Share

Bab 3

Penulis: Aurganda
Valerie terpaku menatap staf yang menyerahkan gelang itu ke depan Celine dengan hormat. Dengan senyum di wajah, Celine mengulurkan tangan untuk menerimanya. Ujung jarinya baru saja menyentuh tepi kotak, tiba-tiba terdengar, "Ah!"

Plak!

Gelang giok itu terlepas dari kotak dan terjatuh ke lantai marmer, lalu pecah menjadi dua bagian.

Pada detik itu, napas Valerie hampir berhenti. Di telinganya hanya tersisa suara pecahan yang tajam.

Pikirannya kosong. Dia refleks berlari ke depan dan mendorong Celine, lalu memungut pecahan di lantai dengan tangan gemetar.

Wajah Bendy langsung menjadi dingin. Dia bergegas menopang tubuh Celine yang terhuyung, lalu saat menatap Valerie lagi, suaranya rendah dan tajam, "Valerie, apa yang kamu lakukan?"

Dengan mata memerah, Valerie mengangkat kepala dan berkata dengan suara bergetar, "Apa yang aku lakukan? Itu peninggalan nenekku! Dulu kamu bilang, kalau suatu hari melihatnya lagi, kamu pasti akan membelinya kembali, 'kan?"

"Tapi sekarang kamu bahkan nggak ingat lagi, bukan?"

Bendy tertegun sejenak, seolah teringat sesuatu. Namun, tatapannya segera kembali dingin.

"Kejadian lama itu mana mungkin aku masih ingat?" Nada bicaranya datar, bahkan sedikit kesal, "Lagian Celine juga nggak sengaja. Kenapa kamu dorong orang begitu saja!"

Mata Celine memerah. Dia menarik lengan baju Bendy dengan lemah, "Maaf, ini semua salahku ...."

Bendy sedikit mengernyit, lalu mengangkat tangan menghapus air matanya dan suaranya menjadi lembut, "Nggak ada hubungannya sama kamu."

Setelah itu, dia melirik Valerie dengan dingin. Nada bicaranya tidak memberi ruang untuk membantah, "Gelang ini akan aku suruh orang untuk perbaiki, kamu juga jangan bikin masalah lagi."

Setelah berkata demikian, dia merangkul bahu Celine dan membawa dua potongan gelang itu, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Valerie berdiri di tempat, menatap punggung mereka yang menjauh. Rasanya seperti ada bagian dari jantungnya yang dicabut paksa. Rasa sakit itu hampir membuatnya sesak napas.

Saat acara lelang berakhir, di luar sudah mulai turun hujan.

Valerie berdiri di pintu keluar aula, melihat mobil Maybach hitam milik Bendy melaju pergi membawa Celine.

Lokasi aula cukup terpencil. Dia menunggu selama 30 menit tapi tetap tidak mendapat taksi. Akhirnya, dia terpaksa berjalan pulang sambil kehujanan. Saat sampai di rumah, kakinya sudah sakit sampai mati rasa.

Ketika melepas sepatu hak tinggi, lepuhan di kakinya pecah dan menempel di stoking. Dia meringis karena perih. Kemudian, dia terjatuh lemas di sofa, menatap langit-langit dengan kosong.

Tiba-tiba dia teringat malam hujan beberapa tahun lalu, saat Bendy menggendongnya berjalan tiga kilometer ke rumah sakit.

Waktu itu Bendy begitu miskin sampai tidak mampu naik taksi, tapi tetap bersikeras tidak membiarkannya turun berjalan sedikit pun.

"Val, tahan sebentar lagi, kita hampir sampai."

Punggungnya begitu hangat, hujan yang membasahi tubuhnya pun terasa manis.

Bagaimana dengan sekarang? Dia mengendarai mobil mewah bernilai puluhan miliar, tapi bahkan tidak mau menunggunya lima menit.

Setelah mengoleskan obat, Valerie menyelimuti dirinya dengan selimut, lalu langsung tertidur. Dia tidak berani memikirkan kejadian-kejadian belakangan ini. Setiap kali dipikirkan, rasa perih dan sakit di hatinya akan menghantamnya.

Tidak ada yang tahu, yang diinginkan Valerie sejak awal bukanlah Bendy sebagai tuan muda Keluarga Sunarta. Dia hanya menginginkan Bendy yang dulu, yang bersamanya di kamar sewaan kecil, yang akan tertawa pelan memanggilnya "Val".

Namun, Bendy yang dulu sudah "mati" dan tidak akan pernah kembali lagi.

Valerie menutup mata, membiarkan air mata mengalir.

Keesokan siang, dia terbangun oleh suara pintu dibuka. Bendy berdiri di samping tempat tidur dengan jas rapi. "Malam ini ada jamuan keluarga, kamu ikut aku."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 23

    Keluarga Sunarta, salah satu keluarga kaya terkemuka di Kota Herbun, runtuh dalam semalam.Pimpinan Grup Sunarta ditangkap untuk penyelidikan karena terlibat dalam penculikan, penahanan ilegal, dan berbagai tindak kriminal lainnya. Kasus ini juga menyeret kembali sebuah kasus pemerkosaan dari lima tahun lalu.Pada akhirnya, Bendy dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara. Sementara itu, satu pelaku lainnya dihukum tiga tahun penjara karena dibayar untuk melakukan kejahatan. Namun karena kejahatan itu belum sempat berhasil dilakukan, ditambah pelaku mengalami luka berat dan gangguan mental, hukumannya diubah menjadi masa percobaan, dengan konsekuensi harus menghabiskan sisa hidupnya di rumah sakit jiwa.Bendy mengakui semua kejahatannya tanpa bantahan. Hanya ada satu syarat, dia ingin bertemu Valerie sekali lagi. Setelah ragu cukup lama, akhirnya Valerie menyetujui pertemuan itu.Hanya saja, dia tidak datang sendirian.Di ruang kunjungan, kaca tebal kedap suara memisahkan mereka di dua sis

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 22

    "Bendy, kamu benar-benar nggak tahu?"Suara Valerie sama sekali tidak mengandung emosi. Setiap katanya seperti es yang menusuk tubuh Bendy, membuatnya langsung membeku di tempat.Teriakan Celine menembus pintu ruang bawah tanah dan terdengar jelas di telinga mereka, "Bendy, kamu mau balas dendam untuk dia? Justru kamu yang paling pantas mati!"Darah Bendy terasa mendingin sedikit demi sedikit. Bendy ingin berpura-pura tidak mendengar dan melarikan diri, tapi Valerie mengangkat tangan dan menyentuh sisi wajah Bendy, membuatnya tidak bisa bergerak.Cahaya masuk dari jendela, tetapi tidak mampu mengusir kegelapan di pintu masuk ruang bawah tanah. Valerie menarik tangannya kembali, lalu berdiri dan berjalan melewatinya menuju luar.Namun, suara Valerie tetap terdengar jelas, meski Bendy tidak ingin mendengarnya."Bendy, dia benar. Kalau mau balas dendam untukku, justru kamu yang paling pantas mati. Sejak awal, aku ini hanyalah seorang gadis yatim piatu. Mereka nggak akan membenciku tanpa a

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 21

    Valerie dibantu pelayan untuk keluar. Seketika, di ruang bawah tanah itu hanya tersisa Bendy, Celine, dan pria tadi. Celine benar-benar ketakutan. Dia menatap pria yang dulu pernah sangat dia cintai, seolah sedang melihat iblis."Bendy, kamu sudah gila, ya?! Kamu benar-benar orang gila! Kamu nggak takut kena balasan?" Suaranya terdengar serak, sepertinya dia sudah lama tidak minum air. Selain itu, dia juga terdengar lemah.Mendengar ucapan Celine, Bendy hanya meliriknya sekilas, lalu bangkit dan berjalan ke depannya. Dia mencengkeram dagu Celine sambil menatap rasa takut di matanya, lalu tiba-tiba tertawa."Balasan? Apa yang harus aku takutkan? Kalian saja nggak pernah mikirin balasan waktu melakukan hal-hal itu, sekarang masih berani ngatain aku?"Mendengar kata-katanya, mata Celine sekilas menunjukkan kebingungan.Hal-hal itu? Hal apa?Menyadari mungkin ini sebuah kesalahpahaman, Celine seperti melihat secercah harapan. Dia memaksakan beberapa tetes air mata, lalu berpura-pura lemah

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 20

    Kabar bahwa para junior dari empat Keluarga Septian, Litardo, Tanidar, dan Wonodiri diputus tangan kanannya dengan cara yang sangat kejam segera menyebar. Pada hari yang sama, saat Valerie bersiap-siap untuk pergi ke kantor seperti biasa dan baru saja dia naik ke mobil, tiba-tiba kesadarannya menghilang.Saat terbangun kembali, dia mendapati ruangan tempatnya berada terasa sangat familier.Setelah berpikir lama, Valerie akhirnya teringat. Tempat ini adalah kamar tempat tinggalnya selama lima tahun lalu saat Bendy membawanya kembali ke rumah Keluarga Sunarta.Dengan begitu, siapa yang membius dan membawanya ke sini juga sudah jelas.Valerie bangkit dan berjalan ke arah pintu. Saat mencoba menarik pintu itu, dia baru sadar pintu itu sudah dikunci dari luar dan sama sekali tidak bisa dibuka."Nona Valerie sudah bangun? Mohon tunggu sebentar, kami akan segera memanggil Tuan."Belum sempat Valerie merespons, dari luar sudah terdengar langkah kaki yang menjauh dengan tergesa-gesa. Valerie me

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 19

    Valerie dan Marcus saling mengenal sejak lima tahun lalu.Saat itu, Valerie baru saja tiba di Inggris.Meski tidak sampai benar-benar kesulitan bergerak, tapi karena kendala bahasa dan ditambah lagi dia berada jauh dari kampung halaman sendirian, Valerie cukup kebingungan dalam waktu yang cukup lama.Marcus adalah orang pertama dari negara asal sama yang ditemui Valerie.Setelah mereka perlahan menjadi dekat, Marcus pernah mengeluh tentang dirinya. Katanya, selama bertahun-tahun di Inggris, ini adalah pertama kalinya dia bertemu seseorang yang tidak bisa bahasa, tidak punya rencana, bahkan tidak punya semangat, tapi tetap nekat pergi ke luar negeri sendirian. Setelah tinggal selama dua bulan penuh, Valerie bahkan tidak bisa komunikasi dasar.Namun, Valerie sangat beruntung karena bertemu Marcus saat dia berada di titik terendah.Kemudian mereka membuat sebuah kesepakatan. Dengan bayaran yang tidak sedikit, Valerie mempekerjakannya sebagai pemandu.Marcus mengajarinya bahasa Inggris dan

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 18

    Awalnya Valerie mengira dia tidak akan lagi bertemu Bendy untuk waktu yang lama setelah kejadian hari itu. Namun baru dua hari berlalu, dia sudah melihat Bendy berdiri tidak jauh dari depan rumahnya.Valerie memaksa menahan rasa kesal di dalam hati sambil menunduk dan mengirim sebuah pesan. Kemudian, dia berjalan mendekat beberapa langkah ke arah Bendy, tetapi tetap menjaga jarak."Untuk apa kamu datang?"Seolah tidak melihat ketidaksabaran Valerie, ekspresi Bendy tampak begitu rendah hati seperti seseorang yang mengemis cinta dan terburu-buru ingin membuktikan ketulusannya pada orang yang dia cintai."Valerie ...."Suara pria itu sedikit serak, urat-urat merah di matanya bahkan terlihat menakutkan. Wajahnya tampak penuh kelelahan, tapi di matanya tidak terlihat sedikit pun rasa letih. Yang ada hanya kegembiraan seperti ingin menunjukkan sesuatu.Namun sayangnya, Valerie tidak berniat menghargainya."Pak Bendy sebaiknya panggil aku Bu Valerie saja. Hubungan kita belum sampai ke tahap b

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 7

    Valerie menggigit bibirnya dengan kuat, sampai terasa bau anyir di mulutnya. Jadi, hanya demi tidak membuat Celine malu, dia harus menerima semua penderitaan ini begitu saja?"Aku tetap akan lapor polisi."Bendy terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mengeluarkan buku cek. "Kalau kamu tetap ingin mempermas

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 6

    Pada saat itu, tuan rumah pesta mengumumkan sebuah permainan kecil.Pasangan diminta naik ke panggung untuk memainkan piano bersama. Penampilan terbaik akan mendapatkan satu set perhiasan berharga sebagai hadiah."Perhiasannya cantik sekali!" Mata Celine berbinar, dia menarik lengan Bendy sambil man

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 5

    Valerie menundukkan pandangannya dan berbohong, "Tante datang menjengukku, aku bilang kondisiku baik-baik saja. Jadi, aku suruh dia pulang dulu."Melihat itu, Mauria segera berpura-pura menanyakan kabar beberapa kali, lalu mencari alasan untuk pergi.Di ruang rawat hanya tersisa mereka berdua."Sebe

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 4

    Lantaran tidak ingin Bendy menyadari sesuatu sebelum kepergiannya dan demi mencegah terjadinya hal tak terduga, Valerie terdiam sejenak, lalu tetap mengangguk.Kemudian, sambil menahan rasa sakit di pergelangan kakinya, dia berdiri dan berjalan ke lemari untuk memilih pakaian.Setengah jam kemudian,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status