LOGINMata Clara semakin melotot lebar, menatap mata adik tirinya itu. “Hah? Janji? Janji apaan? Perasaan gue gak pernah janji apa-apa sama lo!” sangkal Clara cepat, bersidekap sambil menatap tajam.“Yaelah, jangan pura-pura lupa dong, Kak Clara manis,” bujuk Adrian dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, terdengar begitu merayu.“Lo jangan ngarang deh, Yan!” bantah Clara.“Lho... gue gak ngarang, Kak! Kan waktu itu lo bilang gue boleh liat dan megang punya lo kalo lagi pengan. Inget, gak?”Clara mendengus keras, memutar bola matanya malas sambil melipat tangan di depan dada. “Ih, ngaco banget! Itu kan cuma candaan doang, bukan janji beneran! Ogah banget gue mau bantuin yang kayak gituan,” tolak Clara mentah-mentah sambil membuang muka, meski rona merah di pipinya jelas terlihat.“Mana bisa gitu, Kak? Pliss, ya? Sebentar aja, Kak Clara yang canti! Gak bakal lama, sumpah! Badan gue udah panas banget nih, tersiksa tau rasanya,” rengek Adrian, mulai melancarkan taktik memelas tingkat tingg
Tok! Tok! Tok!Suara ketukan di daun pintu kembali terdengar dari luar, kali ini disertai dengusan napas dari sang pengetuk yang mulai tidak sabaran.“Sstt! Tenang, Kak! Jangan panik, biar gue yang ngomong,” bisik Adrian setengah merapat ke telinga Siska. Tangan pemuda itu masih memegangi bahu Siska yang tampak bergetar hebat.“Ini gue, Kak! Gue masih lama, lo pake kamar mandi bawah aja!” seru Adrian dari dalam dengan nada suara yang sengaja dibuat sesantai mungkin, seolah ia memang sedang buang air atau menyelesaikan urusan pribadi biasa.“Oh... elo! Kirain siapa yang ada di dalam malam-malam begini. Ya udah deh, males gue nungguinnya,” sahut Clara dari balik pintu. Langkah kakinya terdengar mulai menjauh, melangkah menuju ke arah tangga untuk memakai kamar mandi yang ada di lantai bawah.Begitu derap langkah Clara benar-benar menghilang di balik keremangan tangga, Siska tampak bersandar lemas pada dinding keramik dingin sambil menghembuskan napas lega yang sangat berat. Tangannya me
Adrian mengangkat tangan kiri kakak tirinya ke atas dan menahannya lembut di dinding kamar mandi. Berhubung malam ini Siska mengenakan tanktop tipis tanpa bra, ketiak mulus wanita itu langsung terpampang jelas di depan mata Adrian, membuat pemuda itu reflek menghirup aroma harum sabun bercampur aroma alami dari tubuh sang kakak.“Eungh! Geli, Yan!” bisik Siska setengah mengeluh, merasakan embusan napas hangat adiknya menggelitik kulit sensitif di area lengannya.“Hehehe, abisnya lo cantik banget, Kak. Bikin gue gak tahan buat nyium ketek lo,” bisik Adrian merayu sambil tersenyum usil.“Udah, gak usah mulai ngerayu, deh! Katanya tadi lo gak bakal lama dan bakal selesai, hm?” protes Siska dengan suara bergetar, meski tatapannya justru menyiratkan kalau pertahanannya mulai runtuh.Adrian tersenyum tipis, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja. “Iya, sabar bentar. Tapi ada syaratnya sebelum kita mulai, Kak.”Siska mengerutkan dahi, menata
Pintu kamar terbuka perlahan dari dalam. Adrian sempat sedikit terperanjat kaget karena tidak menyangka pintunya akan dibuka secepat itu. Namun detik berikutnya, senyum lebar merekah di wajah tampannya saat melihat sosok sang kakak tiri berdiri di ambang pintu dengan balutan pakaian tidur tipis yang menggoda.“Lo ngapain malam-malam berdiri di depan kamar gue kayak hantu gentayangan?” tanya Siska dengan nada heran bercampur curiga, melipat tangannya di dada.“Anu, Kak—“ Adrian terbata-bata, mencoba merangkai kata-kata manis untuk melancarkan misinya.Belum sempat Adrian merampungkan kalimatnya, Siska langsung mendorong pelan dada adik tirinya itu agar memberi jalan. “Udah, minggir dulu! Jangan ngalangin jalan, gue kebelet mau ke toilet!” ucap Siska cepat.Siska langsung melangkah tergesa-gesa menyusuri koridor lantai dua menuju ke arah toilet yang berada tidak jauh dari kamar mereka. Adrian yang hasratnya sudah di ubun-ubun tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Tanp
Melihat pesan tersebut, Adrian langsung tersenyum. Tanpa membuang waktu lama, jari-jarinya langsung lincah mengetikkan balasan bernada menggoda.Adrian: “Kenapa, Mbak? Lo kangen ya sama gue? Ngaku aja deh!”Tak butuh waktu lama bagi Ririn untuk membaca dan langsung membalas pesan tersebut dengan balasan yang cukup blak-blakan.Mbak Ririn Cantik: Ih, geer banget anak ini! Tapi... ya emang iya sih, gue kangen dikit. Gak ada yang biasa diajak ribut karena suka ngeliatin barang gue.Adrian terkekeh pelan membaca pesan itu. Ia tahu persis arah pembicaraan tetangga kosnya yang terkenal galak tersebut.Adrian: Wah! Emangnya kangen apa nih, Mbak? Kangen orangnya atau kangen yang lain?Ponsel Adrian kembali bergetar cepat, menunjukkan balasan dari Ririn yang diketik penuh antusias.Mbak Ririn Cantik: Dua-duanya lah, bego! Kalo dipikir-pikir lebih enak dibantuin. Lo bener-bener jago bikin gue melayang, Yan. Kapan mau main ke sini lagi?Adrian menelan ludahnya pelan. Membayangkan bagaimana nakal
Beberapa saat kemudian, ponsel yang tergeletak di dashboard mendadak berdering nyaring, menampilkan nama Rangga di layar. Dengan satu gerakan santai, Rika menyentuh tombol speaker dan langsung mengangkat panggilan tersebut. "Halo, Rangga," sapa Rika membuka percakapan sambil terus fokus memperhatikan jalan. "Rika! Sialan, gue daritadi kepikiran terus. Gimana urusan sama Siska? Aman, kan? Dia gak curiga aneh-aneh ke lo, kan?" tanya Rangga langsung memberondong dengan suara di ujung telepon yang terdengar jelas memendam kepanikan luar biasa. Rika mendengus pelan mendengar nada bicara atasannya yang terlampau tegang itu. "Santai kali, Pak Manajer. Jangan gampang parno gitu dong. Semuanya jalan dengan baik-baik aja dan gak ada hal aneh yang terjadi." "Beneran? Siska gak nanyain macam-macam soal kerjaan atau sikap gue kemarin?" cecar Rangga memastikan. "Pokoknya aman, lagian gue gak ngapa-ngapain, kok! Gue cuma basa-basi masalah kantor sebentar, terus udah," ucap Rika berbohong dengan







