Home / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 64. Antara Teman Masa Kecil dan Sang Tunangan.

Share

64. Antara Teman Masa Kecil dan Sang Tunangan.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-07-28 23:57:16
Moara tersenyum lebar, kemudian merangkul bahu Zea dengan penuh kehangatan. "Sel, ini yang pernah Tante ceritain dulu, namanya Zea. Anak tetangga Tante dulu, sekaligus teman kecilnya Marco. Kebetulan ketemu di sini, lagi makan malam sama kakaknya."

Selena mengerutkan dahi tipis. Senyumnya tetap terjaga, meski sorot matanya menyiratkan keterkejutan. "Oh ... jadi Zea teman kecil Marco, ya? Aku baru tahu.”

Wanita itu menatap Zea sejenak, seolah sedang menyusun ulang informasi baru di kepalanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   306. Insting Marco.

    Mendengar kabar dari Michael, rahang Marco seketika mengeras. Pikirannya langsung bergerak cepat, menghubungkan kemunculan orang asing di depan rumah Zavian dengan pelarian Vincent yang hingga kini belum terlacak. Tatapan matanya berubah tajam, sementara jemarinya menggenggam ponsel sedikit lebih erat.​"Papa sudah perintahkan tim pengamanan untuk menambah personel patroli di sekitar rumah Zavian," lanjut suara berat Michael dari seberang telepon, menyampaikan laporan dengan mendesak. "Pihak kepolisian dan tim detektif juga sudah siaga penuh di area pemukiman."​Marco bersandar santai di sofa kulit ruang tengah, wajahnya tetap dingin dan tenang tanpa sedikit pun menyiratkan kepanikan. "Saya mengerti, Pa."​Pria itu diam sejenak sebelum kembali bersuara. "Apa Papa sudah tawarkan agar Kak Zavian dan Tante Donna ikut tinggal di sini saja?"​Di ujung telepon, Michael menghembuskan napas panjang. "Papa sudah tawarkan tadi, tapi Zavian menolak secara halus. Dia tidak mau merepotkan kita be

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   305. Kunjungan Feby.

    ​Kehangatan uap air hangat masih membekas di dalam kamar mandi utama. Setelah mandi bersama yang diwarnai kesabaran dan kehati-hatian ekstra, Zea membimbing Marco keluar menuju area kamar.​Dengan telaten, Zea meraih kaos katun yang longgar, lalu hendak membantu Marco mengenakannya secara perlahan.Marco menghembuskan napas panjang, menatap kaos katun di tangan Zea dengan raut enggan yang sangat jelas. Harga dirinya sebagai pria, sekaligus seorang atlet profesional, terusik saat harus dibantu berpakaian seperti orang sakit yang tak berdaya."Sayang, aku masih bisa pakai sendiri," gumam Marco rendah, suaranya mengalun kaku dengan rahang yang terkatup rapat. "Cuma bahu kananku yang bermasalah, tangan kiriku masih berfungsi normal."Zea tak bergerak sedikit pun. Ia menatap lurus mata kekasihnya dengan keteguhan mutlak, menolak memberikan celah bagi gengsi tinggi pria itu. "Marco, turuti aku kali ini saja. Jangan dipaksa kalau tidak mau bahumu tambah parah."Melihat binar cemas nan penuh

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   304. Jejak di Depan Rumah Zavian.

    Vincent menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokannya. Dari balik celah sempit kaca mobil yang sedikit terbuka, ia berusaha sekuat tenaga menguasai raut wajahnya agar tetap terlihat tenang.“Oh ... nggak, Pak,” sahut Vincent, memoles suaranya sejernih mungkin agar tidak terdengar gemetar. “Saya cuma berhenti sebentar buat membalas pesan. Sebentar lagi juga saya jalan kok, Pak.”Pria paruh baya itu mengangguk-angguk percaya, sama sekali tidak menaruh curiga pada sosok di balik topi bisbol tersebut. “Oh, begitu. Kirain mau cari Pak Zavian. Soalnya dari tadi mobilnya diam terus di sini.”“Nggak, Pak. Terima kasih sudah mengingatkan,” balas Vincent dengan senyum tipis yang terpaksa.Tepat saat tetangga itu hendak berbalik pergi, pintu pagar besi rumah Zavian mendadak berderit. Suara engsel pagar membelah keheningan malam, membuat buku-buku jari Vincent seketika memutih karena meremas kuat lingkar kemudi.Sosok pria tegap keluar dari dalam halaman rumah sembari membawa kantong pl

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   303. Keheningan Ditengah Kecemburuan.

    "Liputan itu cuma mengada-ada, Feb," sahut Zea cepat, menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar berita "bahu patah" yang dihebohkan media.Di sampingnya, Marco hanya mengangkat alis sebentar, lalu mendengus pelan. Wajah pria itu tetap tenang, dan hanya menyimpan sedikit kekesalan karena media nasional melebih-lebihkan narasi tanpa tahu kondisi medis yang sebenarnya."Tapi media bilang itu dari saksi mata di pelataran stadium, Zea!" seru Feby cemas."Saksi mata itu nggak tahu detail sebenarnya, Feb," pangkas Zea menjelaskan. "Bahu Marco sama sekali nggak patah. Dia cuma mengalami cedera saraf dan otot karena di sengaja."Zea menghela napas pelan, lalu merapatkan posisi duduknya. "Feb, biar lebih jelas dan kamu nggak panik, aku alihkan ke panggilan video, ya."Tanpa menunggu balasan, Zea menyentuh ikon video call di layarnya. Begitu sambungan layar terhubung dan memperlihatkan gips kaku yang membungkus bahu hingga lengan atas Marco, Feby seketika membelalak lebar dan kembali berteriak h

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   302. Feby Menelpon Membawa Berita.

    ​Marco yang menyandarkan punggungnya di tepi meja bar hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan godaan. ​"Oke," sahut Marco santai. Namun, pria itu mendongak, mengunci mata Zavian dengan sorot mata tak mau kalah. "Tapi pintu penghubung di antara kamar kita tetap harus dibuka. Supaya kalau Zea mendadak kambuh dan demam, saya bisa langsung sigap masuk.” ​Zavian seketika mendengus pasrah, memutar bola matanya malas. Pria itu menggeleng-gelengkan kepala, benar-benar tak habis pikir dengan kecerdikan calon adik iparnya yang selalu punya seribu alasan masuk akal untuk menembus batasannya. ​"Terserah kamulah, Marco," gumam Zavian kaku, memutuskan menyerah daripada menguras energi meladeni godaan pria itu. ​Sementara itu, Michael Yozefa yang baru selesai memeriksa keamanan luar bersama Adrian kembali melangkah mendekat. Pria paruh baya itu menyampaikan keputusannya terkait proteksi tempat tinggal baru tersebut. ​"Dua pengawal pribadi tingkat tinggi sudah disiagakan dua puluh empat

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   301. Penthouse Eksklusif.

    "Oh, yang di lantai dua puluh enam sudah disewa orang lain," suara berat Michael Yozefa mendadak memotong dari sudut depan lift, menjawab pertanyaan lirih Zea sebelum Marco sempat bersuara. ​Pria paruh baya itu menatap lurus ke arah pintu lift yang terus bergerak naik, dan melanjutkan dengan intonasi datar namun tegas. "Jadi karena mungkin kamu akan sering menginap di apartemen ini, sekalian saja saya sediakan penthouse untuk Zea dan keluarga kalau memang membutuhkannya.” Seketika, suasana di dalam lift yang tertutup rapat itu membeku total. ​Donna menahan napasnya, matanya membelalak kaku lantaran tak menyangka fasilitas sekelas penthouse disiapkan begitu saja. Di sebelahnya, Zavian seketika menegang hebat, rahangnya terkatup rapat dengan binar mata yang terguncang. Sementara itu, Marco dan Moara yang berdiri santai di sisi lain sama sekali tak memperlihatkan raut terkejut. ​"Tu–tunggu, Om," potong Zavian cepat. Suara baritonnya terdengar amat tegas, meski ia tetap menja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status