LOGINSuasana hening sejenak menyelimuti saluran telepon setelah pertanyaan penuh kecemasan meluncur dari mulut Rangga. Di dalam kabin mobil mewahnya yang terparkir di pinggir jalan, Rangga menahan napas, menanti kepastian di balik keheningan yang mendadak terasa begitu berat dan mencekam.“Coba lo cek inbox lo sekarang! Gue baru aja ngirim rekaman videonya ke lo,” ujar Rika memecah keheningan, suaranya terdengar begitu tenang.Rangga dengan cepat menjauhkan ponsel dari telinganya, mengusap layar untuk membuka aplikasi pesan. Sebuah file video berdurasi singkat masuk ke dalam ruang obrolan mereka.“Udah masuk kan videonya?” tanya Rika dari seberang saluran. “Coba lo buka dan perhatiin baik-baik rekaman di menit awal. Pas kameranya mengarah ke foto di ruangan itu.”Rangga menekan tombol play pada rekaman tersebut. Layar ponselnya menampilkan sudut-sudut ruang tengah rumah Siska yang megah dan asri. Saat gambar bergeser perlahan, fokus kamera merekam sebuah bingkai foto keluarga berukuran bes
“Kak Siska, gue ke kamar dulu ya?” pamit Adrian, sambil mengangguk pelan ke arah Rika.“Oke, Yan. Makasih ya udah nganterin Rika ke atas,” sahut Siska dengan senyum manis yang terpasang sempurna di wajahnya.Begitu daun pintu kayu itu tertutup rapat, atmosfer di dalam kamar berubah menjadi permainan peran yang penuh kehati-hatian. Siska segera menyibak selimutnya dan duduk tegak di tepi ranjang, memasang raut wajah penuh haru seolah-olah sangat tersanjung oleh kedatangan rekan kerjanya itu.“Ya ampun, Rika... gue beneran gak nyangka lo bakal repot-repot mampir ke rumah cuma buat nengokin gue. Padahal gue cuma agak demam sama pusing dikit kok gara-gara capek,” ujar Siska ramah, nadanya begitu halus dan tenang.Rika mendekati tempat tidur sambil meletakkan tas mewahnya di atas kursi kerja Siska, lalu duduk di pinggir ranjang dengan ekspresi cemas yang amat meyakinkan. “Aduh, Siska... gimana gue gak khawatir? Tadi pagi di kantor sepi banget pas liat meja lo kosong. Pak Rangga juga sempet
Adrian tercenung sejenak melihat wanita cantik dengan gaya rambut layered bob yang sangat rapi itu mengulurkan tangannya dari dalam jendela mobil. Wajah Rika tampak begitu menawan dengan riasan tipis yang elegan, memancarkan aura wanita karir yang ramah.“O-oh... iya, gue adiknya Kak Siska... Adrian,” sahut Adrian sedikit canggung sambil membalas uluran tangan Rika. Genggaman tangan Rika terasa halus dan hangat, diiringi harum parfum mahal yang samar-samar tercium oleh Adrian di tengah bisingnya lalu lintas.Rika tersenyum manis yang membuat sudut matanya menyipit indah. “Oke, Adrian. Salam kenal ya. Oh iya, gue ini sebenarnya mau jenguk Siska ke rumah lo. Tapi gue belum pernah ke sana dan takutnya petunjuk di peta digital kurang akurat. Bisa sekalian tuntun gue ke rumah lo, gak? Sama nanti kalo di jalan ada toko buah, kita mampir sebentar ya buat beli?”Adrian sempat ragu sejenak, tetapi melihat keramahan Rika yang tampak begitu tulus, ia akhirnya mengangguk sambil tersenyum. “Boleh
Adrian yang gelagapan langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, mencoba membela diri dengan wajah merona merah. “E-eh! Enggak, Kak! Orang gue cuma mau buang air kecil doang, beneran! Lagian siapa juga yang tau Kak Siska lagi mandi di dalam?”Siska mendengus pelan, melangkah mendekati Adrian hingga aroma wangi sabun dan sampo yang segar menyengat kuat di indra penciuman pria itu. “Beneran cuma mau buang air? Awas ya kalau lo sengaja nungguin gue keluar dari tadi!”“Astaga, Kak Siska... sumpah, demi apa pun gue udah kebelet banget,” ringis Adrian menahan gejolak di dadanya sambil memegangi perut bawahnya.Melihat raut tersiksa dan kepanikan polos di wajah sang adik, ketegangan di wajah Siska perlahan mencair. Sebuah senyuman tipis yang penuh misteri mengembang di bibirnya. Siska sengaja memiringkan tubuhnya sedikit, menggeser posisinya sangat dekat hingga bahu mulusnya sempat bergesekan pelan dengan dada Adrian saat ia melintas.“Ya udah, sana masuk. Tapi ingat... habis ini langsung
Di seberang telepon, terdengar helaan napas pendek disusul kekehan ringan yang penuh arti. "Wah, santai dulu, Pak Manajer. Suara lo kedengeran emosi banget. Ada apa nih tiba-tiba? Soal Siska lagi?""Gak usah banyak tanya dulu! Gue cuma butuh bantuan lo buat bikin Siska bertekuk lutut. Dia makin jual mahal, dan tadi... adek-adeknya ikut campur urusan gue."Wanita di seberang telepon tertawa kecil, suara denting gelas kaca terdengar samar-samar, menandakan ia sedang bersantai di tempatnya. "Adek-adeknya?? Hahaha, lo dipermalukan sama anak-anak kuliahan?"Wajah Rangga makin merah padam. "Diem lo! Gue gak nelpon lo buat diejek. Gue tau lo butuh uang, dan lo tau betul posisi gue di kantor bisa bikin karier lo melonjak cepat atau malah hancur seketika."Suasana di seberang saluran mendadak hening sejenak. Nada bernada ejekan dari wanita itu memudar, berganti menjadi sikap yang jauh lebih serius dan penuh kalkulasi bisnis."Oke... oke. Gak usah bawa-bawa posisi di kantor. Gue dengerin. Jadi.
Melihat Siska yang tampak kesakitan dan terus mencoba menarik tangannya, Adrian langsung melangkah cepat menghampiri kakak tirinya itu bersama Viktor dan Clara. Tanpa basa-basi, Adrian menyergap genggaman pria itu dan mencengkeram pergelangan tangannya dengan amat kuat.“Ada apa, nih?” tanya Adrian dingin, matanya menatap lurus penuh intimidasi ke arah pria tersebut.Pria itu meringis sedikit, lalu menatap Adrian dari atas ke bawah dengan raut wajah meremehkan. “Lo gak usah ikut campur! Ini urusan gue sama cewek gue!”Mendengar ucapan lancang itu, cengkeraman Adrian di pergelangan tangan sang pria semakin mengetat. “Enak aja gak usah ikut campur! Kalo lo masih mau idup, lepasin tangan kakak gue!” ancam Adrian dengan suara rendah yang amat berbahaya.Viktor yang berdiri di sebelah Adrian ikut maju satu langkah, memasang badan sambil melipat lengan kemejanya. “Iya, lo jangan macem-macem! Berani lo apa-apain Kak Siska, gue juga bakal ikut turun tangan!” serunya tak mau kalah, mencoba mem







