Share

63. Kecemasan Moara.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-07-28 23:56:48

"Ya Tuhan … ini kamu, kan, Zea?"

Moara mengerjap dengan ekspresi masih terkejut. Beberapa detik ia hanya memandangi Zea, seolah tak percaya gadis kecil tetangganya dulu kini sudah tumbuh dewasa.

Wanita itu segera menghampiri Zea dan memegang kedua lengannya dengan hangat, matanya menyapu wajah Zea dari atas ke bawah.

"Astaga, kamu udah besar banget sekarang. Makin cantik," ucap Moara sambil tersenyum, meski ada sesuatu yang terasa berat di baliknya.

Zea membungkuk kecil dan me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   64. Antara Teman Masa Kecil dan Sang Tunangan.

    Moara tersenyum lebar, kemudian merangkul bahu Zea dengan penuh kehangatan. "Sel, ini Zea. Anak tetangga Tante dulu, sekaligus teman kecilnya Marco. Kebetulan ketemu di sini, lagi makan malam sama kakaknya." Selena mengerutkan dahi tipis. Senyumnya tetap terjaga, meski sorot matanya menyiratkan keterkejutan. "Oh ... jadi Zea teman kecil Marco, ya? Aku baru tahu.” Wanita itu menatap Zea sejenak, seolah sedang menyusun ulang informasi baru di kepalanya. "Pantas saja," gumamnya pelan. Nada suaranya tetap ramah, tetapi ada penekanan tipis di setiap katanya. "Tadi siang di pusat pelatihan, Marco kelihatan cukup perhatian sama Zea. Sekarang aku jadi ngerti kenapa." Selena lalu menoleh kepada Moara dengan senyum manis. "Tante ..." ujarnya pelan. "Marco memang dari dulu seperti itu, ya? Aku baru tahu dia bisa seprotektif itu sama seseorang.” Selena tetap tersenyum manis, seolah tidak sedang menanyakan sesuatu yang berarti. Namun justru sikap itulah yang membuat Zea makin gelisah. Moara

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   63. Kecemasan Moara.

    "Ya Tuhan … ini kamu, kan, Zea?"Moara mengerjap dengan ekspresi masih terkejut. Beberapa detik ia hanya memandangi Zea, seolah tak percaya gadis kecil tetangganya dulu kini sudah tumbuh dewasa.Wanita itu segera menghampiri Zea dan memegang kedua lengannya dengan hangat, matanya menyapu wajah Zea dari atas ke bawah."Astaga, kamu udah besar banget sekarang. Makin cantik," ucap Moara sambil tersenyum, meski ada sesuatu yang terasa berat di baliknya.Zea membungkuk kecil dan mencium punggung tangan Moara sebagai bentuk hormat. "Tante Moara apa kabar? Udah lama banget nggak ketemu.”"Baik, baik." Moara mengangguk sambil masih menggenggam lengan Zea. "Mama sama Kakakmu gimana kabarnya? Masih sehat semua?""Baik, Tante. Mama di rumah, Kak Zavian lagi sama aku, kebetulan lagi makan malam berdua di sini."Moara mengangguk-angguk mendengarnya, tapi senyumnya perlahan meredup. Zea memperhatikan mata Moara sedikit sembab, dan setiap kali wanita itu tersenyum,

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   62. Bertemu Ibu Marco.

    Sepanjang perjalanan pulang, Zea duduk diam di kursi penumpang, pikirannya berkecamuk. Bisikan Marco tadi sore terus terngiang di kepalanya, membuat dirinya gugup setengah mati.Pria itu benar-benar tidak ada kapoknya.Zea menghela napas pelan, sambil membayangkan berbagai skenario buruk yang bisa terjadi malam ini. Kalau sampai Zavian tahu Marco nekat datang ke kamarnya lagi, bukan cuma Marco yang akan menanggung akibatnya. Sanksi berat sudah pasti menanti, bahkan kemungkinan besar Marco akan langsung diberhentikan dari klub.Belum lagi soal Selena. Wanita itu adalah jembatan penting bagi klub Zavian untuk berhubungan dengan banyak sponsor besar. Kalau Marco kehilangan tempat di klub, bukan tidak mungkin hubungan dengan para sponsor ikut terganggu dan Zavian yang menanggung akibatnya.Kepalanya mulai berdenyut memikirkan semua kemungkinan itu. Zea benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa.“Zea …” Suara Zavian tiba-tiba memecah keheningan di dalam mobil

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   61. Serba Salah Zea.

    Zea tercekat mendengar pertanyaan Zavian yang menusuk langsung ke inti masalah. Ia menunduk, jantungnya berdegup kencang menahan gejolak yang sulit ia jelaskan. Bagaimana mungkin ia bisa berkata jujur? Selena bukan sekadar tunangan Marco. Keluarganya adalah salah satu pintu bagi klub renang Kakaknya untuk menjalin hubungan dengan sponsor. Zea tahu betapa keras Zavian membangun klub itu sedikit demi sedikit. Dan kalau sampai ia mengungkap semua yang telah terjadi, bukan cuma dirinya yang akan menanggung akibatnya, tetapi juga masa depan klub dan karier Zavian sendiri. Zea menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang tiba-tiba terasa panas di pelupuk matanya. "Nggak ada apa-apa, kok, Kak," ucapnya akhirnya, suaranya bergetar meski ia berusaha keras terdengar tegas. "Selena cuma bercanda tadi. Aku aja yang kelewat sensitif, mungkin gara-gara masih capek abis sakit." Ia menarik napas panjang, mencoba menata ekspresinya sebaik mungkin. "Please, Kak. Jangan diperbesar masalahnya.

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   60. Kecurigaan Zavian.

    Ucapan Selena terasa menghantam Zea. Wajahnya memanas, tetapi bukan karena merasa dipuji. Kata "molek" justru mengingatkannya pada perubahan tubuh yang selama ini berusaha ia sembunyikan. Bagi orang lain mungkin itu terlihat indah, tetapi hanya Zea yang tahu perubahan itu berawal dari kondisi yang sama sekali tidak ia inginkan. Zavian yang sejak tadi diam, akhirnya menoleh ke arah Zea, lalu kembali pada Selena. Rahangnya mulai mengeras, jelas risih. "Ini hanya kebetulan saja," ucapnya, nada suaranya sedikit menegas. "Dan Dimas cuma ikut senang lihat adik saya akhirnya dapat jaket. Jangan salah paham." Selena hanya mengangguk-angguk, tertawa kecil yang terdengar dibuat-buat. "Iya, iya. Aku cuma bercanda, kok, Coach.” Tak lama setelah Selena berkelakar, langkah tegas terdengar mendekat. Marco berjalan cepat menghampiri Selena, wajahnya menegang menahan amarah. "Selena," tegurnya rendah, nyaris seperti geraman. "Jaga omongan kamu." Selena mengerjap pelan. Senyumnya sedikit memudar

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   59. Tubuh Zea yang Molek.

    Zea, Zavian, dan yang lainnya spontan menoleh ke arah sumber suara nyaring itu. Selena berjalan menghampiri Marco dengan wajah semringah, melambaikan tangan kecil ke arah Marco. "Eh, Sel!" sapa Kenji sambil mengangkat tangan. "Tumben mampir ke sini." "Siang, Sel," timpal Rafi sambil tersenyum ramah. "Nyari Marco, ya?" Selena tersenyum sambil mengangguk kecil kepada keduanya sebelum kembali mengalihkan perhatian ke Marco. Pandangan Zea tanpa sadar mengikuti langkah cepat wanita itu. Ia tidak perlu menebak-nebak alasan Selena datang ke pusat pelatihan. Sudah pasti tujuannya hanya satu, ingin bertemu dengan Marco. Selena tampak tersenyum manis sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin. "Aku tadi kebetulan ada urusan di sekitar sini," jawabnya ringan. "Jadi sekalian mampir buat lihat kamu.” Tanpa menunggu respons, Selena mengangkat kotak makanan yang sedari tadi dibawanya. "Ini." Ia menyodorkannya kepada Marco sambil tersenyum. "Aku beliin makan siang buat kamu. Kamu belum maka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status