Home / Fantasi / Pedang Penebusan / Chapter 20: Valmoria

Share

Chapter 20: Valmoria

Author: Sisin Kim
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-13 21:00:44

Kota Valmoria berdiri seperti benteng gelap di tepi tebing, menara-menaranya dari obsidian menjulang di bawah langit kelabu, diterangi kilatan petir yang jauh. Jalanan dipenuhi pedagang berjubah gelap dan patroli bayangan, aura sihir gelap meresap di udara. Aliansi Aurora menyusup melalui lorong bawah tanah, jubah compang-camping menyamarkan mereka sebagai pedagang keliling.

Kairos Thorne memimpin, apinya disembunyikan untuk menghindari perhatian. Vesper Hale merasakan ketidakseimba
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pedang Penebusan    Chapter 31: Pemulihan dan Cinta

    Kerajaan Seraphine menyambut Aliansi Aurora dengan keheningan tegang, istana merah muda berkilau di bawah sinar bulan, tapi aroma bunga penyembuhan tidak bisa menutupi bayang-bayang ancaman. Perwakilan dari Drakmor, Sylvane, dan Korath telah pergi, ragu untuk melawan kekuatan perempuan Seraphine setelah ancaman Ratu Lysara. Namun, fokus tim tertuju pada Eiran Voss, yang terbaring di ruang penyembuhan, dikelilingi oleh penyembuh Seraphine. Ranjang batu diterangi kristal bunga, tapi suasana berat—di dada kiri Eiran, akar hitam dari Zephyrion menjalar hingga lehernya, tanda rasa sakit yang dia tanggung demi bertarung bersama tim. Eiran siuman, matanya redup, napasnya lemah. Lia, kelopak di rambutnya menyala, memeriksa kondisinya, wajahnya penuh kekhawatiran. “Dia nggak bisa bergerak,” katanya pada tim—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, dan Aria Velren—yang berdiri di sekitar ranjang. Tidak ada candaan dari Draven kali ini; wajahnya serius, matanya penuh empati. “Voss,

  • Pedang Penebusan    Chapter 30: Klimaks Perang

    Benteng Valmoria berdiri seperti makam gelap, dinding obsidiannya berdenyut dengan sihir jahat, rune-rune ungu menyala di bawah langit yang bergolak. Aliansi Aurora—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, Liora Faye, Eiran Voss, Aria Velren, dan Lia—berdiri di gerbang utama, menghadapi pasukan Zoltar: prajurit hantu dengan mata menyala dan roh pendendam yang melayang, mengeluarkan jeritan yang mengguncang jiwa. Zoltar sendiri, jubahnya compang-camping, memimpin aliansi musuh dari Drakmor, Sylvane, dan Korath, matanya penuh dendam. Kairos menyalakan perisai api, suaranya bergema. “Ini akhirnya! Hancurkan artefak, akhiri Valmoria!” Pertarungan epik meledak. Api Kairos membakar prajurit hantu, akar Vesper menjerat roh pendendam, bayangan Sylva memotong musuh, dan gelombang suara Draven menghancurkan formasi. Liora, pedang anginnya berputar, melepaskan badai kelopak yang menyapu musuh, suaranya tetap ceria meski tegang. “Ayo, teman-teman, kita nggak boleh kalah di panggung

  • Pedang Penebusan    Chapter 29: Pengkhianatan Aria

    Di luar benteng Valmoria, angin malam membawa aroma asap dan sihir gelap, dinding-dinding obsidian benteng memantulkan kilatan petir di langit kelabu. Aliansi Aurora—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, Liora Faye, Eiran Voss, dan Lia—berdiri di tengah puing-puing, napas mereka tersengal setelah bertahan dari jebakan sihir. Tiba-tiba, kabut ungu meledak, dan Aria Velren muncul, memimpin pasukan bayangan Valmoria. Rambut peraknya berkibar, rune gelap di jubahnya menyala, tapi matanya penuh konflik. “Kalian nggak seharusnya ada di sini,” katanya, suaranya dingin namun goyah. Bilah cahaya gelapnya menyala, siap menyerang. Kairos menyalakan perisai api. “Aria, berhenti! Apa yang Valmoria janjikan padamu?” Aria ragu, lalu suaranya pecah. “Keluargaku… Valmoria ancam mereka. Aku nggak punya pilihan!” Dia melepaskan ledakan cahaya gelap, memaksa tim mundur. Sylva, bayangannya menari, berteriak, “Kau pilih pengkhianatan demi ancaman? Kami bisa lindungi keluargamu, Aria!” P

  • Pedang Penebusan    Chapter 28: Perjalanan ke Benteng Valmoria

    Langit di atas hutan Valmoria kelabu, kabut tebal menyelimuti jalan menuju benteng utama, sebuah monolit obsidian yang menjulang di kejauhan, dikelilingi pilar-pilar rune gelap yang berdenyut. Aliansi Aurora bergerak hati-hati, mobil terbang mereka ditinggalkan karena jebakan sihir yang mematikan. Kairos Thorne memimpin, apinya menyala redup untuk menerangi jalan. Sylva Reed, bayangannya menari di tanah, waspada terhadap ancaman. Vesper Hale, akar-akarnya merayap, merasakan alam yang terganggu. Draven Quill, angin suaranya siap, mencoba mencairkan ketegangan. “Jadi, kita masuk ke sarang Valmoria tanpa rencana cadangan?” katanya, menyeringai. “Keren. Ini bakal jadi lagu epik.” Liora Faye berjalan di sisi Eiran Voss, tangannya mencengkeram lengan pria itu, bunga-bunganya menyala lembut. Eiran, wajahnya pucat, Zephyrion berdengung di pinggangnya, berjalan dengan langkah terhambat tapi penuh tekad. Lia, pelayan Ratu Lysara, mengikuti di belakang, kelopak di rambutnya siap untuk merapal

  • Pedang Penebusan    Chapter 27: Konspirasi Terungkap

    Cahaya fajar menyelinap melalui jendela penginapan kecil di perbatasan Elyria, menerangi wajah pucat Eiran Voss yang baru siuman. Obat Lia, dibuat dari ramuan bunga Seraphine, telah menstabilkan napasnya, tapi efeknya hanya sementara. Dia duduk di ranjang, Zephyrion berdengung pelan di sisinya, seperti pengingat akan harga yang terus dia bayar. Liora Faye, di sisinya, memegang tangannya, matanya penuh kekhawatiran tapi berusaha tersenyum. “Voss, kau bangun,” katanya, suaranya ceria meski lelah. “Tapi jangan coba-coba pingsan lagi, ya?” Eiran menatapnya, sudut bibirnya naik. “Faye, kau terlihat lebih buruk dariku,” balasnya, suaranya serak tapi dengan nada main-main. Dia menoleh ke Kairos, Sylva, Vesper, dan Draven, yang berkumpul di ruangan sempit. “Kita harus kembali ke Elyria. Sekarang. Aliansi Aurora ditunggu. Kita nggak bisa buang waktu.” Lia, kelopak di rambutnya menyala lembut, mengangguk. “Obat ini hanya tunda efek Zephyrion. Kau harus lepaskan pedang itu sepenuhnya, Eiran,

  • Pedang Penebusan    Chapter 26: Reuni di Medan Perang

    Reruntuhan kuno Valmoria masih bergemuruh dengan sisa-sisa pertempuran, kabut ungu dari artefak gelap menyelinap di antara pilar-pilar retak. Aliansi Aurora: Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, dan Liora Faye, bernafas lega setelah kedatangan Liora membalikkan keadaan melawan pasukan Zoltar. Tapi kemenangan mereka terasa hampa tanpa Eiran Voss. Saat kabut mulai memudar, langkah berat terdengar, dan Eiran muncul, didukung Lia, pelayan Ratu Lysara. Wajahnya pucat, Zephyrion berdengung lemah di pinggangnya, tapi matanya penuh tekad saat melihat Liora. “Voss!” Liora berlari ke arahnya, tangannya mencengkeram lengan Eiran. “Kau seharusnya di ranjang, bodoh!” Suaranya ceria tapi penuh kekhawatiran, bunga-bunganya menyala di sekitar Eiran seperti pelukan. Eiran tersenyum tipis, napasnya tersengal. “Faye, aku nggak bisa biarkan kau bersenang-senang sendiri,” katanya, suaranya serak tapi dengan nada main-main. Dia melangkah maju, bergabung deng

  • Pedang Penebusan    Chapter 7: Jantung yang Berdetak

    Pintu batu raksasa di ruang pusat kota bawah tanah bergemuruh saat terbuka, mengungkapkan sebuah ruangan luas yang diterangi cahaya ungu jahat dari Jantung Bayangan. Kristal raksasa itu, sebesar manusia, bertahta di tengah altar hitam, denyutnya seperti detak jantung yang mengguncang dinding gua.

  • Pedang Penebusan    Chapter 6: Kegelapan di Bawah Tanah

    Malam sebelum perjalanan ke kota bawah tanah, markas Aliansi Aurora sunyi, hanya diterangi cahaya rune lembut di dinding. Eiran Voss duduk sendirian di kamarnya, Zephyrion tergeletak di meja, pedang roh itu berdengung pelan seolah merasakan kegelisahan tuannya. Matanya terpejam, tapi tidur tidak

  • Pedang Penebusan    Chapter 5: Bayang-Bayang di Istana

    Langit Elyria kembali cerah saat mobil terbang Aliansi Aurora mendarat di pelataran markas mereka, sinar matahari memantul dari menara kaca yang berkilau. Kota ini tampak hidup kembali setelah badai mereda, tapi udara masih terasa tegang, seolah alam tahu ancaman belum selesai. Di dalam markas, t

  • Pedang Penebusan    Chapter 4: Altar Kelam

    Kabut ungu di Hutan Larang semakin tebal, menyelimuti Aliansi Aurora seperti selimut basah yang berbau sihir busuk. Pohon-pohon kuno di sekitar mereka berderit, seolah berbisik tentang rahasia yang terkubur. Di depan, sebuah altar batu kuno muncul dari kabut, diukir dengan rune hitam yang berdenyu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status