Share

Bab 7

Penulis: Aurganda
Valerie menggigit bibirnya dengan kuat, sampai terasa bau anyir di mulutnya. Jadi, hanya demi tidak membuat Celine malu, dia harus menerima semua penderitaan ini begitu saja?

"Aku tetap akan lapor polisi."

Bendy terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mengeluarkan buku cek. "Kalau kamu tetap ingin mempermasalahkan ini, aku akan mewakili mereka ganti rugi."

Suara ujung pena menggesek kertas terdengar jelas di ruang rawat, setiap goresannya seperti menyayat hati Valerie. Saat dia menulis angka pertama, Valerie menggigit bibirnya semakin kuat, rasa darah semakin memenuhi mulutnya.

Melihat Valerie tidak menerimanya, Bendy mengira jumlahnya terlalu sedikit. Dia lalu merobek cek itu dan menulis ulang angka yang lain.

Sekali, dua kali, tiga kali ....

Nominal di cek itu terus bertambah.

Saat cek dengan angka 200 miliar disodorkan ke hadapannya, Valerie tiba-tiba teringat malam hujan tiga tahun lalu.

Saat itu mereka tinggal di kamar sewaan sempit. Bendy pulang kerja lembur pukul tiga pagi, tubuhnya basah kuyup tapi tetap tersenyum sambil memeluknya, "Val, aku pasti akan menghasilkan ratusan miliar, supaya kamu nggak perlu menderita lagi."

Janji itu memang terwujud, tapi dengan cara seperti ini.

Bendy bisa menulis 200 miliar dengan santai, tapi itu untuk membuatnya melepaskan orang-orang yang telah menginjak-injaknya.

"Dua ratus miliar, cukup?" Dia kembali menyodorkan cek itu.

Dengan tangan gemetar, Valerie menerima cek itu, lalu tiba-tiba tertawa.

Semakin tertawa, air matanya pun menetes di atas cek hingga membuat tinta memudar.

"Cukup." Suaranya serak, hingga hampir tidak terdengar seperti miliknya sendiri, "Bendy, janji yang dulu kamu ucapkan, akhirnya terwujud juga."

Bendy tertegun dan mengerutkan kening, seolah tidak mengerti maksudnya.

Mana mungkin dia mengerti?

Bendy yang dulu memeluknya erat di kamar sewaan, yang berjanji akan menghasilkan ratusan miliar demi memberinya kehidupan yang lebih baik, sudah lama mati di masa lalu.

Mati sepenuhnya, tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Sejak hari itu, Bendy tidak pernah lagi datang ke rumah sakit.

Namun setiap pagi pukul sepuluh, asistennya selalu datang tepat waktu untuk membawa kotak suplemen berkemasan mewah di tangannya.

Hari ini sarang burung walet, kemarin cordyceps, lusa kolagen impor.

"Pak Bendy menitip pesan, akhir-akhir ini dia sangat sibuk sama pekerjaan." Asisten yang berdiri di samping tempat tidur, berkata dengan nada sopan dan berjarak, "Pak Bendy berharap Bu Valerie fokus memulihkan diri."

Valerie mengangguk, tatapannya tertuju pada tumpukan suplemen yang belum dibuka di meja samping tempat tidur.

Logo berlapis emas di kemasannya berkilau di bawah sinar matahari, sama seperti kehidupan Bendy sekarang yang begitu mencolok.

Setelah asisten pergi, dia membuka ponselnya dan melihat unggahan terbaru Celine.

Di foto itu, dia bersandar di bahu Bendy. Latar belakangnya laut biru dan langit cerah Maladewa. Keterangannya berbunyi.

[ Terima kasih untuk seseorang yang menyempatkan waktu di tengah kesibukannya untuk menemaniku. ]

Valerie menatap foto itu lama sekali, sampai matanya terasa perih. Jadi, kesibukan yang dia maksud adalah sibuk menemani Celine berlibur ke Maladewa.

Saat hendak menutup ponsel, sebuah pesan masuk tiba-tiba muncul.

[ Yth. Ibu Valerie, permohonan visa Anda telah disetujui. Paspor akan selesai besok. Silakan membawa identitas asli untuk pengambilan pada jam kerja. ]

Valerie membaca pesan itu berulang kali, lalu tiba-tiba tertawa.

Semakin tertawa, air matanya menetes di layar ponsel hingga mengaburkan tulisan "disetujui".

Akhirnya, semuanya akan berakhir.

Valerie tidak perlu lagi menghitung detik menunggu dia pulang, tidak perlu lagi memakan makan malam yang sudah dingin di tengah malam sendirian, tidak perlu lagi menahan tatapan meremehkan dari Mauria.

Yang terpenting lagi ....

Akhirnya Valerie bisa melepaskan dirinya sendiri yang terus terjebak dalam kenangan yang menyiksa.

Keesokan siangnya, Valerie menyelesaikan prosedur keluar dari rumah sakit, lalu langsung pergi ke pusat visa untuk mengambil paspor dan tiketnya.

Saat kembali ke vila, dia melihat Bendy dan Celine berdiri di ruang tamu sedang mengobrol. Para pengawal sedang memindahkan koper ke kamar tamu.

Melihat dia kembali, keduanya serentak menoleh ke arahnya.

Bendy menundukkan pandangan sejenak, lalu menjelaskan, "Orang tua Celine pergi ke luar negeri. Dia takut sendirian di rumah, jadi datang ke sini untuk tinggal sementara. Keluarga kita sudah lama saling kenal, ditambah ada kerja sama, sudah seharusnya aku lebih menjaganya."

Sebenarnya, Bendy tidak perlu menjelaskan padanya. Karena mulai hari ini, sudah tidak ada hubungan apa pun lagi di antara mereka.

Valerie mengangguk, lalu berbalik naik ke atas.

"Oh ya." Celine tiba-tiba memanggilnya, "Nanti ada pertunjukan musikal, aku dan Bendy berencana pergi menonton. Kamu mau ikut?"

Valerie belum sempat menjawab, Bendy sudah mewakilinya menjawab, "Tangannya masih terluka, lebih baik istirahat di rumah. Lagian, dia juga nggak mengerti hal-hal seperti itu."

Valerie berhenti melangkah, menoleh dan memperlihatkan senyum pucat. "Iya, aku nggak mengerti."

Tak lama setelah mereka pergi, Valerie juga sudah selesai merapikan barangnya. Dia berdiri di tengah kamar sambil memandang sekeliling ruangan yang dulu pernah menampung begitu banyak harapannya, kini hanya tersisa kehampaan.

Di meja masih terletak foto mereka. Dalam foto itu, tatapan Bendy terlihat begitu lembut, seolah di seluruh dunia hanya ada Valerie seorang.

Valerie mengusap bingkai foto itu dengan lembut, lalu membalikkannya menghadap ke bawah. Dia berjalan ke pintu dan meletakkan kunci di meja dekat pintu masuk, lalu menutup pintu dengan pelan.

Pada malam yang hujan deras di tiga tahun lalu, dia menemukan seorang pria muda berlumuran darah di ujung gang, seperti menemukan bintang yang jatuh.

Tiga tahun kemudian, dia menyeret koper dan pergi dengan tenang.

Lampu vila di belakangnya perlahan meredup, seolah bintang itu tidak pernah bersinar dalam hidupnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 23

    Keluarga Sunarta, salah satu keluarga kaya terkemuka di Kota Herbun, runtuh dalam semalam.Pimpinan Grup Sunarta ditangkap untuk penyelidikan karena terlibat dalam penculikan, penahanan ilegal, dan berbagai tindak kriminal lainnya. Kasus ini juga menyeret kembali sebuah kasus pemerkosaan dari lima tahun lalu.Pada akhirnya, Bendy dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara. Sementara itu, satu pelaku lainnya dihukum tiga tahun penjara karena dibayar untuk melakukan kejahatan. Namun karena kejahatan itu belum sempat berhasil dilakukan, ditambah pelaku mengalami luka berat dan gangguan mental, hukumannya diubah menjadi masa percobaan, dengan konsekuensi harus menghabiskan sisa hidupnya di rumah sakit jiwa.Bendy mengakui semua kejahatannya tanpa bantahan. Hanya ada satu syarat, dia ingin bertemu Valerie sekali lagi. Setelah ragu cukup lama, akhirnya Valerie menyetujui pertemuan itu.Hanya saja, dia tidak datang sendirian.Di ruang kunjungan, kaca tebal kedap suara memisahkan mereka di dua sis

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 22

    "Bendy, kamu benar-benar nggak tahu?"Suara Valerie sama sekali tidak mengandung emosi. Setiap katanya seperti es yang menusuk tubuh Bendy, membuatnya langsung membeku di tempat.Teriakan Celine menembus pintu ruang bawah tanah dan terdengar jelas di telinga mereka, "Bendy, kamu mau balas dendam untuk dia? Justru kamu yang paling pantas mati!"Darah Bendy terasa mendingin sedikit demi sedikit. Bendy ingin berpura-pura tidak mendengar dan melarikan diri, tapi Valerie mengangkat tangan dan menyentuh sisi wajah Bendy, membuatnya tidak bisa bergerak.Cahaya masuk dari jendela, tetapi tidak mampu mengusir kegelapan di pintu masuk ruang bawah tanah. Valerie menarik tangannya kembali, lalu berdiri dan berjalan melewatinya menuju luar.Namun, suara Valerie tetap terdengar jelas, meski Bendy tidak ingin mendengarnya."Bendy, dia benar. Kalau mau balas dendam untukku, justru kamu yang paling pantas mati. Sejak awal, aku ini hanyalah seorang gadis yatim piatu. Mereka nggak akan membenciku tanpa a

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 21

    Valerie dibantu pelayan untuk keluar. Seketika, di ruang bawah tanah itu hanya tersisa Bendy, Celine, dan pria tadi. Celine benar-benar ketakutan. Dia menatap pria yang dulu pernah sangat dia cintai, seolah sedang melihat iblis."Bendy, kamu sudah gila, ya?! Kamu benar-benar orang gila! Kamu nggak takut kena balasan?" Suaranya terdengar serak, sepertinya dia sudah lama tidak minum air. Selain itu, dia juga terdengar lemah.Mendengar ucapan Celine, Bendy hanya meliriknya sekilas, lalu bangkit dan berjalan ke depannya. Dia mencengkeram dagu Celine sambil menatap rasa takut di matanya, lalu tiba-tiba tertawa."Balasan? Apa yang harus aku takutkan? Kalian saja nggak pernah mikirin balasan waktu melakukan hal-hal itu, sekarang masih berani ngatain aku?"Mendengar kata-katanya, mata Celine sekilas menunjukkan kebingungan.Hal-hal itu? Hal apa?Menyadari mungkin ini sebuah kesalahpahaman, Celine seperti melihat secercah harapan. Dia memaksakan beberapa tetes air mata, lalu berpura-pura lemah

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 20

    Kabar bahwa para junior dari empat Keluarga Septian, Litardo, Tanidar, dan Wonodiri diputus tangan kanannya dengan cara yang sangat kejam segera menyebar. Pada hari yang sama, saat Valerie bersiap-siap untuk pergi ke kantor seperti biasa dan baru saja dia naik ke mobil, tiba-tiba kesadarannya menghilang.Saat terbangun kembali, dia mendapati ruangan tempatnya berada terasa sangat familier.Setelah berpikir lama, Valerie akhirnya teringat. Tempat ini adalah kamar tempat tinggalnya selama lima tahun lalu saat Bendy membawanya kembali ke rumah Keluarga Sunarta.Dengan begitu, siapa yang membius dan membawanya ke sini juga sudah jelas.Valerie bangkit dan berjalan ke arah pintu. Saat mencoba menarik pintu itu, dia baru sadar pintu itu sudah dikunci dari luar dan sama sekali tidak bisa dibuka."Nona Valerie sudah bangun? Mohon tunggu sebentar, kami akan segera memanggil Tuan."Belum sempat Valerie merespons, dari luar sudah terdengar langkah kaki yang menjauh dengan tergesa-gesa. Valerie me

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 19

    Valerie dan Marcus saling mengenal sejak lima tahun lalu.Saat itu, Valerie baru saja tiba di Inggris.Meski tidak sampai benar-benar kesulitan bergerak, tapi karena kendala bahasa dan ditambah lagi dia berada jauh dari kampung halaman sendirian, Valerie cukup kebingungan dalam waktu yang cukup lama.Marcus adalah orang pertama dari negara asal sama yang ditemui Valerie.Setelah mereka perlahan menjadi dekat, Marcus pernah mengeluh tentang dirinya. Katanya, selama bertahun-tahun di Inggris, ini adalah pertama kalinya dia bertemu seseorang yang tidak bisa bahasa, tidak punya rencana, bahkan tidak punya semangat, tapi tetap nekat pergi ke luar negeri sendirian. Setelah tinggal selama dua bulan penuh, Valerie bahkan tidak bisa komunikasi dasar.Namun, Valerie sangat beruntung karena bertemu Marcus saat dia berada di titik terendah.Kemudian mereka membuat sebuah kesepakatan. Dengan bayaran yang tidak sedikit, Valerie mempekerjakannya sebagai pemandu.Marcus mengajarinya bahasa Inggris dan

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 18

    Awalnya Valerie mengira dia tidak akan lagi bertemu Bendy untuk waktu yang lama setelah kejadian hari itu. Namun baru dua hari berlalu, dia sudah melihat Bendy berdiri tidak jauh dari depan rumahnya.Valerie memaksa menahan rasa kesal di dalam hati sambil menunduk dan mengirim sebuah pesan. Kemudian, dia berjalan mendekat beberapa langkah ke arah Bendy, tetapi tetap menjaga jarak."Untuk apa kamu datang?"Seolah tidak melihat ketidaksabaran Valerie, ekspresi Bendy tampak begitu rendah hati seperti seseorang yang mengemis cinta dan terburu-buru ingin membuktikan ketulusannya pada orang yang dia cintai."Valerie ...."Suara pria itu sedikit serak, urat-urat merah di matanya bahkan terlihat menakutkan. Wajahnya tampak penuh kelelahan, tapi di matanya tidak terlihat sedikit pun rasa letih. Yang ada hanya kegembiraan seperti ingin menunjukkan sesuatu.Namun sayangnya, Valerie tidak berniat menghargainya."Pak Bendy sebaiknya panggil aku Bu Valerie saja. Hubungan kita belum sampai ke tahap b

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 6

    Pada saat itu, tuan rumah pesta mengumumkan sebuah permainan kecil.Pasangan diminta naik ke panggung untuk memainkan piano bersama. Penampilan terbaik akan mendapatkan satu set perhiasan berharga sebagai hadiah."Perhiasannya cantik sekali!" Mata Celine berbinar, dia menarik lengan Bendy sambil man

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 5

    Valerie menundukkan pandangannya dan berbohong, "Tante datang menjengukku, aku bilang kondisiku baik-baik saja. Jadi, aku suruh dia pulang dulu."Melihat itu, Mauria segera berpura-pura menanyakan kabar beberapa kali, lalu mencari alasan untuk pergi.Di ruang rawat hanya tersisa mereka berdua."Sebe

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 2

    Valerie pulang sendirian.Setelah sampai, dia langsung mengambil kotak P3K di ruang tamu untuk membersihkan luka dan mengoleskan obat, lalu membalutnya sendiri. Lukanya terasa perih, seperti ribuan semut sedang menggerogoti.Saat berbalik hendak naik ke lantai atas, Valerie tanpa sengaja melirik pia

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 1

    "Seratus miliar. Dalam satu minggu, kamu harus ke luar negeri dan menjauh dari anakku selamanya." Mauria duduk di seberang Valerie, wajahnya yang terawat menampilkan rasa meremehkan tanpa disembunyikan sedikit pun.Kalau dulu, Valerie pasti akan membalas dengan mata memerah, "Aku pacaran sama dia bu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status