Share

Bab 4

Author: Aurganda
Lantaran tidak ingin Bendy menyadari sesuatu sebelum kepergiannya dan demi mencegah terjadinya hal tak terduga, Valerie terdiam sejenak, lalu tetap mengangguk.

Kemudian, sambil menahan rasa sakit di pergelangan kakinya, dia berdiri dan berjalan ke lemari untuk memilih pakaian.

Setengah jam kemudian, mereka tiba di tujuan.

Vila Keluarga Sunarta terang benderang. Saat Valerie mengikuti Bendy masuk, pandangan pertamanya langsung tertuju pada Celine yang duduk di sofa.

Celine mengenakan setelan Chanel yang elegan dan sedang berbincang akrab dengan Mauria. Ayah Bendy berada di samping mereka tersenyum sambil mengangguk, suasananya tampak hangat dan harmonis.

"Bendy sudah datang!" Mauria menyambut Bendy dengan penuh antusias, tapi dia mengabaikan Valerie dan langsung menarik lengan putranya. "Celine sudah lama nunggu kamu."

Bendy tertegun sejenak, tanpa sadar menoleh ke arah Valerie. Dia mengira akan melihat tatapan Valerie yang penuh luka atau setidaknya ekspresi menahan sedih, tapi Valerie hanya berdiri tenang di samping, seolah semua ini tidak ada hubungannya dengannya.

"Valerie juga datang?" Celine pura-pura terkejut, lalu tersenyum lembut, "Silakan duduk, jangan sungkan."

Baru saat itu Mauria melirik Valerie sekilas, lalu berkata dengan dingin, "Kalau sudah datang, jaga sikap. Jangan mempermalukan keluarga kami."

Valerie tetap diam.

Di meja makan, Mauria dan Celine membicarakan gosip kalangan sosialita, ayah Bendy dan Bendy membahas proyek perusahaan, tidak ada satu pun yang berbicara padanya.

Valerie bagaikan orang transparan yang diam-diam memakan makanan di depannya, sementara di telinganya terus terdengar sindiran halus dari Mauria.

"Kesesuaian status itu sangat penting."

"Ada beberapa gadis yang memang nggak tahu diri."

"Celine dan Bendy sudah saling kenal sejak kecil, tahu latar belakang satu sama lain, sangat cocok."

Kata-kata seperti ini sudah terlalu sering dia dengar.

Di awal, Bendy masih akan memotong ucapan ibunya dengan wajah dingin. Kemudian, dia hanya mengerutkan kening sambil berkata, "Bu, cukup."

Sekarang ....

Bendy bahkan tidak lagi mengerutkan kening.

Valerie menunduk meminum sup. Cairan panas mengalir di tenggorokannya, tapi tidak mampu menghangatkan hatinya yang dingin.

Setelah makan malam, Bendy mengantar mereka pulang. Celine refleks duduk di kursi depan, sementara Valerie sendirian di kursi belakang. Di dalam mobil diputar lagu favorit Celine. Dia tersenyum sambil membahas jamuan tadi bersama Bendy.

Valerie menatap lampu neon di luar jendela yang tampak buram, lalu tiba-tiba teringat musim dingin tahun itu. Bendy mengayuh sepeda bekas membawanya pulang. Valerie memeluk pinggangnya dan menyelipkan tangan yang membeku ke dalam saku jaket Bendy.

"Val, nanti kalau aku sudah punya uang, aku pasti beli mobil bagus. Nggak akan buat kamu kedinginan lagi."

Sekarang Bendy memang sudah punya uang, tapi yang duduk di kursi depan bukan lagi Valerie.

Sorot lampu mobil tiba-tiba menyilaukan. Belum sempat dia bereaksi, terlihat sebuah truk melaju tak terkendali ke arah mereka.

Brak!

Di tengah suara benturan yang besar, Valerie melihat Bendy tanpa ragu menerjang ke arah kursi depan dan menggunakan tubuhnya untuk melindungi Celine.

Sementara itu, tubuh Valerie sendiri terlempar ke depan oleh inersia. Dahinya menghantam kaca depan dan darah langsung mengaburkan pandangannya.

Pada detik terakhir sebelum kesadarannya hilang, dia dengan jelas mendengar suara hatinya yang hancur. Ternyata, bahkan di saat ambang kematian pun, dirinya ini bukan lagi pilihan Bendy sekarang.

....

Saat terbangun kembali, Valerie mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit.

Luka di dahinya sudah dibalut, luka lama di pergelangan kakinya bertambah parah. Rasa sakit membuatnya sulit bergerak.

Baru saja berusaha menopang tubuh untuk bangun, pintu kamar rawat terbuka. Mauria masuk dengan sepatu hak tingginya.

"Valerie, bukannya aku sudah suruh kamu pergi ke luar negeri?" Dia menatap dari atas dengan tatapan meremehkan dan berkata, "Masih belum pergi juga? Kenapa? Masih bermimpi bisa menikah ke Keluarga Sunarta?"

Valerie menatapnya dengan tenang. "Bukan, hanya saja prosesnya belum selesai. Tenang saja, begitu visa keluar, aku akan langsung pergi." Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Pergi sejauh mungkin, sampai dia nggak akan pernah menemukanku."

Mauria mencibir, "Semoga kamu menepati kata-katamu."

Baru saja kata-kata itu selesai, pintu kamar rawat kembali terbuka. Bendy berdiri di ambang pintu dengan wajah muram. "Pergi? Siapa yang mau pergi?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 23

    Keluarga Sunarta, salah satu keluarga kaya terkemuka di Kota Herbun, runtuh dalam semalam.Pimpinan Grup Sunarta ditangkap untuk penyelidikan karena terlibat dalam penculikan, penahanan ilegal, dan berbagai tindak kriminal lainnya. Kasus ini juga menyeret kembali sebuah kasus pemerkosaan dari lima tahun lalu.Pada akhirnya, Bendy dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara. Sementara itu, satu pelaku lainnya dihukum tiga tahun penjara karena dibayar untuk melakukan kejahatan. Namun karena kejahatan itu belum sempat berhasil dilakukan, ditambah pelaku mengalami luka berat dan gangguan mental, hukumannya diubah menjadi masa percobaan, dengan konsekuensi harus menghabiskan sisa hidupnya di rumah sakit jiwa.Bendy mengakui semua kejahatannya tanpa bantahan. Hanya ada satu syarat, dia ingin bertemu Valerie sekali lagi. Setelah ragu cukup lama, akhirnya Valerie menyetujui pertemuan itu.Hanya saja, dia tidak datang sendirian.Di ruang kunjungan, kaca tebal kedap suara memisahkan mereka di dua sis

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 22

    "Bendy, kamu benar-benar nggak tahu?"Suara Valerie sama sekali tidak mengandung emosi. Setiap katanya seperti es yang menusuk tubuh Bendy, membuatnya langsung membeku di tempat.Teriakan Celine menembus pintu ruang bawah tanah dan terdengar jelas di telinga mereka, "Bendy, kamu mau balas dendam untuk dia? Justru kamu yang paling pantas mati!"Darah Bendy terasa mendingin sedikit demi sedikit. Bendy ingin berpura-pura tidak mendengar dan melarikan diri, tapi Valerie mengangkat tangan dan menyentuh sisi wajah Bendy, membuatnya tidak bisa bergerak.Cahaya masuk dari jendela, tetapi tidak mampu mengusir kegelapan di pintu masuk ruang bawah tanah. Valerie menarik tangannya kembali, lalu berdiri dan berjalan melewatinya menuju luar.Namun, suara Valerie tetap terdengar jelas, meski Bendy tidak ingin mendengarnya."Bendy, dia benar. Kalau mau balas dendam untukku, justru kamu yang paling pantas mati. Sejak awal, aku ini hanyalah seorang gadis yatim piatu. Mereka nggak akan membenciku tanpa a

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 21

    Valerie dibantu pelayan untuk keluar. Seketika, di ruang bawah tanah itu hanya tersisa Bendy, Celine, dan pria tadi. Celine benar-benar ketakutan. Dia menatap pria yang dulu pernah sangat dia cintai, seolah sedang melihat iblis."Bendy, kamu sudah gila, ya?! Kamu benar-benar orang gila! Kamu nggak takut kena balasan?" Suaranya terdengar serak, sepertinya dia sudah lama tidak minum air. Selain itu, dia juga terdengar lemah.Mendengar ucapan Celine, Bendy hanya meliriknya sekilas, lalu bangkit dan berjalan ke depannya. Dia mencengkeram dagu Celine sambil menatap rasa takut di matanya, lalu tiba-tiba tertawa."Balasan? Apa yang harus aku takutkan? Kalian saja nggak pernah mikirin balasan waktu melakukan hal-hal itu, sekarang masih berani ngatain aku?"Mendengar kata-katanya, mata Celine sekilas menunjukkan kebingungan.Hal-hal itu? Hal apa?Menyadari mungkin ini sebuah kesalahpahaman, Celine seperti melihat secercah harapan. Dia memaksakan beberapa tetes air mata, lalu berpura-pura lemah

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 20

    Kabar bahwa para junior dari empat Keluarga Septian, Litardo, Tanidar, dan Wonodiri diputus tangan kanannya dengan cara yang sangat kejam segera menyebar. Pada hari yang sama, saat Valerie bersiap-siap untuk pergi ke kantor seperti biasa dan baru saja dia naik ke mobil, tiba-tiba kesadarannya menghilang.Saat terbangun kembali, dia mendapati ruangan tempatnya berada terasa sangat familier.Setelah berpikir lama, Valerie akhirnya teringat. Tempat ini adalah kamar tempat tinggalnya selama lima tahun lalu saat Bendy membawanya kembali ke rumah Keluarga Sunarta.Dengan begitu, siapa yang membius dan membawanya ke sini juga sudah jelas.Valerie bangkit dan berjalan ke arah pintu. Saat mencoba menarik pintu itu, dia baru sadar pintu itu sudah dikunci dari luar dan sama sekali tidak bisa dibuka."Nona Valerie sudah bangun? Mohon tunggu sebentar, kami akan segera memanggil Tuan."Belum sempat Valerie merespons, dari luar sudah terdengar langkah kaki yang menjauh dengan tergesa-gesa. Valerie me

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 19

    Valerie dan Marcus saling mengenal sejak lima tahun lalu.Saat itu, Valerie baru saja tiba di Inggris.Meski tidak sampai benar-benar kesulitan bergerak, tapi karena kendala bahasa dan ditambah lagi dia berada jauh dari kampung halaman sendirian, Valerie cukup kebingungan dalam waktu yang cukup lama.Marcus adalah orang pertama dari negara asal sama yang ditemui Valerie.Setelah mereka perlahan menjadi dekat, Marcus pernah mengeluh tentang dirinya. Katanya, selama bertahun-tahun di Inggris, ini adalah pertama kalinya dia bertemu seseorang yang tidak bisa bahasa, tidak punya rencana, bahkan tidak punya semangat, tapi tetap nekat pergi ke luar negeri sendirian. Setelah tinggal selama dua bulan penuh, Valerie bahkan tidak bisa komunikasi dasar.Namun, Valerie sangat beruntung karena bertemu Marcus saat dia berada di titik terendah.Kemudian mereka membuat sebuah kesepakatan. Dengan bayaran yang tidak sedikit, Valerie mempekerjakannya sebagai pemandu.Marcus mengajarinya bahasa Inggris dan

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 18

    Awalnya Valerie mengira dia tidak akan lagi bertemu Bendy untuk waktu yang lama setelah kejadian hari itu. Namun baru dua hari berlalu, dia sudah melihat Bendy berdiri tidak jauh dari depan rumahnya.Valerie memaksa menahan rasa kesal di dalam hati sambil menunduk dan mengirim sebuah pesan. Kemudian, dia berjalan mendekat beberapa langkah ke arah Bendy, tetapi tetap menjaga jarak."Untuk apa kamu datang?"Seolah tidak melihat ketidaksabaran Valerie, ekspresi Bendy tampak begitu rendah hati seperti seseorang yang mengemis cinta dan terburu-buru ingin membuktikan ketulusannya pada orang yang dia cintai."Valerie ...."Suara pria itu sedikit serak, urat-urat merah di matanya bahkan terlihat menakutkan. Wajahnya tampak penuh kelelahan, tapi di matanya tidak terlihat sedikit pun rasa letih. Yang ada hanya kegembiraan seperti ingin menunjukkan sesuatu.Namun sayangnya, Valerie tidak berniat menghargainya."Pak Bendy sebaiknya panggil aku Bu Valerie saja. Hubungan kita belum sampai ke tahap b

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 7

    Valerie menggigit bibirnya dengan kuat, sampai terasa bau anyir di mulutnya. Jadi, hanya demi tidak membuat Celine malu, dia harus menerima semua penderitaan ini begitu saja?"Aku tetap akan lapor polisi."Bendy terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mengeluarkan buku cek. "Kalau kamu tetap ingin mempermas

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 6

    Pada saat itu, tuan rumah pesta mengumumkan sebuah permainan kecil.Pasangan diminta naik ke panggung untuk memainkan piano bersama. Penampilan terbaik akan mendapatkan satu set perhiasan berharga sebagai hadiah."Perhiasannya cantik sekali!" Mata Celine berbinar, dia menarik lengan Bendy sambil man

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 5

    Valerie menundukkan pandangannya dan berbohong, "Tante datang menjengukku, aku bilang kondisiku baik-baik saja. Jadi, aku suruh dia pulang dulu."Melihat itu, Mauria segera berpura-pura menanyakan kabar beberapa kali, lalu mencari alasan untuk pergi.Di ruang rawat hanya tersisa mereka berdua."Sebe

  • Pasangan yang Tak Pernah Dipandang Sepadan   Bab 3

    Valerie terpaku menatap staf yang menyerahkan gelang itu ke depan Celine dengan hormat. Dengan senyum di wajah, Celine mengulurkan tangan untuk menerimanya. Ujung jarinya baru saja menyentuh tepi kotak, tiba-tiba terdengar, "Ah!"Plak!Gelang giok itu terlepas dari kotak dan terjatuh ke lantai marme

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status