Share

Bab 5

Author: Aurganda
Valerie menundukkan pandangannya dan berbohong, "Tante datang menjengukku, aku bilang kondisiku baik-baik saja. Jadi, aku suruh dia pulang dulu."

Melihat itu, Mauria segera berpura-pura menanyakan kabar beberapa kali, lalu mencari alasan untuk pergi.

Di ruang rawat hanya tersisa mereka berdua.

"Sebelumnya ...." Bendy berjalan ke samping tempat tidur, suaranya agak kaku, "Kecelakaannya terlalu mendadak, aku nggak sempat bereaksi."

Valerie menjawab pelan, "Aku tahu, nggak apa-apa."

Bendy tertegun, "Kamu nggak marah?"

"Nggak."

Bendy menatap mata Valerie, mencoba menemukan sedikit saja jejak luka atau amarah, tapi tatapan Valerie tampak begitu tenang. Dia tiba-tiba merasa kesal, lalu mengulurkan tangan ingin menyentuh wajah Valerie. "Jangan bersikap begini, aku ...."

"Aku benar-benar nggak marah." Valerie memiringkan kepala menghindari sentuhannya, lalu berkata dengan tegas, "Aku ingin istirahat. Bu Celine juga terluka, kamu pergi saja temani dia."

Setelah berkata demikian, Valerie menutup mata dan membalikkan tubuh. Dia merasa Bendy berdiri sangat lama di samping tempat tidur sambil menatapnya, lalu akhirnya menutup pintu dan pergi.

Beberapa hari berikutnya, Bendy datang setiap hari. Dia duduk di samping ranjang sambil menangani pekerjaan, sesekali bertanya, "Sakit nggak?" dan Valerie selalu menggeleng.

Namun, setiap kali Valerie terbangun kembali dari tidurnya, di samping tempat tidur itu selalu kosong. Hanya terdengar perawat yang berbisik pelan.

"Pacar Bu Celine di ruang VIP sebelah baik sekali, menemaninya semalaman."

"Kudengar dia Tuan Muda Keluarga Sunarta, tampan dan setia."

Valerie menutup mata, berpura-pura tidak mendengarnya. Pada hari dia keluar dari rumah sakit, Bendy datang menjemputnya sendiri. Valerie menyeret pergelangan kakinya yang belum sepenuhnya sembuh untuk berjalan perlahan ke depan mobil. Namun saat hendak membuka pintu, dia tiba-tiba terdiam.

Celine duduk di kursi depan sambil tersenyum lembut padanya, "Kamu nggak keberatan aku ikut menumpang, 'kan? Aku sedikit mabuk kendaraan, jadi cuma bisa duduk di depan."

Bendy mengerutkan kening, seolah ingin menjelaskan sesuatu, tapi Valerie sudah lebih dulu berkata, "Nggak apa-apa."

Valerie duduk di kursi belakang. Bagaikan orang asing, dia menatap punggung kedua orang di depan. Bendy meliriknya lewat kaca spion, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya tidak berkata apa-apa.

Mobil berhenti di depan sebuah vila mewah. Baru saat itu Valerie sadar, Bendy tidak membawanya pulang, melainkan membawanya ke pesta perayaan ulang tahun pernikahan emas seorang tokoh terpandang di kalangan mereka.

"Bukankah itu Tuan Muda Sunarta? Kenapa bawa dua wanita sekaligus?"

"Yang pakai gaun putih itu Valerie, 'kan? Katanya dari daerah kumuh, latar belakangnya biasa saja."

"Memang Celine yang paling cocok sama Pak Bendy, sepadan."

Suara bisikan para tamu terdengar jelas, tetapi Valerie hanya berdiri diam di sudut seolah tidak mendengarnya. Sepanjang acara, Bendy menemani Celine. Dia mengambilkan minuman untuk Celine, memakaikan jaket, tatapannya tampak begitu lembut.

"Valerie, aku ajak kamu berkenalan sama beberapa teman, ya." Celine tiba-tiba mendekat, lalu menggandeng lengannya dengan akrab.

Belum sempat Valerie menolak, dia sudah ditarik ke depan sekelompok wanita sosialita.

"Ini Valerie, pacarnya ... Bendy."

Celine tersenyum memperkenalkan, lalu tiba-tiba beralih menggunakan bahasa Jerman yang fasih, berbicara dengan para sosialita itu.

Beberapa orang sempat tertegun, lalu segera ikut berbicara dalam bahasa Jerman dan sesekali tertawa ringan. Valerie berdiri di tempat, seolah terisolasi di balik dinding perbedaan bahasa yang tinggi.

"Bu Valerie?" Celine tiba-tiba bertanya dalam bahasa lokal kembali, "Menurutmu gimana?"

"Apa?"

"Ah, maaf, aku lupa kamu nggak bisa bahasa Jerman." Celine menunjukkan ekspresi meminta maaf, lalu menoleh pada yang lain, "Bu Valerie belum pernah belajar bahasa asing, jangan keberatan ya."

Seketika langsung terdengar beberapa tawa kecil, seperti jarum yang menusuk hati Valerie.

"Nggak apa-apa, pelan-pelan saja belajarnya." Celine menepuk tangan Valerie, nadanya lembut seperti sedang menenangkan anak kecil yang kurang mampu.

Valerie menundukkan kepala, kukunya menancap dalam ke telapak tangan.

Di bawah tatapan orang-orang yang antara mengejek dan kasihan, dia merasa seperti lelucon yang dipermalukan di depan umum. Setiap tarikan napas terasa begitu perih.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 23

    Keluarga Sunarta, salah satu keluarga kaya terkemuka di Kota Herbun, runtuh dalam semalam.Pimpinan Grup Sunarta ditangkap untuk penyelidikan karena terlibat dalam penculikan, penahanan ilegal, dan berbagai tindak kriminal lainnya. Kasus ini juga menyeret kembali sebuah kasus pemerkosaan dari lima tahun lalu.Pada akhirnya, Bendy dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara. Sementara itu, satu pelaku lainnya dihukum tiga tahun penjara karena dibayar untuk melakukan kejahatan. Namun karena kejahatan itu belum sempat berhasil dilakukan, ditambah pelaku mengalami luka berat dan gangguan mental, hukumannya diubah menjadi masa percobaan, dengan konsekuensi harus menghabiskan sisa hidupnya di rumah sakit jiwa.Bendy mengakui semua kejahatannya tanpa bantahan. Hanya ada satu syarat, dia ingin bertemu Valerie sekali lagi. Setelah ragu cukup lama, akhirnya Valerie menyetujui pertemuan itu.Hanya saja, dia tidak datang sendirian.Di ruang kunjungan, kaca tebal kedap suara memisahkan mereka di dua sis

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 22

    "Bendy, kamu benar-benar nggak tahu?"Suara Valerie sama sekali tidak mengandung emosi. Setiap katanya seperti es yang menusuk tubuh Bendy, membuatnya langsung membeku di tempat.Teriakan Celine menembus pintu ruang bawah tanah dan terdengar jelas di telinga mereka, "Bendy, kamu mau balas dendam untuk dia? Justru kamu yang paling pantas mati!"Darah Bendy terasa mendingin sedikit demi sedikit. Bendy ingin berpura-pura tidak mendengar dan melarikan diri, tapi Valerie mengangkat tangan dan menyentuh sisi wajah Bendy, membuatnya tidak bisa bergerak.Cahaya masuk dari jendela, tetapi tidak mampu mengusir kegelapan di pintu masuk ruang bawah tanah. Valerie menarik tangannya kembali, lalu berdiri dan berjalan melewatinya menuju luar.Namun, suara Valerie tetap terdengar jelas, meski Bendy tidak ingin mendengarnya."Bendy, dia benar. Kalau mau balas dendam untukku, justru kamu yang paling pantas mati. Sejak awal, aku ini hanyalah seorang gadis yatim piatu. Mereka nggak akan membenciku tanpa a

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 21

    Valerie dibantu pelayan untuk keluar. Seketika, di ruang bawah tanah itu hanya tersisa Bendy, Celine, dan pria tadi. Celine benar-benar ketakutan. Dia menatap pria yang dulu pernah sangat dia cintai, seolah sedang melihat iblis."Bendy, kamu sudah gila, ya?! Kamu benar-benar orang gila! Kamu nggak takut kena balasan?" Suaranya terdengar serak, sepertinya dia sudah lama tidak minum air. Selain itu, dia juga terdengar lemah.Mendengar ucapan Celine, Bendy hanya meliriknya sekilas, lalu bangkit dan berjalan ke depannya. Dia mencengkeram dagu Celine sambil menatap rasa takut di matanya, lalu tiba-tiba tertawa."Balasan? Apa yang harus aku takutkan? Kalian saja nggak pernah mikirin balasan waktu melakukan hal-hal itu, sekarang masih berani ngatain aku?"Mendengar kata-katanya, mata Celine sekilas menunjukkan kebingungan.Hal-hal itu? Hal apa?Menyadari mungkin ini sebuah kesalahpahaman, Celine seperti melihat secercah harapan. Dia memaksakan beberapa tetes air mata, lalu berpura-pura lemah

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 20

    Kabar bahwa para junior dari empat Keluarga Septian, Litardo, Tanidar, dan Wonodiri diputus tangan kanannya dengan cara yang sangat kejam segera menyebar. Pada hari yang sama, saat Valerie bersiap-siap untuk pergi ke kantor seperti biasa dan baru saja dia naik ke mobil, tiba-tiba kesadarannya menghilang.Saat terbangun kembali, dia mendapati ruangan tempatnya berada terasa sangat familier.Setelah berpikir lama, Valerie akhirnya teringat. Tempat ini adalah kamar tempat tinggalnya selama lima tahun lalu saat Bendy membawanya kembali ke rumah Keluarga Sunarta.Dengan begitu, siapa yang membius dan membawanya ke sini juga sudah jelas.Valerie bangkit dan berjalan ke arah pintu. Saat mencoba menarik pintu itu, dia baru sadar pintu itu sudah dikunci dari luar dan sama sekali tidak bisa dibuka."Nona Valerie sudah bangun? Mohon tunggu sebentar, kami akan segera memanggil Tuan."Belum sempat Valerie merespons, dari luar sudah terdengar langkah kaki yang menjauh dengan tergesa-gesa. Valerie me

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 19

    Valerie dan Marcus saling mengenal sejak lima tahun lalu.Saat itu, Valerie baru saja tiba di Inggris.Meski tidak sampai benar-benar kesulitan bergerak, tapi karena kendala bahasa dan ditambah lagi dia berada jauh dari kampung halaman sendirian, Valerie cukup kebingungan dalam waktu yang cukup lama.Marcus adalah orang pertama dari negara asal sama yang ditemui Valerie.Setelah mereka perlahan menjadi dekat, Marcus pernah mengeluh tentang dirinya. Katanya, selama bertahun-tahun di Inggris, ini adalah pertama kalinya dia bertemu seseorang yang tidak bisa bahasa, tidak punya rencana, bahkan tidak punya semangat, tapi tetap nekat pergi ke luar negeri sendirian. Setelah tinggal selama dua bulan penuh, Valerie bahkan tidak bisa komunikasi dasar.Namun, Valerie sangat beruntung karena bertemu Marcus saat dia berada di titik terendah.Kemudian mereka membuat sebuah kesepakatan. Dengan bayaran yang tidak sedikit, Valerie mempekerjakannya sebagai pemandu.Marcus mengajarinya bahasa Inggris dan

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 18

    Awalnya Valerie mengira dia tidak akan lagi bertemu Bendy untuk waktu yang lama setelah kejadian hari itu. Namun baru dua hari berlalu, dia sudah melihat Bendy berdiri tidak jauh dari depan rumahnya.Valerie memaksa menahan rasa kesal di dalam hati sambil menunduk dan mengirim sebuah pesan. Kemudian, dia berjalan mendekat beberapa langkah ke arah Bendy, tetapi tetap menjaga jarak."Untuk apa kamu datang?"Seolah tidak melihat ketidaksabaran Valerie, ekspresi Bendy tampak begitu rendah hati seperti seseorang yang mengemis cinta dan terburu-buru ingin membuktikan ketulusannya pada orang yang dia cintai."Valerie ...."Suara pria itu sedikit serak, urat-urat merah di matanya bahkan terlihat menakutkan. Wajahnya tampak penuh kelelahan, tapi di matanya tidak terlihat sedikit pun rasa letih. Yang ada hanya kegembiraan seperti ingin menunjukkan sesuatu.Namun sayangnya, Valerie tidak berniat menghargainya."Pak Bendy sebaiknya panggil aku Bu Valerie saja. Hubungan kita belum sampai ke tahap b

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 7

    Valerie menggigit bibirnya dengan kuat, sampai terasa bau anyir di mulutnya. Jadi, hanya demi tidak membuat Celine malu, dia harus menerima semua penderitaan ini begitu saja?"Aku tetap akan lapor polisi."Bendy terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mengeluarkan buku cek. "Kalau kamu tetap ingin mempermas

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 6

    Pada saat itu, tuan rumah pesta mengumumkan sebuah permainan kecil.Pasangan diminta naik ke panggung untuk memainkan piano bersama. Penampilan terbaik akan mendapatkan satu set perhiasan berharga sebagai hadiah."Perhiasannya cantik sekali!" Mata Celine berbinar, dia menarik lengan Bendy sambil man

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 4

    Lantaran tidak ingin Bendy menyadari sesuatu sebelum kepergiannya dan demi mencegah terjadinya hal tak terduga, Valerie terdiam sejenak, lalu tetap mengangguk.Kemudian, sambil menahan rasa sakit di pergelangan kakinya, dia berdiri dan berjalan ke lemari untuk memilih pakaian.Setengah jam kemudian,

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 3

    Valerie terpaku menatap staf yang menyerahkan gelang itu ke depan Celine dengan hormat. Dengan senyum di wajah, Celine mengulurkan tangan untuk menerimanya. Ujung jarinya baru saja menyentuh tepi kotak, tiba-tiba terdengar, "Ah!"Plak!Gelang giok itu terlepas dari kotak dan terjatuh ke lantai marme

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status