LOGINJantung Adrian serasa meloncat keluar dari dadanya, hampir copot karena terkejut setengah mati. Rasanya seluruh organ dalamnya mendadak berhenti berfungsi. Tubuhnya kaku bak patung, dan darah di sekujur tubuhnya seolah berhenti mengalir seketika.Dengan gerakan kaku sambil menahan panik, Adrian perlahan memutar kepalanya ke belakang dalam kegelapan koridor.Sesosok tubuh wanita berdiri amat dekat di belakangnya, bahkan kehangatan napasnya bisa dirasakan di ceruk leher Adrian. Di bawah bias cahaya remang-remang koridor, terbias raut wajah Clara yang sedang menatapnya.Alis Clara tampak mengerut, dan bibir tipisnya tersenyum misterius yang amat mengintimidasi sekaligus menggoda.“Lagi ngapain lo di sini, Yan?” bisik Clara tepat di samping telinga Adrian.Suaranya yang amat pelan itu sukses membuat sekujur tubuh Adrian meremang hebat. Tertangkap basah di depan pintu kamar orang tua mereka sendiri.Adrian cepat-cepat menaruh jari telunjuknya di depan bibir, “Sstt!” bisiknya sangat pelan,
“A-ampun, Kak Siska! Sumpah, tangan gue reflek aja tadi, gak sengaja!” ucap Adrian setengah panik sambil menarik tangannya kembali dan melangkah mundur.Siska tidak langsung menyahut. Ia bertolak pinggang di anak tangga teratas, memutar tubuhnya penuh dan menatap Adrian dengan pandangan tajam yang menghujam.Namun alih-alih hanya mengomeli Adrian, pandangan Siska bergulir menatap ke arah Clara yang berdiri persis di samping pemuda itu. Clara sendiri sedang bersedekap dengan mata melotot, menatap Adrian seolah ingin menelannya hidup-hidup.“Kak, ini adek tiri kita makin lama makin cabul gak, sih? Gimana kalo kita kasih hukuman aja?” ujar Clara, mengadu dengan suara ditahan dan penuh penekanan.Siska tersenyum tipis, “Setuju, Clar! Ade cabul emang harus kita kasih hukuman, kita potong aja kali ya anunya? Hm?” sahut Siska sambil melangkah turun satu tingkat mendekati Adrian.Mendengar kata potong, seketika sensasi dingin menjalar di selangkangan Adrian. Wajahnya pucat pasi melihat kedua
Maya tersenyum tipis, mencoba mencairkan keheningan yang mendadak tercipta di meja makan. “Ya... kan Papa kenal banyak orang penting di luar sana, Siska. Kalo atasan kamu atau rekan kerja kamu ada yang berani macam-macam atau bikin kamu stres, tinggal ngomong aja ke Papa. Biar diselesaikan sama Papa.”Clara yang duduk di sebelah Adrian melirik sekilas ke arah sang kakak tertua, lalu mencolek pelan paha Adrian di bawah meja sambil melempar senyum penuh arti. Mereka berdua tahu betul betapa protektifnya Budi terhadap anak-anaknya, dan jika sampai Budi tahu ulah Rangga di kantor, nasib pria itu dipastikan tidak akan baik.“Ah, Mama ada-ada aja. Aku baik-baik aja kok, Mah. Namanya juga kerjaan kantor, pasti ada pasang surutnya. Gak perlu sampe ngadu ke Papa, aku bisa tangani sendiri,” balas Siska cepat, mencoba menepis kekhawatiran ibunya meski dalam hatinya ia sedikit tersentuh.“Betul tuh, Mah! Kak Siska kan wanita karir yang mandiri. Lagian kalo dikit-dikit ngadu ke Papa, nanti Kak Sis
Suasana hening sejenak menyelimuti saluran telepon setelah pertanyaan penuh kecemasan meluncur dari mulut Rangga. Di dalam kabin mobil mewahnya yang terparkir di pinggir jalan, Rangga menahan napas, menanti kepastian di balik keheningan yang mendadak terasa begitu berat dan mencekam.“Coba lo cek inbox lo sekarang! Gue baru aja ngirim rekaman videonya ke lo,” ujar Rika memecah keheningan, suaranya terdengar begitu tenang.Rangga dengan cepat menjauhkan ponsel dari telinganya, mengusap layar untuk membuka aplikasi pesan. Sebuah file video berdurasi singkat masuk ke dalam ruang obrolan mereka.“Udah masuk kan videonya?” tanya Rika dari seberang saluran. “Coba lo buka dan perhatiin baik-baik rekaman di menit awal. Pas kameranya mengarah ke foto di ruangan itu.”Rangga menekan tombol play pada rekaman tersebut. Layar ponselnya menampilkan sudut-sudut ruang tengah rumah Siska yang megah dan asri. Saat gambar bergeser perlahan, fokus kamera merekam sebuah bingkai foto keluarga berukuran bes
“Kak Siska, gue ke kamar dulu ya?” pamit Adrian, sambil mengangguk pelan ke arah Rika.“Oke, Yan. Makasih ya udah nganterin Rika ke atas,” sahut Siska dengan senyum manis yang terpasang sempurna di wajahnya.Begitu daun pintu kayu itu tertutup rapat, atmosfer di dalam kamar berubah menjadi permainan peran yang penuh kehati-hatian. Siska segera menyibak selimutnya dan duduk tegak di tepi ranjang, memasang raut wajah penuh haru seolah-olah sangat tersanjung oleh kedatangan rekan kerjanya itu.“Ya ampun, Rika... gue beneran gak nyangka lo bakal repot-repot mampir ke rumah cuma buat nengokin gue. Padahal gue cuma agak demam sama pusing dikit kok gara-gara capek,” ujar Siska ramah, nadanya begitu halus dan tenang.Rika mendekati tempat tidur sambil meletakkan tas mewahnya di atas kursi kerja Siska, lalu duduk di pinggir ranjang dengan ekspresi cemas yang amat meyakinkan. “Aduh, Siska... gimana gue gak khawatir? Tadi pagi di kantor sepi banget pas liat meja lo kosong. Pak Rangga juga sempet
Adrian tercenung sejenak melihat wanita cantik dengan gaya rambut layered bob yang sangat rapi itu mengulurkan tangannya dari dalam jendela mobil. Wajah Rika tampak begitu menawan dengan riasan tipis yang elegan, memancarkan aura wanita karir yang ramah.“O-oh... iya, gue adiknya Kak Siska... Adrian,” sahut Adrian sedikit canggung sambil membalas uluran tangan Rika. Genggaman tangan Rika terasa halus dan hangat, diiringi harum parfum mahal yang samar-samar tercium oleh Adrian di tengah bisingnya lalu lintas.Rika tersenyum manis yang membuat sudut matanya menyipit indah. “Oke, Adrian. Salam kenal ya. Oh iya, gue ini sebenarnya mau jenguk Siska ke rumah lo. Tapi gue belum pernah ke sana dan takutnya petunjuk di peta digital kurang akurat. Bisa sekalian tuntun gue ke rumah lo, gak? Sama nanti kalo di jalan ada toko buah, kita mampir sebentar ya buat beli?”Adrian sempat ragu sejenak, tetapi melihat keramahan Rika yang tampak begitu tulus, ia akhirnya mengangguk sambil tersenyum. “Boleh






