แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Aurganda
Pada saat itu, tuan rumah pesta mengumumkan sebuah permainan kecil.

Pasangan diminta naik ke panggung untuk memainkan piano bersama. Penampilan terbaik akan mendapatkan satu set perhiasan berharga sebagai hadiah.

"Perhiasannya cantik sekali!" Mata Celine berbinar, dia menarik lengan Bendy sambil manja, "Bendy, sebentar lagi ulang tahunku. Bisa nggak kamu dan Valerie bantu aku memenangkannya?"

Para sosialita di sekitar langsung tertawa, "Celine, kamu ini persulit orang saja. Bu Valerie bahkan nggak bisa bahasa Jerman, mana mungkin dia bisa memainkan piano?"

"Lebih baik kamu saja yang tampil sama Pak Bendy," saran seseorang.

Celine menoleh ke arah Bendy dan bertanya, "Boleh?"

Bendy mengangguk santai, lalu menjawab, "Boleh."

Celine melirik Valerie dengan penuh kemenangan. "Kalau begitu aku pinjam Bendy sebentar, ya."

Keduanya naik ke atas panggung. Saat nada pertama terdengar, seluruh ruangan langsung hening.

Jari-jari Celine menari di atas tuts piano, Bendy mengiringinya dengan sempurna, seolah mereka adalah pasangan yang benar-benar serasi. Para tamu tampak terpukau. Sementara di bawah panggung, Valerie sudah dikerumuni oleh teman-teman Celine.

"Valerie, lihat itu. Itu baru pasangan yang cocok. Gadis kampungan kayak kamu yang bahkan nggak bisa bahasa Jerman dan main piano, mana bisa pantas untuk Bendy? Kalau kamu tahu diri, cepat pergi saja sendiri."

"Kudengar dulu kamu tinggal di daerah kumuh di barat kota. Memangnya tempat seperti itu bisa ditinggali? Pantas saja kamu terlihat murahan."

"Cuma wanita miskin begini masih bermimpi jadi bangsawan? Jangan mempermalukan diri sendiri."

Suara tawa yang menusuk terdengar menghujam telinganya.

Valerie menggenggam ujung gaunnya dan berbalik ingin pergi, tapi seseorang sengaja mengulurkan kaki untuk menjegalnya. Valerie terjatuh ke lantai, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Belum sempat dia pulih, sebuah sepatu hak tinggi merah sudah menginjak pergelangan tangannya.

"Ah, maaf ya." Sosialita yang menginjaknya berpura-pura terkejut, hak sepatunya dengan sengaja menginjak dan menggesek-gesek jari tangannya, "Aku nggak lihat kamu."

Terdengar bunyi derakan yang tajam.

Valerie kesakitan sampai pandangannya menggelap. Dia refleks mengangkat kepala menatap ke arah Bendy di depan piano. Valerie membuka mulut, tapi tidak bisa mengeluarkan suara. Dia hanya bisa memohon pertolongan dengan tatapan.

Bendy memang melirik ke arah sini.

Hanya satu lirikan.

Lalu seperti melihat orang asing, dia menarik kembali pandangannya dengan dingin dan kembali fokus membalikkan lembar partitur untuk Celine.

Valerie menggigit bibirnya kuat-kuat, tidak membiarkan dirinya menangis.

Valerie teringat saat bekerja di supermarket tiga tahun lalu, dia tidak sengaja melukai jarinya. Bendy begitu panik sampai langsung meninggalkan pekerjaannya dan bergegas datang, lalu memaksanya pergi ke klinik untuk dibalut.

Dokter bahkan berkata, "Luka kecil, nggak perlu diapa-apakan," tapi Bendy tetap saja bersikeras menemaninya semalaman karena takut dia demam atau infeksi.

Sekarang, tulang tangannya diinjak sampai patah, tapi Bendy bahkan tidak mau memberikan satu tatapan pun. Bendy dan Celine saling tersenyum, seperti pangeran dan putri dalam dongeng.

"Ah ...!"

Hak sepatu yang tajam itu kembali menginjak. Valerie dengan jelas mendengar suara tulang pergelangan tangannya retak. Rasa sakit yang luar biasa bagaikan gelombang yang menyapu setiap sarafnya, pandangannya mulai berputar dan kabur.

Pada detik terakhir sebelum tenggelam dalam kegelapan, dia mendengar alunan piano berakhir, disusul tepuk tangan meriah.

....

Saat Valerie terbangun, aroma antiseptik memenuhi ruang rawat.

Dokter sedang menjelaskan kondisi pada Bendy, "Pak Bendy, tulang pergelangan tangan Bu Valerie mengalami patah remuk. Sekalipun sembuh, akan meninggalkan kerusakan permanen. Dia nggak akan bisa lagi mengangkat benda berat. Rasa sakit akan terus terasa selama satu bulan ke depan, sampai sulit tidur. Harus ada yang merawatnya dengan baik."

Wajah Valerie langsung memucat.

Dia tanpa sadar mengangkat pergelangan tangannya. Dia ingin meraih gelas di samping tempat tidur, tapi rasa sakit yang menusuk membuatnya kehilangan pegangan.

Prang ....

Suara kaca pecah membuat dokter dan Bendy sama-sama menoleh.

Setelah dokter menghela napas dan pergi, Bendy segera berjalan ke sisi tempat tidur dan menuangkan segelas air lagi untuknya.

Setelah menyerahkan gelas itu padanya, dia sedikit mengerutkan kening. Jakunnya bergerak beberapa kali sebelum akhirnya berkata, "Maaf, waktu itu aku sedang main piano, nggak lihat kamu jatuh. Masih sakit?"

Valerie menatap wajahnya, yang terlintas pertama justru adalah bagaimana dia menatap Celine dengan lembut di depan piano. Apa pria ini benar-benar tidak melihat, atau memang tidak peduli.

Valerie perlahan menutup mata, menahan rasa sakit yang menyeruak di hatinya, lalu berkata dengan jelas, "Aku mau lapor polisi."

Bendy tertegun, "Apa?"

"Kamu nggak dengar apa yang dokter bilang tadi?" Valerie mengangkat tangannya yang digips. Matanya memerah, tapi dia menahan air mata agar tidak jatuh, "Tanganku sudah rusak, apa mereka nggak seharusnya menerima akibat atas perbuatannya?"

Ekspresi Bendy menjadi rumit, "Cuma nggak bisa angkat benda berat saja. Sekarang sudah bukan seperti dulu. Selama ada aku, kamu nggak perlu lagi melakukan pekerjaan kasar itu."

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Mereka semua teman Celine. Kalau kamu mempermasalahkan ini, Celine akan sangat malu. Apa kamu harus permasalahin semuanya sampai sejauh ini?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 23

    Keluarga Sunarta, salah satu keluarga kaya terkemuka di Kota Herbun, runtuh dalam semalam.Pimpinan Grup Sunarta ditangkap untuk penyelidikan karena terlibat dalam penculikan, penahanan ilegal, dan berbagai tindak kriminal lainnya. Kasus ini juga menyeret kembali sebuah kasus pemerkosaan dari lima tahun lalu.Pada akhirnya, Bendy dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara. Sementara itu, satu pelaku lainnya dihukum tiga tahun penjara karena dibayar untuk melakukan kejahatan. Namun karena kejahatan itu belum sempat berhasil dilakukan, ditambah pelaku mengalami luka berat dan gangguan mental, hukumannya diubah menjadi masa percobaan, dengan konsekuensi harus menghabiskan sisa hidupnya di rumah sakit jiwa.Bendy mengakui semua kejahatannya tanpa bantahan. Hanya ada satu syarat, dia ingin bertemu Valerie sekali lagi. Setelah ragu cukup lama, akhirnya Valerie menyetujui pertemuan itu.Hanya saja, dia tidak datang sendirian.Di ruang kunjungan, kaca tebal kedap suara memisahkan mereka di dua sis

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 22

    "Bendy, kamu benar-benar nggak tahu?"Suara Valerie sama sekali tidak mengandung emosi. Setiap katanya seperti es yang menusuk tubuh Bendy, membuatnya langsung membeku di tempat.Teriakan Celine menembus pintu ruang bawah tanah dan terdengar jelas di telinga mereka, "Bendy, kamu mau balas dendam untuk dia? Justru kamu yang paling pantas mati!"Darah Bendy terasa mendingin sedikit demi sedikit. Bendy ingin berpura-pura tidak mendengar dan melarikan diri, tapi Valerie mengangkat tangan dan menyentuh sisi wajah Bendy, membuatnya tidak bisa bergerak.Cahaya masuk dari jendela, tetapi tidak mampu mengusir kegelapan di pintu masuk ruang bawah tanah. Valerie menarik tangannya kembali, lalu berdiri dan berjalan melewatinya menuju luar.Namun, suara Valerie tetap terdengar jelas, meski Bendy tidak ingin mendengarnya."Bendy, dia benar. Kalau mau balas dendam untukku, justru kamu yang paling pantas mati. Sejak awal, aku ini hanyalah seorang gadis yatim piatu. Mereka nggak akan membenciku tanpa a

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 21

    Valerie dibantu pelayan untuk keluar. Seketika, di ruang bawah tanah itu hanya tersisa Bendy, Celine, dan pria tadi. Celine benar-benar ketakutan. Dia menatap pria yang dulu pernah sangat dia cintai, seolah sedang melihat iblis."Bendy, kamu sudah gila, ya?! Kamu benar-benar orang gila! Kamu nggak takut kena balasan?" Suaranya terdengar serak, sepertinya dia sudah lama tidak minum air. Selain itu, dia juga terdengar lemah.Mendengar ucapan Celine, Bendy hanya meliriknya sekilas, lalu bangkit dan berjalan ke depannya. Dia mencengkeram dagu Celine sambil menatap rasa takut di matanya, lalu tiba-tiba tertawa."Balasan? Apa yang harus aku takutkan? Kalian saja nggak pernah mikirin balasan waktu melakukan hal-hal itu, sekarang masih berani ngatain aku?"Mendengar kata-katanya, mata Celine sekilas menunjukkan kebingungan.Hal-hal itu? Hal apa?Menyadari mungkin ini sebuah kesalahpahaman, Celine seperti melihat secercah harapan. Dia memaksakan beberapa tetes air mata, lalu berpura-pura lemah

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 20

    Kabar bahwa para junior dari empat Keluarga Septian, Litardo, Tanidar, dan Wonodiri diputus tangan kanannya dengan cara yang sangat kejam segera menyebar. Pada hari yang sama, saat Valerie bersiap-siap untuk pergi ke kantor seperti biasa dan baru saja dia naik ke mobil, tiba-tiba kesadarannya menghilang.Saat terbangun kembali, dia mendapati ruangan tempatnya berada terasa sangat familier.Setelah berpikir lama, Valerie akhirnya teringat. Tempat ini adalah kamar tempat tinggalnya selama lima tahun lalu saat Bendy membawanya kembali ke rumah Keluarga Sunarta.Dengan begitu, siapa yang membius dan membawanya ke sini juga sudah jelas.Valerie bangkit dan berjalan ke arah pintu. Saat mencoba menarik pintu itu, dia baru sadar pintu itu sudah dikunci dari luar dan sama sekali tidak bisa dibuka."Nona Valerie sudah bangun? Mohon tunggu sebentar, kami akan segera memanggil Tuan."Belum sempat Valerie merespons, dari luar sudah terdengar langkah kaki yang menjauh dengan tergesa-gesa. Valerie me

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 19

    Valerie dan Marcus saling mengenal sejak lima tahun lalu.Saat itu, Valerie baru saja tiba di Inggris.Meski tidak sampai benar-benar kesulitan bergerak, tapi karena kendala bahasa dan ditambah lagi dia berada jauh dari kampung halaman sendirian, Valerie cukup kebingungan dalam waktu yang cukup lama.Marcus adalah orang pertama dari negara asal sama yang ditemui Valerie.Setelah mereka perlahan menjadi dekat, Marcus pernah mengeluh tentang dirinya. Katanya, selama bertahun-tahun di Inggris, ini adalah pertama kalinya dia bertemu seseorang yang tidak bisa bahasa, tidak punya rencana, bahkan tidak punya semangat, tapi tetap nekat pergi ke luar negeri sendirian. Setelah tinggal selama dua bulan penuh, Valerie bahkan tidak bisa komunikasi dasar.Namun, Valerie sangat beruntung karena bertemu Marcus saat dia berada di titik terendah.Kemudian mereka membuat sebuah kesepakatan. Dengan bayaran yang tidak sedikit, Valerie mempekerjakannya sebagai pemandu.Marcus mengajarinya bahasa Inggris dan

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 18

    Awalnya Valerie mengira dia tidak akan lagi bertemu Bendy untuk waktu yang lama setelah kejadian hari itu. Namun baru dua hari berlalu, dia sudah melihat Bendy berdiri tidak jauh dari depan rumahnya.Valerie memaksa menahan rasa kesal di dalam hati sambil menunduk dan mengirim sebuah pesan. Kemudian, dia berjalan mendekat beberapa langkah ke arah Bendy, tetapi tetap menjaga jarak."Untuk apa kamu datang?"Seolah tidak melihat ketidaksabaran Valerie, ekspresi Bendy tampak begitu rendah hati seperti seseorang yang mengemis cinta dan terburu-buru ingin membuktikan ketulusannya pada orang yang dia cintai."Valerie ...."Suara pria itu sedikit serak, urat-urat merah di matanya bahkan terlihat menakutkan. Wajahnya tampak penuh kelelahan, tapi di matanya tidak terlihat sedikit pun rasa letih. Yang ada hanya kegembiraan seperti ingin menunjukkan sesuatu.Namun sayangnya, Valerie tidak berniat menghargainya."Pak Bendy sebaiknya panggil aku Bu Valerie saja. Hubungan kita belum sampai ke tahap b

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 7

    Valerie menggigit bibirnya dengan kuat, sampai terasa bau anyir di mulutnya. Jadi, hanya demi tidak membuat Celine malu, dia harus menerima semua penderitaan ini begitu saja?"Aku tetap akan lapor polisi."Bendy terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mengeluarkan buku cek. "Kalau kamu tetap ingin mempermas

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 5

    Valerie menundukkan pandangannya dan berbohong, "Tante datang menjengukku, aku bilang kondisiku baik-baik saja. Jadi, aku suruh dia pulang dulu."Melihat itu, Mauria segera berpura-pura menanyakan kabar beberapa kali, lalu mencari alasan untuk pergi.Di ruang rawat hanya tersisa mereka berdua."Sebe

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 4

    Lantaran tidak ingin Bendy menyadari sesuatu sebelum kepergiannya dan demi mencegah terjadinya hal tak terduga, Valerie terdiam sejenak, lalu tetap mengangguk.Kemudian, sambil menahan rasa sakit di pergelangan kakinya, dia berdiri dan berjalan ke lemari untuk memilih pakaian.Setengah jam kemudian,

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 3

    Valerie terpaku menatap staf yang menyerahkan gelang itu ke depan Celine dengan hormat. Dengan senyum di wajah, Celine mengulurkan tangan untuk menerimanya. Ujung jarinya baru saja menyentuh tepi kotak, tiba-tiba terdengar, "Ah!"Plak!Gelang giok itu terlepas dari kotak dan terjatuh ke lantai marme

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status