หน้าหลัก / Fantasi / Pedang Penebusan / Chapter 16: Penghianatan dan Kepercayaan

แชร์

Chapter 16: Penghianatan dan Kepercayaan

ผู้เขียน: Sisin Kim
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-09 22:26:59

Lapisan terdalam kota bawah tanah Elyria adalah labirin kegelapan yang hidup, dinding-dindingnya bergetar dengan energi gelap dari Jantung Bayangan ketiga. Kristal raksasa itu, lebih gelap dan lebih besar dari sebelumnya, berdiri di tengah altar kuno, denyutnya seperti gempa kecil yang mengguncang gua.

Lord Zoltar berdiri di depannya, jubahnya compang-camping, luka-lukanya dari pertarungan sebelumnya membuatnya lemah, tapi matanya menyala dengan dendam. Di sisinya, sosok bayangan mendesis, matanya merah menyala dalam kabut ungu.

“Kalian terlambat, Aliansi Aurora!” sembur Zoltar, suaranya serak tapi penuh kebencian. “Jantung Bayangan ini akan membangunkan kekuatan yang akan menghancurkan Elyria!”

Eiran Voss melangkah maju, Zephyrion berdengung keras di tangannya, meski rohnya masih rapuh dari pertarungan sebelumnya. Mimpi buruknya... Liora terluka, pedangnya berlumur darah, membuat tangannya gemetar, tapi tekadnya tak goyah. “Kau selesai, Zoltar,” katanya, suaranya dingin tapi lemah
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pedang Penebusan    Chapter 18: Bayang-Bayang Valmoria

    Cahaya matahari pagi menyelimuti Elyria, menara-menara kaca kota berkilau seperti permata di bawah langit cerah. Alun-alun utama dipenuhi rakyat yang bersorak, menyambut Aliansi Aurora sebagai pahlawan setelah kemenangan mereka melawan Lord Zoltar dan penghancuran Jantung Bayangan ketiga. Spanduk warna-warni berkibar, dan musik harpa mengalun dari menara istana, namun di balik perayaan, ketegangan mengintai. Laporan tentang aktivitas misterius di perbatasan Valmoria telah sampai ke telinga Raja Eldrin, dan Aliansi Aurora dipanggil ke istana untuk rapat darurat. Di aula megah istana, Raja Eldrin berdiri di singgasananya, jubah emasnya memantulkan cahaya kristal di langit-langit. Matanya penuh wibawa, tapi kerutan di dahinya menunjukkan kekhawatiran. “Kalian telah menyelamatkan Elyria dari Jantung Bayangan,” katanya, suaranya bergema. “Tapi Valmoria tidak diam. Laporan dari perbatasan menyebutkan adanya sihir gelap, artefak baru, mungkin lebih berbahaya.

  • Pedang Penebusan    Chapter 17: Ancaman Baru

    Langit Elyria malam itu berkilau dengan bintang-bintang, menara-menara kaca kota memantulkan cahaya bulan seperti cermin raksasa. Di istana, aula megah dipenuhi bangsawan yang berbisik, suasana tegang saat Aliansi Aurora... minus Eiran Voss dan Liora Faye berdiri di depan Raja Eldrin. Kairos Thorne, Sylva Reed, Draven Quill, dan Vesper Hale tampak lelah tapi teguh, gulungan dari ruang rahasia di tangan Sylva sebagai bukti. Kairos melangkah maju, suaranya tegas. “Yang Mulia, kami hancurkan Jantung Bayangan ketiga dan kalahkan Lord Zoltar, tapi dia jatuh ke jurang. Kami belum yakin dia tewas. Aria Velren mengkhianati kami, kabur dengan sosok bayangan yang kemungkinan terkait Valmoria.” Sylva menyerahkan gulungan. “Dokumen ini menyebutkan pengkhianat di istana... Lord Kael dan rencana Valmoria untuk menggunakan artefak serupa melawan Elyria.” Lord Kael, berdiri di sisi aula, mendengus keras. “Tuduhan konyol!” semburnya, janggut peraknya bergetar. “Aliansi

  • Pedang Penebusan    Chapter 16: Penghianatan dan Kepercayaan

    Lapisan terdalam kota bawah tanah Elyria adalah labirin kegelapan yang hidup, dinding-dindingnya bergetar dengan energi gelap dari Jantung Bayangan ketiga. Kristal raksasa itu, lebih gelap dan lebih besar dari sebelumnya, berdiri di tengah altar kuno, denyutnya seperti gempa kecil yang mengguncang gua. Lord Zoltar berdiri di depannya, jubahnya compang-camping, luka-lukanya dari pertarungan sebelumnya membuatnya lemah, tapi matanya menyala dengan dendam. Di sisinya, sosok bayangan mendesis, matanya merah menyala dalam kabut ungu. “Kalian terlambat, Aliansi Aurora!” sembur Zoltar, suaranya serak tapi penuh kebencian. “Jantung Bayangan ini akan membangunkan kekuatan yang akan menghancurkan Elyria!” Eiran Voss melangkah maju, Zephyrion berdengung keras di tangannya, meski rohnya masih rapuh dari pertarungan sebelumnya. Mimpi buruknya... Liora terluka, pedangnya berlumur darah, membuat tangannya gemetar, tapi tekadnya tak goyah. “Kau selesai, Zoltar,” katanya, suaranya dingin tapi lemah

  • Pedang Penebusan    Chapter 15: Bayang-Bayang Kebenaran

    Di markas Aliansi Aurora di Elyria, ruang penyembuhan dipenuhi aroma bunga Liora Faye yang lembut, cahayanya memantul di dinding kristal. Eiran Voss terbaring di ranjang, wajahnya masih pucat, rohnya rapuh setelah pertarungan melawan Jantung Bayangan kedua. Zephyrion tergeletak di sampingnya, berdengung pelan, seolah merasakan kelemahan tuannya. Liora duduk di sisi ranjang, bunga penyembuhnya melayang di sekitar Eiran, mencoba memperbaiki retakan di rohnya. “Kau tahu, Voss,” kata Liora, suaranya ceria meski matanya penuh kekhawatiran, “kalau kau terus bikin aku duduk di sini, aku akan ubah kamar ini jadi taman bunga permanen.” Dia memanggil bunga kecil, meletakkannya di tangan Eiran dengan senyum tipis. Eiran membuka mata, sudut bibirnya naik sedikit. “Faye, kau dan bungamu…” katanya, suaranya lemah tapi hangat. Dia memegang bunga itu, jari-jarinya gemetar, dan mimpi buruknya... Liora terluka, pedangnya berlumur darah... muncul lagi. Dia ingin menyentuh

  • Pedang Penebusan    Chapter 14: Jantung yang Hancur dan Rahasia Istana

    Pusat labirin kota bawah tanah bergemuruh, seolah seluruh gua menjerit di bawah kekuatan Jantung Bayangan kedua. Kristal raksasa itu berdenyut dengan cahaya ungu jahat, setiap detaknya mengirimkan gelombang sihir gelap yang membuat dinding-dinding kristal di sekitar Aliansi Aurora retak. Cahaya bunga Liora Faye berkedip lemah, akar-akar Vesper Hale bergetar ketakutan, dan bayangan Sylva Reed bergerak liar, merasakan kehadiran Lord Zoltar di dekatnya. “Ini dia,” kata Kairos Thorne, apinya menyala terang di tangannya. “Kita hancurkan Jantung Bayangan sekarang, atau Elyria akan tenggelam dalam badai roh!” Aria Velren berdiri di samping altar, ilusi cahaya memorinya memproyeksikan rune pelindung. “Kristal ini lebih kuat dari yang pertama,” katanya, suaranya tegang. “Eiran, pedang rohmu mungkin satu-satunya yang bisa menghancurkannya, tapi itu berisiko.” Eiran Voss menggenggam Zephyrion, pedang itu berdengung keras, seolah menarik jiwa dan amarahnya. Mimpi b

  • Pedang Penebusan    Chapter 13: Ruang Rahasia

    Kegelapan labirin kota bawah tanah terasa semakin menyesakkan, tapi Aliansi Aurora kini berdiri di ambang terobosan. Setelah pertarungan melawan golem kristal dan jebakan memori, mereka menemukan dinding tersembunyi di pusat labirin, diukir dengan rune kuno yang bercahaya samar. Cahaya bunga Liora Faye menerangi ruangan, sementara akar-akar Vesper Hale merayap di dinding, mendeteksi celah. Bayangan Sylva Reed bergerak gelisah, merasakan kehadiran sihir gelap yang kuat di balik dinding. “Ini pintu rahasia,” kata Sylva, kacamata tipisnya memantulkan cahaya rune. “Bayangannya bilang ada petunjuk tentang Jantung Bayangan di dalam dan mungkin sesuatu tentang Zoltar.” Aria Velren melangkah maju, ilusi cahaya memorinya memproyeksikan pola rune untuk membuka pintu. “Arsip kerajaan menyebutkan ruang seperti ini,” katanya, suaranya tenang tapi matanya biru pucat melirik Eiran Voss. “Tapi hati-hati, pintu ini pasti dijaga.” Eiran, memegang Zephyrion yang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status