluarga, Pak RT memberi isyarat pelan dengan tangannya. Mereka sepakat melangkah
"MARCO!" jerit Zea dan Donna histeris secara bersamaan. Zavian tersungkur menabrak dinding teras sebelum jatuh terjerembab ke lantai. Sudut bibirnya seketika robek, menyisakan lelehan darah segar yang menetes ke lantai keramik. Namun, Zavian bukanlah pria lemah yang mudah ditumbangkan begitu saja. Sebagai mantan atlet renang profesional bertubuh kekar, refleks bertahannya meledak seketika. Dengan napas memburu dan mata menyipit tajam penuh amarah yang tersengat, Zavian bangkit dengan cepat. Ia mengerang keras, melompat maju dan menghentak kedua tangannya lurus ke dada Marco sambil mendorong tubuh tegapnya, hingga terpental mundur menabrak tiang teras. “Brengsek kamu, Marco!” umpat Zavian murka, suaranya menggelegar memecah keheningan malam. “Berani-beraninya kamu melayangkan tinju di rumah saya sendiri?!” Tanpa memberi jeda, Zavian melayangkan pukulan balasan yang menghantam pipi kiri Marco. BUGH! Pukulan sang pelatih cukup keras hingga membuat tubuh Marco terdorong ke s
Deru mesin mobil sport merah yang berhenti mendadak di depan pagar rumah membelah keheningan malam kompleks pemukiman. Klakson yang berbunyi tajam membuat beberapa lampu teras rumah tetangga menyala satu per satu. Beberapa warga mulai melongok dari balik jendela dan pagar rumah masing-masing."Ada apa sih malam-malam begini? Kok ada mobil mewah berhenti sembarangan?" bisik seorang pria paruh baya dari seberang jalan."Itu ... bukannya Marco Yozefa yang waktu itu di TV? Waduh, ada keributan apa lagi ini di rumah Ibu Donna?" sahut tetangga sebelahnya dengan nada cemas bercampur penasaran.Zea menerobos pintu depan lebih cepat dari Donna. Langkah kakinya berlari tergesa-gesa menyeberangi halaman depan, membuka gerbang pagar yang terkunci pelan. Begitu pintu pagar terbuka, sosok Marco sudah berdiri tegap di samping pintu mobilnya.Kemeja kasual hitam yang membungkus tubuh kokohnya memancarkan pendar bahaya yang begitu pekat. Sorot matanya dingin, tajam, dan penuh intimidasi yang tak ter







