Home / Romansa / Pelan-Pelan, Mas Kaisar! / 4. Rasanya ML, Sakit Gak?

Share

4. Rasanya ML, Sakit Gak?

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-01-30 13:02:07

"50 juta semalam, gimana? Bapak mau gak?"

Liona berbicara dengan santai, tetapi terdengar serius dan begitu percaya diri. Ia memberikan harga yang tidak main-main untuk tarif seorang wanita penghibur di club tersebut pada dosennya.

Mendengar harga yang disebutkan, Kaisar menatap wajah cantik gadis nakal yang berbicara padanya. Ekspresinya terlihat aneh, tak percaya pada Baby Liona yang menawarkan diri dengan harga begitu tinggi.

"Mau gak, Pak?" tanya Liona. Alisnya naik turun, sedangkan tangannya menyentuh dan mengusap bahu Kaisar menggunakan telapak tangannya yang halus.

Bibirnya tersenyum menggoda pada Kaisar yang masih saja menatap dan memperhatikan wajahnya tanpa berkedip.

"Kalau bapak setuju, saya jamin gak akan rugi," lanjut Liona. Tangannya masih saja mengusap-usap bahu Kaisar. Tingkahnya benar-benar mirip seperti wanita liar yang gatal.

Berkerut kening Kaisar. Gadis di hadapannya menawarkan harga 50 juta semalam? Ah, yang benar saja.

Pikir Kaisar, apakah bagian gadis itu terbuat dari emas 24 karat? Bisa-bisanya dijual 50 juta hanya untuk dinikmati dalam waktu semalam.

Kurang lebih satu setengah tahun pria itu mengenal Baby Liona yang tak lain adalah mahasiswi di kampus tempatnya mengajar. Jadi, banyak dikitnya ia tahu seperti apa karakter gadis itu. Barbar, sulit diatur dan mulutnya ceplas-ceplos jika berbicara.

Namun sekarang, ia dan Baby Liona justru dipertemukan dalam keadaan tidak terduga di tempat hiburan malam.

Ia yang iseng mencari seorang wanita penghibur untuk menemaninya yang sedang tak enak hati, tetapi malah bertemu dengan mahasiswinya sendiri. Mahasiswi nakal yang sebelumnya sempat membuat tubuhnya panas dingin dan tegang.

Parahnya, gadis barbar dan nakal itu malah menawarkan diri lebih dulu sebelum ia sempat bertanya dan mencari wanita penghibur yang cocok untuk menemaninya.

"Saya masih perawan loh, gak bakalan rugi kalau bapak booking saya. Malam ini juga saya siap di unboxing!" celetuk Baby Liona tanpa rasa malu sedikitpun.

Liona berbicara sembari membusungkan dadanya yang sedikit berisi dan padat, menggoda Kaisar yang berada tepat di hadapannya.

Di hadapan Kaisar, Liona bertingkah seperti gadis nakal dan liar. Padahal yang sebenarnya, ia memang sengaja menguntit pria itu sampai ke tempat hiburan malam.

Bukan tanpa alasan Liona melakukan semua itu.

Sudah sejak lama ia menyukai Kaisar selaku dosennya sendiri. Bahkan dapat dikatakan, ia jatuh cinta pada pandangan pertama saat awal berjumpa, tepatnya satu setengah tahun yang lalu.

Dan sepertinya, Dewa keberuntungan sedang berpihak pada Liona. Siang tadi, ia memergoki Kaisar yang sedang mengintipnya di ruangan ganti fasilitas kampus. Lalu sorenya, tak sengaja mendengar obrolan Kaisar dan Aryo di parkiran.

Katanya, Kaisar akan pergi ke club malam untuk menghilangkan rasa lelah di hati dan pikirannya.

Jadi, itulah sebabnya Liona pergi ke club malam. Ia ingin mengambil kesempatan untuk mendekati Kaisar yang sedang membutuhkan hiburan dan kenyamanan.

"50 juta, saya gak punya uang sebanyak itu!" Sejak tadi diam, akhirnya Kaisar angkat suara. Menolak harga 50 juta yang ditawarkan oleh Liona.

Sebenarnya, Kaisar bisa saja mengeluarkan uang 50 juta yang disebutkan Liona saat itu juga, apalagi ia sebenarnya cucu dari seorang konglomerat. Namun, ia tak ingin identitasnya di ketahui banyak orang, terlebih lagi gadis semacam Liona yang memiliki mulut bocor.

Bisa kacau jika identitasnya terbongkar di kalangan dosen. Ia tak dapat lagi hidup tenang dan menjalani kehidupannya seperti orang biasa.

Lagipula, tak ada salahnya juga menawar harga yang diberikan Liona. Sekaligus menguji seberapa besar keinginan gadis nakal itu untuk bermain dengannya.

"Lagipula, saya gak percaya kalau kamu benar-benar masih perawan," lanjut Kaisar. Sudut bibirnya tersungging, sedangkan matanya menatap ragu pada Liona yang mengaku masih perawan.

"30 juta?" Liona kembali menawarkan diri sembari naik ke atas pangkuan Kaisar, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu.

Namun, Kaisar menggelengkan kepalanya. Kembali menolak tawaran yang diberikan gadis nakal itu.

"Terus, bapak maunya berapa?" tanya Liona. Suaranya pelan, tetapi terdengar begitu manja dan menggoda.

Gluk!

Kaisar yang dipeluk lehernya oleh Liona, meneguk ludah dengan bersusah payah. Bahkan, hembusan hangat napas gadis itu membuat seluruh bulu yang ada di tubuhnya meremang.

"Saya punya uang 15 juta, kalau kamu setuju kita cek in sekarang. Tapi kalau enggak, kamu boleh pergi dan cari pelanggan lain!" kata Kaisar. Memberikan harga 15 juta pada Liona yang berada di pangkuannya.

Mendengar harga 15 juta yang diberikan Kaisar padanya, Liona menggigit bibir. Ia tak menanggapi perkataan Kaisar, yang ada ia diam, seolah memikirkan jawaban yang akan diberikan.

"15 juta atau turun dari pangkuan saya dan cari pelanggan lagi?"

"Oke, 15 juta!" sahut Liona dengan cepat.

Tak ingin dosennya berubah pikiran dan membuat rencananya mendekati pria itu gagal, Liona yang sempat berpikir itu pun menganggukkan kepalanya dan menyahut dengan cepat.

"15 juta, deal!" seru Liona tanpa ragu.

Kaisar menyunggingkan sudut bibirnya. Ia tersenyum tipis, senyuman yang tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan jeli.

"Baiklah, sekarang kamu ikut saya. Malam ini kita akan bersenang-senang!"

***

Di dalam sebuah kamar hotel, di sanalah kini Kaisar dan Liona berada.

Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, mereka akan menghabiskan malam bersama.

"Pak, rasanya ML sakit gak sih?"

Liona bertanya sembari naik ke atas tempat tidur. Ia merangkak mendekati Kaisar yang duduk bersandar pada kepala ranjang.

Nada bicara gadis nakal itu terdengar serius, bahkan ekspresi wajahnya terlihat begitu penasaran.

Kaisar yang bersandar pada kepala ranjang, mengangkat sedikit kedua bahunya.

"Pak Kai gak tahu?" tanya Liona lagi. Matanya yang agak sedikit sipit menatap pada Kaisar.

"Gak tahu, Liona. Kok kamu malah nanya sama saya!" timpal Kaisar dengan ekspresi datarnya.

Bibir Liona mengerucut sedangkan matanya menatap malas. "Kok gak tahu, berarti bapak belum pernah ML dong?Jangan-jangan burung bapak udah berjamur? Dih, dasar bujang lapuk!" celetuknya.

Melotot lebar mata Kaisar, saking lebarnya seperti mau keluar dari cangkang tempatnya bersemayam. Bisa-bisanya gadis nakal itu mengatakan burungnya berjamur dan bujang lapuk.

Meskipun sebagian yang dikatakan Liona adalah fakta, tetap saja hatinya tak terima. Ia menolak tua dan tidak mau aset berharganya dikatakan sudah berjamur, yang artinya sudah expired dan tidak berfungsi dengan baik lagi.

"Jaga ya omongan kamu, umur saya baru 33 tahun. Dan, burung saya gak berjamur. Kondisi fisik saya juga sehat, jadi jangan ngomong sembarangan!" kata Kaisar. Nada bicaranya terdengar ketus pada Liona.

"33 tahun kalau dibandingin sama saya yang masih kinyis-kinyis begitu, jauh lebih tua dong, Pak. Aneh, di bilang tua kok gak sadar diri!" celetuk Liona yang semakin menjadi-jadi.

Kaisar menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Sikap barbar dan mulut Liona yang ceplas-ceplos membuatnya merasa jengkel setengah hidup.

"Pokoknya saya gak mau disebut tua, kalau kamu masih berani ngatain saya tua. Saya bakal ngasih kamu nilai jelek di kampus," kata Kaisar. Mengancam Liona yang mengatainya tua dan pemilik burung expired.

Diancam oleh Kaisar, Liona bergerak cepat. Ia membusungkan dada dan memajukan tangannya, membekap mulut Kaisar agar berhenti berbicara.

Mendengar perkataan Kaisar, lama-lama ia bisa tersedak omong kosong.

"Udah deh diem, gak usah banyak omong! Intinya, kapan kita mulai? Saya udah gak tahan pengen nyobain gaya baling-baling bambu dan gaya kodok berenang sama bapak!"

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   116. Bujukan Liona

    "Sayang, kenapa berdiri di sini? Dingin loh, yuk kita masuk!" Kaisar yang berdiri di balkon kamar, menoleh dan menatap Liona yang melangkah mendekat. Namun tatapan hanya sesaat, selanjutnya ia kembali berbalik dan memandangi langit gelap tanpa bintang di malam hari itu. Gelap langit malam itu, tak dapat mengalahkan gelap hatinya yang menyimpan kebencian pada keluarga papanya. Bayangan kematian adik dan ibunya, tak pernah bisa dilupakan. Dia saksi, saksi kematian adiknya yang meninggal karena sakit, juga saksi kematian ibunya yang mengalami depresi. Dan— semua itu terjadi karena papanya, pria egois yang tidak memiliki perasaan. "Sayang, aku tahu kamu pasti lagi mikirin mendiang mama dan adik kamu. Aku gak ngelarang kamu buat nginget mereka, tapi aku mohon jangan abaikan kesehatan kamu. Kalau kamu sakit, gimana sama aku dan calon anak kita?" Liona yang melangkah mendekat, melingkarkan tangannya ke perut Kaisar dan menempelkan kepalanya di punggung sang suami. Ia berbicara pelan,

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   115. Tidak Peduli!

    "Ibumu pelacur, jalang sialan! Kamu dan ibumu adalah penyebab kematian ibu dan adikku! Sampai kapanpun, aku gak akan pernah memaafkan kalian!" Dihina ibunya oleh Kaisar, Ryuga yang semula berusaha membujuk dan menenangkan, kini menatap tajam. Wajahnya memerah sedangkan kedua tangannya terkepal erat. Pria itu memepet tubuh Kaisar dan mendorongnya dengan kasar. Bruk! Tubuh Kaisar yang masih lemah pasca koma, terdorong dan membentur tembok lorong rumah sakit. "Mas Kai!" kata Liona. Kaget melihat suaminya di dorong oleh Ryuga. "Ibuku bukan pelacur, ibuku bukan perempuan jalang. Kamu boleh benci dan hina aku anak haram, tapi jangan pernah sebut ibuku sebagai pelacur!" kata Ryuga dengan suaranya yang keras dan lantang. Mendengar perkataan Ryuga, Kaisar yang dibantu berdiri oleh Liona itu pun tertawa dengan keras. Menertawakan Ryuga yang sepertinya sudah tidak bisa berpura-pura baik lagi. "Haha... sampai kapanpun kebenaran gak akan berubah, Ryu. Ibumu tetaplah pelacur dan perempuan j

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   114. Kamu Dan Pelacur Itu Pembunuh!

    "Sayang, kamu beneran mau ikut pulang ke rumah papa dan mama?" Liona yang saat ini duduk di kursi, bertanya pada Kaisar yang bersandar di kepala ranjang pasiennya. Ditanya, Kaisar menganggukkan kepalanya. "Kalau orang tua kamu gak keberatan! Kalau mereka keberatan aku tinggal di sana, kita balik ke apartemen aja." Pria yang baru sadar dari koma dan sedang dalam tahap pemulihan itu menimpali perkataan istrinya dengan santai, tetapi bernada serius. Mendengar perkataan Kaisar yang negatif thinking, Liona menghela napas pelan. Sejak bangun dari koma, suaminya itu begitu sensitif dan mudah sekali marah. "Mama dan papa gak mungkin keberatan, Mas. Aku nanya gitu karena takut kamu berubah pikiran," kata Liona dengan pelan. "Aku gak akan berubah pikiran. Tinggal di mana pun bagiku sama aja, yang penting gak tinggal di kediaman keluarga Prasetya," kata Kaisar. Sorot matanya menunjukkan kebencian. Jika mengingat seperti apa masa lalunya di keluarga Prasetya dan seperti apa penderitaan ibu

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   113. Aku Hanya Ingin Diakui!

    "Kenapa? Takut gak bisa melindungi anak sialan dan cucu haram Kakek lagi kalau ingatanku pulih?" Duar! Perkataan yang dilontarkan oleh Kaisar membuat wajah Tuan Reynald memucat, bahkan tubuhnya seketika menegang. Sepertinya, ingatan putranya sudah benar-benar pulih sepenuhnya. Sedangkan Tuan Jayden yang berdiri di samping ranjang pasien itu, menatap sendu pada cucunya. Niatnya menghapuskan ingatan Kaisar di masa lalu bukan semata-mata untuk melindungi Tuan Reynald dan Ryuga, tetapi juga demi kebaikan Kaisar agar tidak hidup di dalam bayang-bayang buruk kematian ibu dan adiknya. "Kenapa, kenapa Kakek diam? Bener kan, Kakek takut ingatanku pulih?" lanjut Kaisar, berbicara dengan nada bicaranya yang mulai rendah. Sedangkan sepasang matanya yang memerah, kini mulai berkaca-kaca. Ditanya oleh cucunya, Tuan Jayden yang diam membisu, menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Kakek gak bermaksud begitu, Dam. Kakek melakukan semua itu demi kamu, demi kebaikan mental dan kewarasanmu...." kat

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   112. Menyesal?

    "Makan yang banyak biar cepet sehat dan bisa cepet pulang!" Liona yang sedang menyuapi Kaisar, berbicara dengan pelan seraya tersenyum kecil. "Aaa, buka mulutnya!" titah Liona. Dipinta membuka mulut, Kaisar yang duduk bersandar pada kepala ranjang itu mengangguk. Ia yang kondisi tubuhnya masih lemas pasca koma beberapa hari terakhir, menurut dan patuh pada istrinya. "Mau minum?" tawar Liona sembari menatap wajah pucat sang suami. Kaisar kembali mengangguk.Sejak sadar dari koma beberapa jam yang lalu, Kaisar tak banyak bicara. Bahkan, wajah pucatnya terlihat datar dan tanpa ekspresi. Dengan perlahan dan penuh perhatian, Liona membantu Kaisar minum. Meskipun lelah lantaran kurang istirahat, tetapi Liona tetap merawat suaminya. Bahkan, tak mengizinkan orang lain merawat Kaisar, kecuali dokter yang selama ini bertugas memeriksa dan memantau keadaan sang suami. "Dari tadi kamu sibuk nyuapin aku, tapi kamu sendiri gak sempet makan," kata Kaisar dengan suaranya yang terdengar lemas.

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   111. Mama & Kayra Udah Gak Ada!

    "Rey, jangan pergi. Lihatlah anak kita, dia sakit dan membutuhkan penanganan secepatnya!" "Papa, Karya demam! Dari semalam menggigil, kalau Papa pergi, dia bisa mati!" Tuan Reynald yang menggendong Ryuga, tak mengindahkan teriakan Nyonya Alana dan Kaisar. Pria itu menganggap jika Nyonya Alana berbohong lantaran cemburu pada istri mudanya.Melihat Tuan Reynald pergi tanpa memperdulikan keadaan kedua anaknya, Nyonya Alana menangis terisak. Hatinya perih dan dadanya terasa begitu sesak. Selanjutnya, ia yang dibantu oleh dua orang pengawal, membawa Kaisar dan Kayra yang sekarat menuju rumah sakit terdekat. "Astaga, kondisi Nona Kayra sangat lemah, Nyonya!" "Kenapa tidak bilang pada Tuan Rey?" Kedua pengawal yang membantu, bertanya pada Nyonya Alana. Namun, wanita yang wajahnya mengalami lebam itu enggan menjawab. Ia diam, sedangkan air mata tak hentinya menetes. Melihat keadaan ibunya, Kaisar kecil mengepalkan kedua tangannya. Ia benci pada Ryuga dan ibunya, juga benci pada ayahn

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   24. Kabar Buruk

    Di kontrakan Ceci, di sanalah kini Liona berada. Seperti perkataan Kaisar semalam jika ia tidak boleh tinggal di apartemen, jadi ia yang pergi dari rumah, tinggal untuk sementara waktu di kontrakan sahabatnya. Tekadnya sudah bulat, tak akan pulang jika tantenya masih berada di rumahnya. Namun, di

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   25. Pergi

    "Pak Kai!" Melihat Kaisar keluar dari kelas tempatnya mengajar dengan begitu tergesa-gesa, Liona memanggilnya dan hendak mengejar langkahnya. Namun, Kaisar yang sedang terburu-buru, tak mendengarkan panggilan Liona. Bahkan, pria itu semakin mempercepat langkahnya menuju ruangan dosen berada. Lio

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   19. Burungnya Cuman Segede Jempol Kaki!

    "Habis digigit vampire mana tuh? Leher sampe merah-merah kayak gitu!" Kaisar yang baru saja duduk di kursi samping Aryo, seketika menyentuh lehernya. Sedangkan kedua matanya melotot.Dengan cepat ia menyambar ponsel Aryo dan melihat lehernya melalui kamera depan ponsel temannya itu. "Ah, astaga,

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   21. Aku Benci Papa!

    Jam menunjukkan pada pukul setengah tujuh malam, Liona yang berada di dalam kamarnya, berbaring di atas ranjang dengan posisi tengkurap.Ponsel yang menyala di hadapannya, menunjukkan wajah tampan Kaisar. Yang artinya, ia sedang melangsungkan video call dengan sang kekasih. "[Kenapa gak keluar kam

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status