Home / Romansa / Pelan-Pelan, Mas Kaisar! / 54. Permainan Liar Pelepas Rindu!

Share

54. Permainan Liar Pelepas Rindu!

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-03-01 20:46:12

"Sa-sa-sayang, i-i-ini, ini kok kamu beliin aku kayak gini sih? Duitnya dari mana?"

Liona yang membuka paper bag pemberian Kaisar, terkejut saat melihat kotak perhiasan yang ada di dalamnya.

Dilihatnya, isi kotak perhiasan itu adalah cincin berlian edisi terbatas. Meskipun ia jarang dan mungkin belum pernah berbelanja barang-barang mahal seorang diri kecuali bersama mamanya, tetapi ia tahu betul jika cincin yang saat ini ada padanya adalah barang mahal.

"Kamu gak suka?" tanya Kaisar. Matanya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   116. Bujukan Liona

    "Sayang, kenapa berdiri di sini? Dingin loh, yuk kita masuk!" Kaisar yang berdiri di balkon kamar, menoleh dan menatap Liona yang melangkah mendekat. Namun tatapan hanya sesaat, selanjutnya ia kembali berbalik dan memandangi langit gelap tanpa bintang di malam hari itu. Gelap langit malam itu, tak dapat mengalahkan gelap hatinya yang menyimpan kebencian pada keluarga papanya. Bayangan kematian adik dan ibunya, tak pernah bisa dilupakan. Dia saksi, saksi kematian adiknya yang meninggal karena sakit, juga saksi kematian ibunya yang mengalami depresi. Dan— semua itu terjadi karena papanya, pria egois yang tidak memiliki perasaan. "Sayang, aku tahu kamu pasti lagi mikirin mendiang mama dan adik kamu. Aku gak ngelarang kamu buat nginget mereka, tapi aku mohon jangan abaikan kesehatan kamu. Kalau kamu sakit, gimana sama aku dan calon anak kita?" Liona yang melangkah mendekat, melingkarkan tangannya ke perut Kaisar dan menempelkan kepalanya di punggung sang suami. Ia berbicara pelan,

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   115. Tidak Peduli!

    "Ibumu pelacur, jalang sialan! Kamu dan ibumu adalah penyebab kematian ibu dan adikku! Sampai kapanpun, aku gak akan pernah memaafkan kalian!" Dihina ibunya oleh Kaisar, Ryuga yang semula berusaha membujuk dan menenangkan, kini menatap tajam. Wajahnya memerah sedangkan kedua tangannya terkepal erat. Pria itu memepet tubuh Kaisar dan mendorongnya dengan kasar. Bruk! Tubuh Kaisar yang masih lemah pasca koma, terdorong dan membentur tembok lorong rumah sakit. "Mas Kai!" kata Liona. Kaget melihat suaminya di dorong oleh Ryuga. "Ibuku bukan pelacur, ibuku bukan perempuan jalang. Kamu boleh benci dan hina aku anak haram, tapi jangan pernah sebut ibuku sebagai pelacur!" kata Ryuga dengan suaranya yang keras dan lantang. Mendengar perkataan Ryuga, Kaisar yang dibantu berdiri oleh Liona itu pun tertawa dengan keras. Menertawakan Ryuga yang sepertinya sudah tidak bisa berpura-pura baik lagi. "Haha... sampai kapanpun kebenaran gak akan berubah, Ryu. Ibumu tetaplah pelacur dan perempuan j

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   114. Kamu Dan Pelacur Itu Pembunuh!

    "Sayang, kamu beneran mau ikut pulang ke rumah papa dan mama?" Liona yang saat ini duduk di kursi, bertanya pada Kaisar yang bersandar di kepala ranjang pasiennya. Ditanya, Kaisar menganggukkan kepalanya. "Kalau orang tua kamu gak keberatan! Kalau mereka keberatan aku tinggal di sana, kita balik ke apartemen aja." Pria yang baru sadar dari koma dan sedang dalam tahap pemulihan itu menimpali perkataan istrinya dengan santai, tetapi bernada serius. Mendengar perkataan Kaisar yang negatif thinking, Liona menghela napas pelan. Sejak bangun dari koma, suaminya itu begitu sensitif dan mudah sekali marah. "Mama dan papa gak mungkin keberatan, Mas. Aku nanya gitu karena takut kamu berubah pikiran," kata Liona dengan pelan. "Aku gak akan berubah pikiran. Tinggal di mana pun bagiku sama aja, yang penting gak tinggal di kediaman keluarga Prasetya," kata Kaisar. Sorot matanya menunjukkan kebencian. Jika mengingat seperti apa masa lalunya di keluarga Prasetya dan seperti apa penderitaan ibu

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   113. Aku Hanya Ingin Diakui!

    "Kenapa? Takut gak bisa melindungi anak sialan dan cucu haram Kakek lagi kalau ingatanku pulih?" Duar! Perkataan yang dilontarkan oleh Kaisar membuat wajah Tuan Reynald memucat, bahkan tubuhnya seketika menegang. Sepertinya, ingatan putranya sudah benar-benar pulih sepenuhnya. Sedangkan Tuan Jayden yang berdiri di samping ranjang pasien itu, menatap sendu pada cucunya. Niatnya menghapuskan ingatan Kaisar di masa lalu bukan semata-mata untuk melindungi Tuan Reynald dan Ryuga, tetapi juga demi kebaikan Kaisar agar tidak hidup di dalam bayang-bayang buruk kematian ibu dan adiknya. "Kenapa, kenapa Kakek diam? Bener kan, Kakek takut ingatanku pulih?" lanjut Kaisar, berbicara dengan nada bicaranya yang mulai rendah. Sedangkan sepasang matanya yang memerah, kini mulai berkaca-kaca. Ditanya oleh cucunya, Tuan Jayden yang diam membisu, menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Kakek gak bermaksud begitu, Dam. Kakek melakukan semua itu demi kamu, demi kebaikan mental dan kewarasanmu...." kat

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   112. Menyesal?

    "Makan yang banyak biar cepet sehat dan bisa cepet pulang!" Liona yang sedang menyuapi Kaisar, berbicara dengan pelan seraya tersenyum kecil. "Aaa, buka mulutnya!" titah Liona. Dipinta membuka mulut, Kaisar yang duduk bersandar pada kepala ranjang itu mengangguk. Ia yang kondisi tubuhnya masih lemas pasca koma beberapa hari terakhir, menurut dan patuh pada istrinya. "Mau minum?" tawar Liona sembari menatap wajah pucat sang suami. Kaisar kembali mengangguk.Sejak sadar dari koma beberapa jam yang lalu, Kaisar tak banyak bicara. Bahkan, wajah pucatnya terlihat datar dan tanpa ekspresi. Dengan perlahan dan penuh perhatian, Liona membantu Kaisar minum. Meskipun lelah lantaran kurang istirahat, tetapi Liona tetap merawat suaminya. Bahkan, tak mengizinkan orang lain merawat Kaisar, kecuali dokter yang selama ini bertugas memeriksa dan memantau keadaan sang suami. "Dari tadi kamu sibuk nyuapin aku, tapi kamu sendiri gak sempet makan," kata Kaisar dengan suaranya yang terdengar lemas.

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   111. Mama & Kayra Udah Gak Ada!

    "Rey, jangan pergi. Lihatlah anak kita, dia sakit dan membutuhkan penanganan secepatnya!" "Papa, Karya demam! Dari semalam menggigil, kalau Papa pergi, dia bisa mati!" Tuan Reynald yang menggendong Ryuga, tak mengindahkan teriakan Nyonya Alana dan Kaisar. Pria itu menganggap jika Nyonya Alana berbohong lantaran cemburu pada istri mudanya.Melihat Tuan Reynald pergi tanpa memperdulikan keadaan kedua anaknya, Nyonya Alana menangis terisak. Hatinya perih dan dadanya terasa begitu sesak. Selanjutnya, ia yang dibantu oleh dua orang pengawal, membawa Kaisar dan Kayra yang sekarat menuju rumah sakit terdekat. "Astaga, kondisi Nona Kayra sangat lemah, Nyonya!" "Kenapa tidak bilang pada Tuan Rey?" Kedua pengawal yang membantu, bertanya pada Nyonya Alana. Namun, wanita yang wajahnya mengalami lebam itu enggan menjawab. Ia diam, sedangkan air mata tak hentinya menetes. Melihat keadaan ibunya, Kaisar kecil mengepalkan kedua tangannya. Ia benci pada Ryuga dan ibunya, juga benci pada ayahn

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   48. Mual & Muntah-muntah!

    "Baiklah, aku akan bergabung ke perusahaan seperti yang Papa mau. Tapi, apa boleh aku ngambil posisi yang sama kayak Kaisar?"Perkataan yang keluar dari bibir Ryuga, membuat mata tua Tuan Jayden melotot tajam. Bahkan, pria renta itu seketika beranjak dari duduknya. "Apa yang kamu katakan, Ryuga? K

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   46. Berkharisma

    "Kaisar titip pesan ke saya buat kamu, katanya kamu harus bisa nerima kenyataan!"Liona yang duduk bersandar pada kepala ranjang, tampak menitikan air mata saat mengingat perkataan Aryo. Ia tak mengerti, apa maksud Kaisar berpesan seperti itu? Kenyataan apa yang dimaksud? Apakah kenyataan jika mer

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   47. Tekanan Tuan Reynald!

    Brak! Kaisar yang duduk di kursi kebesarannya, mengangkat kepalanya dan menatap ke arah sumber suara. Dilihatnya, Tuan Reynald yang datang, menggebrak meja kerjanya dan meletakkan berkas proyek yang sebelumnya ia tolak. "Ada apa?" tanya Kaisar. Suaranya datar dan terdengar santai, sedangkan mata

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   38. Bertemu Keluarga Liona

    "Sayang, gimana? Udah belum belanjanya? Kalau gak ada yang cocok, kita cari ke toko lain!" Suara yang terdengar familiar di telinga, membuat Diana langsung menoleh. Matanya membeliak kala melihat Kaisar mendekat ke arahnya dan Liona. Sedangkan Liona yang juga menoleh, memasang senyuman lebar pada

    last updateLast Updated : 2026-03-25
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status