LOGIN"50 juta semalam, gimana? Bapak mau gak?"
Liona berbicara dengan santai, tetapi terdengar serius dan begitu percaya diri. Ia memberikan harga yang tidak main-main untuk tarif seorang wanita penghibur di club tersebut pada dosennya. Mendengar harga yang disebutkan, Kaisar menatap wajah cantik gadis nakal yang berbicara padanya. Ekspresinya terlihat aneh, tak percaya pada Baby Liona yang menawarkan diri dengan harga begitu tinggi. "Mau gak, Pak?" tanya Liona. Alisnya naik turun, sedangkan tangannya menyentuh dan mengusap bahu Kaisar menggunakan telapak tangannya yang halus. Bibirnya tersenyum menggoda pada Kaisar yang masih saja menatap dan memperhatikan wajahnya tanpa berkedip. "Kalau bapak setuju, saya jamin gak akan rugi," lanjut Liona. Tangannya masih saja mengusap-usap bahu Kaisar. Tingkahnya benar-benar mirip seperti wanita liar yang gatal. Berkerut kening Kaisar. Gadis di hadapannya menawarkan harga 50 juta semalam? Ah, yang benar saja. Pikir Kaisar, apakah bagian gadis itu terbuat dari emas 24 karat? Bisa-bisanya dijual 50 juta hanya untuk dinikmati dalam waktu semalam. Kurang lebih satu setengah tahun pria itu mengenal Baby Liona yang tak lain adalah mahasiswi di kampus tempatnya mengajar. Jadi, banyak dikitnya ia tahu seperti apa karakter gadis itu. Barbar, sulit diatur dan mulutnya ceplas-ceplos jika berbicara. Namun sekarang, ia dan Baby Liona justru dipertemukan dalam keadaan tidak terduga di tempat hiburan malam. Ia yang iseng mencari seorang wanita penghibur untuk menemaninya yang sedang tak enak hati, tetapi malah bertemu dengan mahasiswinya sendiri. Mahasiswi nakal yang sebelumnya sempat membuat tubuhnya panas dingin dan tegang. Parahnya, gadis barbar dan nakal itu malah menawarkan diri lebih dulu sebelum ia sempat bertanya dan mencari wanita penghibur yang cocok untuk menemaninya. "Saya masih perawan loh, gak bakalan rugi kalau bapak booking saya. Malam ini juga saya siap di unboxing!" celetuk Baby Liona tanpa rasa malu sedikitpun. Liona berbicara sembari membusungkan dadanya yang sedikit berisi dan padat, menggoda Kaisar yang berada tepat di hadapannya. Di hadapan Kaisar, Liona bertingkah seperti gadis nakal dan liar. Padahal yang sebenarnya, ia memang sengaja menguntit pria itu sampai ke tempat hiburan malam. Bukan tanpa alasan Liona melakukan semua itu. Sudah sejak lama ia menyukai Kaisar selaku dosennya sendiri. Bahkan dapat dikatakan, ia jatuh cinta pada pandangan pertama saat awal berjumpa, tepatnya satu setengah tahun yang lalu. Dan sepertinya, Dewa keberuntungan sedang berpihak pada Liona. Siang tadi, ia memergoki Kaisar yang sedang mengintipnya di ruangan ganti fasilitas kampus. Lalu sorenya, tak sengaja mendengar obrolan Kaisar dan Aryo di parkiran. Katanya, Kaisar akan pergi ke club malam untuk menghilangkan rasa lelah di hati dan pikirannya. Jadi, itulah sebabnya Liona pergi ke club malam. Ia ingin mengambil kesempatan untuk mendekati Kaisar yang sedang membutuhkan hiburan dan kenyamanan. "50 juta, saya gak punya uang sebanyak itu!" Sejak tadi diam, akhirnya Kaisar angkat suara. Menolak harga 50 juta yang ditawarkan oleh Liona. Kaisar sebenarnya bisa saja membayarnya langsung, apalagi dia sebenarnya kaya raya. Namun, dia tidak ingin identitasnya diketahui orang banyak, terlebih oleh gadis semacam Liona yang mulutnya suka ember. Bisa barabe kalau identitas Kaisar terbuka di kalangan dosen, dia tidak bisa lagi hidup tenang seperti orang biasa! Lagian, tidak ada salahnya juga menawar Liona, sekaligus menguji seberapa getolnya gadis mungil itu untuk bermain dengannya. "Lagipula, saya gak percaya kalau kamu benar-benar masih perawan," lanjut Kaisar. Sudut bibirnya tersungging, sedangkan matanya menatap ragu pada Liona yang mengaku masih perawan. "30 juta?" Liona kembali menawarkan diri sembari naik ke atas pangkuan Kaisar, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. Namun, Kaisar menggelengkan kepalanya. Kembali menolak tawaran yang diberikan gadis nakal itu. "Terus, bapak maunya berapa?" tanya Liona. Suaranya pelan, tetapi terdengar begitu manja dan menggoda. Gluk! Kaisar yang dipeluk lehernya oleh Liona, meneguk ludah dengan bersusah payah. Bahkan, hembusan hangat napas gadis itu membuat seluruh bulu yang ada di tubuhnya meremang. "Saya punya uang 15 juta, kalau kamu setuju kita cek in sekarang. Tapi kalau enggak, kamu boleh pergi dan cari pelanggan lain!" kata Kaisar. Memberikan harga 15 juta pada Liona yang berada di pangkuannya. Mendengar harga 15 juta yang diberikan Kaisar padanya, Liona menggigit bibir. Ia tak menanggapi perkataan Kaisar, yang ada ia diam, seolah memikirkan jawaban yang akan diberikan. "15 juta atau turun dari pangkuan saya dan cari pelanggan lagi?" "Oke, 15 juta!" sahut Liona dengan cepat. Tak ingin dosennya berubah pikiran dan membuat rencananya mendekati pria itu gagal, Liona yang sempat berpikir itu pun menganggukkan kepalanya dan menyahut dengan cepat. "15 juta, deal!" seru Liona tanpa ragu. Kaisar menyunggingkan sudut bibirnya. Ia tersenyum tipis, senyuman yang tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan jeli. "Baiklah, sekarang kamu ikut saya. Malam ini kita akan bersenang-senang!" *** Di dalam sebuah kamar hotel, di sanalah kini Kaisar dan Liona berada. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, mereka akan menghabiskan malam bersama. "Pak, rasanya ML sakit gak sih?" Liona bertanya sembari naik ke atas tempat tidur. Ia merangkak mendekati Kaisar yang duduk bersandar pada kepala ranjang. Nada bicara gadis nakal itu terdengar serius, bahkan ekspresi wajahnya terlihat begitu penasaran. Kaisar yang bersandar pada kepala ranjang, mengangkat sedikit kedua bahunya. "Pak Kai gak tahu?" tanya Liona lagi. Matanya yang agak sedikit sipit menatap pada Kaisar. "Gak tahu, Liona. Kok kamu malah nanya sama saya!" timpal Kaisar dengan ekspresi datarnya. Bibir Liona mengerucut sedangkan matanya menatap malas. "Kok gak tahu, berarti bapak belum pernah ML dong?Jangan-jangan burung bapak udah berjamur? Dih, dasar bujang lapuk!" celetuknya. Melotot lebar mata Kaisar, saking lebarnya seperti mau keluar dari cangkang tempatnya bersemayam. Bisa-bisanya gadis nakal itu mengatakan burungnya berjamur dan bujang lapuk. Meskipun sebagian yang dikatakan Liona adalah fakta, tetap saja hatinya tak terima. Ia menolak tua dan tidak mau aset berharganya dikatakan sudah berjamur, yang artinya sudah expired dan tidak berfungsi dengan baik lagi. "Jaga ya omongan kamu, umur saya baru 33 tahun. Dan, burung saya gak berjamur. Kondisi fisik saya juga sehat, jadi jangan ngomong sembarangan!" kata Kaisar. Nada bicaranya terdengar ketus pada Liona. "33 tahun kalau dibandingin sama saya yang masih kinyis-kinyis begitu, jauh lebih tua dong, Pak. Aneh, di bilang tua kok gak sadar diri!" celetuk Liona yang semakin menjadi-jadi. Kaisar menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Sikap barbar dan mulut Liona yang ceplas-ceplos membuatnya merasa jengkel setengah hidup. "Pokoknya saya gak mau disebut tua, kalau kamu masih berani ngatain saya tua. Saya bakal ngasih kamu nilai jelek di kampus," kata Kaisar. Mengancam Liona yang mengatainya tua dan pemilik burung expired. Diancam oleh Kaisar, Liona bergerak cepat. Ia membusungkan dada dan memajukan tangannya, membekap mulut Kaisar agar berhenti berbicara. Mendengar perkataan Kaisar, lama-lama ia bisa tersedak omong kosong. "Udah deh diem, gak usah banyak omong! Intinya, kapan kita mulai? Saya udah gak tahan pengen nyobain gaya baling-baling bambu dan gaya kodok berenang sama bapak!" Bersambung...."Kamu jangan lupa, Rey! Ryuga bertahan di rumah ini karena Adam kehilangan ingatan masa lalunya. Dan, semua itu terjadi atas campur tangan Papa! Jadi, jangan menuntut apapun lagi, karena sampai kapan pun Ryuga gak akan pernah mendapatkan status yang sah!" Tubuh Liona menegang. Ia yang tak sengaja menguping pembicaraan serius antara Tuan Jayden dan Tuan Reynald itu pun terkejut. Bahkan, wajahnya yang putih kini berubah menjadi pucat. Perkataan yang di dengarnya, membuatnya syok. Ia tak menyangka jika Ryuga bukanlah anak angkat keluarga Prasetya. "Ja-ja-jadi, Bang Ryuga beneran adiknya Pak Kai, bukan adik angkat," gumam Liona sembari melangkah mundur dari posisinya berada.Prang! Tak sengaja, wanita yang tengah hamil muda itu menyenggol sebuah guci yang berada di atas meja di dekat pintu. Hingga membuat guci itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping."Siapa?" Mendengar suara teriakan Tuan Reynald, Liona menutup rapat mulutnya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, bahkan r
Seharian, Kaisar yang kesal pada Liona yang terkesan membela Ryuga, sama sekali tak menegur istrinya itu. Bahkan, sikapnya begitu dingin dan datar. "Sayang...." Liona yang duduk di atas tempat tidur, menyapa Kaisar yang baru saja memasuki kamar. Namun, Kaisar yang disapa hanya diam saja. Bahkan tak melirik apalagi menatap pada Liona yang sedang berusaha meluluhkannya. "Sayang, maaf," ucap Liona dengan pelan. Saking pelannya, suaranya lebih layak disebut sebagai gumaman. Melihat perubahan sikap Kaisar yang dingin dan datar, bahkan tak mau berbicara dengannya, Liona merasa sedih. Untuk pertama kalinya, ia melihat sifat keras hati sang suami. "Sayang, maaf... kalau gak mau maafin, aku pulang aja ke rumah Papa!"Tak mendapatkan respon dari Kaisar sejak tadi, Liona turun dari atas tempat tidur dan berteriak pada suaminya yang sedang membuka kemejanya di depan cermin. Diteriaki oleh istrinya, Kaisar menoleh, matanya melotot tajam pada Liona yang berdiri dengan kedua tangan meremas pi
"Nanti kalau Kaisar marah, gak usah di dengerin. Dia emang galak dan mudah emosi." Ryuga yang menggendong Liona di punggungnya, berbicara dengan nada bicaranya yang terdengar pelan dan santai. Ia meminta Liona untuk tidak mengambil hati jika nanti dimarahi oleh Kaisar. Bukan tanpa alasan Ryuga berbicara seperti itu. Ia yakin sekali jika setelah ini Kaisar pasti akan memarahinya dan Liona yang pergi dari rumah tanpa izin lebih dulu. "Kayaknya Bang Ryu sering dimarahin ya sama Pak Kai, jadi udah kebal," kata Liona. Menimpali perkataan Ryuga tak kalah santai. "Hmm... sebenernya bukan kebal, Na. Tapi lebih ke sadar dan tahu diri," kata Ryuga dengan bibir tersenyum kecil. Mendengar perkataan Ryuga yang bernada sedih, Liona diam. Ia yang berpegangan pada pundak adik dari suaminya itu pun tidak berbicara apapun lagi. Beberapa saat kemudian, langkah Ryuga yang menggendong Liona, tiba di depan pintu gerbang kediaman keluarga Prasetya. "Udah sampe, kamu bo—" "Bagus, bagus... baru kutin
"Liona!" Kaisar yang kembali dari rumah sakit, melangkah memasuki kamar dan mencari keberadaan istrinya. "Sayang!" panggil Kaisar lagi. Tiba di kamar, Kaisar mengerutkan keningnya, membuat kedua alisnya yang tebal bertautan. Di dalam kamar itu, ia tak mendapati keberadaan Liona. Yang ada di atas ranjang, hanya ponsel dan laptop istrinya saja."Kemana perginya bocah itu?" gumam Kaisar. Ia mengedarkan pandangannya sembari melangkah menuju kamar mandi, namun tetap tak menemukan keberadaan istrinya. "Baby Liona!" Tak mendapati keberadaan istrinya, Kaisar pun keluar dari kamar itu. Ia menuruni undakan tangga dan mencari keberadaan Liona. "Lihat istriku?" Tiba di lantai dasar, Kaisar menanyakan keberadaan istrinya pada salah satu pelayan. Ditanya, pelayan itu menggelengkan kepalanya. Tak tahu, di mana istri majikannya berada. "Tidak tahu, Tuan. Dari tadi saya di halaman belakang, bersihin tanaman!" jawab pelayan itu dengan kepala tertunduk. Mendengar jawaban pelayan itu, Kaisar m
Seminggu kemudian.... Kediaman keluarga Prasetya, di sanalah kini Liona berada. Setelah menikah beberapa hari yang lalu, ia langsung diboyong pulang ke kediaman utama keluarga Prasetya oleh Kaisar. Sengaja Kaisar lakukan semua itu. Ia ingin menjauhkan istrinya yang sedang mengandung dari Bella yang sepertinya mengalami gangguan jiwa. Pria itu tak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada istri dan anaknya. "Sayang, hari ini aku mau menemani kakek cek up ke rumah sakit. Kamu mau ikut?" Kaisar yang merapikan kemejanya di depan cermin, berbicara pada Liona yang duduk di atas ranjang dengan laptop menyala di hadapannya. Ditanya, Liona yang sedang menonton drama China favoritnya itu merespon dengan gelengan kepala. "Yakin gak mau ikut?" tanya Kaisar memastikan. Kepala Liona mengangguk. "Hmm... di rumah sakit bau obat, perutnya mual," katanya. Mendengar perkataan istrinya, Kaisar angguk-angguk kepala. Akhir-akhir ini, hidung Liona memang semakin sensitif dengan aroma dan bau
"Kai, aku kangen banget sama kamu. Aku masih cinta sama kamu, Kai...." Grep! Tubuh Kaisar membeku. Terkejut bukan main dengan tingkah dan perbuatan gila yang dilakukan oleh Bella. Di tengah malam, bisa-bisanya wanita itu berada di depan pintu kamar Liona dan mengintip kegiatan mereka. Yang lebih parah, wanita itu memeluk tubuh Kaisar dengan tiba-tiba. "Apa yang kamu lakukan, Bella? Lepaskan saya!" kata Kaisar dengan suara tertahan. Takut perbuatan Bella di lihat oleh Liona dan membuatnya salah paham, Kaisar pun melepaskan tangan Bella yang melingkar di dadanya. Lalu, mendorong wanita itu dengan kasar agar menjauh darinya. "Aku cinta sama kamu, Kai. Aku bener-bener nyesel udah ninggalin kamu," kata Bella tak tahu malu. Di dorong oleh Kaisar, tak membuat Bella menghentikan perbuatan gilanya. Ia kembali mendekat dan memeluk paksa tubuh mantan tunangannya itu. "Aku tahu, sebenernya kamu deketin Liona karena pengen bikin aku cemburu kan? Kamu pengen bikin aku marah?" kata Bella den
"Semalam kita berhubungan badan tanpa pakai pengaman dan tanpa konsumsi obat. Gimana kalau setelah ini kamu hamil? Hmm!" Kaisar berbicara pelan dan santai pada Liona yang berdiri tepat di hadapannya. Ia ingin melihat seperti apa tanggapan gadis nakal yang usianya terpaut 12 tahun dengannya itu. D
"Astaga, Kai. Kok bisa Baby Liona? Kamu tahu gak dia anaknya siapa?" Aryo yang syok, bertanya pada Kaisar dengan matanya yang melotot lebar, saking lebarnya matanya sudah seperti mata anak sapi yang tersedak air susu induknya. Sedangkan Kaisar yang melihat ekspresi temannya, menggelengkan kepalan
"Pergi sana jauh-jauh, aku gak mau lihat muka Pak Kai lagi. Dasar pembohong! Katanya capek dan mau istirahat lebih awal, ternyata ngamar sama Bu Diana!" Mendengar perkataan yang lebih layak disebut sebagai fitnah, wajah Kaisar memerah, tubuhnya menegang. Ia melangkah mendekati gadis nakal itu perl
"Yakin gak mau diantar pulang ke rumah orang tua kamu? Sekalian loh biar saya kenal sama mereka!" Liona yang duduk di kursi samping kemudi, menggelengkan kepalanya dengan cepat, tak mau Kaisar datang dan bertemu orang tuanya. Sebenarnya, Liona bukan tidak mau. Tetapi merasa jika waktunya belum







